
Tidak biasanya Shua meminta Yuna menjemputnya di bandara. Biasanya pria itu meminta sopir di rumahnya atau bahkan hanya naik taksi. Jadilah sekarang Yuna duduk di balik kemudinya sambil menunggu panggilan telepon jika Shua sudah berada di pintu keluar kedatangan domestik. Setelah menunggu dua puluh menit Shua meneleponnya mengabarkan jika ia sudah di luar.
Shua masuk setelah memasukkan ransel dan sedus pie susu di kursi tengah. Ia mengambil alih kemudi setelah meminta Yuna pindah tempat duduk ke sebelah kiri. Baru berjalan sebentar, Shua menghentikan mobilnya.
"Kenapa?" tanya Yuna bingung. Shua tidak menjawab. Ia menoleh ke arah Yuna dan memeluknya erat sekali. Yuna masih bingung tapi ia membalas pelukannya.
"Kamu kenapa, Sayang? Apa ada yang terjadi?" Yuna menggosok pelan punggung Shua yang dirasanya sedang menggeleng.
"Tidak. Hanya merindukanmu. Aku rasa sekarang aku tidak bisa lama-lama darimu. Jauh darimu membuatku tidak bisa berpikir waras. Yuk pulang, aku harus menemui mertuaku." kata Shua sambil melepaskan pelukannya. Ia sangat merasa terganggu dengan pertemuannya dengan Dylan kemarin. Tidak tahu mengapa, Shua merasa ada suatu keseriusan setiap kali Dylan menyebut nama Yuna. Dan itu sangat mengganggunya. Ingin sekali rasanya ia meminta Yuna tidak perlu berteman dengan pria itu, tapi logikanya meminta ia untuk bersikap layaknya pria dewasa.
Di rumah Yuna, orang tuanya sudah menunggu kedatangan calon menantu kesayangannya. Rossa membeli beberapa lauk dan makanan karena ia masih lelah untuk memasak. Kenichi terlebih dahulu menyambut Shua dan mengajaknya berbicara empat mata di teras belakang rumah sambil meminum teh hangat dan pie susu yang baru diterimanya.
"Om turut prihatin dengan apa yang terjadi pada adikmu." Kalimat pembuka Ken menandakan Yuna sudah menceritakan dengan apa yang terjadi pada Vanya.
"Terima kasih Om."
"Om mau tanya, apakah perkara Vanya adalah istrimu dan Yuna adalah simpananmu sudah kamu klarifikasi pada wartawan?" Pertanyaan itu membuat Shua cukup terkejut.
"Belum Om. Shua rasa berita itu sudah menghilang sekarang."
"Kamu tidak berpikir bagaimana jika wartawan itu mengetahui kalian menikah? Bagaimana perasaan Yuna saat itu tiba? Om bukannya ingin mendesakmu. Om tahu niat kamu baik ke Yuna. Hanya saja Yuna tidak pernah meminta apa-apa ke kami, atau bahkan mengeluh sekalipun. Tapi sebagai ayahnya, Om sangat ingin melindunginya dari apapun itu."
"Shua mengerti Om. Shua rasa perkataan Om itu ada benarnya. Nanti semuanya akan Shua bereskan. Om dan Tante tenang saja, Shua tidak akan membiarkan Yuna menderita lagi." Kenichi mengangguk sambil meneguk teh melatinya.
"Pie susunya enak, terima kasih ya." ucapan Ken membuat Shua tertawa tenang. Namun dalam hatinya ia mulai bertanya-tanya apa yang harus dilakukan untuk memenuhi janjinya pada Ken.
__ADS_1
*****
Yuna dan ibunya sedang berbaring mengenakan piyama. Entah mengapa Rossa ingin sekali tidur memeluk putri semata wayangnya itu malam ini. Ia membelai dan mencium rambut Yuna.
"Kamu masih ingat mama paling suka mencium kepalamu dari kecil? Sampai sekarang wangimu tidak berubah padahal sudah mengganti-ganti shampo."
"Ingatlah, Ma. Mama tidak bolehin Yuna pergi jika Mama belum selesai cium kepala Yuna."
"Yuna, kamu dan Shua sudah bulat akan mengasuh Jovan?"
"Iya, kenapa Ma? Mama tidak setuju ya?" tanya Yuna. Ia sedikit menegakkan tubuhnya saat merasa topik pembicaraan menjadi serius.
"Bukannya Mama tidak setuju. Mama hanya mengingatkan, di saat kalian sudah memutuskan untuk mengadopsi Jovan, Mama tidak mau kalian hanya sekedar merawatnya saja. Kalian harus memberikan seluruh cinta kalian seperti merawat anak kandung kalian sendiri. Tanggung jawabnya besar Yuna. Jika kalian tidak sanggup, sebaiknya jangan memulainya." ucap Rossa.
"Iya Ma, Yuna tahu. Tapi Yuna sungguh-sungguh ingin menjaga dan merawat Jovan, begitu juga Shua. Tidak ada keraguan lagi untuk itu. Malah surat-suratnya sudah lengkap, tinggal melampirkan akta nikah kami saja."
*****
"Saya, Joshua Austin William, memilih engkau Yuna Sakura untuk menjadi istriku. Saya berjanji setia kepadamu dalam untung dan malang, dalam sehat maupun sakit. Untuk saling mengasihi dan menghargai Engkau sampai maut memisahkan kita berdua."
"Now, you may kiss the bride." ucap Pastor Ryan sambil tersenyum ke arah mereka berdua.
Shua menoleh ke arah Yuna, membuka cadarnya dan menatap matanya. Senyuman Yuna yang cantik membuatnya tidak bisa menahan lagi hasratnya untuk mencium wanita itu. Diciumnya pelan bibir Yuna lalu berpindah ke keningnya. Suara confetti menambah kemeriahan siang itu. Langit yang cerah ikut menjadi saksi pernikahan Shua dan Yuna. Tapi tidak dengan Dylan. Hatinya yang kelabu tidak secerah langit biru. Ia ikut bertepuk tangan dan tertawa dengan Mario di sampingnya. Cukup sulit baginya memasang muka poker untuk mewakili akhir perjalanan cintanya.
"Yang sabar ya Kak, aku tahu ini berat. Tapi jika kamu mencintainya, itu artinya kamu harus siap melakukan apapun untuk kebahagiaannya, termasuk membiarkan ia pergi dan memilih pria yang ia cintai." ujar Mario sambil menepuk pundak Dylan sebelum akhirnya ia malah mendapat jitakan keras di kepalanya.
__ADS_1
"Auuuw!!!" teriak Mario menjauh dari kakaknya yang patah hati itu.
Mario tidak sengaja mendengar percakapan Dylan dan Shua di malam beach club seminggu lalu. Ia berpura-pura tidak mendengar apa-apa. Suasana pasti menjadi canggung jika Shua tahu ia mengetahuinya. Setelah ia mengantar Shua ke bandara, Mario langsung mencari Dylan.
"Kak, wanita yang kamu ceritakan itu Yuna? Istrinya Shua?"
"Calon istri."
"Whatever. Pernikahan mereka seminggu lagi."
"Aku tahu."
"Jangan kacaukan hubungan mereka, Kak."
"Lah, waktu itu kamu bilang aku harus berjuang demi cinta." Ucap Dylan santai sambil mengecek beberapa dokumen di ruang kerjanya.
"Saat itu aku tidak tahu kalau wanita itu sudah akan menikah."
"Kamu berkata seperti itu karena kamu tahu dia adalah Yuna. Kamu lebih memilih sahabatmu daripada aku?" Dylan memandang tajam ke Mario.
"Aku tidak perlu memilih siapapun, ini tidak ada hubungannya denganku. Hanya saja aku tidak mau kakakku menjadi penghancur hubungan orang lain." ucap Mario serius.
"Tentu saja aku bukan penghancur atau perebut, tenang saja. Jangan terlalu serius begitu hahaha...Kamu tahu aku kan Mario? Aku tidak pernah down gara-gara seorang wanita. Ok?" ucap Dylan sambil tertawa melihat tingkah adiknya itu.
Mario yang percaya dengan kata-kata Dylan langsung menganggap permasalahan itu selesai. Hingga hari ini ia melihat senyuman yang mencurigakan saat kakaknya itu bertepuk tangan melihat pemberkatan pernikahan Shua dan Yuna yang berjalan lancar.
__ADS_1
*****