
"Apa kabar Yuna? Sudah lama banget kita tidak ketemu." Marsha memeluk temannya saat kuliah dulu. Mereka memang tidak terlalu dekat karena dulu Becca selalu menempel pada Yuna. Tapi Marsha cukup mengenal Yuna karena pernah sama-sama terlibat saat kegiatan di klub pencinta alam dulu.
"Kabar baik Sha. Maaf baru menghubungimu di saat lagi butuh."
"Hahaha...Tidak apa-apa kok. Aku senang kita bisa ketemu, apalagi bisa membantumu. Jadi apa kegiatanmu sekarang?" tanya Marsha yang terlihat keren dengan seragam putihnya.
"Kerja kantoran hahaha...Ngomong-ngomong kamu keren banget lho pake baju dokter gitu. Asistenmu bilang jadwalmu penuh sampai minggu depan. Makasih ya sudah hubungi aku." kata Yuna sambil menyilangkan kakinya saat duduk di sofa putih itu.
"Sebenarnya aku tidak pernah melihat daftar pasienku untuk minggu depan. Entah mengapa kemarin aku iseng aja ngintip ada berapa pasien. Eh, taunya ada Yuna Sakura. Aku yakin nama itu cuma kamu yang punya hahaha...Langsung deh aku calling, ga usah tunggu minggu depan lagi." Marsha menuangkan secangkir teh hijau untuk Yuna.
"Keuntungan untukku karena mengenalmu. Saat aku mencari psikolog terbaik di kota ini, namamu muncul paling atas lho. Aku sebenarnya tidak pernah berpikir untuk mencari seorang psikolog." Yuna menerima cangkir teh berwarna emas itu dan meminumnya perlahan.
"It's ok. Hampir semua pasienku merasa mereka tidak membutuhkan seorang psikolog karena kita tidak pernah tahu sampai di mana kemampuan diri kita mampu menerima semua masalah. Kamu bisa menceritakannya perlahan." Senyuman Marsha seolah bisa menghipnotis pasiennya untuk lebih santai bercerita.
"Aku..baru bercerai dengan suamiku enam bulan lalu. Dia berselingkuh dengan sahabatku." Marsha reflek menaikkan sebelah alisnya. Bukan dengan kata "bercerai", tapi lebih karena kata "sahabat".
"Dengan Rebecca kalau kamu masih ingat dia. Aku merasakan pengkhianatan yang luar biasa." Yuna berhenti bercerita sejenak dan mengambil napas panjang.
"Ya, aku ingat dia." Marsha mencoba tenang dan tidak mau berkomentar lebih lanjut. Ia harus bisa memainkan karakter netral sebagai seorang dokter. Andai saja Yuna menemuinya di kafe atau tempat lain, Marsha sudah pasti akan mengeluarkan emosinya saat mendengar nama Rebecca.
"Tapi Sha, aku bisa melewati masa suram pasca perceraianku karena hadirnya seorang pria dalam hidupku. Namanya Joshua. Aku mengenalnya sejak SMA. Cinta pertamaku. Dan aku mendengar darinya bahwa aku juga cinta pertamanya hahaha...Lucu ya."
"Aku senang ada yang menemanimu melewati masa-masa itu. Apakah kamu hanya menyukainya atau...?" Marsha mencoba menggali lebih dalam dengan apa yang dirasakan Yuna.
"Aku yakin aku mencintainya." Jawaban Yuna yang cukup yakin membuat Marsha tersenyum lagi.
"Lalu? Apa yang membuatmu ragu Yuna?" Marsha tahu ada suatu keraguan yang membuat Yuna datang mencarinya.
"Joshua melamarku dan ingin mengajakku menikah. Dia tahu aku belum siap dan berkata akan menungguku." Marsha hanya menunggu Yuna melanjutkan ceritanya.
"Aku tidak tahu bagaimana menghilangkan rasa takutku Sha. Bagaimana kalau aku gagal lagi? Aku takut akan mengecewakan orang tuaku lagi. Aku takut membuat mereka malu. Dulu, aku juga menganggap Adit sebagai seorang pria yang baik, sama seperti Joshua sekarang. Kita tidak akan pernah tahu kapan orang bisa berubah. Mungkin suatu hari aku juga bisa berubah. Kamu mengerti kan Sha?" Yuna menyandarkan punggungnya.
"Aku mengerti apa yang kamu kuatirkan Yun. Hal pertama yang bisa aku katakan adalah tidak semua pria seperti mantan suamimu. Masih banyak pria baik di luar sana. Kedua, andai saja pria baik itu berubah menjadi seperti mantan suamimu, kuatkan dirimu bahwa semua akan baik-baik saja. Kamu benar, kita tidak bisa membaca masa depan. Teruslah berpikir positif maka kamu akan bisa menerima semuanya dengan ikhlas. Boleh aku tanya sesuatu?" Yuna mengangguk.
"Apa yang kamu rasakan saat melihat mantan suamimu bersama dengan Becca?"
"Jujur, dulu aku jijik melihat mereka. Sekarang biasa saja Sha, bahkan aku satu kantor dengan Adit. Aku tidak mau menghindarinya."
"Apa kamu masih berdebar saat bertemu mantanmu?" tanya Marsha.
"Jika maksudmu apa aku masih mencintainya, aku yakin aku tidak memiliki perasaan apapun lagi padanya. Entahlah, aku merasa aku juga tidak membencinya. Seperti mati rasa gitu lho Sha."
__ADS_1
"Kalau mendengar ceritamu, sebenarnya kamu benar-benar sudah move on Yun. Hanya saja perasaan takut akan kegagalan masih menghantuimu. Tapi percaya tidak Yun, kalimat semua akan indah pada waktunya itu benar-benar ada. Tuhan sudah mengatur semua yang terbaik untuk kita. Maaf, tapi apakah kamu memiliki anak dengan mantan suamimu?" Yuna menggeleng.
"Tuhan juga sudah mengaturnya untukmu. Joshua juga datang di saat yang tepat. Aku tahu itu berat untukmu. Menerima semuanya dengan ikhlas tidak semudah menerima kata-kata. Andai kata suatu hari mimpi buruk kembali datang di hidupmu, jangan pernah menyalahkan keadaan. Cukup kamu mencari setitik harapan yang bisa menarikmu kembali ke atas. Intinya, jangan takut dengan apa yang akan terjadi di masa depan Yuna. Percayalah, akan ada jalan keluarnya untuk segala masalah. Yang perlu kamu pikirkan sekarang hanya apa yang membuatmu bahagia. Lakukanlah." Kata-kata Marsha membuat Yuna yakin dengan jalan yang harus diambilnya.
"Apa ini nasihatmu sebagai seorang psikolog atau teman?" Yuna tersenyum.
"Hahaha...Sebagai seorang psikolog. Tapi, sebagai seorang teman, aku memberimu bonus dengan memberimu jawaban dan harapan yang paling tulus. Karena aku mengenalmu Yuna. Kamu wanita pintar, baik, dan selalu berpikir positif. Dan aku berharap, kamu akan selalu kuat, karena kekuatan itu akan membuatmu bahagia apapun yang terjadi."
"Terima kasih Sha." Yuna memeluk dokter cantik itu.
"Sama-sama. Kapan-kapan kita jalan bareng yuk. Kangen tau." ucap Marsha.
"Kamu yang atur waktu. Mau konsul aja waiting list ampe seminggu ke depan hahaha...Aku mah bebas." Yuna tertawa sambil melepaskan pelukannya.
"Minggu aku libur. Aku praktik sampai jam enam sore, no lembur. Sabtu di atas jam tiga aku bebas juga. Nanti aku hubungi ya."
"Aku tunggu lho Sha."
Yuna meninggalkan ruangan itu dengan perasaan yang lebih lega dari sebelumnya. Ia memang butuh teman bicara di luar zonanya. Seseorang yang tidak memihak, yang bisa mengerti apa sebenarnya yang ia rasakan dan yang ia takutkan.
*****
"Mau ke mana sih Sayang? Sudah jalan satu jam belum sampe." Yuna dijemput oleh Shua sekitar jam 9.15. Yuna melirik ke arah Shua yang memakai kaos putih santai dengan celana jeans yang sedikit sobek di lututnya. Sebelum mereka berangkat, Yuna mengenakan gaun sabrina selutut berwarna nude pink. Namun setelah melihat penampilan Shua, ia langsung merasa salah kostum dan memutuskan untuk menggantinya dengan pakaian senada dengan kekasihnya. Ripped jeans dengan kaos putih yang dipadu dengan rompi rajut berwarna abu-abu.
"Ini?" Yuna tiba-tiba merasa bersemangat. Senyumnya mengembang.
"Sudah ingat?" tanya Shua sambil membelokkan mobilnya ke sebuah jalan kecil.
"Sekolah kita?" Shua mengangguk sambil tertawa.
"Astaga!" Yuna menutup mulutnya yang menganga karena tidak percaya dengan tujuan Shua membawanya hari ini.
SMU Harapan Kita memang berada jauh dari kota Jakarta, hampir di perbatasan menuju Bogor. Shua memarkirkan mobilnya di depan pagar sekolah. Seorang pria tua berpakaian sekuriti dengan topi hitam menghampiri mereka.
"Bisa dibantu Pak?" tanyanya sopan.
"Pak Heri?" Panggil Shua. Ia ragu tapi cukup yakin dengan ingatannya. Pria tua itu hanya terdiam sedikit bingung.
"Saya Joshua, Pak. Dulu kami bersekolah di sini. Mungkin Bapak sudah lupa."
"Saya Yuna, Pak." Yuna ikut memperkenalkan dirinya walau ia cukup yakin Pak Heri tidak mungkin ingat dirinya.
__ADS_1
"Hahaha...Menyenangkan sekali melihat ada alumni sekolah masih ingat dengan saya. Tapi maaf, anak-anak di sini cukup banyak dan kalian pasti sudah cukup banyak berubah. Intinya saya tidak ingat hahaha...Jadi apa kalian sudah menikah?" Yuna dan Joshua saling bertatapan.
"Oh belum Pak. Saya masih menunggu sampai ia setuju." Mereka tertawa.
"Pak, saya izin masuk dan berkeliling di dalam boleh?" Shua bertanya.
"Oh, boleh. Tentu saja Nak. Masuklah. Mobilnya biar Bapak yang jaga."
"Terima kasih banyak, Pak." ucap mereka.
Joshua menggandeng tangan Yuna dan memulai langkah mereka mengenang masa lalu. Masa lalu Yuna dan Shua tanpa ada Adit di dalamnya. Pahatan batu bertuliskan SMU Harapan Kita masih sama letaknya, hanya saja lebih terlihat baru karena dicat ulang. Letak masing-masing kelas juga tidak ada yang berubah. Yang jelas terlihat beda adalah banyak kompresor AC dimana-mana. Tentu saja zaman mereka bersekolah dulu belum ada mesin pendingin ruangan seperti sekarang.
"Aku pertama kali menyukaimu saat kamu manggung di sana." Yuna menunjuk ke arah kanan mereka.
"Oh iya? Kapan?" Shua penasaran. Mereka memang belum bercerita tentang masa lalu terlalu dalam.
"25 Minutes. Saat penutupan Ospek."
"Aku kan yang menjadi pendamping kelasmu saat itu."
"Iya benar. Saat itu aku mungkin sudah menyukaimu. Tapi ya, suka-suka saja. Karena menurutku kamu paling ganteng saat itu. Jangan terbang ya hahaha..." Mereka bercerita sambil berkeliling ke arah kantin belakang.
"Mana bisa terbang kalau kamu menggandengku begini. Sayang, apa kamu bisa menebak kapan aku mulai menyukaimu?" tanya Shua. Yuna pun mencoba mengingat kembali apa yang ditulis di surat Shua saat menembaknya dulu, namun tidak berhasil.
"Aku lupa apa yang tertulis di suratmu. Aku ingin melupakannya saat itu karena rasanya menyedihkan saat tahu kamu dipermainkan oleh seseorang yang kamu suka."
"Saat aku melihatmu dengan rambut yang masih basah di tengah kebun bunga itu, aku sadar kamu sangat cantik. Boleh aku mengenalmu lebih dekat? Maukah kamu menjadi pacarku?" Joshua mengulang kembali apa yang ia tulis kala itu.
"Oh iya, benar. Kira-kira seperti itu." Yuna tersenyum mendengarnya.
"Bukan kira-kira lagi. Memang persis sekali seperti itu. Aku masih sering membuka binder itu, makanya aku sangat sulit melupakanmu." Yuna tersenyum mendengarnya. Sangat bodoh rasanya karena ia tidak percaya dengan semua pernyataan Shua dulu.
"Tapi aku tidak pernah menyesalinya sayang. Saat aku belum tahu perasaanmu padaku, aku memang merasa kecewa karena kamu tidak membalas perasaanku dulu. Tapi saat kita bertemu lagi, aku bersyukur kita bisa bertemu di saat kita sudah dewasa dan matang. Mungkin kalau dulu kita berpacaran saat sekolah, kita bisa putus karena ego masing-masing. Ya, selalu ada berkah di semua kejadian kan." Shua melanjutkan curahan hatinya. Yuna senang mendengar celotehan Shua yang biasanya pendiam.
"Kisah kita berawal di sekolah ini. Terima kasih sudah mengajakku kembali ke sini. Sekarang aku sadar, perasaanku padamu tidak pernah hilang. Hanya saja aku menguburnya terlalu dalam hingga aku tidak menyadari rasa itu masih ada. Dan saat kamu kembali ke hidupku, rasa itu kembali dan terus tumbuh. Sayang, aku..aku yakin aku mau menghabiskan sisa hidupku denganmu. Jika tawaran lamaran itu masih ada, aku mau menerimanya." Yuna merasa yakin dengan apa yang diucapkannya. Langkah Shua berhenti saat mendengar kata-kata itu dari mulut Yuna. Ia membalikkan badan wanita itu menghadap dirinya.
"Benarkah? Kamu yakin kamu siap?" Shua tidak bisa menahan senyumnya yang mengembang. Yuna mengangguk yakin.
"Aku siap sayang. Aku yakin karena pria yang hadir kembali itu kamu, Joshua sang ketua OSIS." jawab Yuna. Shua menggendong Yuna dan berputar-putar bahagia. Ia tidak menyangka keputusan membawa Yuna ke sekolah lama mereka membuat Yuna menerima lamarannya. Lamaran yang bahkan belum ia siapkan dengan sempurna tanpa mengurangi maknanya.
Yuna sebenarnya sudah mempersiapkan jawaban atas keinginan Shua melamar dirinya dalam waktu dekat ini. Namun bukan hari ini. Tapi entah mengapa, memori masa lalu yang muncul hari ini membuatnya tidak ingin melepaskan pria di sampingnya lagi. Yuna ingin bahagia dengan Shua, pria yang membuat hidupnya kembali sempurna.
__ADS_1
*****