
Shua menatap layar ponselnya. Tidak ada balasan pesan dari Yuna. Ia bingung apakah harus meneleponnya atau membiarkannya sendiri untuk sementara. Sudah pukul 22.18. Apakah Yuna sudah tidur? Pikirnya. Shua memeluk bantal gulingnya. Menaruhnya di bawah kepalanya. Lalu dipeluknya lagi.
"Aaaghhh...Dasar wanita kepo." Ia masih kesal mengingat kejadian tadi.
Yuna mendiamkannya sejak mereka keluar dari restoran. Shua bukanlah pria bodoh, dia tahu alasan Yuna marah. Tapi situasi tadi tidak mengizinkannya untuk langsung mengatakan yang sejujurnya.
'Hei, saya bukan suami Vanya Aprilia. Catat itu! Sebarkan kalau perlu.' Ingin sekali ia mengatakan hal itu tadi. Tapi tidak, ia masih berpikir rasional. Jika ia mengatakan hal yang sebenarnya tadi, keadaan akan bertambah kacau dan akan menyebar dengan cepat bahwa dirinya dan Vanya adalah pembohong. Atau lebih buruknya, akan ada berita jika Joshua membuat Vanya hamil tanpa ikatan pernikahan.
Tok..tok...
"Sudah tidur, Nak?" Nissa muncul di balik pintu.
"Belum Ma. Papa kapan pulang?" tanyanya .
"Katanya lusa. Main golf saja sampai ke Pontianak, bingung mama." Nissa duduk di sebelah Shua sambil membelai rambut anak kesayangannya itu.
"Mama tidak pernah curiga sama papa? Shua cuma tanya ya Ma." Pertanyaan Shua membuat Nissa tertawa.
"Hubungan Mama dengan papa sudah sampai di tahap tidak akan ada curiga dan penyesalan lagi. Amit-amit, jika papa sampai punya wanita lain, mama sudah tidak bisa marah lagi dengan papamu. Bagaimana ya jelasinnya ke kamu? Mama yakin ada alasan kuat papamu melakukan itu. Hanya itu. Karena papa itu ada di sini, hati mama. Dia tidak akan bisa kemana-mana lagi karena ia akan ada selama mama masih bernapas."
"Wah, papa sungguh beruntung memiliki mama hahaha...Ngomong-ngomong Vanya sudah tidur?" tanyanya.
"Vanya..Dia pulang ke apartemen."
"Hah? Kenapa? Kok tidak mama larang?" Shua cukup terkejut mendengarnya.
"Sudah, tapi ia bersikeras. Ya sudah, tidurlah. Kamu pasti lelah." Nissa mengecup pucuk kepala anak tunggalnya itu.
"Iya, Ma. I love you."
__ADS_1
Nissa keluar dari kamar itu dengan perasaan kacau. Sebenarnya ia ingin menceritakan apa yang diminta Vanya kepada dirinya, tapi melihat wajah lelah anaknya, ia tidak tega. Biarlah, nanti saja baru ia bicarakan hal itu.
*****
"Mau sampai kapan, Sayang? Sudah lewat dua bulan kamu digosipin sama Vanya. Kalau kamu tidak capek, aku yang capek! Kemanapun aku pergi sama kamu, aku dilihatin orang-orang seolah aku lagi jalan sama suami orang. Bahkan di kantorpun aku merasa mereka membicarakan aku." Shua melihat mata Yuna berkaca-kaca. Ini kali kedua Shua merasa gagal menjadi kekasih Yuna, bahkan sampai membuatnya menangis.
Shua habis mengantar Yuna pulang dari mall setelah mereka melihat-lihat wedding expo yang diadakan di sana. Yuna sudah meminta Shua mengenakan masker, tapi masih saja sosoknya yang hampir sempurna itu membuat orang lain dengan mudah mengenalinya. Yuna sudah terlihat kesal saat orang-orang berbisik melihat mereka bergandengan tangan. Ia sempat melepas tangan Shua, namun pria itu menariknya lagi. Sampai akhirnya Yuna tidak tahan dan meminta pulang tanpa ada hasil apapun di wedding expo yang mereka datangi.
"Cuma bisa diam lagi kan?" Yuna melempar tas nya ke atas sofa rumahnya. Kali ini air matanya benar-benar mengalir di pipinya yang memerah karena emosi.
"Maaf, Sayang." Shua reflek ingin memeluknya, tapi Yuna meronta.
"Aku tidak butuh maafmu. Aku mau kepastian." Yuna menurunkan volume suaranya.
"Ok, kasih aku waktu satu minggu untuk menyelesaikan ini semua. Aku janji, Sayang. Aku juga lelah dengan ini semua." kata Shua sambil memeluk Yuna yang masih menangis.
Sebenarnya Shua berharap gosip itu akan mereda seiring berjalannya waktu. Tapi ternyata waktu yang dibutuhkan lebih lama dari yang ia kira. Shua pernah mendatangi Vanya dua kali semenjak ia pergi dari rumah. Tapi Vanya seolah sering mengulur waktu jika Shua bertanya kapan mereka akan mengadakan konferensi pers.
*****
"4077. Ok. Makasih ya Valen." Pintu terbuka.
'Astaga!' Nissa terkejut dengan pemandangan mengerikan di depannya. Bungkus makanan kecil dan minuman kaleng berhamburan di mana-mana. Belum lagi piring kotor dan baju-baju yang berserakan di lantai.
"Vanya? Vanya? Kamu di mana, Nak?" Nissa memberi kode ke Pak Sam untuk meletakkan makanan yang ia bawa di atas meja. Nissa masuk ke kamar tidur utama dan ia berteriak kaget.
"Vanya, kamu kenapa? Vanya? Pak Sam! Pak Sam!" teriaknya. Mereka membawa Vanya yang pingsan ke rumah sakit terdekat.
Nissa memandang Vanya dengan infus terpasang di tangan kirinya. Ia tampak pucat dan lebih kurus saat ia keluar dari rumah dua minggu lalu. Dokter mengatakan jika ia kekurangan cairan dan nutrisi yang menyebabkan tekanan darahnya menjadi sangat rendah. Hal ini bisa membahayakan dirinya dan janinnya. Nissa menangis diam-diam. Sejak kapan Vanya yang cantik dan periang menjadi menyedihkan begini? Mengapa ia harus menyiksa dirinya?
__ADS_1
"Ma, bagaimana Vanya?" Shua masuk ke kamar itu.
"Bukannya kamu ada meeting?" Nissa mengusap air matanya.
"Sudah selesai." Shua bingung bagaimana harus bersikap tegas dengan Vanya di saat gadis itu begitu rapuh.
"Dia kekurangan nutrisi. Tekanan darahnya juga sangat rendah."
"Shua, sini. Mama mau bicara." Nissa menarik tangan Shua ke arah sofa yang terletak di ujung ruangan VIP itu.
"Apa sih Ma?" Shua menurut saja dan mereka duduk di sana. Nissa menarik nafas panjang dan menggenggam tangan anaknya sebelum ia mulai berbicara.
"Shua, kamu tahu kan betapa mama sangat sayang sama kamu dan juga Vanya. Mama juga jarang banget minta sesuatu dari kamu." Ia menarik nafas panjang lagi. Berat rasanya meminta sesuatu yang akan menyakiti hati anaknya. Sedangkan Shua, hanya bisa menunggu apa yang akan ia katakan.
"Begini, Nak. Mama ingin meminta kamu menikahi Vanya." Nissa seolah menahan nafasnya saat ia mengutarakan niatnya itu.
"Hah?? Shua tidak salah dengar Ma?" Ia berteriak.
"Jaga suara kamu. Vanya lagi tidur."
"Shua tidak peduli. Bercanda Mama tidak lucu, Ma. Permintaan apa itu? Shua pergi!" Ia akan beranjak pergi tapi Nissa menarik tangannya.
"Dengarkan Mama dulu, Nak. Duduk sebentar." Shua menurutinya dengan raut muka kesal dan marah.
"Mama minta ini setelah pertimbangan yang berat. Mama tahu perasaanmu ke Yuna. Tapi maaf, Nak. Mama tidak bisa membiarkan Vanya pelan-pelan membunuh dirinya dan bayinya. Setidaknya tolong nikahi dia hingga nanti dia melahirkan dan bisa menuntut si Jack. Mama yakin Vanya bisa kuat lagi jika kamu menemaninya."
"Ma, jujur sama Shua. Dari mana Mama dapat ide konyol seperti ini? Apa Vanya yang memintanya?" Shua menatap mata mamanya yang agak terkejut.
"Betul kan? Shua tahu benar sifat Mama. Shua anggap pembicaraan ini tidak pernah terjadi. Lupakan saja."
__ADS_1
Shua keluar dari kamar itu dengan perasaan bercampur aduk. Ia marah karena ibunya menuruti kemauan Vanya yang tidak masuk akal. Di lain sisi, ia juga sedih melihat Vanya dengan perut buncitnya terbaring lemah seperti tadi. Hanya saja mengapa kekuatan yang dibutuhkan Vanya harus berasal dari dirinya? Shua sebenarnya tahu sejak lama Vanya menyukai dirinya sebagai seorang lelaki. Ia berpura-pura tidak tahu karena ia tidak tega menyakiti adik kecilnya itu. Tapi sekarang keadaannya berbeda, ia harus tegas. Shua tidak akan menuruti ide gila itu, ia tidak akan sanggup menyakiti Yuna ataupun kehilangan dia.
*****