
Suasana lobi Hotel Carson sore itu sangat ramai. Untung saja Cathy menyewa sebuah ruang meeting berukuran kecil, cukup muat untuk menampung mereka yang hanya berenam. Dirinya, Yuna, dan empat lagi dari pihak PT Silver Building, sebuah perusahaan konstruksi dari Bali yang akan membangun sebuah komplek apartemen di Jakarta. Cathy memberikan sebuah dokumen untuk Yuna yang sedang menjelaskan sebuah proyek kepada klien mereka.
"Bapak bisa menandatanganinya di sini jika sudah jelas." ucap Yuna sambil menunjuk dengan telapak tangannya.
"Sebentar. Saya akan meminta asisten saya memeriksanya dulu. Tidak apa kan?" Pria bermata agak sipit itu memberikan dokumen ke asisten yang berdiri di belakangnya.
"Tidak apa-apa Pak Dylan. Memang seharusnya seperti itu." Yuna tersenyum manis memperlihatkan giginya yang putih dan rapi itu.
"Bagaimana jika kita dinner sambil menunggu Denny periksa?" Yuna sedikit terkejut dengan ajakan itu tapi ia tidak enak jika menolaknya.
"Boleh saya mengajak Cathy?" tanyanya sambil melirik gadis itu yang menahan rasa senangnya.
"Tentu saja. Ayo. Semalam saya makan di sini juga. Not too bad. Banyak menu yang menarik yang ingin saya coba. Saya pencinta kuliner hahaha..."
Cathy memilih berjalan di belakang Yuna dan Dylan. Dylan sangat menarik. Ia tampak muda di usianya yang sudah menginjak 37 tahun. Tentu saja Cathy sudah mencari tahu biodata calon klien mereka sebelum MOU ditandatangani. Tapi mengenai statusnya, masih belum jelas. Ia masih menikah atau pernah menikah. Beritanya seolah tenggelam begitu saja.
"Ibu Yuna lupa dengan saya ya?" Kalimat pembuka dari Dylan saat mereka selesai memesan beberapa makanan.
"Hah? Maaf?" Yuna seolah mendengar sesuatu yang aneh menurutnya.
"Ibu Yuna lupa kita pernah bertemu dulu?" tanyanya lagi.
"Memangnya pernah? Maaf Pak Dylan, tapi saya tidak ingat jika kita pernah bertemu." Yuna terlihat salah tingkah. Mana mungkin dia melupakan sosok pria seperti Dylan. Bagaimanapun juga ia wanita normal yang menyukai pria tampan.
"Ibu Yuna pernah magang di Hotel Castle View kan dulu?" Pertanyaan Dylan membuat Yuna terkejut.
"Iya benar. Dari mana Anda tahu? Maaf, tapi saya tidak merasa mengenal Anda di sana."
"Tapi saya mengingat Anda dengan pasti. Yuna Sakura. Saat itu ada klien saya yang berasal dari Jepang. Kebetulan penerjemah yang saya hired mendadak berhalangan hadir. Ibu Yuna yang kebetulan lewat menawarkan bantuan. Sepertinya saat itu Anda sudah mau pulang. Pertemuan singkat itu hanya berlangsung lima belas menit tapi bantuan Anda sudah melancarkan semuanya. Saat itu asisten saya ingin memberikan upah untuk Anda namun Anda menolaknya." Dylan menjelaskan pertemuan singkat itu.
"Astaga. Bagaimana Anda bisa mengingatku dengan pertemuan singkat itu?"
"Aku juga tidak tahu. Tapi melihat nama Yuna Sakura aku langsung teringat denganmu, walaupun kamu...sudah sangat berubah. Tapi senyummu tidak berubah. Manis seperti dulu." kata Dylan tanpa malu-malu. Fisik Yuna memang sangat berubah. Pastinya, Yuna yang sekarang jauh lebih menarik.
'Wah..Playboy cap paus ini.' Cathy mengambil buah yang terletak di dekat mereka.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, suami Anda tidak ikut?" tanyanya lagi.
"Maaf?" tanya Yuna lagi.
"Pak Aditya."
"Oh..Mantan suami. Kami sudah bercerai." Yuna mulai terbiasa menjelaskan hal itu kepada orang yang menanyakan statusnya.
"Oooo...Maaf. Aku tidak tahu. Asistenku kurang update ternyata." Dylan sangat terkejut mendengarnya, tapi entah mengapa ada seperti angin sejuk yang berhembus di ujung hatinya.
Pembicaraan berlangsung santai. Yuna kira Dylan adalah pria dewasa yang kaku, ternyata ia cukup enak diajak ngobrol. Pertemuan berlangsung hingga jam 7 malam setelah MOU ditandatangani.
"Mau saya antar?" Dylan menawarkan.
"Tidak perlu, Pak. Saya bawa mobil, sama Cathy juga. Kami duluan ya. Yuk Cat." Yuna masuk ke mobilnya bersama Cathy dan berlalu dari sana.
"Katanya suruh aku panggil mobil online karena capek. Kok jadi anterin?" Cathy tertawa senang.
"Jangan senang dulu. Sampai simpang Sudirman naik online ya hahaha.."
"Entahlah Cat. Aku dengan dia sebenarnya baik-baik saja. Tapi keadaan yang sepertinya tidak mendukung kami." Suara Yuna mendadak terdengar lesu.
"Kamu yang kuat ya Yun. Ada apa-apa cerita sama aku. Jangan dengar kata orang lain, percaya saja sama dirimu dan Pak Joshua. Jaga dirimu. Jangan sampai sakit." Ucapan Cathy membuat Yuna sedikit tersentuh karena masih ada yang memperhatikannya.
Yuna sampai di rumahnya. Tapi ia sedikit bingung dengan adanya mobil berwarna merah terparkir di halaman rumahnya.
"Ibu Yuna, ada tamu menunggu di dalam." Bik Sum membawa tas kerja Yuna ke dalam. Yuna penasaran dengan sosok tamu yang dimaksud. Dan ini benar-benar membuatnya cukup terkejut.
"Vanya?" panggilnya. Saat pertama kali ia bertemu Vanya lima bulan lalu, sangatlah berbeda dengan sekarang. Ia terlihat lebih kurus, hanya saja perutnya membuncit. Wajahnya yang periang dan cerah sekarang terlihat suram dan pucat.
"Kak Yuna. Maaf Vanya mengganggu." katanya lirih.
"Tidak kok. Kamu apa kabar? Sudah makan?" tanya Yuna mencoba bersikap ramah di pertemuan keduanya dengan Vanya.
"Sudah Kak. Vanya baik."
__ADS_1
"Maaf aku tidak menjengukmu saat masuk rumah sakit dulu. Takut banyak gosip."
"Tidak apa-apa Kak. Begini..." Vanya seperti ragu melanjutkan kalimatnya.
"Ada apa? Katakanlah." Yuna merasa memiliki firasat buruk dengan kunjungan Vanya yang tidak terduga itu.
"Kak Yuna, tolong lepaskan Kak Josh." Vanya sepertinya sangat yakin dengan ucapannya. Tidak ada rasa takut dan ragu di dalam matanya walaupun Yuna menatap tajam seperti akan membunuhnya.
"Hah? Apa maksudmu?" Yuna sontak berdiri karena kaget dengan yang didengarnya.
"Biarkan Kak Josh menikahi Vanya, Kak. Tante juga sudah setuju." Kegilaan macam apa yang didengar Yuna sekarang, ia sangat bingung.
"Apa maksudnya Tante Nissa setuju? Kami akan menikah sebentar lagi Vanya, apa kamu tahu itu?"
"Vanya tahu, Kak. Tapi di hari kalian menikah, itu akan menjadi hari kematian Vanya dan bayi ini." tantang Vanya.
"Gila kamu, ya. Aku akan menelepon Shua sekarang." Yuna mengambil ponselnya. Tapi jarinya berhenti mengetik saat ia melihat gadis itu berlutut di depannya.
"Kamu ngapain Van?" teriaknya.
"Vanya sudah tidak ada apa-apa lagi untuk dipertahankan, Kak. Karir dan harga diri Vanya sudah hilang. Vanya tidak memiliki keluarga selain Tante Nissa dan Kak Josh. Satu-satunya yang ingin Vanya pertahankan hanyalah mereka. Hingga akhirnya Kak Josh meminta Vanya untuk mempertahankan bayi ini dan Vanya setuju. Tapi alasan Vanya hidup hanya Kak Josh. Vanya tidak bisa kehilangan dia, Kak. Bila saja bayi ini tidak ada, Vanya tidak akan peduli kehilangan nyawa Vanya sendiri. Tapi sekarang, izinkan Vanya memiliki alasan untuk mempertahankan bayi ini, Kak. Lepaskan Kak Josh untuk kami. Vanya mohon." Yuna melihat Vanya menangis sambil berlutut. Marah dan kasihan. Ia tidak tahu lagi bagaimana harus bersikap.
"Lalu kamu anggap perasaan kami tidak pantas untuk dipertahankan?" tanya Yuna.
"Apa kamu tahu apa saja yang sudah kami lalui hingga akhirnya kami akan menikah?" teriaknya lagi.
"Kamu egois Van. Kamu bahkan menggunakan anak yang belum lahir itu sebagai umpan untuk meraih cinta sepihakmu."
"Maaf Kak Yuna. Biarlah aku dianggap egois. Aku tidak peduli lagi apa yang dunia katakan tentang aku. Aku hanya ingin mempertahankan alasan aku dan anakku untuk hidup." Vanya sedikit meringis kesakitan saat ia masih berlutut. Yuna merasa kasihan dengannya, tapi ia juga benci melihat Vanya yang tidak malu ataupun segan kepadanya.
"Pergilah Van. Aku tidak mau membicarakan ini lagi." Yuna berlari ke atas meninggalkan Vanya yang masih berlutut sambil menangis.
Buuk!! Pintu kamar Yuna dibanting begitu keras. Mengapa semuanya begitu sulit? Entah sudah keberapa kali ia merasakan emosi yang begitu sangat akhir-akhir ini. Yuna mengambil ponselnya, ia ingin mengadukan semua yang terjadi tadi kepada Shua. Tapi tiba-tiba ia menghentikan gerakan jarinya. Yuna menarik nafas panjang. Kemana perginya seorang Yuna yang sabar dan kuat itu? Ia tidak tahu lagi apa yang sudah terjadi pada dirinya. Kisah cintanya dengan Joshua jujur saja sudah membuat hidupnya seperti sayur asam. Begitu bahagia dan menyedihkan di saat yang bersamaan. Tapi yang menjadi masalah adalah dirinya tidak menyukai sayur asam secara harfiah, Yuna menganggap makanan itu sangat aneh hingga ia bisa memejam mata saat memakannya. Aah..Bukan saatnya memikirkan sayur asam.
Yuna mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Namun baru beberapa detik ia sudah menggigil kedinginan dan menyalakan air panasnya. Ia akan memberi Shua waktu tiga hari lagi sesuai janji pria itu. Yuna ingin melihat bagaimana ia bisa menyelesaikan masalah Vanya, gadis tengil yang sudah mengganggu hubungan mereka. Jika dalam kondisi normal, tentulah Yuna akan sangat bersimpati dengan Vanya. Bagaimana tidak? Bayangkan gadis belia dengan karir keartisan yang sukses harus hancur karena perbuatannya dalam semalam. Tapi sekarang, simpati yang harusnya diberikan kepada Vanya berubah menjadi benci. Kejamkah Yuna jika ia membenci Vanya? Tidak, itu pantas menurutnya. Harusnya ia dan Shua sedang bahagia mempersiapkan pernikahan mereka. Harusnya Yuna tidak perlu merasakan lagi rasa sakit akibat hadirnya pihak ketiga. Baru saja Yuna mencoba membuka hatinya, belum juga hatinya kembali kokoh seperti dulu, haruskah ada cobaan yang menggempakan hidupnya kembali?
__ADS_1
*****