
"Tante, Yuna tidak mengerti mengapa Tante bicara seperti itu ke wartawan. Tante mengapa bohong?" Yuna menggenggam erat tangan Nissa yang hanya tertunduk lesu.
"Maaf Yuna. Tapi Tante lelah, Tante sudah capek. Tante hanya ingin fokus menjaga Shua." Suara Nissa terdengar bergetar seolah menggambarkan rasa bersalah atas semua yang telah ia lakukan.
"Tante keluar dulu. Tante percaya kamu kuat Yuna. Katakanlah apa yang ingin kamu katakan pada Shua, tolong jangan buat ia merasa cemas. Relakan dia Yuna." Nissa menatap Yuna sesaat lalu memeluknya erat lalu meninggalkan Yuna yang terdiam membisu.
Masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan, namun Yuna mencoba tegar. Tatapannya sekarang menuju ke Shua yang terbaring di ranjang. Dipegangnya tangan kanan Shua, menempelkan telapak tangan mereka dan mencoba mengingat seberapa besar tangan pria yang dicintainya itu. Yuna membelai wajah Shua yang tampak sedikit pucat dan menguning, tidak ada rambut halus yang tumbuh walaupun ia belum siuman. Nissa pasti merawatnya dengan sangat baik. Hanya saja wajah tampan itu lebih tirus sekarang. Yuna ingin sekali berbicara dengan Shua, namun suaranya tercekat seolah tidak sanggup mengucapkan kata-kata perpisahan. Ya, lebih baik Yuna diam. Lebih baik meninggalkan semuanya di dalam kenangan indah. Toh merelakan bukan berarti Yuna menyerah dengan cintanya, hanya saja Yuna sadar ada beberapa hal yang tidak bisa dipaksakan. Ciuman hangat di kening Shua mengakhiri semuanya. "Sadar dan sehatlah, Sayang!" doanya dalam hati.
Tuuut...Tuuut....Suara kereta membuyarkan lamunan Yuna. Ia segera membereskan barang bawaannya dan memastikan tidak ada yang tertinggal. Ia menuju pintu keluar dan menunggu di parkiran mobil. Di sana ia melihat ada seorang pria muda membawa kertas bertuliskan 'Arjuna Semeru'.
"Hai, aku Yuna." Katanya kepada pria itu.
"Oh, Mba Yuna. Saya Juna. Baru sampai Mba?" Tanyanya sedikit berbasa-basi.
"Iya. Semuanya kumpul di sini ya?" Yuna melihat ada dua wanita lain dan tiga laki-laki selain Juna. Tampaknya mereka teman sekelompok karena terlihat akrab mengobrol.
"Ada tiga yang sudah kumpul di basecamp. Kita tunggu satu orang lagi ya Mba. Kayaknya sebentar lagi sampai. Dia bukan naik kereta, tapi dari hotel menuju sini." jelasnya.
"Oh." jawab Yuna singkat. Ia memakai masker hitamnya. Sedikit banyak ia agak takut ada orang yang mengenalinya sebagai "Selingkuhan Joshua Austin, suami Vanya Aprilia". Walaupun sebenarnya ia tidak terlalu peduli, tapi malas saja jika membuat keributan.
"Yuk teman-teman, kita tunggu di dalam mobil saja biar tidak panas." ajak Juna.
Satu per satu mereka masuk ke dalam mobil duduk di kursi bagian tengah dan belakang.
"Maaf Mas." cela Yuna.
"Panggil saja Juna, Mba."
"Oh, Juna. Boleh ngga aku duduk di depan?" tanyanya pelan.
"Waduh, kalau depan sudah ada yang punya Mba."
"Ooh.." Yuna menutup kekecewaannya tanpa alasan.
"Kenapa mau duduk di depan?" Suara seorang pria membuat Yuna reflek membalikkan tubuhnya. Astaga!!
"Mba mau duduk di depan kan? Sebenarnya itu tempat duduk saya, tapi kalau Mba punya alasan khusus, saya akan berikan." Ucap pria itu lagi.
"Aku...Aku cepat merasa mabok kalau duduk di belakang. Maaf." Itu memang alasan sebenarnya. Klaustrophobia. Yuna akan merasa sesak jika ia berada di antara banyak orang apalagi di dalam sebuah mobil sempit.
"Ok, baiklah. Aku juga tidak mau sampai ada yang muntah di mobil ini. Perjalanan kita cukup jauh, bisa hampir dua jam. Juna, aku saja yang nyetir."
__ADS_1
"Masa Pak Dylan yang nyetir?" ucap Juna terkejut.
"Tidak apa. Kamu kan tahu aku juga tidak mau duduk sempit-sempit di belakang." ucapnya sedikit berbisik.
'Dylan Richardson. Kok dia bisa ikut di sini sih? Bagaimana jika dia mengenaliku?' Yuna menaikkan sedikit maskernya dan memilih menatap ke samping jendela. Sebenarnya ia berencana melepas maskernya di dalam mobil karena ia mudah merasa sesak. Tapi apa boleh buat, sepanjang jalan ia terpaksa memakainya.
Perjalanan menuju Jalur Ranu Pani sangatlah indah. Sesaat Yuna mengembangkan senyumannya. Sudah dua minggu ia meninggalkan rumah dan segala aktivitasnya. Mencoba hidup sederhana dan bebas. Tapi yang tidak bisa ia tinggalkan hanyalah tidur yang nyaman. Yuna pernah mencoba menginap di kost sederhana di awal ia menginjakkan kaki di Banyuwangi, tapi ternyata ia tidak sanggup. Mau tidak mau ia pindah ke hotel. Tubuh yang sehat berasal dari tidur yang nyenyak. Itu prinsipnya.
"Bangunlah Yuna."
"Oh sudah sampai. Terima kasih ya." ucap Yuna sambil membuka pintu mobil. Entah sejak kapan ia ketiduran.
'Eh....Yuna? Dia memanggilku Yuna?' Kaki Yuna satunya seakan tersangkut di dalam mobil. Ia menoleh ke arah kanannya dan melihat pria itu cekikikan.
"Buka saja maskermu itu. Aku bisa dengan mudah mengenalimu. Juna, tolong keluarin carrier ku ya!" Dylan mematikan mesin mobilnya dan segera turun meninggalkan Yuna yang masih terdiam.
"Sejak kapan Pak Dylan mengenaliku?" tanya Yuna sambil mengambil ranselnya dari bagasi. Ia pun membuka maskernya dan menghirup oksigen sebanyak mungkin.
"Sejak kamu membalikkan badanmu."
"Secepat itu?" Pertanyaan Yuna dijawab dengan anggukan.
"Tidak sulit mengenalimu. Kombinasi mata dan rambutmu sudah lebih dari cukup. Dan satu lagi, panggil aku Dylan tanpa pak. Aku tidak setua itu untukmu." jawabnya sambil memperlihatkan senyum menawan khas pria dewasa.
"Halo, kenalin aku Yuna. Kalian mahasiswa ya?" tanyanya sambil memegang gelas berisi teh hangat dan ikut duduk di gazebo bambu di belakang basecamp.
"Iya, kami mahasiswa semester akhir, Mba. Sama dengan Juna. Kenalin, aku Siska. Ini Tria, Andi, Deni, dan itu yang lagi telepon Ryan." jawab perempuan yang memakai hoodie putih.
"Mba, baru pertama daki atau sudah pernah?" tanya Tria, satu-satunya perempuan yang berkacamata di sana.
"Baru pertama." jawab Yuna.
"Buset!! Baru pertama sudah daki Semeru." ucapan si Deni membuat Yuna terkejut.
"Memangnya kenapa?" Yuna bingung.
"Sudah, tidak usah didengerin ucapan anak-anak." Suara Dylan membuat Yuna mendongakkan kepalanya dan melihat Dylan sudah berdiri di belakangnya.
"Eh Pak Dylan. Sudah lama Bapak ga ikutan." ucap Siska.
"Iya, sibuk. Ada proyek kerja tersendat gara-gara partner kerja yang minggat. Bolos kerja." ucap Dylan sambil melirik ke arah Yuna dan ikut duduk di sana.
__ADS_1
'Maksudnya aku? Bolos? Enak saja!' Yuna merasa sedikit kesal dengan ucapan Dylan.
"Om ikut sampai puncak kan?" tanya Ryan seusai ia menutup panggilannya yang panjang itu.
"Iya donk. Masa setengah?! Besok pagi kita mulai. Seperti biasa malam ini kita menginap, besok pagi jam 6 kita ngumpul di pendaftaran. Istirahat yang cukup."
"Siap Pak!" ucap mereka bersamaan.
"Saya ke sana dulu, mau ketemu Mbah Yono." Dylan meninggalkan mereka yang masih santai di gazebo.
"Dylan dosen kalian ya?" tanya Yuna seakan tidak sabar menunggu jawaban dari salah satu mereka.
"Bukan. Dia om nya Ryan, sering ikut daki juga. Kami panggil dia Pak karena Pak Dylan adalah sponsor pencinta alam di kampus kami."
"Oh begitu."
Yuna sebenarnya hanya iseng ingin mendaki gunung. Modal nekat. Ia hanya ingin menikmati kebebasan di alam terbuka. Ke pantai? Sudah biasa dan sering. Sekarang ia ingin mencoba sesuatu yang baru di hidupnya, ke tempat yang tidak seorangpun mengenalinya. Sialnya ia bertemu Dylan di sini.
'Tidak perlu dipikirkan Yuna. Anggap saja ia orang yang baru saja kamu kenal.' Suara di otaknya berbicara.
Malam semakin larut. Pukul 00.10. Yuna memutuskan untuk diam-diam keluar setelah mengambil ponselnya, meninggalkan empat wanita yang sudah tertidur di kamar itu. Ia tidak bisa tidur setelah berkali-kali membalikkan tubuhnya. penyakit sulit tidurnya kambuh tatkala tidak menemukan tempat dan bantal yang nyaman untuknya. Apalagi ia tidak terbiasa berbagi kamar atau tempat tidur dengan orang lain.
Angin di luar berhembus cukup dingin walau tidak terlalu kencang. Yuna menyesal tidak memakai jaketnya. Ia kembali duduk di gazebo tempat mereka mengobrol tadi sore. Dari sana Yuna bisa melihat bulan dan bintang yang berdampingan. Indahnya malam ini. Entah sejak kapan air matanya mengalir. Setetes demi setetes. Merasakan kerinduan yang mendalam untuk kekasihnya.
'Apa kabarmu Shua Sayang? Apa kamu sudah sadar? Apa semuanya sehat? Kepalamu, matamu, tanganmu, kakimu.. Andaikan aku ada di sana, di saat kau membuka mata. Andaikan aku bisa mendengar suara serakmu memanggil namaku. Aku yang menyuapimu. Aku yang memapahmu. Aku ingin melakukan semua itu untukmu. Tapi inginku bukan takdirku. Maafkan aku harus meninggalkanmu seperti itu. Aku terpaksa. Mungkin aku bodoh, tapi itulah caraku mencintaimu. Jika kau adalah takdirku, kemanapun aku melangkah, dirimu lah yang ada di penghujung jalanku.'
Surat cinta untuk Shua dikirim Yuna melewati gelapnya langit dengan bantuan cahaya bintang. Yuna menaikkan kerah bajunya, merasa dingin di tengkuk lehernya. Andaikan ia membawa selimut, mungkin ia akan tidur di sana.
"Tidak bisa tidur?" Dylan lagi. Yuna mengangguk. Sebenarnya ia tidak ada masalah dengan Dylan, hanya saja ia sedang tidak ingin berurusan dengan pria.
"Boleh aku tahu kenapa?" tanyanya lagi. Yuna mengernyitkan keningnya dan menggeleng.
"Kamu pasti akan mengataiku sombong." Ucapan itu cukup membuat Dylan yang cerdas mengerti apa artinya.
"Mmmh..Mau tidur di mobil saja? Kamu bisa membuka jendela. Yang pasti kamu harus istirahat yang cukup untuk bisa fit besok pagi." Dylan mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya.
"Terima kasih Dylan. Maaf aku merepotkan."
"Aku cuma punya ini, pakailah." Dylan mengalungkan sebuah syal biru tua yang cukup tebal tanpa menunggu jawaban Yuna.
Yuna memejamkan matanya. Ia memilih tidur di kursi depan dengan pemandangan menatap langit. Satu hal yang luput dari rencananya. Memilih ke gunung untuk merasakan kebebasan alam, tetapi ia juga memilih untuk tidak bisa tidur dengan bebas.
__ADS_1
*****