
'Jo, aku ingin menemuimu.' Joshua membaca pesan singkat itu. Ini bukan yang pertama ia menerimanya sejak dua hari lalu.
"Sayang, aku ingin pulang." Yuna sudah memintanya dua kali.
"Nanti aku tanya dokter ya. Dia akan datang agak siang." jawab Shua sambil mengetik balasan ke Devi.
'Maaf, aku tidak bisa.' balasnya dengan sopan.
Dokter Angga datang dengan dua perawat wanita di belakangnya.
"Bagaimana kabarnya Ibu Yuna?" tanya si dokter tampan sambil memamerkan deretan gigi putihnya.
"Baik Dok, sangat baik. Aku bahkan bisa berlari sekarang hahaha..." jawab Yuna.
"Sepertinya aku tahu arah jawaban itu haha.." Dokter Angga mulai memeriksa Yuna dan melihat catatan medisnya.
"Saya rasa dua hari lagi Ibu Yuna boleh pulang. Hari ini akan dilakukan CT Scan kepala lagi, besok saya akan lihat hasilnya. Mudah-mudahan semuanya sehat." jelasnya.
"Baik Dok." jawab Joshua. Ia melihat ke arah Yuna dan melihat wajahnya sedikit cemberut. Shua mengerti Yuna sangat bosan dan ingin segera pulang. Namun semua ia serahkan ke dokter, Shua hanya ingin yang terbaik untuk Yuna.
Shua sedang asyik menyuapi Yuna buah-buahan saat ia mendengar ketukan di pintu. Sial! Devi muncul dari balik pintu.
"Hai Yuna, bagaimana keadaanmu?" Wanita itu masuk sambil membawa paper bag dan menaruhnya di atas meja panjang di dekat pintu.
"Devi? Bagaimana kamu tahu aku di sini?" Yuna terkejut dengan kedatangan Devi, tapi tidak dengan Shua. Pria itu seharusnya sudah bisa menebak Devi akan mencarinya ke sini saat ia terus menolak menemuinya di luar. Salahnya ia lupa memberi tahu Lian untuk tidak memberi tahu sembarangan orang tentang keberadaannya sekarang.
__ADS_1
"Aku mendengarnya dari Lian. Hai Jo. Tadinya aku mau membahas beberapa pekerjaan. Tapi nanti saja, aku kesini mau menjenguk Yuna." jelasnya.
"Aku tidak tahu kamu ke Jakarta." Sebenarnya Yuna tidak tahu apa yang harus diobrolkan dengan Devi. Suasana menjadi sedikit canggung.
"Syukurlah kamu terlihat sehat sekarang. Aku dengar kamu hampir satu minggu koma."
"Iya. Aku terkena benturan yang cukup keras. Pelajaran dalam menyetir, jangan melamun hahaha..." Yuna sedikit bercanda untuk mencairkan suasana. Ia melirik ke arah Joshua yang tidak sedikitpun bersuara apalagi tertawa.
"Bagaimana kamu bisa tidak melihat kucing sebesar itu di depanmu? Itulah mengapa dinas kebersihan kita juga harus mengamankan hewan-hewan yang berkeliaran di jalan." ucap Devi sambil menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.
"Kucing?" Yuna sedikit bingung. Kucing? Kucing di depan mobil? Kepala Yuna sedikit berdenyut saat ia mencoba mengingat kembali momen di saat ia mengalami kecelakaan.
"Oh maaf. Sepertinya aku salah bicara.." Perkataan Devi seperti tidak dihiraukan oleh Yuna. Ia tetap mencoba mengingatnya.
"Sayang, kamu kenapa?" Shua mendekatinya.
"Aku..Aku...mendengarnya dari Lian." jawabnya sedikit gugup.
"Devi, kamu tidak dengar yang Yuna katakan tadi? Dia saja baru mengingatnya sekarang. Jadi bagaimana kamu bisa tahu? Jawab!!" Seketika Joshua menjadi emosi. Keping demi keping puzzle yang berhamburan di pikirannya mulai tersusun sekarang. Walaupun semuanya belum memiliki bukti, tapi Shua yakin dengan firasatnya.
"Aku..aku masih ada sedikit urusan. Aku pergi dulu." Devi mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu. Tapi dia berhenti sejenak saat Shua mengatakan sesuatu yang membuatnya takut.
"Pergilah! Aku pastikan akan ada polisi yang menghubungimu secepatnya." Suara Shua terdengar sangat dalam dan serius.
Yuna masih harus mencerna dengan apa yang terjadi. Kepalanya menjadi sangat sakit sekarang. Ia meringis kesakitan dan Shua mulai panik sambil membunyikan tombol memanggil perawat. Yuna diberi obat penenang oleh perawat. Satu jam kemudian Dokter Angga baru datang karena ia sedang mengoperasi pasien.
__ADS_1
"Saya harap untuk sementara waktu Ibu Yuna jangan terlalu banyak memikirkan yang berat-berat Pak Jo. Pasca operasi kemarin, saraf-saraf Ibu Yuna masih butuh waktu untuk penyembuhan."
"Baik Dok, maaf. Tadi ada pengunjung yang sedikit membuat masalah."
Joshua memandangi Yuna yang tertidur sejak diberi obat penenang. Ia tadi sangat takut melihat kekasihnya yang tampak kesakitan. Untunglah itu bukan sesuatu yang serius menurut Dokter Angga.
Devi. Ternyata benar firasatnya sejak Devi mengajaknya bicara saat pembukaan Peninsula. Sepulang dari sana, Shua menebak bahwa kejadian Adit dan Yuna adalah ulah wanita itu. Tapi ia tidak berani asal tuduh. Toh Yuna juga tidak mempercayai bahwa ia mengatakan itu semua tentang Adit. Dan mengenai pernyataannya tadi tentang kecelakaan Yuna, orang bodohpun bisa menebak Devi terlibat di dalamnya. Hanya saja ia tidak tahu bagaimana harus bertindak sekarang. Sebenarnya Shua yakin akan membawa kasus ini ke polisi, tapi melihat kondisi Yuna yang belum boleh tertekan membuatnya ragu karena sedikit banyak Yuna juga pasti akan berurusan dengan polisi.
*****
"Tante yakin mau merestui Kak Josh dengan Yuna?" Vanya duduk di sebelah Nissa dan memegang tangan wanita yang telah dianggapnya ibu itu.
"Maaf Vanya, Tante tahu perasaanmu ke Joshua. Tapi untuk masalah ini, Tante tidak bisa melarangnya." Tampak raut muka menyesal di wajah Nissa.
"Kenapa tidak bisa Tan? Kak Josh selalu menuruti apa kata Tante. Lagian alasannya jelas, dia seorang janda Tante. Tolong Vanya, selama ini hanya Kak Shua yang Vanya tunggu. Kak Shua itu penyemangat Vanya, hanya kalian keluarga Vanya." Gadis cantik itu menangis seolah harapannya sudah terbang entah kemana.
"Kami akan tetap menjadi keluargamu Vanya. Jangan khawatir tentang itu. Tante akan tetap menjadi ibumu." Nissa memeluk gadis malang itu.
"Tidak Tante. Vanya akan hancur jika Kak Shua menikah dengan Yuna. Vanya akan hancur!!" teriaknya sambil menyeka air matanya yang terus mengalir.
Nissa tidak kuasa untuk melarang hubungan Joshua dengan Yuna. Ia tidak memiliki alasan yang kuat untuk menentangnya. Satu-satunya alasan hanyalah Yuna pernah menikah. Tapi Nissa dan William sudah berjanji akan menerimanya. Dan melihat Vanya yang menangisi Joshua, membuat Nissa tidak bisa menahan air matanya. Jujur ia sangat sayang dengan Vanya. Gadis itu sudah dianggap seperti anak kandungnya sendiri. Alangkah bahagianya Nissa jika Vanya yang dipilih Shua. Tapi faktanya Shua selalu menganggap Vanya hanya seperti adik, tidak lebih.
"Please, tolong Vanya Tante, tolong Vanya!" Nissa hanya bisa memeluk gadis malang itu tanpa menjawab. Ia hanya bisa berserah kepada Tuhan. Terjadilah apa yang akan terjadi.
'Aku harus bisa mendapatkan Kak Josh. Dia milikku. Aku yang mengenalnya duluan, bukan Yuna. Beraninya wanita seperti Yuna mengharapkan lelaki seperti Kak Josh. Akan aku buat dia sadar siapa yang dia hadapi. Jika aku tidak bisa mengambil jalan depan, akan kuambil jalan belakang.' Pikiran jahat Vanya memenuhi pikirannya walaupun hatinya sudah menentang itu berkali-kali. Tapi apa boleh buat, sudah lama Vanya menunggu Joshua, menunggu Joshua melihatnya sebagai seorang wanita. Wanita yang pantas mendampinginya seumur hidupnya.
__ADS_1
*****