
"Kamu tidak perlu minta maaf Becca. Ini salah Adit. Salah dia yang selingkuh dengan perempuan itu." Yuna merasakan emosinya yang sangat menggebu saat bercerita dengan Becca. Ia tidak bisa bercerita dengan siapapun lagi.
"Mengapa kamu tidak bercerai saja?" Becca mencoba memberikan jalan keluar terbaik menurutnya.
"Cerai? Tidak! Tidak! Keluarga kami tidak akan pernah membiarkannya. Lagian enakan Adit ma tu perempuan kalau aku cerai. Aku tidak akan pernah membiarkannya. Dengar Becca. Aku akan mengalahkan perempuan itu. Aku akan merebut Adit kembali." kata Yuna.
'Ya, aku tahu bagaimana merebut Adit kembali. Aku hanya perlu menyempurnakan fisikku. Adit pasti tergoda hanya karena penampilannya.' ucap Yuna dalam hati.
'Silahkan kamu coba mengalahkan aku Yuna. Kamu tidak akan pernah bisa. Aku akan membawa suamimu lebih jauh hingga kamu tidak akan bisa mengejar kami.' Becca sangat terobsesi dengan Adit.
"Jadi apa rencanamu sekarang?" tanya Becca.
"Entahlah. Aku tidak akan mengungkit masalah ini dengan Adit sekarang. Mungkin ia hanya tergoda sesaat dengannya." jawabnya. Becca sebenarnya ingin terus bertanya, tapi ia menahannya karena takut Yuna mencurigainya.
"Yun, hari ini aku setengah hari ya." kata Becca.
"Ok. Hari ini juga cuma sampai jam empat. Mau pergi sama pacarmu? Maaf ya Bec, kamu sering banget dengerin curhat aku. Kalau kamu ada yang mau diceritain sama aku, jangan ragu ya buat cerita." Yuna memegang tangan Becca. Becca mengangguk dan tersenyum padanya.
"It's ok. Suatu hari aku pasti akan butuh bantuanmu dan dukunganmu." jawab Becca.
*****
"Selamat siang Pak Aditya. Masih ingat dengan saya?" Joshua berkunjung ke kantor Adit siang itu.
"Pak Joshua. Tentu saja saya ingat. Lagian kata Erick Anda bos di tempat magangnya." Adit mempersilahkan Joshua untuk duduk.
"Saya dapat nomor Pak Adit dari dia."
"Panggil saja saya Aditya atau Adit. Sepertinya kita seumuran." ia tertawa.
"Kalau begitu panggil juga saya Joshua. Maaf kemarin saya tidak sempat berpamitan, ada pekerjaan jadi saya harus cabut duluan." kata Shua.
"Tidak apa-apa, lagian kemarin saya sekeluarga lagi di atas panggung kan."
"Kamu sudah menikah Dit?" tanya Shua.
__ADS_1
"Sudah. Saya kemarin tidak sempat mengenalkanmu pada istriku. Kamu bagaimana? Sudah menikah?" tanya Adit.
"Belum. Masih sendiri. Saya kirain kamu juga single, jadi kita bisa bebas kalau mau main golf atau apa. Saya jarang dapat partner bisnis yang seumuran. Sepertinya kita bisa jadi teman baik."
"Santai bro. Walaupun ada istri, kita masih bisa hangout bareng kok. Kamu juga suka main golf? Kapan kita bisa main bareng?" tanyanya.
"Anytime. Tinggal kamu saja kapan ada waktu. Kita saja belum bahas pekerjaan hahaha.." Mereka tertawa.
"Bisa kita bahas di mana saja. Sebentar ya." Adit melihat ponselnya dan membaca pesan yang masuk.
'Aku sudah di rumah. Kamu jam berapa datang?' Pesan dari Rebecca. Adit hanya menjawab 'sebentar' dan mengirimnya.
"Mau makan siang di luar?" ajak Shua.
"Boleh. Sebentar ya Jo. Aku tinggalin pesan ke sekretarisku." Adit menelepon Silvi dan memberitahunya akan kembali ke kantor agak sore.
*****
"Buat apa aku pulang setengah hari kalau kamu pulangnya jam enam sore begini?" Becca ngambek saat Adit baru sampai di rumah mereka. Adit memeluknya.
"Jadi berhasil kerja sama dengan dia?" tanya Becca.
"Sepertinya iya. Dia yang datang ke kantor dan menawarkan kerja sama itu. Setelah itu kami makan siang dan membahas pekerjaan sampai jam empat. Habis itu aku pulang sebentar ke kantor. Biasanya jam segini aku kan sudah pulang ke rumah, tapi aku belain ketemu kamu dulu." Adit menciumnya.
"Terus, Yuna gimana?" Hal ini sebenarnya yang ingin dibahas Becca dari tadi.
"Aku akan coba tanya sama dia lagi besok." jawab Adit.
"Kok besok?"
"Jangan tiap hari lah. Nanti dia stres, terus cerita ke keluargaku atau dia bagaimana? Pelan-pelan sayang. Yang penting sekarang aku kan tidak perlu pura-pura jadi suami setia lagi. Aku juga tidak perlu pulang tepat waktu." Becca mendengar jawaban Adit yang sepertinya benar.
"Mau makan malam apa? Aku siapin ya. Tadi aku belanja isiin kulkas, mana tahu sekali-sekali mau nginap di sini."
"Memang kamu bisa masak?" tanya Adit. Ia mengikuti Becca ke dapur walau sebenarnya ia ingin menahannya di kamar.
__ADS_1
"Bisa donk. Selama ini kan aku masak di apartemen. Aku jarang jajan di luar karena tidak sehat."
"Aku bantuin ya biar cepat. Kita kan belum melepas kangen hahaha.." Adit mencium kepala Becca. Becca tersenyum. Hidup seperti inilah yang diinginkannya, cukup untuk sekarang. Memasak untuk Adit dan Adit yang membantunya di dapur. Tidak hanya menjadikan rumah itu untuk melepas rindu, tapi juga menganggap rumah itu tempat untuk mereka membangun rumah tangga.
*****
Yuna memandangi makan malam yang ia buat dua jam yang lalu. Ia memanggil pembantunya dan meminta mereka menghabisi makanan itu. Yuna menuju ke kamarnya. Ia bertekad akan mengubah penampilannya. Yuna pasti akan merebut Adit kembali. Ia tidak akan menyerah. Berat badannya pun sudah semakin turun. Ia lebih sering berolah raga sekarang karena masalahnya dan Adit. Yuna butuh sesuatu untuk mengalihkan pikirannya. Adit pasti sedang bersama wanita itu. Sebelumnya Adit tidak pernah pulang telat. Sejak seminggu lalu Adit mengaku padanya tentang adanya wanita lain, hampir setiap hari ia telat pulang. Dan jika Adit mulai membahas masalah itu, Yuna pasti akan menghindar. Ia masih belum tahu bagaimana menyikapinya.
Sepertinya Adit serius dengan wanita itu. Yuna pernah mendengar Adit jika ia akan sekali-sekali tinggal bersama wanita itu jika Yuna sudah mengizinkannya. Dan dari perkataan Adit, Yuna diharuskan untuk memberi izinnya. Egois sekali. Yuna menertawakan keadaannya. Jika ia mengizinkan Adit untuk berselingkuh dengan kedok yang bernama poligami, rumah tangganya akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang berubah dari luar walaupun hatinya hancur. Tapi jika ia tidak mengizinkannya, ia harus bercerai dengan Adit. Dan keluarga besarnya akan..ia bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan kedua orang tuanya.
Keesokan harinya, Yuna mendatangi salon terkemuka di kota itu. Ia memandang penampilan barunya yang tampak lebih muda dan cantik dengan rambut barunya yang dipotong sepundak. Wajahnya kini lebih tirus, dan entah kenapa kepercayaan dirinya muncul lebih tinggi dari biasanya. Yuna mengambil ponselnya dan mengirim pesan ke suaminya.
"Aku ingin bertemu wanita itu sore ini."
*****
"Aku ingin bertemu wanita itu sore ini." Adit membaca pesan yang ia dapat dari Yuna saat sedang bekerja di kantornya. Ia mengira akan ada perasaan bahagia saat Yuna mulai merespon tentang itu. Namun mengapa saat ini Adit bahkan lupa untuk bernapas. Ia sangat gugup dengan apa yang akan terjadi jika Yuna tahu itu adalah Rebecca. Adit segera menelepon Becca.
"Sayang, Yuna mau bertemu kamu sore ini." kata Adit.
"Siang ini dia ke bimbel kok. Aku juga bakal ketemu dia." jawab Becca.
"Bukan. Maksudku, dia mau ketemu kamu sebagai pacar aku." Becca terdiam sebentar mendengar kalimat itu.
"Ok. Nanti kabarin saja jam berapa dan di mana. Aku sudah siap kok." Becca tersenyum. Ia siap bila Yuna marah atau bahkan memukulnya. Hanya perlu menahannya sedikit. Becca juga yakin bahwa Adit akan melindunginya nanti.
Yuna menanti kedatangan kedua orang itu. Ia ingin berbicara dengan mereka di rumahnya. Yuna tidak mau jika mereka sampai ribut dan nantinya akan menjadi konsumsi publik. Sungguh memalukan. Ia sudah sedikit berdandan menyambut mereka. Ia tidak mau kelihatan menyedihkan karena Yuna yakin penampilan wanita itu pasti sangat memukau hingga Adit tergoda. Yuna agak bersyukur saat ini ia belum memiliki anak. Entah apa yang akan dirasakan oleh anaknya jika tahu perbuatan ayahnya yang memalukan ini. Tapi ada kemungkinan semua ini terjadi karena dirinya yang belum bisa memberikan keturunan pada Adit. Yuna tidak tahu lagi. Banyak alasan semua ini terjadi, dan banyak juga alasan bagi Yuna untuk tetap mempertahankan rumah tangganya.
Bel pintu yang berbunyi membuyarkan lamunannya. Bik Sum berjalan ke depan untuk membuka pintu. Yuna mencoba santai dengan gaya duduknya dan mengatur nafasnya yang sebenarnya tidak beraturan. Yuna menoleh ke arah kirinya. Adit menggandeng tangan seorang perempuan cantik. Dan saat itulah nafasnya yang sudah diatur sebelumnya menjadi terhenti walau Yuna mencoba menghirupnya dalam-dalam.
*****
PS: Yuna zaman sekarang
__ADS_1