
"Kamu tahu kan aku pernah bercerai dengan Aditya?" Kalimat pembuka Yuna saat mereka duduk di sebuah kursi panjang di belakang restoran menghadap sebuah kolam besar berisi ikan mas peliharaan.
"Iya, kamu pernah memberitahuku." jawab Dylan.
"Itu terjadi satu tahun lalu setelah Adit berselingkuh dengan sahabat dekatku, wanita yang menjadi istrinya sekarang." jelasnya. Dylan tidak terkejut karena ia langsung mencari tahu alasan mereka bercerai saat mendengar kabar itu dari Yuna.
"Joshua. Dia cinta pertamaku dulu. Cinta monyet kala SMA. Tapi aku bertemu kembali dengannya di saat aku sedang bermasalah dengan Adit. Hingga akhirnya aku bercerai, Shua selalu ada untukku. Kamu tahu Dylan? Kami sudah bertunangan di hadapan orang tua kami masing-masing. Walaupun tidak terlalu resmi, tapi Shua sudah melamar dan memberikanku cincin." Yuna tersenyum mengingat momen itu sambil memegang cincin yang tergantung di kalung emasnya. Dylan merasakan pukulan yang keras di perutnya.
"Lalu Vanya?" tanya Dylan penasaran.
"Sebenarnya Vanya adalah anak sahabat mamanya Shua dan dianggap sebagai adiknya Shua. Tapi Vanya rupanya mencintai Shua. Hingga akhirnya karena sebuah musibah, Vanya dihamili oleh rekan artisnya. Ia menganggap itu musibah karena ia sedang tidak sadar. Pria yang menghamilinya tidak mau bertanggung jawab. Dan mama Shua yang membereskan semua masalahnya. Ya, intinya aku yang mengalah. Entah apa yang dipikirkan Shua sekarang. Tapi aku tahu ia cukup bijak berpikir mengapa aku pergi." jelas Yuna. Ia menjelaskan semuanya tanpa air mata. Mungkin karena ia agak lega melihat Shua yang sudah siuman.
"Huuufft...." Dylan akhirnya menghembuskan nafasnya setelah ia merasa menahannya dari tadi.
"Aku meninggalkannya di saat matanya masih tertutup."
"Aku mengerti Yuna. Dari awal aku sudah tidak percaya jika kamu berselingkuh dengan Shua." Yuna menatap Dylan tajam.
"Maksudku, aku mengikuti pemberitaan kalian. Tapi tidak ada sumber yang bisa dipercaya. Dan sekarang aku sudah tahu cerita sebenarnya. Aku percaya padamu." Yuna hanya tersenyum tipis sambil melihat langit senja. Matahari terbenam cukup terlihat dari sana. Dylan tidak mengikuti pandangan wanita itu. Seperti biasa, ia memilih pemandangan di sampingnya yang jauh lebih indah. Tiga menit mereka terdiam dengan posisi masing-masing.
"Apa kamu akan kembali padanya?" Dylan mendadak bertanya.
"Kamu mau aku jujur?" Yuna bertanya balik. Dylan mengangguk walau ia tahu jawaban jujur itu pasti akan menyakiti hatinya.
"Aku...pasti akan kembali padanya. Aku tahu ia menungguku." jawabnya.
Jleeeppp....Sebuah pisau seakan menusuk jantung Dylan.
"Lalu jika ia menikah dengan Vanya?" tanyanya.
"Tentu saja aku akan mundur. Setidaknya aku ingin mendengar dari mulutnya jika ia tidak menginginkan aku lagi." jawab Yuna pasti.
"Jika kamu yakin padanya, kenapa kemarin kamu pergi?" Pertanyaan itu membuat Yuna tertawa pelan.
"Bodoh ya. Jika ini di dalam drama, aku pasti akan bilang 'Bodoh banget sih kamu, ngapain pergi jika kalian saling cinta?' Hahaha...Tapi jujur saja, keadaan kemarin terlalu kacau. Mungkin permintaan seorang ibu yang sedang putus asa membuatku terenyuh. Andai saja saat itu Shua sadar dan bisa membantuku mempertahankan hubungan kami, mungkin aku tidak akan pergi." kata Yuna. Cahaya senja sudah hilang dan tidak memantul di matanya yang indah.
'Dan sekarang Shua sudah sadar, dan mungkin ia akan merebutmu dariku. Hhh...Merebut. Apa pantas kata itu diucapkan olehku? Ternyata aku masih harus mengejar terlalu jauh, tapi aku akan mencobanya.' pikir Dylan.
'Ya, aku pasti akan menemuimu lagi Sayang, tunggu aku! Jangan pikir aku akan menyerah dan tidak memperjuangkan cinta kita. Aku hanya butuh waktu untuk mengumpulkan kekuatan dan keberanianku lagi.' pikir Yuna.
*****
"Besok aku akan ke Bali Dylan. Aku..sudah beli tiket bus. Maafkan aku. Bukannya aku ingin mengusirmu, tapi ada yang ingin aku lakukan sendirian di sana." ucap Yuna sambil menikmati makan malam terakhirnya di Yogyakarta.
__ADS_1
Mereka sudah tiga malam berada di Jogja dan hari-hari mereka hanya dihabiskan untuk mengeksplor keindahan alam Yogyakarta. Dylan tidak mau bertanya tujuan pasti Yuna ke Bali dan ia menghormati keputusan Yuna. Tapi satu hal yang Yuna lupa, kantor utama Dylan berada di Bali. Dan jika Dylan harus pulang, ia akan pulang ke sana, bukan ke Jakarta. Tapi Dylan sengaja tidak memberitahunya, bukan untuk kejutan, tapi ia takut Yuna merasa risih ke Bali jika tahu dirinya juga akan ke sana.
"Baiklah. Hati-hati. Kabari aku jika sudah sampai sana dan di mana kamu menginap biar aku bisa merasa tenang."
"Ok. Tenang saja. Aku tidak akan macam-macam. Apalagi bunuh diri hahaha...." Yuna bercanda.
"Tidak lucu, Yun. Mending sebelum bunuh diri kamu menikah denganku, mana tahu kamu bahagia." Entah bercanda atau tidak, Yuna hanya melongo mendengarnya.
"Kamu yang tidak lucu." Yuna melihat pemandangan kota di bawahnya. Lampu malam yang sangat indah jika dilihat dari tempat makan di atas bukit itu.
"Dylan, terima kasih ya atas semuanya. Entah kenapa aku bisa terbuka saat bersamamu. Kamu bisa mendengarku, bisa mengerti aku." kata Yuna serius.
"Sebenarnya aku belum bisa mengerti kamu. Bagaimana mungkin kamu tidak bisa melihat aku untuk menjadi pendampingmu?" kata Dylan tidak kalah seriusnya.
"Hahaha...Berhentilah menggombal Dylan!" Yuna melempar sebiji kacang goreng ke arah pria itu sambil tertawa.
"Aku serius Yuna. Aku..suka padamu. Mungkin aku jatuh cinta padamu." Yuna berhenti tertawa setelah melihat keseriusan di mata Dylan.
"Cukup suka saja. Jangan jatuh cinta padaku. Patahkan saja kemungkinan itu sebelum jatuh ke dalamnya Dylan. Aku serius. Kamu pasti tahu seberapa dalam cintaku pada Shua." katanya tanpa bermaksud sombong.
"Aku tahu. Aku melihatnya di matamu. Hanya saja sebagai seorang pria aku tidak ingin menutupi perasaan cintaku padamu. Aku ingin mencobanya."
"Aku tidak suka memberi harapan palsu kepadamu. Tentu saja aku tidak berhak mengatur perasaanmu, tapi aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu."
Sebenarnya Yuna sudah bisa menebak bagaimana perasaan Dylan padanya, makanya ia tidak mau Dylan mengikutinya ke Bali. Perhatian pria itu padanya lebih dari seorang teman biasa. Hanya saja benar yang ia katakan, seseorang berhak untuk menyukai dan mencintai siapapun. Mereka berdua sudah sama-sama dewasa dan sudah tahu posisi masing-masing. Yuna lega karena ia sudah menceritakan kisahnya dengan Shua sebelum Dylan menembaknya tadi.
Akhirnya Dylan mengutarakan isi hatinya. Ia memang tidak berharap banyak, apalagi berharap Yuna akan menerimanya sebagai kekasih. Hanya saja sebagai seorang lelaki sejati, ia merasa harus mengatakannya. Besok mereka akan berpisah untuk sementara. Dylan yakin ia pasti akan merindukan wanita cantik di depannya sekarang. Hembusan angin menerpa rambutnya yang tergerai indah. Selama berpetualang dengan Yuna, Dylan tidak pernah melihatnya memakai pakaian yang mewah. Hanya kaos, sweater, jaket, jeans... Itu-itu saja. Seperti sekarang, hanya dengan sweater putih dan ripped jeans saja Yuna sudah tampak luar biasa di matanya. 'Sepertinya aku akan gila karena cinta sebentar lagi.' Dylan menertawakan dirinya sendiri. Mungkin ini karma baginya setelah ia mematahkan banyak sekali hati wanita yang pernah mampir di hidupnya.
*****
"Yuna, tolong jangan menghilang ya, balas jika aku mengirim pesan padamu. Jika tidak...."
"Jika tidak apa Dylan?" Yuna memakai topinya di dalam mobil.
"Jika tidak aku akan menemukanmu keesokan harinya." ucap Dylan sambil memarkirkan mobilnya.
"Hahaha....Sudahlah, aku bukan anak kecil. Lagian hanya kamu yang punya nomor ponselku selain pihak hotel. Kamu bisa melacaknya kalau aku tidak membalas pesanmu hingga seminggu." Yuna turun sambil mengambil ranselnya.
"Aku jalan dulu Dylan." Yuna melambaikan tangannya. Dan dengan cepat Dylan memeluknya erat.
"Aku akan merindukanmu." bisik Dylan. Yuna tidak membalas ucapannya, namun ia membalas pelukan perpisahan dari Dylan.
Perjalanan ke Bali lewat darat sungguh jauh dan melelahkan. Tapi Yuna tidak peduli, ia hanya menikmati kesendiriannya. Lagi. Tanpa Dylan. Yuna mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Bik Sum. Ia tidak mau wanita tua itu khawatir padanya.
__ADS_1
"Bik. Ini Yuna."
"Ya ampun Bu Yuna! Ibu kemana saja? Kalau Ibu tidak nelepon Bibi satu minggu lagi, Bibi pasti lapor polisi." Yuna sedikit menjauhkan ponselnya karena suara Bik Sum yang sangat keras.
"Ampun Bik Sum..Saya sehat kok. Sebentar lagi pulang, tapi belum tahu kapan. Tolong jagain rumah ya!" Ia memang sudah meninggalkan sejumlah uang untuk urusan rumahnya.
Sekarang panggilan kedua ia akan menelepon Cathy.
"Yunaaaa!!! Gila ya kamu! Kemana aja?" teriaknya.
"Jalan-jalan. Jangan teriak dong! Gimana kantor?" tanyanya.
"Balik donk Yun. Tiap hari aku ditanyain Pak Adit nih kamu telepon aku ga. Kemarin-kemarin aku jawab ga karena emang ga ada. Sekarang aku mau jawab apa coba?"
"Jawab ga lah. Awas loh khianatin aku!" ancam Yuna.
"Emang kenapa sih kalau dia tahu kamu di mana?" tanya Cathy. Yuna bukannya sok kepedean, tapi ia takut Adit akan datang mencarinya. Dan Yuna masih belum mau diganggu.
"Aku...masih ingin sendiri Cat."
"Yun, Shua sudah sadar." Jantung Yuna berdetak lebih kencang saat mendengar nama itu.
"Dan kamu tahu? Dia meneleponku menanyakan keberadaanmu." ucap Cathy. Sesaat kemudian ia mendengar suara isak tangis pelan di seberang sana.
"Shua...kakinya..ia tidak bisa berjalan Yun. Makanya ia harus ke Singapura." Tangis pelan yang didengarnya semakin menjadi.
Yuna menangis dan tak sanggup berkata apapun. Ternyata itu alasannya. Apa benar yang terjadi pada Shua adalah salahnya? Andai saja ia menjawab teleponnya malam itu..
Yuna sampai di Bali keesokan harinya pukul 11 siang. Perjalanan panjang yang menguras tenaganya. Selama perjalanan tiga kali ia muntah di toilet umum. Untung saja ia bisa menahannya sehingga tidak muntah di bus. Ia tidak pernah merasa mabuk darat saat naik kereta dulu, ternyata bus sangat berbeda efeknya. Selain lebih sempit juga terasa lebih sesak. Belum lagi ia memikirkan keadaan Shua sepanjang jalan. Sesaat ia sedikit menyesal tidak mengikuti saran Dylan untuk naik pesawat. Tapi ya sudahlah, semua sudah berlalu, ia sudah menginjakkan kaki di Bali sekarang. Untung saja ia akan masuk camp besok, jadi hari ini Yuna akan ke hotel untuk istirahat.
Yuna memutuskan untuk menginap di Ubud karena besok ia akan ke Gianyar. Seperti biasa, pemandangan hijau menjadi alasan hotel yang ia pilih. Kepalanya masih dipenuhi oleh bayang-bayang Shua yang duduk di kursi roda.
'Apakah aku harus menghubunginya?' pikirnya.
'Tapi bagaimana jika Tante Nissa marah padanya?'
Peduli amat. Yuna memutuskan untuk menelepon Shua. Cintanya tidak akan kalah hanya karena omelan Tante Nissa. Yuna menyalakan ponsel lamanya.
Ting....ting...ting....ting... Ratusan pesan dan notifikasi panggilan tak terjawab masuk ke ponselnya. Yuna tidak menggubrisnya. Ia langsung mencari kontak Shua dan meneleponnya.
'Nomor yang anda tuju berada di luar jangkauan....' Tiga kali ia mencoba namun mendapat jawaban yang sama. Ooohh...Shua sedang di Singapura sekarang. Bodoh sekali kamu, Yunaaaa!
"Aaaaggghhh...." Ia teriak frustasi. Di saat ia sudah siap, keadaan malah tidak mengizinkannya. Yuna mencoba tenang jika tidak ingin kepalanya semakin berdenyut. Sekarang ia harus istirahat karena besok ia akan masuk ke camp meditasi yang sudah ia daftar. Akhirnya Yuna tertidur setelah menelan dua pil aspirin.
__ADS_1
*****