MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 7


__ADS_3

Yuna memasak steik dan menyiapkan semuanya agar tampak menarik. Biasanya Adit akan sampai di rumah pukul enam sore. Yuna melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 18.25. Mungkin sebentar lagi Adit pulang, pikirnya. Ia sudah menata meja dengan sangat cantik malam ini. Yuna menunggu sambil membuka foto ulang tahun mertuanya yang dikirim Erick. Ia menangkap sosok yang sepertinya ia kenal. Tapi itu tidak mungkin dia, setahu Yuna, Joshua berada di Australia. Yuna mengirim pesan ke Adit bertanya keberadaannya. Namun balasan dari Adit tidak kunjung datang hingga ia ketiduran di sofa.


"Sayang, kamu di mana?" Adit membaca pesan yang dikirim Yuna untuknya. Ia sedang berbaring di tempat tidur menunggu Becca yang katanya akan memberi kejutan untuk Adit. Mereka sedang berada di 'rumah dinas' mereka. Adit tidak jadi membalas pesan Yuna karena ia terbelalak dengan kejutan Becca. Becca mengenakan lingerie merah seksi yang sengaja ia beli untuk ulang tahun Adit. Becca merasa ia tidak perlu membelikan Adit hadiah mahal, toh ia sudah memiliki semuanya. Becca sangat tahu apa yang dibutuhkan Adit dan apa yang menjadi titik lemahnya.


"Oh Becca. Aku tergila-gila padamu." Adit memeluk Becca erat dan mulai melancarkan aksinya yang membuat Becca juga tergila-gila padanya. Adit memutuskan akan berbicara dengan Yuna malam ini. Ia tidak mau menyembunyikan hal ini terlalu lama lagi. Yuna harus menerimanya jika ia tidak mau rumah tangga mereka hancur.


Adit pulang dan mendapati Yuna sedang tertidur di sofa. Ia membangunkannya.


"Kamu ngapain tidur di sini?" tanya Adit.


"Aku ketiduran tungguin kamu. Jam berapa ini?" tanyanya sambil mengucek mata.


"Sebelas." jawab Adit.


"Astaga makananku pasti sudah dingin. Kamu kok malam banget pulangnya? Tidak kabarin aku lagi. Sudah makan? Aku masak steik tadi tungguin kamu." Yuna berjalan ke arah meja makan. Adit mengikutinya.


"Aku tadi traktir teman kantor makan malam." Adit tidak berbohong sepenuhnya. Ia memang mentraktir mereka, namun hanya sampai pukul enam sore. Setelah membayar, ia meninggalkan mereka dengan alasan ada acara keluarga.

__ADS_1


"Aku panasin sebentar ya." Kata Yuna. Adit mengangguk. Ia melihat istrinya dari belakang, mencoba menebak moodnya malam ini.


"Makan sayang. Bisa habisin ga? Mana tahu kamu masih kenyang. Tadinya aku masak untuk rayain ulang tahun kamu. Ada beli anggur juga." Yuna mulai menyantap daging steik miliknya. Ia merasa lapar karena belum makan sedikitpun.


"Terima kasih. Kamu tahu kan kalau aku tidak bisa hidup tanpamu." ucapan Adit membuat Yuna tersenyum.


"Aku juga tidak bisa hidup tanpamu." katanya.


"Sayang. Aku ingin memberitahumu sesuatu. Aku memang tidak bisa hidup tanpa kamu. Aku tidak ingin kehilangan rumah tangga kita. Namun... Aku memiliki seorang wanita lain yang aku cintai. Maksudku, aku mencintaimu, namun aku juga tidak bisa hidup tanpa dia." Yuna merasa nafasnya tercekat. Perutnya seketika tidak bisa mencerna apa yang ia makan barusan. Yuna masih melihat ke arah piringnya, ia sama sekali tidak berani menatap Adit sekarang.


"Bercanda kamu tidak lucu Dit. Habisin makannya, lalu mandi. Kamu pasti capek." Yuna mengiris daging steik miliknya dan memasukkan potongan itu ke mulutnya. Ia mengunyahnya walau tidak tahu lagi apa rasanya.


"Cukup Adit! Cukup! Jangan lanjutkan lagi. Aku akan berpura-pura tidak mendengar ini. Aku...ke kamar dulu. Yuna berdiri dan menuju kamarnya. Adit mengikutinya. Ia sudah terlanjur basah dan tidak mau menundanya lagi. Toh cepat atau lambat ia harus menceritakan semuanya pada Yuna.


"Yuna, tolong dengarkan aku. Aku tahu kamu kecewa." Adit menahan Yuna dengan memegang lengannya.


"Aku bukan hanya kecewa. Aku marah. Apa-apaan kamu Dit? Tidak ada yang terjadi dengan pernikahan kita dan kamu tiba-tiba bilang kamu punya wanita lain?" Yuna masuk ke kamar. Bertengkar di sana hanya membuat aib suaminya didengar oleh pembantunya.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak selingkuh diam-diam saja sih? Nanti kan kayak di film-film aku bisa curiga dan nanti aku cari tahu sendiri. Ngapain kamu ngaku? Jawab!" Yuna berteriak. Terkadang memang wanita lebih memilih untuk dibohongi asal tidak ketahuan.


"Aku tidak mau membohongimu lebih lama Yuna. Itu sebabnya aku jujur."


"Jujur kamu itu menyakiti aku Dit. Yakin karena kamu tidak mau membohongiku lebih lama? Bukan karena kamu ingin lebih bebas dengan dia?" tanya Yuna. Dia. Yuna bahkan belum menanyakan siapa "Dia" itu. Ia tidak berminat untuk mengetahuinya.


"Tega kamu Dit." Yuna menggelengkan kepalanya. Ia tidak percaya Adit melakukan itu. Suaminya yang tampak sempurna dan berpendidikan tinggi ternyata berkelakuan sangat bejat. Yuna mengganti pakaiannya dan berniat untuk tidur. Ia tidak mau memikirkan perkataan Adit tadi. Mungkin Adit hanya tergoda sesaat dengan perempuan itu. Mungkin besok atau lusa, Adit akan sadar bahwa ia hanya khilaf. Mungkin juga...Yuna hanya sedang bermimpi buruk sekarang.


Adit tidak bisa memejamkan matanya. Yuna bahkan belum tahu dengan siapa ia menjalin cinta terlarang di belakangnya. Mungkin lebih baik jangan diberi tahu dulu.  Ia merasa sedikit bersalah dengan Yuna. Yuna sebenarnya istri yang baik. Ia selalu mengurus Adit dengan baik. Latar belakang keluarga Yuna juga yang membuat papanya memilih Yuna menjadi menantunya. Tidak ada yang salah dengan Yuna. Salah dirinya mencari sesuatu yang lebih yang tidak Yuna miliki. Dan itu ada di dalam diri Becca. Adit menarik napas panjang. Ia akan menghadapi masalah besar jika Yuna memberi tahu orang tua mereka. Adit harus membujuk Yuna lagi besok.


Yuna merasa kepalanya sangat berat. Ia hampir tidak bisa tidur semalaman walau memejamkan matanya. Baru subuh tadi ia tertidur. Yuna tahu semalam Adit bangun dan menelepon seseorang. Mungkin wanita itu. 'Bodoh sekali kamu Yuna, selama ini Adit pasti sering menelepon dia saat kamu sedang tidur nyenyak. Ini salahmu kurang peka terhadap semuanya. Salahmu!' Yuna menangis. Semalam ia terlalu bingung dengan pengakuan mendadak dari Adit. Yuna bangun dari tidurnya dan menyadari hari sudah siang. Adit pasti sudah pergi kerja di jam segini. 'Astaga, aku belum mengabari Becca aku telat.'


"Bec, maaf. Sejam lagi baru aku ke sana ya." Yuna menelepon sambil masuk ke kamar mandi.


"Nanti aku cerita." katanya lagi.


"Kamu telat bangun?" tanya Becca yang sedang duduk di ruangannya dan Yuna.

__ADS_1


"Nanti aku cerita." Yuna menutup teleponnya. Becca sudah ditelepon Adit bahwa ia telah memberi tahu Yuna tentang dirinya yang memiliki wanita lain. Namun belum secara terperinci karena Yuna tampak sangat shock. Becca menunggu Yuna dengan sedikit cemas. Ia tahu sahabatnya itu pasti akan curhat dengannya. Becca ingin sekali menceritakan semuanya, tapi Adit sudah mewanti-wantinya untuk jangan menceritakan bahwa itu adalah Becca. Biar semuanya sedikit tenang dulu. Jadi yang harus dilakukan Becca hanyalah mendengarkan apa yang akan diceritakan Yuna. Akhirnya semua terjadi. "Maafkan aku Yuna."


*****


__ADS_2