MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 16


__ADS_3

Dari kejauhan Yuna bisa melihat sosok yang sangat dikenalnya. Rebecca. Tanpa sadar Yuna mendekatinya, penasaran apakah Adit juga berada di sana. Cathy dan Joshua asyik mengobrol dan hanya mengikuti Yuna. Yuna melihat Becca sedang memilih baju dan sepertinya sendirian. Yuna sedikit lega. Ia takut suaminya bertindak tidak tahu malu dengan mengekspos hubungannya dengan Becca di tempat umum. Tapi apa yang dilakukan Becca di tempat baju khusus ibu...hamil??


"Kita makan di sana saja yuk." ajak Yuna tiba-tiba berbelok ke kanan. Mereka menghabiskan waktu dengan bercerita. Yuna berharap suara tawanya bisa menutupi kegelisahan dan tanda tanya besar di hatinya. Joshua melihat sedikit keanehan dengan sikap Yuna, tapi ia tidak akan menanyakannya. Mungkin belum saatnya ia ikut campur dalam masalah rumah tangga Yuna.


*****


"Adit sayang, lihat deh. Aku ada beli baju hamil bulan lalu. Sampai lupa sendiri karena aku simpan di lemari." Becca memamerkan baju hamil yang dibelinya.


"Memangnya kamu sudah mau pakai itu?" tanya Adit.


"Belum. Cuma suntuk aja pas kamu pulang ke sana." jawab Becca sambil melipat kembali baju yang dibelinya.


"Sayang. Kamu tahu kan aku mencintaimu dan juga anak kita." kata Adit. Becca berhenti dan melihat Adit.


"Tapi sepertinya aku harus mengurangi jatah menginapku di sini. Kemarin Yuna.."


"Tidak!!" teriak Becca.


"Dengarin aku dulu. Yuna ingin aku bertindak sedikit lebih tegas jika tidak mau kami bercerai."


"Lalu kamu korbanin aku dan anak kita? Aku lagi hamil Adit. Harusnya kamu lebih sering di sini. Harusnya kamu bisa temanin aku terus. Selama ini aku sudah cukup mengalah sayang. Aku tidak pernah menuntut lebih selama kamu adil. Tapi sekarang...Apa-apaan Yuna memintamu sedikit lebih tegas? Maksudnya apa? Dia mau kamu meninggalkan aku? Iya kan? Itu maksud dia kan?" Becca mengamuk.


"Bukan. Bukan sayang. Aku hanya tidak menginap saja. Kita masih tetap bertemu setiap hari. Aku janji." kata Adit sambil menenangkan Becca.


"Aku tidak bodoh Adit. Awalnya kamu akan menepati janjimu, tapi lama-lama kamu pasti menghilang. Pasti. Pergilah kalau kamu ingin pergi, tinggalkan aku dan anakku. Kami tidak membutuhkanmu! Pergi!" Becca berteriak. Adit bingung apa yang harus dilakukannya, ia mengambil jas nya dan keluar dari kamarnya. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar Becca yang berteriak kesakitan.


"Aaah..Ahh.." Adit kembali masuk ke kamar dan melihat Becca yang sedang menunduk memegangi perutnya.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Adit khawatir.


"Perutku..sakitt. Aaah.." Wajah Becca memucat. Adit langsung menggendongnya.


"Ratih!! Saya antar Ibu ke rumah sakit. Kamu kunci pintu." pesan Adit ke Ratih, pembantu yang menginap dengan Becca selama sebulan ini.


Adit membawa Becca ke UGD sambil memegang tangannya.


"Sayang, maafkan aku. Maaf." Adit dipaksa perawat untuk menunggu di luar UGD. Ia sangat takut dan khawatir melihat kondisi Becca.


'Ini salahku. Harusnya aku tidak mengatakan hal itu padanya tadi.' Adit menyesal. Dengan kondisi seperti ini, ia merasa tahu apa yang akan menjadi keputusannya.


"Istri Bapak perlu dirawat inap, mungkin sekitar dua hari cukup. Ia harus bedrest. Kondisinya sangat lemah, tadi ia mengalami kontraksi di rahimnya." kata dokter.


"Baik dok. Terima kasih." ucap Adit. Ia bergegas menemui Becca.


"Aku di sini sayang. Kamu dan anak kita tidak apa-apa, hanya perlu sedikit bedrest. Maafkan aku ya." Becca memalingkan wajahnya. Ia tidak mau melihat muka Adit karena teringat dengan perkataannya tadi. Adit mengerti jika Becca kesal dengannya. Ia akan memberikan waktu ke Becca hingga amarahnya hilang.


*****


Yuna mendapat pesan dari suaminya bahwa ia tidak akan pulang lagi. Sekarang ia sudah terbiasa. Tapi yang menjadi pertanyaan besar di dirinya adalah sampai kapan ia akan menjalani hidup seperti ini. Tiba-tiba Yuna merindukan ibunya. Ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam, berarti di Tokyo sudah jam sebelas malam. Ia tidak jadi menghubunginya, mungkin lebih baik besok.


Sejak ia melihat Rebecca yang sedang membeli baju hamil, ia tidak pernah tenang. Adit juga tidak menceritakan apapun padanya. Pikiran paling positifnya adalah Becca membelinya untuk orang lain. Dan ia tidak berani menanyakan pikiran negatifnya.


Yuna mengganti pakaiannya dan berpikir akan berjalan ke luar sebentar. Ia menyetir pelan karena belum tahu akan kemana. Akhirnya setelah ia tahu, ia menancapkan gas nya. Sampailah ia di depan..Jupiter. Ya, mungkin Yuna bisa sedikit refreshing sendirian. Tentu saja ia tidak akan mengulangi sikap bodohnya dengan mabuk seperti kemarin.


Yuna memesan minuman dan duduk di meja depan bartender. Ia mulai terbiasa dengan suara musik keras dan cukup mengasikkan melihat mereka yang sedang berdansa menikmati musik. Suara musik keras dari sang DJ kemudian berganti menjadi suara seorang pria yang bernyanyi secara langsung. Lagu Ed Sheraan Talking To The Moon membuat suasana menjadi romantis. Beberapa pasangan mulai berdansa pelan. Yuna menikmati penampilan band yang hadir malam itu. Ia baru tahu di Jupiter juga ada live show pemain band.


Yuna melihat para personil band itu. Ganteng. Penyanyi yang suaranya tidak kalah dengan Bruno. Gitaris. Bassis. Drummer. Tunggu? Apa ia tidak salah lihat? Yang bermain drum adalah Joshua?

__ADS_1


Yuna mengalihkan pandangannya tepat lagu itu berakhir. Ia tidak mau Joshua melihatnya di sana. Tapi sudah terlambat.


"Yuna? Kamu sering ke sini ya?" tanya Shua sambil duduk di sebelahnya dan memesan segelas minum.


"Tidak. Ini yang pertama setelah kejadian kemarin." kata Yuna dan Shua hanya melihatnya.


"Sungguh aku tidak bohong." kata Yuna lagi sambil membelalak.


"Aku tidak bilang kamu bohong kok. Kita keluar yuk. Berisik di sini. Aku ingin mengobrol denganmu." Joshua menggandeng tangan Yuna dan menariknya keluar.


"Kita makan sate saja yuk." ajak Shua.


"Kamu tidak mabuk kan? Jangan menyetir kalau banyak minum." ucap Yuna.


"Aku tidak pernah mabuk Yuna. Aku cukup tahu batas jika mengkonsumsi alkohol." Shua tersenyum.


"Jadi mengapa kamu bisa nge-band di sana tadi?" tanya Yuna.


"Aku dan teman-temanku sering main di sana. Sekedar melepas penat, aku sering nge-band saat sekolah jika kamu lupa."


"Sekarang gantian aku yang tanya, mengapa kamu sendirian di sana? Apa..Adit tidak pulang?" Yuna terkejut dan menoleh ke Shua yang sedang menyetir.


"Apa maksudnya Adit tidak pulang?" tanya Yuna.


"Suami mana yang membiarkan istrinya ke klub sendirian jika ia di rumah? Kalau kamu istriku, malam-malam begini aku hanya akan memelukmu di tempat tidur." Joshua tertawa. Yuna merasakan pipinya memerah.


"Ma..Makanya kamu nikah dunk."


"Tapi benar kan Adit tidak di rumah?" tanya Shua lagi.


"Aku setengah saja Shua. Sudah malam." kata Yuna.


"Dua porsi bang." Shua memesan dari dalam mobil.


"Kok dua?" tanya Yuna.


"Mana tahu kamu bisa habiskan. Enak lho." Yuna hanya mengangguk dan mereka terdiam sesaat.


"Aku ingin bertanya sesuatu." kata Joshua. Ia tidak bisa menyimpan lagi rasa penasarannya.


"Apa?"


"Waktu aku mengantarmu pulang saat mabuk. Kamu bilang kalau aku mempermainkanmu dulu? Maksudnya apa Yuna?" Yuna terkejut. Ternyata itu yang ia ucapkan saat ia mabuk. Bersusah payah ia mencoba mengingatnya namun gagal. Astaga. Ia sudah membuka luka lamanya dulu.


"Itu..Aku asal menyebutnya." kata Yuna.


"Kamu tidak asal sebut. Kamu menyebut nama lengkapku dengan jelas dan bilang aku mempermainkanmu." Shua menatap Yuna tajam.


"Memang kamu mempermainkanku. Dulu kamu bilang menyukaiku tapi sebenarnya kamu taruhan dengan teman-temanmu. Apa maksudnya aku akan menerimamu setelah dua belas jam kamu menembakku hah?" Yuna menarik napasnya panjang. Akhirnya ia bertanya langsung kepada Joshua pertanyaan yang dipendamnya hampir sepuluh tahun.


"Hah?" Joshua belum bisa mencerna apa yang dikatakan Yuna dengan sangat cepat.


"Dua belas jam apa Yun?" tanyanya lagi.


"Aku tahu semuanya Shua tentang taruhan kamu saat itu, makanya aku menolakmu. Tadinya aku tidak mau mempersoalkannya karena ini sangat memalukan. Aku cukup kehilangan kepercayaan diri untuk waktu yang sangat lama."


"Tunggu dulu..Dari mana kamu.." Kalimat Shua terpotong saat jendelanya diketuk oleh penjual sate yang membawakan pesanannya. Shua memberikan sepiring sate pada Yuna.

__ADS_1


"Dari mana kamu dengar soal taruhan itu?" tanya Shua.


"Becca menanyakan hal itu pada Vino kakaknya. Kamu ingat Vino?" tanya Yuna.


"Iya aku masih sering bertemu dengannya. Dan Becca memberitahumu aku taruhan dengan teman-temanku bahwa kamu akan menerimaku setelah sepuluh jam aku menembakmu?"


"Dua belas jam." ralat Yuna.


"Whatever. Oh..My..God!!" Shua belum memakan satenya satu batangpun.


"Sudahlah itu sudah sangat lama. Tidak perlu meminta maaf karena aku sudah memaafkanmu sejak lama. Hanya saja aku sangat kesal dan entah aku beruntung atau sial aku menyampaikan kekesalan itu padamu saat mabuk kemarin." Yuna melahap sate di depannya. Ia mendadak menjadi sangat lapar karena pengakuan itu.


"Yuna. Sepertinya Rebecca membohongimu. Sepertinya bukan Vino. Pokoknya antara mereka berdua, aku tidak tahu. Aku..aku tidak pernah taruhan apapun. Saat itu aku benar-benar menyukaimu." ungkap Joshua. Yuna membulatkan matanya, tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Aku menyukaimu Yuna. Kamu tahu? Aku sangat kecewa saat kamu menolakku, padahal waktu itu aku yakin kamu akan menerimaku." kata Shua lagi.


"Benarkah? Kamu tidak bercanda kan? Aku tidak akan memaafkanmu kalau kamu membohongiku dua kali." Yuna mengancamnya dengan mengacungkan tusuk satenya.


"Sekalipun aku tidak pernah berbohong. Kamu dibohongi oleh orang lain."


"Tapi kenapa Becca berbohong?" Yuna langsung mendapat jawaban dari pertanyaannya sendiri. Ia sudah melihat dan merasakan sendiri akibat dari keegoisan Becca. Sahabat yang menusuknya dari belakang.


"Entahlah. Tapi aku tahu kamu lebih mengenalnya dari pada aku." jawab Shua. Ia baru bisa menikmati tusukan sate pertamanya.


"Mau tambah?" tanya Shua saat ia melihat piring Yuna yang sudah kosong.


"Aku..kehabisan energi tadi." Mereka tertawa. Menertawakan kebodohan mereka dulu. Shua mengembalikan piring kosong mereka dan membayarnya.


"Jadi, boleh aku menembakmu lagi?" tanya Shua sambil tersenyum menatap Yuna yang sekarang menjadi lebih dewasa dan cantik.


"Ga pake binder lagi nih?"


"Mau? Aku masih simpan lho. Tapi aku mau mengungkapkannya secara langsung hari ini agar tidak ada kesalahpahaman lagi di antara kita. Aku menyukaimu Yuna Sakura. Dari dulu hingga sekarang. Aku pikir aku bisa melupakanmu saat kamu menolakku dulu. Tapi setelah aku bertemu lagi denganmu, aku sadar perasaan itu masih ada dan tidak pernah berubah. Mungkin semakin kuat sekarang." kata Shua sambil memegang tangan Yuna.


"Shua, aku.."


"Aku belum mengharapkan jawaban darimu sekarang karena aku tahu statusmu. Kamu bisa menyelesaikan semua masalahmu terlebih dahulu. Aku hanya ingin bilang bahwa kamu tidak sendiri. Aku akan berdiri di belakangmu sekarang, memberikanmu dukungan, apapun yang kamu butuhkan. Suatu hari mungkin aku akan berdiri di sebelahmu. Tapi apapun keputusanmu nanti, aku akan mendukungmu." kata Joshua.


"Apa maksudmu Shua? Masalahku?" Yuna heran dengan apa yang dikatakan Shua.


"Adit dan Rebecca. Aku tahu semuanya." Yuna melepas tangan Shua dan menutup mulutnya yang menganga. Ia sangat terkejut dengan perkataan Joshua.


"Dari mana..kamu tahu?"


"Aku pernah melihat mereka bersama. Saat itu aku belum tahu bahwa Adit suamimu. Kamu sudah tahu semuanya kan?" tanya Shua. Yuna tidak menutupinya lagi. Baru sekali ini ia merasakan ada seseorang di sampingnya. Belum ada seorangpun yang mengetahui masalah rumah tangganya. Yuna menangis. Sedih, kecewa, malu bercampur jadi satu.


"Memalukan ya. Dari dulu aku hanyalah bayangan Becca. Ia selalu menjadi pusat perhatian di manapun kami berada. Mungkin dari awal Adit juga menyukainya, hanya saja aku yang dijodohkan dengannya." Yuna menghapus air matanya.


"Siapa bilang kamu hanya menjadi bayangannya? Dari awal aku hanya melihatmu Yuna. Aku menyukai semua tentangmu. Dan asal kamu tahu, kita tidak akan menjadi bayangan karena kita adalah pemeran utama di hidup kita sendiri. Dan kita yang menentukan semuanya dengan bantuan Tuhan sebagai sutradaranya. Kamu harus kuat. Tentukan jalan yang bisa membuatmu bahagia." Shua mengusap air mata Yuna yang terus turun.


"Aku takut Shua. Apapun jalan yang aku ambil, risikonya terlalu besar."


"Pasti ada yang dikorbankan jika kita ingin meraih sesuatu. Asalkan yang kita dapatkan itu pantas, aku rasa itu jalan yang benar." Yuna mengangguk. Ia merasa sedikit lega sekarang.


"Pulang yuk. Mobilku masih di klub." Shua mengangguk dan menuju kembali ke klub. Yuna masuk ke dalam mobilnya setelah berpamitan dengan Joshua. Shua mengikuti mobil Yuna dari belakang. Ia tidak tenang membiarkannya menyetir sendirian malam-malam dengan pikiran yang sedang kacau. Entah apa yang dipikirkan Shua hingga bisa berkata seperti tadi. Menyatakan cinta pada istri orang. Gila. Ia bahkan tidak merencanakan semuanya. Tapi Shua cukup lega melepas semua beban berat di pundaknya selama ini. Pertanyaan dari mamanya mengapa ia tidak mencari seorang kekasih dan istri terjawab sudah. Karena ia mencintai Yuna Sakura, seorang wanita yang dulu hanya disukainya.


*****

__ADS_1


__ADS_2