MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 70


__ADS_3

Shua mengantar Yuna pulang dalam keheningan. Ia tidak habis pikir bagaimana Yuna membohonginya tentang operasi yang ia jalani. Takut dirinya khawatir? Shua malah tampak seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa tentang kekasihnya. Dan parahnya, ada pria lain yang menemaninya melewati semua itu.


"Sayang, maaf." Yuna tampak sangat bersalah saat melihat Shua yang hanya terdiam sepanjang jalan. Shua menghentikan mobilnya di depan rumah Yuna. Ia terdiam sesaat sebelum akhirnya menoleh ke arah Yuna.


"Sayang, jika aku marah karena Dylan, itu artinya aku belum siap menikah karena meragukanmu. Kamu tahu apa yang membuatku kecewa? Kita sudah berjanji akan saling mengandalkan satu sama lain. Tapi apa yang sudah kamu lakukan? Kamu membuatku tampak bodoh!" Suara Shua meninggi.


"Tidak. Maafkan aku. Aku hanya tidak ingin membebani pikiranmu. Lagian itu operasi kecil. Aku bermaksud akan memberitahumu langsung, makanya aku mau menyusulmu seminggu kemudian." Yuna menangis. Ia tahu ia salah, tapi Yuna tidak menyangka Shua akan semarah itu.


"Aku hanya mengkhawatirkanmu, Sayang. Jangan pernah melakukan hal seperti ini lagi. Jangan pernah menjadikanku orang kedua yang tahu apa yang terjadi padamu, apalagi yang terakhir." Yuna mengangguk sambil terisak.


"Maaf karena sudah meneriakimu." Shua memeluknya dan merasa sedikit bersalah. Yuna bukannya berhenti menangis, tapi malah semakin menjadi. Mungkin ia lega karena sudah menceritakan semuanya dan Shua juga sudah memaafkannya.


"Mana bekas operasinya? Coba aku lihat. Masih sakit?" tanyanya. Yuna menggeleng sambil mengangkat sedikit ujung blus sebelah kanannya.


"Jadi bagaimana kamu akan membayar salahmu padaku?" tanya Shua lagi. Yuna maju dan mengecup sesaat bibir pria itu. Ia tersenyum sebelum akhirnya Shua malah meminta lebih dari itu, ciuman yang lebih dalam dan sedikit liar.


"Sayang, Sabtu ini aku akan ke Bali bertemu dengan temanku tempat kita menikah nanti. Hanya semalam. Kamu mau ikut?" tanya Shua sambil menyisir rambut Yuna dengan jarinya.


"Aku tidak bisa. Orang tuaku datang hari Jumat, tidak mungkin aku meninggalkan mereka kan."


"Oh iya, maaf ya aku tidak bisa menemanimu. Mario meminta aku dan pihak WO ke sana untuk menentukan dekor, susunan acara, dan menu."


"Seharusnya aku yang menemanimu ke sana." Yuna sedikit cemberut.


"Tidak apa-apa. Lagian kamu jangan terlalu capek. Aku tidak mau kamu sakit di malam pertama kita hahaha..."


"Apa hanya itu yang kamu pikirkan?" Yuna mencubit pipi Shua hingga pria itu menjerit kesakitan.


*****


Dylan menerima kartu undangan berwarna emas yang dipadu warna perak. Joshua Austin William dan Yuna Sakura. Akhirnya. Ada sesuatu yang mengharuskan dirinya menyerah atas cintanya. Walau sekarang ia merasakan sakit di ulu hatinya, atau di jantungnya, atau mungkin di lehernya yang terasa tercekik. Entahlah, ia tidak tahu lagi bagian tubuhnya mana yang merasakan sakit karena rasa itu seperti sudah menyebar ke seluruh tubuhnya. Dylan tidak menyalahkan Yuna yang tidak bisa membalas perasaannya. Memang dirinya yang salah. Tapi apanya yang salah jika Yuna memang pantas untuk dicintai. Hanya saja waktunya yang tidak tepat. Ia mengenal Yuna di saat hubungannya dengan Joshua sudah terlalu kuat. Bagus sekali, acaranya seminggu lagi, di hotel Paradise View? Milik Mario? Oh tidak! Baru saja ia curhat dengan Mario bahwa ia menyukai seorang perempuan manis yang sudah memiliki pacar. Dan sekarang mereka semua akan berkumpul di pernikahan Yuna? Great.. Jika tahu akan seperti ini, Dylan tidak akan menceritakan apapun pada Mario. Semoga Mario tidak mengenal mereka.


'Selamat atas pernikahanmu. Aku sudah menerima kartu undangannya.' Dylan mengirim pesan teks ke Yuna. Tidak berapa lama Yuna mengirim balasannya.


'Pastikan kamu hadir untuk memberikanku selamat secara langsung ya.'


'Kamu menyiksaku Yuna. Sungguh.'

__ADS_1


'Aku akan mengenalkanmu pada teman wanitaku kalau kamu mau.'


'Tidak perlu. Stock wanitaku masih ada.'


'Tuh kan. Akhirnya terbongkar kedokmu hahaha..'


'Giliran yang negatif saja kamu langsung percaya. Saat aku bilang kamu menyiksaku, kamu tidak menanggapinya.'


'Bukan begitu. Jujur saja aku memang ingin kamu bahagia Dylan, makanya jika kamu mau aku akan mengenalkanmu pada temanku.'


'Terima kasih. Tapi benar-benar tidak perlu. Anyway, aku hanya bahagia jika kamu bahagia. Masa tungguku satu tahun, jika kamu tidak bahagia dengannya kamu boleh mencariku.'


'Hahaha...Tolong jangan mendoakan sesuatu yang buruk.'


'Jangan salah paham. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan kan. Aku hanya memberikan opsi. Tentu saja aku ingin kamu bahagia, walaupun itu bukan denganku.'


'Terima kasih. See you next week.'


Dylan tidak membalasnya lagi. Andaikan ia membalas, sudah pasti ia akan berbohong lagi. Dengan senang hati Dylan menyambut kedatangan Yuna minggu depan, tapi bukan dengan gaun pengantinnya. Bukan juga dengan pria lain di gandengan tangannya.


*****


"Tambah ganteng aja lo." ucap Shua.


"Lo tuh, calon pengantin terganteng di hotel gw hahaha...Apa kabar orang tuamu? Apa mereka masih ingat gw?" tanya Mario sambil berjalan ke arah parkiran.


"Baik. Masih ingatlah. Temen gw yang kasih nginep gratis buat mereka seminggu di Bali kan lo doang hahaha..." Shua membuka pintu mobil BMW hitam dan duduk di kursi penumpang depan.


"Lo gimana? Masih ngejomblo?" tanya Joshua sambil menoleh ke arah Mario.


"Yup. Masih betah jadi jomblo." Mario tertawa. Entah mengapa pertanyaan itu membuatnya sedikit mengingat tentang masa lalunya.


"Kita langsung ke hotel?" tanya Mario.


"Makan dulu yuk. WO baru datang jam 3 nanti. Dia langsung ke hotel nanti, tidak perlu dijemput katanya."


"Ok. Kita makan ayam betutu saja. Aku tahu tempat makan paling enak di Bali." ujarnya sebelum ia menelepon seseorang.

__ADS_1


"Kak, lagi di Lumbung Desa ga? Aku mau ke sana." ucapnya.


"...."


"Dengan temanku, dia baru sampai di sini."


"...."


"Ok. Thank you." Mario menutup panggilannya.


"Siapa?" tanya Shua.


"Kakak sepupuku. Dia yang punya. Tempatnya ramai terus apalagi jam makan siang gini. Kalau tidak ada tempat, sebut saja namanya, kita bisa masuk ke ruangan privat khusus keluarga hahaha...Biasalah, nepotisme selalu berlaku di mana-mana."


"Berapa banyak undanganmu?" tanya Mario sambil menyantap makanan di depannya.


"Tiga ratusanlah. Tidak terlalu banyak. Tapi makanannya harus di atas enam ratus ya, jangan hanya dikali dua. Banyak yang datang ajak keluarga, sekalian main ke Bali kata mereka. Mama sudah pesan jangan sampai makanan kurang."


"Iya..iya...Aku bisa dicekik tante kalau kurang. Eh Shua, cewek lo orang mana? Penasaran gw sama cewek yang bisa naklukin cowok dingin kayak lo."


"Dia cinta pertama gw pas SMA dulu, kami ketemu lagi pas dia hampir cerai sama lakinya."


"Hah? Bini orang lo embat?"


"Bukanlah. Mereka cerai bukan gara-gara gw, enak aja!! Yang pasti dia wanita istimewa buat gw."


"Hebat juga lo, cinta pertama bisa jadi istri."


"Jika Tuhan mengizinkan, gw harap dia juga jadi cinta terakhir gw."


"Ga nyangka gw lo bisa jadi romantis hahaha..."


"Tunggu lo ketemu wanita yang tepat, lo juga akan jadi romantis pada waktunya."


"Eh itu sepupu gw..Kak Dylan!!" panggilnya. Nama itu otomatis membuat Shua juga ikut menoleh ke arah lambaian tangan Mario. Benar saja! Shua baru mengingat dari mana ia mendengar nama Dylan Richardson. Mario pernah menyebut nama itu saat menawarkan pihak vendor yang akan menyediakan makanan western untuk pernikahannya nanti. Apa dia orang yang sama?


*****

__ADS_1


Note:


(Penasaran mengapa Mario ngejomblo? Baca Suara Cinta Bab 1-64, sudah tamat ya..)


__ADS_2