
"Halo Bos, pa kabar lo?" suara Vino terdengar bersemangat di sana.
"Baik. Tumben telepon." Shua menjawab setengah terkejut.
"Lu di Surabaya? Gw liat status IG lo."
"Iya, napa? Mau samperin gw?" tanya Shua sambil bercanda.
"Kok lo tau? Lagi di mana sekarang? Temuan yuk."
"Hah? Lo lagi di Surabaya beneran?"
"Iyalah. Lagi ada kerjaan di sini."
Mereka akhirnya berencana untuk bertemu saat sarapan besok pagi di Hotel Victory tempat Shua menginap. Sebenarnya mulut Shua sudah gatal untuk menceritakan masalah Becca yang merebut suami Yuna. Namun ia menahannya, bagaimanapun juga ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin saja Becca dirayu atau terjebak oleh Adit.
Malam semakin larut, Shua pun sudah berbaring di ranjangnya. Saat masuk pintu hotel, Shua sempat melihat Yuna dan Adit naik menggunakan lift, sepertinya mereka akan menuju ke kamar. Kamar mereka berdua. Ya, mereka memang masih suami istri, wajar mereka sekamar. Shua sangat penasaran dengan apa yang mereka lakukan di kamar sebelah. Ingin rasanya mengetuk kamar sebelah, berpura-pura menanyakan sesuatu pada Adit, tapi ia mengurungkan niatnya. Adit akan curiga, ia bukanlah orang yang bodoh. Padahal memang dia sangat bodoh karena telah menyia-nyiakan seorang wanita seperti Yuna.
*****
"Bisa ga kamu tidur di kamar lain Dit?" kata Yuna sambil duduk di tempat tidur. Adit baru saja mengganti bajunya dengan piyama, ia menjawab pertanyaan Yuna dengan gelengan.
"Bagaimana kalau mama sama papa lihat aku tidur di kamar lain? Lagian kamu janji mau kasih aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya." Adit naik ke atas ranjang dan mulai berbaring.
"Tidak ada yang bisa diperbaiki kalau kamu tidak bisa meninggalkannya." Yuna berbaring membelakangi Adit. Lalu ia mulai merasakan tangan Adit melingkar di perutnya.
"Jangan macam-macam ya. Aku mau tidur." kata Yuna lagi.
"Aku cuma mau memelukmu kok. Tidurlah." Adit mengecup telinganya.
Yuna memejam matanya, ia mulai tidak bisa merasakan getaran lagi jika Adit menyentuhnya. Mungkin sudah mati rasa. Apakah ia akan bahagia dengan berpura-pura bahagia? Entahlah, tapi sudah lima bulan ia merasakan pernikahannya seperti di dalam neraka. Mungkin Tuhan akan membantunya menjawab sekuat apa ia bisa bertahan.
*****
"Vin!" Suara Shua yang cukup kencang itu membuat seorang pria tampan dan beberapa di sekitarnya menoleh ke arah Shua.
"Wah, tambah keren aja lo." ucap Vino sambil sedikit memeluk sahabat sekolahnya itu. Mereka berkeliling mengambil beberapa makanan yang banyak tersaji di ruangan yang cukup luas itu sebelum akhirnya memutuskan untuk duduk di meja makan dekat kolam ikan.
"Jadi apa yang membuat lo ke Surabaya?" tanya Vino sambil memasukkan sepotong sosis ke mulutnya.
"Bisnis. Lo tahu tanah luas kosong di dekat alun-alun? Gw bangun mall di sana." jawab Shua.
"Serius? Gila! Hebat banget lo, tu tanah luas banget. Ntar kalau sudah hampir rampung kasih tahu ya, gw mau masukin produk gw kesana produk elektronik SM." ujar Vino semangat.
"Lo inget sama Yuna?" tanya Shua.
"Yuna mana? Yuna Sakura?" Pertanyaan Vino dijawab dengan anggukan pria tampan di depannya.
__ADS_1
"Ya ingetlah. Sahabat adik gw ampe sekarang. Dia gebetan lo dulu kan di sekolah." Vino tertawa mengingat Shua yang pernah ditolak Yuna dulu.
"Hussh..Jangan besar-besar ngomong gitu. Yuna dan suaminya nginep di sini, bentar lagi mereka pasti turun untuk sarapan juga. Gw pakai jasa mereka untuk proyek gw."
"Oow..Gw belum pernah ketemu sama suami Yuna. Sama Yuna juga sudah lama ga ketemu sih sejak gw sering berangkat dan ga tinggal serumah dengan Becca." jelas Vino.
'Andaikan lo tahu siapa Adit!' pikir Shua. Lamunannya dibuyarkan oleh tepukan di pundaknya.
"Aku ketok-ketok kamar kamu tadi, taunya kamu sudah di bawah duluan." ucap Adit santai. Joshua tersenyum namun matanya mencari sosok Yuna yang tidak terlihat di sekitar Adit.
"Iya, ada teman SMA ku. Kenalin Dit, ini Vino. Vin, ini Adit, suami Yuna." Vino sedikit terkejut bahwa itu suami Yuna. Dengan sopan ia berdiri dan menyalaminya. Ia tidak menyangka suami Yuna ternyata sangat tampan. Maklum saja, ia mengenal Yuna sebagai sosok yang....cantik sih, hanya saja sangat disayangkan Yuna kurang mengurus tubuhnya sendiri.
"Sayang, sini." panggil Adit. Yuna menghampiri mereka dengan sepiring buah potong di tangannya.
"Yuna? Kamu Yuna? Wooow...Aku tidak mengenalimu lagi sekarang. Look at this beautiful woman." Yuna agak terkejut dengan kehadiran Vino di sana. Dulu mereka cukup akrab, tapi sekarang situasinya sudah berubah. Ia memaksakan senyumnya terlihat senatural mungkin.
"Hai, kak Vino. Kok bisa di sini?" Yuna melirik ke arah Shua, hanya dia yang mengerti kondisinya sekarang.
"Janjian sama Shua." jawab Vino. Mereka berempat duduk di meja yang sama. Adit terlihat antusias mendengar Vino bercerita tentang pekerjaannya. Ya begitulah Adit, ia selalu bisa mengakrabkan diri dengan orang di sekitarnya. Itulah mengapa ia dan Becca menjadi begitu "dekat". Suara ponsel Yuna berbunyi tanda ada pesan masuk.
'Maaf ya, aku tidak bisa menolak saat dia mau ketemu.' Pesan dari Shua. Mata Yuna otomatis langsung melirik pria yang duduk tepat di depannya.
'It's ok. Aku ngerti. Lagipula ia tidak tahu apa-apa.' Balas Yuna. Ia baru saja akan menyendokkan bubur ke mulutnya saat ia menoleh ke arah kanannya. Suara Becca.
"Ternyata kalian bersenang-senang di sini!!! Kamu bilang kamu mau bercerai sayang. Kenapa ga jadi? Dia pasti rayu kamu lagi ya?!" Becca setengah berteriak ke arah Adit yang sekarang sudah berdiri di depannya, sedangkan Vino membalikkan badan dari posisi duduknya. Beberapa tamu di sekitar mereka sedikit menoleh mendengar kalimat yang cukup membuat membuat orang penasaran dengan apa yang terjadi.
"Bawa dia pergi dari sini Dit." Yuna berbicara dengan nada rendah masih dalam posisi duduknya. Adit merasa kesadarannya kembali setelah mendengar suara istrinya.
"Ikut aku!" Adit menarik tangan Becca yang hanya bisa mengikutinya. Vino pun seperti magnet yang mengikuti adiknya dari belakang.
Yuna tenggelam dalam pikirannya. Ia melihat perut Becca yang sedikit membuncit dan ia cukup pintar untuk mengetahui bahwa itu karena kehamilan bukan karena efek banyak makan.
"Kamu mau ke sana Yun?" tanya Shua. Yuna hanya menggeleng pelan, ia takut menghadapi kenyataannya. Ia menyendokkan lagi bubur yang mulai mendingin itu, tawar dan membuatnya mual. Tapi di sisi lain, ia juga ingin tahu apa yang terjadi, menghindari kenyataan tidak akan menyelesaikan apapun juga.
"Shua..temani aku ya ke sana." pinta Yuna. Shua mengangguk patuh. Mereka berdua menuju belakang resepsionis, setidaknya Shua melihat mereka terakhir kali di sana.
Mereka mendekati suatu ruangan, tertulis "Cempaka Meeting Room" di depan pintu itu. Sayup-sayup terdengar suara Adit yang sedikit meninggi menyebut nama Becca. Yuna memutar kenop pintu itu dan semua mata langsung menuju padanya. Yang membuat Yuna kaget adalah kedua orang tua Adit yang ternyata juga berada di sana. Mereka kebetulan melihat ketika Adit menarik tangan seorang wanita yang bukan istrinya, tentu saja Farah langsung penasaran dengan apa yang terjadi dan langsung mengikuti mereka ke sini.
"Yuna." Hanya Adit yang akhirnya membuka suara dan mendekati istrinya itu. Yuna melihat bekas tangan di pipi Adit yang memerah. Seseorang pasti sudah menampar wajahnya.
"Lanjutkan saja. Aku mau dengar apa yang lagi dibicarakan di sini." kata Yuna pelan. Ia berjalan menuju satu sofa single berwarna beige di sudut ruangan berukuran kecil itu, mungkin hanya sekitar 10x5 meter persegi. Joshua memilih keluar dari ruangan itu setelah ia beradu pandang dengan Vino yang wajahnya memerah, entah ia merasa malu atau marah dengan kelakuan adiknya Becca.
"Hai Yuna. Maaf, tapi seperti yang kamu ketahui, aku dan Adit...Maksudku aku tidak bisa menutupinya lagi. Kehamilanku sudah semakin besar dan aku tidak mau melahirkan hingga statusku terjamin." Becca mengelus perut buncitnya itu. Yuna tidak berkata apapun, ia hanya bisa menatap Becca tajam dan akhirnya ia memilih untuk sedikit menunduk. Bukan karena merasa kalah, tapi lebih ke pasrah. Terjadilah apapun yang akan terjadi karena tidak akan ada waktu yang bisa diputar kembali.
"Itu benar anak Adit?" Suara Farah sedikit bergetar.
"Tentu saja, Tante. Saya dan Adit, kami sudah cukup lama berhubungan. Yuna juga sudah mengetahuinya." jawab Becca tanpa rasa malu yang tersirat di wajahnya. Adit pun terdiam seolah mengiyakan apa yang diucapkan Becca.
__ADS_1
"Tuh kan, aku tahu sebenarnya anakku tidak mandul." Farah sedikit tersenyum mengucapkan kalimat yang membuat semua mata tertuju padanya.
"Farah!!" hardik Harris. Farah sedikit terkejut dan tersadar harusnya ia tidak mengucapkan itu.
"Mama! Mama ngomong apa sih?!" Adit juga tidak menyukai perkataan ibunya itu. Yuna terlihat menahan amarahnya, hanya Becca yang tertawa dalam hati.
"Adit, sekarang kamu harus membuat keputusan. Aku tidak bisa melanjutkannya drama ini lagi." kata Yuna sambil berdiri dari duduknya.
"Tapi kamu sudah janji kita akan mencobanya Yuna, tidak akan ada perceraian di antara kita." Ucapan Adit barusan membuat Becca sedikit merasa kalah.
"Tapi itu sebelum aku tahu dia hamil Dit." Suara Yuna meninggi.
"Tidak akan ada yang berubah Yuna. Percayalah." kata Adit.
"Brengsek kamu!! Lalu kamu anggap apa adikku?" Vino menarik kerah baju Adit. Becca mencoba berdiri di antara mereka dan mendorong kakaknya menjauh.
"Baiklah. Maafkan aku. Kamu tidak perlu memilih Dit. Aku tidak akan menyusahkanmu lagi. Aku dan anakku akan pergi dari kehidupanmu." Becca mengambil tas birunya dan berjalan menuju pintu. Namun Farah menarik lengannya.
"Jangan pergi dulu!! Adit, ini anak kamu. Akhirnya kamu bisa punya anak Dit. Sadar!" ucap Farah sambil memegang kencang lengan Becca. Becca merasa aktingnya cukup berhasil, ia tahu benar bagaimana calon mertuanya itu sangat ingin memiliki cucu dari anak sulungnya itu. Yuna menutup matanya, mencoba menahan air matanya. Bagaimana bisa mertua yang sangat dihormatinya itu berlaku seperti itu di depannya.
"Aku akan mengajukan cerai Dit." ucapnya ke Adit.
"Dan kamu menang Becca. Berterima kasihlah pada bayi yang ada di rahimmu itu." Tanpa melihat semua pandangan mata yang tertuju ke arahnya, Yuna keluar. Ia tidak sanggup lagi berada di ruangan bersama orang-orang yang tidak bisa berpikiran waras lagi.
Shua melihat Yuna keluar dengan ekpresi kosong dan langsung menghampirinya. Tanpa bertanya apapun, Shua menarik tangannya menuju parkiran dan masuk ke mobil pinjamannya. Mendadak tangis Yuna pecah sebelum mobil berjalan, ia hanya bisa menutup wajahnya yang basah dengan kedua tangannya yang kosong. Dinding hatinya yang sangat keras itu perlahan hancur karena telah terkikis terlalu lama. Pengkhianatan oleh dua orang yang sangat ia percaya dan ia sayangi dulu membuat Yuna kehilangan kepercayaan dirinya. Shua melihat bahu Yuna bergetar karena tangisannya yang semakin menjadi. Ia hanya bisa membiarkan Yuna menangis tanpa berkata apa-apa sambil mengemudikan mobilnya. Kalimat "Sabar Yuna." atau "Aku tahu perasaanmu." akan terkesan hanya basa basi saja. Satu-satunya yang ingin Shua ucapkan sekarang hanyalah, "Kamu masih ada aku, Yuna.". Tapi Shua memilih untuk tidak mengatakannya.
Yuna mengambil tiga helai tissue dari dalam tas nya dan mulai membuang ingsusnya dengan sedikit kencang.
"Maaf." kata Yuna menoleh ke Shua.
"Untuk?" tanya Shua sedikit bingung. Yuna hanya mengangkat tissue kotor dengan kedua jarinya. Shua tertawa kecil, seperti itulah Yuna yang dikenalnya waktu dulu. Polos dan tidak suka berlarut dalam keterpurukan walaupun banyak yang membullynya dulu.
Huuuft...Yuna menghembuskan nafasnya kasar seolah semua bebannya bisa dibuang dalam satu helaan saja. Kejadian tidak terduga tadi seakan bom atom yang menghantam dirinya. Sakit. Hancur. Namun sekaligus menghancurkan berbagai sampah kotor yang menjadi pikiran di hatinya. Ya, Yuna sekarang merasa sedikit lega. Mungkin karena ia merasa lebih mudah untuk mengambil keputusan sekarang. Tidak ada keraguan lagi karena ia memiliki alasan yang kuat untuk bercerai dengan suaminya. Becca hamil, dan Adit yang menghamili mantan sahabat terbaiknya itu. Mantan sahabatku adalah selingkuhan mantan suamiku. Atau mantan sahabatku adalah ibu dari anak mantan suamiku. Aaah...entah apa judul yang tepat untuk drama dalam hidupnya sekarang. Sesaat Becca tertawa kecil hingga Shua menoleh sebentar ke arahnya.
"Ada yang lucu?" tanya Shua. Ia tidak mengerti bagaimana Yuna masih bisa tertawa di kondisinya yang sekarang.
"Tidak." jawab Yuna sambil tersenyum. Tentu saja ia tidak mau bercerita tentang apa yang dipikirkannya tadi.
"Mau kemana kita?" tanya Yuna saat Shua berhenti karena lampu merah. Shua menoleh ke arahnya, dilihatnya mata Yuna yang masih membengkak walaupun raut muka Yuna tidak sehancur tadi.
"Makan. Kamu mau es krim atau batagor?"
"Boleh ga kalau tidak perlu memilih? Aku mau keduanya." Yuna memang merasa lapar sekarang. Ia belum menyantap setengah sarapannya saat Becca datang tadi.
Shua mengangguk patuh. Ia melihat lagi sosok Yuna yang membuatnya jatuh cinta dulu. 'Aku tidak akan melepaskanmu lagi Yuna.'
*****
__ADS_1