MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 6


__ADS_3

"Tadaaaa...." Adit membuka tangannya dari mata Becca.


"Waaahhh..." Becca mengagumi rumah baru yang dibeli Adit untuknya. Ia berjalan melewati ruang tamu dan ruang makan. Tidak sebesar rumah yang ditempati Adit dan Yuna, namun ia cukup puas karena rumah ini dibeli atas namanya sendiri, Rebecca Aulia.


"Aku hanya membeli sofa, tempat tidur, dan lemari. Sisanya kamu pilih sendiri. Oh iya, kitchen set juga sudah dipasang, tukangnya sama dengan yang bangun rumah. Bagaimana? Kamu suka?" Adit melihat senyum sumringah Becca.


"Aku suka sekali sayang. Ternyata seleramu luar biasa. Terima kasih." Becca mencium pipinya.


"Jika seleraku buruk, bagaimana aku bisa menyukaimu?" goda Adit.


"Kamu hanya menyukaiku? Bukan mencintaiku?" Becca mengalungkan lengannya ke leher Adit.


"Cinta donk. Aku sangat mencintaimu." Adit mendorong Becca pelan-pelan hingga menuju kamar tidur.


"Terkadang aku menyesali tidak mengenalmu lebih dekat sebelum aku menikah dengan Yuna." Mereka sudah berbaring di atas tempat tidur yang belum ternoda itu.


"Aku benar-benar mencintaimu Adit. Bahkan aku memberikan keperawananku untukmu. Kamu tahukan kamu yang pertama untukku?" tanya Becca.


"Iya aku tahu." Adit mulai menciumnya. Mereka tidak pernah menyiakan kesempatan yang ada untuk melepas rindu mereka.


Adit ingat kejadian di ruangan bimbel lantai tiga setahun setengah lalu. Saat ia dan Becca mulai berciuman dan nafsunya sudah di ujung tanduk, Becca memberitahunya bahwa ia belum pernah melakukannya. Adit yang saat itu sudah tergila-gila pada Becca langsung memberitahunya bahwa ia akan bertanggung jawab. Tanggung jawab yang sebenarnya ia juga belum tahu akan seperti apa pada waktu itu.


"Kita tidak akan pernah bisa menikah jika kamu tidak bercerai dengan Yuna. Kamu tahu kan Dit?" tanya Becca.


"Aku tahu. Maaf. Jika kamu hanya bisa menjadi istri rahasiaku." jawab Adit sambil mengelus kepala Becca.


"Sebenarnya kita bisa seperti ini terus. Hanya saja aku tidak bisa merasakan bagaimana menjadi istrimu. Tidur bersamamu melewati malam, memasak sarapan untukmu, menunggumu pulang kerja. Aku ingin merasakan itu semua. Tapi aku juga mengerti jika kamu tidak bisa menceraikan Yuna." Becca menangis. Adit memeluknya.


"Jangan nangis sayang. Aku berjanji kamu bisa ikut merasakan menjadi istriku walau kita tidak menikah. Aku janji, setelah aku menceritakan semuanya pada Yuna, aku akan tinggal di sini bersamamu setidaknya tiga kali seminggu." kata Adit menenangkan Becca yang mendadak tersenyum bahagia di pelukan Adit. Baginya itu saja sudah cukup. Ia benar-benar sudah puas dengan menjadi wanita simpanan pria yang dicintainya.


'Suatu saat aku pasti akan membuat Adit menjadi suamiku yang sesungguhnya. Maafkan aku Yuna karena mencintai suamimu. Mudah-mudahan kita bisa tetap menjadi sahabat jika kamu mengizinkannya.' kata Becca dalam hati.


*****


"Becca, temenin aku beli kado untuk Adit yuk." ajak Yuna setelah mereka mengambil kunci pintu bimbel yang baru saja ditutup oleh Pak Aris, satpam di sana.

__ADS_1


"Kapan ulang tahunnya?" tanya Becca yang pura-pura tidak tahu.


"Besok. Makanya aku harus beli hari ini." jawab Yuna.


"Ya sudah. Ayo. Pakai mobil kamu ya. Nanti anter aku lagi ke sini ambil mobil, ok?"


"Siipp. Makasih bestie." Yuna merangkul lengan Becca dan memasuki mobilnya menuju satu mall di dekat sana.


Mereka berkeliling mencari kado yang cocok untuk Adit.


"Ini bagus ga Bec?" tanya Yuna sambil mengangkat satu dompet berlogo buaya.


"Bagus juga." jawab Becca. Ia tidak terlalu peduli dengan hadiah yang akan Yuna berikan pada Adit. Becca malah tersenyum sendiri membayangkan bahwa Adit pasti menyukai hadiah yang sudah ia siapkan untuknya.


"Kamu kenapa belum cari pacar sih Bec?" Mereka memutuskan untuk makan malam sebentar karena waktu sudah menunjukkan jam 8 malam.


"Ngapain dicari? Nanti juga datang sendiri." Becca tersenyum pada Yuna yang sedang memakan salad sayurnya.


"Pasti banyak yang mau sama kamu. Atau mau aku kenalin?"


"Tidak perlu. Sebenarnya, aku lagi menjalin hubungan dengan seseorang." jawaban Becca membuat Yuna sedikit tersedak.


"Belum saatnya aku kenalin. Nanti ya. Mungkin dalam waktu dekat. Kamu selalu mendukungku kan?" tanya Becca.


"Tentu saja bodoh. Aku pasti akan selalu mendukungmu." Yuna memegang tangan Becca. Ia selalu khawatir melihat sahabatnya yang belum pernah berpacaran dengan siapapun. Memang banyak yang mendekati Becca, namun Becca agak pemilih. Pantas saja Becca selalu menghilang saat Yuna yang menjaga bimbel. Ia pasti sedang pergi pacaran, pikir Yuna sambil tersenyum.


*****


"Selamat ulang tahun sayang." Yuna membawa kue ulang tahun untuk suaminya yang baru saja selesai mandi. Adit meniup lilin yang tertancap di sana.


"Makasih." Adit mencium kening istrinya.


"Ini hadiah dariku. Semoga kamu suka." Yuna memberinya sebuah kotak kecil. Adit membukanya. Kado itu berisi dompet dan ikat pinggang dengan merk yang sama.


"Bagus. Aku suka." Yuna senang mendengarnya.

__ADS_1


Siang itu Yuna pulang pukul tiga siang. Ia meminta Becca yang menutup bimbel. Yuna berencana untuk berbelanja dan memasak makan malam untuknya dan Adit.


Yuna mengambil beberapa daging sapi has dalam untuk steik. Lalu mengambil brokoli, kentang, paprika, dan kacang polong kalengan. Oh iya, anggur. Yuna merasa semua yang dibutuhkannya sudah diambil. Ia berjalan ke arah kasir. Di depannya ada orang yang berbelanja cukup banyak. Ia mengantri. Di belakangnya ada seorangĀ  ibu-ibu yang membawa sekaleng susu untuk penderita diabetes. Ibu itu terus melihat jam tangannya. Yuna mendengar ibu itu menjawab teleponnya yang berdering.


"Bentar donk Nak. Antri. Kamu kayak ga tahu saja kasirnya sering cuma satu di sini." jawabnya lalu menutup telepon itu.


"Ibu, duluan saja. Saya setelah ibu tidak apa-apa." kata Yuna menawarkan.


"Oh, terima kasih Nak. Ibu memang lagi buru-buru. Anak ibu yang cerewet itu lagi tunggu di mobil." katanya sambil tersenyum dan berjalan melewati Yuna. Ia mengeluarkan dompetnya yang ternyata....tidak ada.


"Lho, kok dompet saya tidak ada ya?" tanyanya sambil terus mencari. Si kasir menunggu dengan tetap tersenyum.


"Maaf mba ya, sebentar. Sepertinya dompet saya ketinggalan. Saya minta anak saya ke sini ya." kata ibu itu kepada si kasir.


"Pakai uang saya dulu saja, Bu." Yuna memberinya dua lembar uang seratus ribuan ke kasir tanpa menunggu jawaban si ibu.


"Waduh jangan, Nak." jawab ibu tadi.


"Tidak apa-apa. Nanti transfer saja boleh kok. Santai saja Bu." jawab Yuna sambil tersenyum. Ibu tadi meminta nomor rekening Yuna dan menyimpannya.


"Ibu duluan saja. Anak ibu sudah menunggu kan." Ibu tadi melambaikan tangan ke Yuna dan berjanji akan mentransfernya segera.


"Kamu ini. Maunya cepat-cepat terus. Tuh dompet mama tinggalan di kursi belakang jadinya." Ibu tadi mengomel ke anaknya yang sedang duduk di belakang setir mobil.


"Shua ada janji sama teman ma. Lagian dompet mama yang keluar sendiri kok salahin Shua?" Ternyata ibu tadi adalah Nissa, mamanya Joshua.


"Transfer ke sini dulu. Dua ratus lima puluh ribu deh, jangan ngepas, malu. Tadi dia yang bayarin dulu, untung baik orangnya." Joshua mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi mobile bankingnya.


"Atas nama siapa, Ma?" tanyanya.


"Yah, mama lupa tanya. Sudahlah transfer saja sesuai nomor itu."


"Dua ratus lima puluh ribu atas nama....Yuna Sakura?" Joshua terdiam melihat nama yang muncul.


"Mungkin benar. Orangnya putih, cantik, kayak orang Jepang atau Korea gitu." kata ibunya. Joshua terdiam dan hanya memencet tombol submit di ponselnya. Sebelum ia ke pesta Harris kemarin, ia sama sekali tidak pernah mendengar kabar Yuna. Tapi setelah itu, mengapa banyak kebetulan yang menghubungkannya dengan Yuna. Ia teringat dengan nomor telepon Aditya yang masih belum disentuhnya lagi sejak ia memasukkannya ke dalam laci.

__ADS_1


"Jalan donk. Kok bengong? Nanti kamu telat salahin mama pula." Perkataan Nissa membuyarkan lamunannya. Joshua pun keluar dari mall itu walaupun ada sedikit pikiran gila yang membuatnya ingin masuk ke sana dan mencari Yuna.


*****


__ADS_2