
"Akhirnya ya, kita bisa makan bareng." kata Adit sambil membolak-balik buku menu.
"Pak Adit sibuk sih. Mau makan apa Yun?" Pertanyaan Joshua reflek membuat Adit menatap pria tampan di depannya.
"Panggil saja aku Adit, masa kamu panggil istriku dengan nama sedangkan dengan aku pakai embel-embel pak? Hahaha.." Adit tertawa kaku.
"Oh maaf, aku dengan Yuna.." kalimat Shua terpotong oleh Adit.
"Teman sekolah kan. Aku tahu. Yuna selalu bercerita tentang apapun. Iya kan sayang." Adit menggenggam tangan Yuna yang bebas di atas meja. Pemandangan yang cukup membuat raut muka Shua sedikit berubah. Yuna hanya terdiam dan menarik tangannya pelan-pelan dari sikap suaminya yang aneh itu.
"Jadi bagaimana dengan proposal yang dikirim oleh manajerku, Dit?" tanya Shua sambil meneguk minuman dingin di depannya.
"Menurutmu kita akan duduk makan di sini kalau aku tolak? Hahaha...Bagaimana aku bisa menolak proposal dari Global? Itu proyek luar biasa Jo. Bahkan direktur perencanaan kami sudah menganalisanya dan ia sangat mendukung. Akan aku kirim balasan resmi proposalnya sesegera mungkin." Adit menuangkan sedikit anggur di gelas Shua dan Yuna.
"Untuk merayakan kerja sama kita." kata Adit sambil bersulang dengan mereka.
"Untuk kesuksesan kita." balas Joshua sambil melirik ke Yuna yang terlihat menawan. Bibir merahnya sangat seksi saat menghirup anggur dengan warna senada. Gaun hitamnya sedikit mengekspos belahan dadanya. Adit sedikit menyadari ada keanehan dalam tatapan Joshua ke istrinya. Sebenarnya Adit enggan mengajak Yuna malam ini, entahlah ia sedikit cemburu mendengar Yuna yang pernah suka dengan kakak kelasnya itu. Apalagi dengan gaun yang dipilih Yuna, Adit sudah meminta Yuna untuk menggantinya tadi. Tapi Yuna yang sekarang bukanlah Yuna yang dulu. Adit juga cukup tahu diri untuk tidak bersikap seperti layaknya seorang suami. Dan sekarang, tatapan Jo ke Yuna membuatnya kesal. Tapi ia berhasil menahannya, demi perusahaannya, demi bisnis.
"Jadi bagaimana kalian bisa kenalan?" Shua bertanya kepada mereka, mencoba menebak siapa yang akan menjawab walau ia sudah tahu pasti siapa orangnya.
"Kami awalnya dijodohkan. Tapi lama-lama siapa yang tidak jatuh cinta dengan Yuna." Adit memandang Yuna. Yuna membalas pandangan itu dengan sedikit muak.
"Entahlah apa yang ia lihat dari seorang wanita gendut yang sangat tidak menarik saat itu." Yuna tertawa sedikit sinis sambil mengangkat gelas anggurnya dan menghirupnya lagi.
"Kamu memang menarik kok walau dulu kamu agak...." kata Shua tanpa melanjutkannya. Lagi-lagi Adit tidak menyukai tatapan pria itu.
"Hahaha...Jangan mengungkit masa lalu Shua." Yuna sedikit menyibakkan rambutnya yang terurai.
"Benar kok. Kamu ingat saat kita ada pelatihan, yang kita lomba lari dengan kaki terikat, menurutku kamu sangat menarik dengan semangatmu. Tidak perlu keseksian tubuh untuk membuat seorang wanita terlihat menarik." jelas Joshua. Yuna hanya mengernyitkan keningnya.
"I mean it." Joshua menegaskannya lagi.
__ADS_1
"Ok ok..cukup dengan masa lalu. Kamu membuatku cemburu karena aku tidak ada saat itu Jo hahaha... Oh iya Jo, aku sudah ke Surabaya untuk melihat lokasi di sana. Setelah MOU kita ditandatangani, aku rasa kita harus ke Surabaya lagi untuk bertemu beberapa vendor." kata Adit sambil menuang saus ke atas piringnya.
"Boleh. Aku memang lebih suka untuk terjun langsung ke lapangan sebelum pekerjaan dimulai. Kamu ikut kan Yun. Biar kamu bisa memprediksi apakah budgetnya bisa sesuai dengan estimasi proposal."
"Ok, aku ikut." Adit baru saja akan menolak permintaan itu, namun ia kalah cepat dengan jawaban Yuna. Joshua tersenyum mendengarnya, dan Adit sangat tidak menyukainya. Senyuman playboy. Tapi sangat tidak mungkin seorang Joshua Austin William menyukai istri orang seperti Yuna. Apalagi Adit sudah menyelidikinya, Joshua tidak pernah terekspos memiliki hubungan serius dengan seorang wanita. Ia hanya pernah muncul saat seorang artis terkenal, Vanya Aprilia, menggandengnya di pesta ulang tahun Vanya. Media menggemparkan hubungan itu hingga Vanya mengklarifikasi bahwa mereka sudah seperti kakak dan adik. Joshua tentu saja tidak pernah mau muncul lagi ke publik sambil menggandeng seorang wanita.
"Siiip...nanti biar sekretarisku yang mengatur semuanya. Atur saja kapan Dit. Kalau bisa seminggu sebelumnya biar aku bisa mengosongkan jadwalku. Yuk makan..nanti keburu dingin." Joshua menyunggingkan senyum manisnya ke pasangan kaku di depannya. Yuna membalasnya, namun tidak dengan Adit yang pura-pura sibuk mengiris daging steik di depannya.
Mereka berpisah di parkiran. Joshua berlalu dengan Range Rover putih miliknya setelah melambaikan tangannya dan dibalas oleh Yuna yang juga baru masuk ke mobil Adit.
"Ngapain sih senyum ke dia terus?" Adit menghidupkan mesin mobilnya.
"Lah, masa harus aku jutekin?" Yuna memasang seat belt nya.
"Aku kan sudah bilang jangan pakai gaun ini. Lihat kan, belahannya dadanya terlalu rendah." Adit membenarkan V neck gaun itu yang miring tertahan seat belt. Yuna sedikit terkejut dengan sentuhan yang agak intim itu. Wajar saja, karena terakhir Adit menyentuhnya lebih dari dua bulan lalu walaupun Adit pulang setiap minggu. Wajah Yuna terlihat sedikit memerah, matanya bertemu dengan mata Adit yang jaraknya tidak sampai 30 cm itu. Adit mendekatkan wajahnya ke arah Yuna dan mendaratkan bibirnya di bibir Yuna. Yuna kaget, ia mencoba membalas ciuman itu. Saat Adit memperdalam ciuman itu, Yuna mendorongnya. Adit terkejut dengan penolakan istrinya itu.
"Maaf, aku belum bisa. Antar aku pulang Dit." Adit tidak menjawab. Ia mulai menjalankan mobilnya berlalu dari parkiran yang mulai sepi itu.
Sesampainya di depan rumah, Adit memarkirkan mobilnya dan ikut turun. Yuna membalikkan badannya heran.
"Ngapain kamu ikut turun?" tanya Yuna.
"Ini masih rumahku kan." jawab Adit. Yuna memutar bola matanya dan bersikap cuek. Ia masuk dan naik ke kamarnya.
Yuna tahu Adit mengikutinya di belakang dan itu membuat pikirannya tak karuan. Adit menutup pintu kamar mereka. Yuna sengaja memilih piyama untuk tidurnya, ia tidak mau mengenakan gaun tipis yang biasa ia pakai untuk menarik perhatian Adit. Tidak untuk malam ini. Yuna pun memilih mengganti pakaiannya di kamar mandi. Ia keluar dan mendapati Adit sedang mengganti pakaiannya, mengekspos tubuh kekarnya.
"Kamu masih di sini? Keluarlah, aku mau tidur." kata Yuna sambil membersihkan make up nya di depan meja rias.
"Keluar ke mana? Ini kan kamarku." Adit duduk bersandar di dipan sambil mengirim pesan untuk seseorang di sana. 'Sayang, malam ini aku tidak ke sana ya. Cium sayang untukmu dan baby.' Adit lalu mematikan suara ponselnya. Ia sedikit merasa bersalah dengan Becca karena wanita itu sedang sedikit sensitif karena kehamilannya. Tapi Becca sudah cukup sehat sekarang, Adit juga sudah mempekerjakan seorang sopir untuk Becca.
"Jadi kamu mau tidur di sini malam ini?" Yuna berdiri di sebelah tempat tidur sambil menyilangkan tangan di depannya.
__ADS_1
"Iya, aku kangen sama kamu Yun." Adit menatapnya sendu.
"Aku tidak mau jadi tempat pelampiasan kangenmu yang hanya sebulan sekali Dit. Memalukan bagiku dan itu penghinaan untukku. Aku tidur di sebelah." Yuna mengambil guling kesayangannya dan berniat keluar sebelum ia merasakan kedua lengan itu memeluk dirinya dari belakang.
"Maafkan aku Yun. Aku sudah mengecewakanmu. Tapi sungguh aku sulit melepasmu." Adit mencium lehernya. Yuna memejamkan matanya. Apakah harus ia biarkan saja atau boleh menolaknya? Bagaimanapun Adit masih suaminya, Yuna harus menerimanya jika ia ingin mempertahankan rumah tangganya. Yuna pasrah saat Adit melempar bantal guling yang dipeluk Yuna dan membalikkan badannya. Adit mencium bibirnya pelan, ia tahu bagaimana ia harus memperlakukan Yuna yang sangat berbeda dengan Becca.
Yuna merasakan tangan Adit yang menjelajahi tubuh polosnya, entah bagaimana pertahanan kancing piyamanya tidak berpengaruh sedikitpun.
"Dit..." Yuna merasakan tubuhnya mengejang walau otaknya menolak semua perlakuan itu.
"Shhtt..Nikmati saja sayang." bisik Adit.
Yuna memejamkan matanya, mencoba menikmati semua permainan Adit pada dirinya. Andaikan perlakuan Adit seperti ini sebelum Yuna mengetahui hubungan gelapnya dengan Becca, sahabat terbaiknya dulu. Andaikan hubungannya dengan Adit terikat kuat oleh cinta dan tidak ternoda oleh pengkhianatan. Andaikan..andaikan..andaikan... Yuna tidak bisa menikmatinya karena semua pikiran itu datang memenuhi otaknya tanpa izin. Hingga Adit akhirnya melepaskan puncak hasratnya di dalam tubuh Yuna.
"Terima kasih sayang..Kamu luar biasa." Adit mencium kening istrinya. Yuna hanya terlihat terdiam, tidak ada senyuman sedikitpun di wajahnya.
"Apa kamu tidak menyukainya?" tanya Adit lagi.
"Menyukaimu atau permainanmu?" Yuna balik bertanya sambil menatap mata suaminya yang masih berada di atas tubuhnya. Adit tidak menjawab, ia masih melihat kekecewaan di mata wanita itu. Yuna mendorongnya pelan, ia meninggalkan Adit dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Saat ia keluar, Yuna melihat Adit sudah mengenakan pakaiannya kembali dan sedang menunggunya.
"Sini.." Adit menepuk ranjang sebelahnya yang kosong. Yuna menurutinya.
"Aku mau tidur." Yuna tidur membelakangi Adit dan memeluk bantal gulingnya. Adit mencium sisi pipinya yang bebas lalu memeluknya dari belakang. Membisikkan 'mimpi indah' di telinganya. Tentu saja Yuna butuh waktu lama untuk benar-benar tertidur, namun ia tidak peduli. Diam terkadang menjadi obat yang paling mujarab untuk mengurangi rasa sakit, tapi bukan menyembuhkannya.
*****
'Sayang, malam ini aku tidak ke sana ya. Cium sayang untukmu dan baby.' Becca melempar ponselnya ke atas tempat tidurnya. Memang baru malam ini Adit tidak pulang selama seminggu ini. Becca tahu itu sudah lebih dari cukup. Tapi jiwa obsesinya terlalu tinggi, apalagi ia sedang hamil. Ya, kehamilan ini sangat ia nantikan untuk merebut Adit sepenuhnya. Becca berpikir untuk memberi tahu Yuna tentang kehamilannya yang sudah memasuki bulan keempat itu. Pasti hubungan mereka akan segera usai. Tapi Becca mengurungnya, Adit pasti marah besar jika ia memberi tahu Yuna. Adit sudah mengingatkannya berkali-kali bahwa ia yang akan menjelaskannya pada Yuna. Becca mencoba menelepon Adit, ia kangen dengan suara pria yang membuatnya tergila-gila itu. Sudah lima jam ia tidak mendengar suara Adit.
Tuut..tuut...tuuut...
"Brengsek! Kok tidak dijawab-jawab sih??!! Lagi ngapain dia?!" Becca mencoba lagi tapi tetap saja tidak ada jawaban. Ia khawatir Adit akan meninggalkannya dan kembali bersama Yuna. Bagaimanapun juga Yuna tidak lagi sama seperti Yuna yang dulu. Ia sudah berubah menjadi angsa yang sangat cantik. Becca harus berhati-hati, ia akan mencari cara yang paling jitu untuk mengalahkan Yuna sepenuhnya.
__ADS_1
*****