
Yuna beruntung bisa menghabiskan malam pertamanya di mobil Dylan. Atau mobil Juna? Tak tahulah. Ia mengucek matanya perlahan. Yuna keluar dari mobil perlahan seolah takut ada orang lain yang melihat dirinya keluar dari sana. Ia melihat ponselnya, pukul 05.25, tapi langit sudah mulai terang.
"Pagi, baru saja aku mau membangunkanmu." Dylan menyapa Yuna yang sedang mengendap masuk ke basecamp.
"Hai, pagi juga." Yuna menyapa balik dan menatap mata Dylan. Seketika Dylan menahan tawanya saat melihat Yuna.
"Haha..Dicium siapa semalam?" tanyanya.
"Hah? Siapa yang cium?" Yuna bingung dengan pertanyaan Dylan hingga wajahnya bersemu merah.
"Tuh, ada bekasnya. Siap-siap gih..Bentar lagi mau jalan. Kamu tidak bawa sleeping bag ya? Nanti kita sewa saja." Yuna mengangguk dan berlalu ke kamar untuk mengambil ranselnya. Ia membasuh wajahnya dan berkaca. Astagaaa...Ada dua bentol merah di wajahnya gara-gara digigit nyamuk. Pantas saja Dylan menertawakannya tadi. Peduli amatlah. Ia bergegas keluar karena sudah mendengar suara Arjuna memanggil tim nya.
"Yuna, pindahkan barang-barangmu ke carrier ini biar bisa bawa sleeping bag." ucap Dylan saat ia masuk ke kamar dan langsung membantu Yuna memindahkan barangnya.
"Biar aku saja." Yuna dengan cepat mengambil alih pekerjaan itu sebelum Dylan sempat menyentuh pakaian dalamnya yang ada di dalam resleting belakang.
Rombongan yang akan mendaki Gunung Semeru pagi itu tidak terlalu banyak. Hanya ada Tim Arjuna yang berjumlah sebelas orang dan ada tim lain yang mungkin ada delapan orang. Yuna tidak tahu pasti karena mereka sudah tersebar.
"Berat ga?" sapa Dylan saat mereka baru lima menit memulai petualangan mendaki.
"Tidak kok. Beban hidup lebih berat." Yuna sangat menikmati pengalaman mendaki pertamanya.
"Mba Yuna dengan Om Dylan saling kenal ya?" Ryan mendadak nimbrung di sebelah Dylan.
"Yuna ini partner kerja Om di Jakarta." jawab Dylan.
"Oh, pantes saja kayaknya dari kemarin kalian tampak sudah akrab."
"Memang kami baru kenal Ryan, baru ketemu dua kali." jelas Yuna.
"Tiga." Dylan meralatnya. Yuna hendak membantahnya tapi tidak jadi. Memang benar tiga.
"Oke deh. Ryan gabung sama yang kain ya Om, Mba." Pria muda tampan itu berjalan sedikit lebih cepat menyusul rombongan yang berada sekitar lima meter di depan mereka.
"Nih." ucap Dylan sambil mengeluarkan sebotol kecil minyak kayu putih dari kantongnya.
__ADS_1
"Untuk apa?" Yuna bertanya sambil menerimanya.
"Biar bentolnya hilang."
Yuna mengoleskan sedikit minyak ke arah gigitan nyamuk di wajahnya. Ia menatap Dylan di samping kirinya. Pria keturunan Cina, mungkin ada darah Eropa di dirinya. Setidaknya Ryan lebih kelihatan darah Eropanya dibanding Dylan. Tinggi kurang lebih sama dengan Shua, lebih dari 180 cm. Tampan? Sangat tampan. Hanya saja Yuna sudah mengunci hatinya terlalu rapat sekarang. Kunci yang hanya dipegang oleh Shua. Lagipula Yuna tidak tahu sedikitpun tentang Dylan, apakah ia sudah menikah? Pernah menikah? Atau memiliki kekasih? Atau dia penyuka sesama jenis dan menganggap Yuna hanya sebagai tameng? Siapa yang tahu?
"Terima kasih." ucapnya pelan sambil mengembalikan botol itu.
"Jadi sudah berapa kali ke Semeru?" Yuna memecah keheningan setelah suasana tampak canggung.
"Ini yang kelima. Dua kali sampai di Puncak Mahameru. Kamu rencana ikut sampai ke puncak?" Dylan bertanya sambil menatap mata Yuna.
"Belum tahu. Susah ya?" tanya Yuna memalingkan wajahnya sambil membenarkan posisi ransel besar di pundaknya.
"Mmmh..Mungkin agak sulit untuk pemula. Kita lihat saja. Yang pasti kamu tidak boleh memaksakan kondisimu. Jangan karena gengsi atau nafsu jadi dipaksa. Setidaknya kamu harus melihat keindahan Ranu Kumbolo." Yuna hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Ia sudah pernah mendengar keindahan Ranu Kumbolo dan sudah melihatnya di internet. Membaca blog beberapa orang tentang pendakian ke Puncak Mahameru sepertinya masih terlalu jauh untuknya.
Sekitar 1,5 jam perjalanan, mereka sampai di Landengan Dowo. Rombongan lain banyak yang memilih tidak beristirahat dan langsung melanjutkan ke Watu Rejeng.
"Bener nih Pak, tidak apa-apa pisah?" tanya Juna.
"Benar. Kamu ikut sama anak-anak. Aku temanin Yuna istirahat sebentar. Nanti kita ketemu di Ranu Kumbolo."
"Dasar anak-anak." ucap Dylan. Yuna hanya tertawa lucu melihat candaan mereka.
"Maaf ya, gara-gara aku kamu jadi terpisah sama rombongan."
"Tidak apa. Sekalian ngajarin pemula. Mana tahu next time kamu bisa semangat ikut lagi."
Setelah beristirahat sepuluh menit, mereka melanjutkan perjalanan. Hanya ada mereka berdua yang berjalan menuju Watu Rejeng. Pendakian sudah mulai memasuki hutan.
"Hati-hati, Yun. Banyak ranting. Kita jalan santai saja." Dylan mengingatkan.
"Iya."
"Kamu cuti berapa hari?"
__ADS_1
"Belum tahu."
"Aku sempat bertemu asistenmu Cathy dan Adit minggu lalu sebelum aku ke Malang. Saat aku tanya tentangmu, Adit hanya bilang kamu cuti panjang."
Yuna tidak tahu harus menjawab apa dan memilih untuk diam. Dylan sedikit merasa tidak enak. Sebenarnya ia sudah mendengar cerita tentang kecelakaan Joshua Austin, pria yang dikabarkan berselingkuh dengan Yuna. Hanya saja Dylan tahu mana yang harus dibahas dan yang tidak, dan ia memilih untuk menutup matanya mengenai kabar itu.
"Aduuuh..." Teriak Yuna yang hampir jatuh karena tersandung ranting panjang yang melintang. Sontak Dylan dengan cekatan langsung menangkap tubuh Yuna. Seperti adegan di film-film India, Yuna juga reflek memeluk tubuh besar Dylan. Sesaat mata mereka beradu pandang sebelum Yuna menjauhkan dirinya.
"Kamu tidak apa-apa? Ada yang luka?"
"Tidak ada, terima kasih." Yuna menenangkan hatinya yang berdebar, entah karena dirinya yang hampir jatuh atau karena dirinya yang malah jatuh ke pelukan Dylan.
"Lanjut yuk, maaf ya aku merepotkanmu terus." Mereka berdua mulai berjalan lagi. Dylan mengambil satu kayu panjang dari tanah, membersihkannya sekilas, lalu memberikannya pada Yuna untuk membantunya mendaki.
"Merepotkan apa? Biasa saja kok. Setiap kali aku mendaki, aku juga hanya ingin menikmati setiap langkahku. Tidak ada tujuan pasti apakah harus sampai ke puncak atau tidak. Jika aku merasa kepuasanku belum tercapai, aku akan terus melangkah. Pernah aku hanya sampai di tempat kita istirahat tadi, tapi aku sudah merasa cukup. Mungkin aku duduk di sana tiga jam hanya untuk melihat para petani yang sedang berkebun. Maaf, aku terlalu banyak bicara ya?" ucap Dylan sambil tersenyum.
"Tidak kok, aku menikmati ceritamu. Lantas, bagaimana jika sudah menuju puncak tapi kamu tidak juga merasa puas?" tanya Yuna.
"Mmm...Sejauh ini aku tidak bisa tidak merasa puas setelah mencapai Puncak Mahameru. Seakan semua masalah dan pikiran yang membebanimu hilang bertebaran ditelan awan di bawahmu. Tapi untuk menggapai itu, banyak yang harus diperjuangkan. Tahap demi tahap yang semakin menantang. Tapi itu menurutku ya Yuna. Tentu saja tingkat kebahagiaan setiap orang berbeda. Lalu apa tujuanmu ikut mendaki?" Pertanyaan mendadak dari Dylan membuat Yuna berpikir keras. Biarlah ia menjadi Yuna yang sebenarnya dalam pendakian ini. Ia ingin melepaskan semua beban di hatinya.
"Aku..entahlah. Ingin bebas, ingin jauh dari semua orang yang mengenalku, dan ternyata aku bertemu denganmu di sini. Anggap saja kita baru kenal ya, jadi tolong jangan bahas pekerjaan hahaha... Sebenarnya aku juga ingin melupakan sesuatu jadi aku mencari kegiatan lain di luar rutinitasku. Aku tidak tahu apakah aku bisa melupakannya dan meninggalkannya di gunung ini. Apa jawabanku memuaskanmu?" Yuna sedikit terengah-engah. Medan yang mereka daki semakin sulit karena mereka belum juga keluar dari hutan.
"Aku harus merasa puas jika tidak mau dianggap kepo olehmu hahaha.. Mau istirahat sebentar?" Yuna menggeleng.
"Jangan, nanti tidak terkejar. "
"Kan aku sudah bilang, jangan dipaksa."
"Aku masih kuat kok. Beneran."
Jalanan semakin nanjak. Dylan menawarkan tangannya untuk membantu Yuna mendaki medan yang curam.
"Pegang tanganku. Anggap saja aku orang asing."
"Kalau kamu orang asing aku malah ogah pegang tanganmu." Dylan tertawa melihat Yuna yang agak jutek. Sepanjang jalan mereka tidak banyak berbicara untuk menghemat tenaga. "
__ADS_1
Dylan menikmati setiap langkah mereka mendaki, apalagi sudah lama ia tidak menggenggam tangan seorang wanita. Bukan sembarang wanita, seseorang yang luar biasa menurutnya. Tapi tidak bagi Yuna, ia merasa sangat terganggu dengan genggaman itu. Di saat awal ia malah mengingat sentuhan tangan Shua, besar tangan dan hangatnya yang sama. Seseorang yang masih menjadi kekasih hatinya. Terganggu... tapi ia memanfaatkan gangguan itu untuk melampiaskan kerinduannya dengan Shua.
*****