MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 40


__ADS_3

"Nikahin kamu? Gila ya Van! Buktinya mana itu anakku?" suara Jack meninggi.


"Maaf ya Van, tapi saat itu kamu juga sudah tidak perawan lagi. Dan satu hal lagi, kita melakukannya tanpa paksaan." Jack tampak menyesal dengan responnya tadi saat melihat gadis itu menangis. Ia pun sedikit melunak.


"Tapi ini benar hasil dari hubungan kita dua bulan lalu Jack. Aku tidak pernah melakukannya dengan orang lain." Vanya terisak. Penampilannya sangat berantakan.


"Itu kan katamu Vanya. Sudahlah, tidak perlu kamu pikirkan. Kalau kamu tidak menginginkannya, gugurkan saja. Itu saranku sebagai temanmu. Aku pergi dulu Van. Ah sebaiknya aku menutupi wajahku jika tidak mau ada gosip denganmu. Lain kali jangan mengundangku ke apartemenmu." Jack memakai masker, kacamata hitam, dan topinya. Tidak lupa jaket baseball oversize untuk menutupi tubuhnya.


Vanya tidak bisa berbuat apa-apa. Ia sudah bisa menebak respon yang diberikan pria brengsek itu akan seperti tadi. Vanya sudah putus asa. Ia tidak mempunyai keluarga untuk bisa dimintai bantuan.


"Aaaaahhhh....." Vanya berteriak dan menangis sejadi-jadinya sambil melempar benda di sekitarnya.


Valentino bergidik ngeri di luar pintu. Baru kali ini ia mendengar atasannya mengamuk seperti itu. Valen bingung bagaimana menghadapi semua masalah ini. Semua kontrak kerja terpaksa dibatalkan karena mereka ingin Vanya meredakan gosip yang beredar tentang dirinya terlebih dahulu. Sebenarnya Valen tahu semua itu bukanlah gosip. Ia tahu persis semuanya benar adanya.


'Dasar Jack brengsek.' umpatnya. Valen sudah mengingatkan Vanya agar jangan terlalu dekat dengan si playboy Jack. Ia adalah aktor senior yang sering bergonta ganti pasangan. Harusnya malam itu Valen tetap mengikuti mereka walaupun sudah dilarang. Kasihan Vanya, hidupnya hancur karena perbuatan cerobohnya dalam semalam. Valen mengeluarkan ponselnya yang bergetar. Joshua Kakak Vanya.


'Mati aku. Vanya sudah melarangku bercerita. Apa yang harus aku jawab??'


"Halo Kak Jo tampan. Kok tumben cari Valen?" Ia menjawab dengan suara lembutnya yang kemayu.


"Valen, Vanya ada? Dia tidak menjawab teleponku." jawab Joshua.


"Oh, Vanya lagi di apartemennya Kak. Valen lagi di kantin bawah." bohongnya.


"Begitu. Ya sudah, kamu saja yang cerita apa yang terjadi dengan Vanya. Apa yang diberitakan itu benar?" tanya Joshua. Valen terdiam cemas.


"Jawab dong. Kenapa diam? Kalau kamu diam aku anggap itu benar. Kamu juga pasti tahu kan Vanya hamil karena siapa?"


"Kak Jo. Jangan paksa Valen dong, nanti Vanya marah kalau Valen cerita." rengeknya.


"Mau jawab sekarang atau aku datangin kamu sekarang?" ancamnya.


Valentino memilih untuk turun ke lantai paling bawah sebelum menceritakan semuanya ke Joshua.

__ADS_1


"Benar Kak, Valen cuma tahu itu. Detailnya tidak tahu lagi." Pria itu membayar es teh manis yang ia pesan di kantin.


"Kamu yakin Vanya hanya bersama Jack dua bulan ini?"


"Yakinlah Kak. Kak Jo tahu Vanya kan. Dia itu jarang banget ke klub. Lagian dia ketemu si Jack cuma waktu itu kok. Dia lagi mabuk."


"Siapa mabuk?"


"Vanya mabuk. Valen sudah paksa dia pulang Kak. Tapi dia usir Valen terus. Oh iya, si Jack tadi ke sini. Dia...dia malah bilang belum tentu itu anaknya." Darah Joshua mendidih mendengar itu.


"Baiklah. Tolong jaga Vanya ya. Mungkin dalam waktu dekat ini, aku dan mama akan ke sana. Atau kalau kamu bisa membujuknya, tolong bawa dia ke rumah mama. Setidaknya suruh dia menjawab teleponku."


Joshua tidak menyangka gadis kecil yang dulu sering bermain dengannya kini sedang hamil. Mama Joshua tidak henti-hentinya menanyakan kabar Vanya sejak ia mendengar berita itu di televisi minggu lalu. Joshua sangat terkejut saat Yuna meneleponnya Sabtu siang tentang berita itu. Joshua menghela napas panjang. Ia bingung bagaimana harus berperan sebagai seorang kakak sekarang. Memang belakangan ini ia tidak terlalu dekat dengan Vanya, mungkin sejak kehadiran Yuna. Namun tetap saja ia peduli dengan Vanya, apalagi Vanya tidak memiliki keluarga di Indonesia. Dengan keluarga ayahnya di Belanda pun ia tidak terlalu dekat.


"Ya Sayang. Sudah pulang?" Shua menjawab telepon Yuna.


"Iya."


"Maaf aku tidak jadi menjemputmu. Aku masih di kantor."


"Belum. Dia tidak menjawab teleponku. Tapi aku sudah bicara dengan Valen, manajernya."


"Apa katanya?"


"Sepertinya kabar itu benar. Dan kamu tahu siapa yang berbuat itu dengan Vanya? Jack. Jack Fransisko."


"Yang main film Langit Merah?"


"Iya. Dan dia tidak mau mengakui itu anaknya."


"Hah? Gila. Ternyata rumor dia playboy itu benar ya. Kasihan Vanya. Jadi bagaimana dia sekarang?"


"Entahlah. Mama mau ajak aku ke apartemennya. Mungkin besok kami ke sana, mama sampai tidak bisa tidur karena khawatir."

__ADS_1


"Iya, sebaiknya kalian secepatnya ke sana. Dia pasti lagi stres berat."


Yuna menutup pembicaraannya dengan Shua. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Vanya sekarang. Hamil di luar nikah di saat umur 22 tahun dan sedang berada di puncak karirnya. Hidup memang tidak selalu berjalan searah dengan yang diinginkan. Di saat dirinya sangat mengharapkan anak dengan Adit dulu, ia tidak bisa mendapatkannya. Terkadang hidup memang kejam dan cobaan yang kita hadapi luar biasa di luar nalar kita. Namun apa boleh buat, sepahit apapun kita tetap harus menjalaninya agar menemukan setitik kebahagiaan si ujung sana. Sia-sia bukan jika kita berakhir tanpa mencicipi surga.


*****


"Kamu tinggal sama Tante ya Van. Tante tidak tenang membiarkan kamu tinggal di sini sendirian." Nissa memeluk Vanya yang tampak pucat. Seisi apartemen tampak berantakan. Joshua tidak pernah melihat Vanya yang kacau seperti itu. Tidak pernah. Vanya selalu menjaga penampilannya agar selalu tampak cantik dan sempurna.


"Van, aku akan bicara dengan Jack." kata Joshua.


"Jangan Kak!!" teriaknya.


"Kenapa? Dia harus bertanggung jawab Van. Enak saja dia berkeliaran dan kamu di sini...kamu tersiksa begini." ucap Joshua lagi.


"Aku takut Kak." Vanya menangis lagi.


"Tenang saja. Aku akan membawa pengacara. Aku tahu apa yang harus dilakukan." Joshua membelai kepala Vanya yang memeluknya.


Nissa membantu Vanya membereskan pakaiannya. Mereka akan tinggal serumah untuk sementara. Bagaimanapun juga Vanya sedang hamil dan belum bisa mengurus dirinya sendiri karena emosi yang tidak stabil.


"Apa yang akan kamu lakukan pada pria brengsek itu?" Nissa masuk ke kamar Shua setelah ia menemani Vanya tidur.


"Menurut mama?" Shua bertanya balik.


"Dia harus menikahi Vanya lah. Apa lagi?"


"Apa menurut mama itu solusi terbaik? Kita sudah tahu sebrengsek apa dia dan kita akan menyerahkan Vanya ke dia? Lantas bagaimana Vanya dan anaknya akan melanjutkan hidup mereka jika pria itu tidak berubah?" Nissa terdiam, apa yang dikatakan anaknya ada benarnya.


"Sejujurnya Shua juga belum tahu apa yang harus dilakukan Ma. Tadi Shua hanya berlagak sok tahu karena ingin menenangkan Vanya." Shua menatap mamanya yang terlihat sedih.


"Terima kasih ya Nak. Kamu tahu betapa mama sangat sayang sama Vanya. Sebenarnya dulu mama mau memintanya memanggil mama dengan sebutan 'MAMA'. Tapi saat itu masih ada ayahnya, jadi mama merasa tidak enak. Tapi apapun panggilannya ke mama, Vanya adalah anak perempuan mama." Nissa menahan air matanya sambil menggenggam tangan Joshua.


"Jadi, tolong lakukan yang terbaik untuk Vanya. Mama akan mendukungmu." Nissa meninggalkan kamar Shua.

__ADS_1


Shua menatap langit-langit kamarnya. Sudah tiga hari ia tidak bertemu Yuna. Besok pagi ia akan menjemputnya di rumah, mengajaknya sarapan sebelum ke kantor. Banyak yang ingin diceritakan padanya. Good night, Yuna. I miss you so bad.


*****


__ADS_2