MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 32


__ADS_3

Hembusan angin malam meniup rambut Yuna yang tergerai indah. Gaun malam berwarna hitam dengan seutas tali dipadu mutiara putih melintang di pundak kiri dan kanan Yuna. Malam ini adalah soft opening Peninsula Mall di Surabaya. Hanya tamu undangan tertentu yang akan hadir. Namun Yuna melihat semuanya diatur dengan mewah seperti melakukan grand opening. Apa yang membuatnya mewah? Teman Vanya Aprilia, seorang Raymond Christian, menjadi MC di acara itu. Aktor yang sedang naik daun dan sempat digosipkan dengan adik Joshua.


Sedikit malas untuk berbaur dengan orang-orang di sana. Kehadiran keluarga besar mantan suaminya membuat malam itu sedikit suram. Hal yang cukup wajar mengingat ini proyek perusahaan mereka. Joshua sudah memberi tahu orang tuanya bahwa Yuna adalah mantan menantu keluarga Radiansyah. Tapi tetap saja suasana seperti ini membuatnya canggung. Apalagi ada Rebecca di sana. Andaikan saja orang tuanya masih ada di sana, Joshua juga pasti akan mengundang mereka, dan Yuna tidak akan merasa sendiri.


"Kamu sendirian Yuna?" Yuna berbalik dan melihat seorang wanita mendekatinya.


"Aku melihatmu keluar, jadi aku membawa ini agar kita bisa mengobrol." Devi memberikannya sebuah gelas berisi wine.


"Oh Devi. Iya. Aku hanya keluar mencari udara segar. Indah sekali di sini. Terima kasih Devi. Kamu melakukan pekerjaanmu dengan luar biasa." Yuna menyambut gelas itu dan meneguknya. Ia memang keluar dari ruangan tempat pesta diadakan karena merasa kurang nyaman di sana. Mall itu memang memiliki sebuah hall serba guna di lantai paling atas. Selantai dengan pusat olah raga dan kolam renang.


"Bukan masalah besar. Aku selalu melakukan pekerjaanku dengan maksimal. Semua yang aku mau, aku pasti mendapatkannya." Yuna sedikit merinding melihat tatapan mata Devi di bawah sinar bulan.


"Aku masuk dulu Devi. Permisi." Yuna melewati Devi. Namun sebelum ia berhasil melewati pintu itu, ia merasakan kakinya seperti lemas dan menyeretnya jatuh ke lantai. Yuna masih bisa sedikit membuka matanya dan mendengar Devi memanggil-manggil namanya. Tapi Yuna seperti tidak bertenaga untuk mengeluarkan suaranya apalagi bergerak.


'Ada apa ini? Mengapa aku jadi selemas ini? Tolong aku!' Yuna melihat bayangan sepatu Devi yang pergi meninggalkannya. Ia merasakan dingin yang amat sangat, dengan gaun yang agak terbuka ia berbaring di atas lantai yang dingin itu.


Yuna tidak bisa merasakan tubuhnya lagi, lemas dan membeku menjadi satu rasa. Sampai akhirnya ia merasakan seseorang memanggil namanya lagi. Suara seorang pria. Yuna membuka matanya saat ia merasakan tubuhnya ditutupi oleh sesuatu yang hangat. Pria itu menggendongnya, Yuna merasakan pelukannya. Ia sedikit mengenali parfum pria itu. Akhirnya Yuna memiliki sedikit tenaga untuk melihat wajah pria itu. Adit. Benar, Yuna berada di pelukan pria itu. Ia ingin memberontak tapi dirinya tidak sanggup.


Yuna tahu Adit membawanya masuk karena suasana mendadak menjadi terang karena sinar lampu yang cukup terang. Ia hanya bisa menutup matanya dan berharap Shua tidak melihat adegan yang seperti drama itu. Ia merasakan Adit yang berjalan cukup cepat dan tidak menghiraukan panggilan orang-orang yang bertanya padanya tentang apa yang terjadi.


"Yuna, Yuna..Kamu kenapa?" Yuna mendengar suara Shua. Ia melihat wajah Shua saat Adit membaringkannya di sofa.


"Shu...Shua." Yuna bisa mengeluarkan suaranya pelan dan merasakan tangan hangat Shua di wajahnya.


"Minum ini Yuna." Adit menyodorkan sebuah cangkir berisi teh hangat.


"Biar aku saja." Shua berniat mengambilnya dari tangan Adit.


"Minggir. Ini semua salahmu. Jika kamu tidak bisa menjaganya, aku yang akan menjaganya." Ucap Adit. Yuna belum siap untuk berdebat, ia menyeruput teh yang terasa hangat di tenggorokan hingga mengalir ke perutnya. Ia sudah bisa duduk sekarang. Melirik ke arah dua pria di depannya.


"Kamu sakit, Sayang? Kita ke dokter ya." ajak Shua, ia menggosok telapak tangan Yuna yang masih terasa dingin.


"Aku tidak apa-apa." Yuna merasa tenaganya mulai pulih sedikit.


"Apa yang terjadi Adit?" Shua bertanya pada Adit sambil melepaskan jas yang menempel di tubuh Yuna dan menggantinya dengan jas yang baru saja dilepaskannya. Adit sangat kesal melihatnya.


"Aku diberi tahu Devi bahwa Yuna memanggilku di dekat kolam. Ia bilang...." Adit berhenti bicara dan menatap wajah kedua orang di depannya secara bergantian.


"Bilang apa?" tanya Yuna penasaran.


"Dia bilang kamu sedikit mabuk. Kamu sedang kesepian, kangen aku, dan membutuhkanku di luar. Waktu aku menghampirimu, kamu sudah tidak sadar diri." jelas Adit. Yuna hanya bisa menganga tanpa berkata apa-apa. Sedangkan Shua, ia bisa melihat bahwa Adit sedang tidak berbohong. Ia melihat Yuna sekarang. Shua memang mencium bau alkohol di dekat Yuna tadi.


Ia tidak ingin mempercayai cerita Adit, tapi....

__ADS_1


"Hah? Aku tidak mabuk. Aku..aku..memang sedikit minum tadi. Tapi..tapi..." Yuna sedikit terbata-bata. Sejujurnya ia tidak yakin dengan apa yang terjadi. Apakah dirinya mabuk atau tidak. Tapi yang pasti ia tidak merasa mengatakan hal-hal aneh tentang Adit.


"Sudah tidak apa-apa. Kamu istirahat dulu ya di sini. Adit, tadi istrimu melihatmu menggendong Yuna ke sini. Mungkin sebaiknya kamu menenangkannya dulu, aku yakin dia pasti sedang kesal atau marah sekarang." Shua duduk di sebelah Yuna yang masih terlihat bingung.


"Baiklah. Yuna, aku keluar dulu ya. Hubungi aku jika ada apa-apa." Adit membelai rambut Yuna. Shua sungguh tidak suka melihatnya. Ia ingin menegur Adit tapi ditahannya karena tidak mau dinilai terlalu posesif.


"Shua, aku tidak..Aku tidak memikirkan Adit, sungguh!" Yuna memeluk Shua kencang. Ia takut pria itu mempercayai apa yang dikatakan Adit. Tapi ia juga takut bahwa apa yang dikatakan Adit tadi benar adanya. Jujur ia sungguh tidak ingat, seolah tadi pikirannya tidak bekerja untuk sementara waktu.


"Tenanglah. Aku percaya padamu. Mau pulang? Sebentar lagi aku antar, pestanya juga sudah mau selesai. Aku bisa ngomong sama papa." Shua menepuk pelan punggung Yuna. Ia bisa merasakan detak jantung Yuna yang sangat kencang sebelum ia melepaskan dirinya dari Shua.


"Tidak. Aku bisa pulang sendiri. Kamu selesaikan dulu acara di sini." Yuna berdiri pelan karena ia merasakan kepalanya yang terasa sangat ringan, seolah ia tidak menginjak tanah.


'Apa aku benar-benar mabuk?' tanyanya dalam hati.


"Tidak. Aku akan mengantarmu." ucap Shua sambil memegangi lengan Yuna yang agak sempoyongan.


"Please, Sayang. Stay here, ok? Aku sudah cukup membuat masalah dengan kejadian tadi. Jadi jangan sampai kamu meninggalkan pesta ini cuma untuk mengantarku ke hotel."


Yuna meninggalkan ruangan itu tanpa menunggu jawaban apapun dari Shua. Besok ia akan menemui orang tua Shua dan meminta maaf karena tidak sempat berpamitan, pikirnya. Ia pulang ke hotel naik taksi dengan masih memakai jas milik Shua. Sesampainya di kamar ia langsung menukar pakaiannya dengan piyama tanpa bebersih. Yuna sedang tidak ingin mandi, ia hanya ingin berbaring dan memikirkan apa yang terjadi tadi.


Yuna mencoba mengingat kronologis saat dia ke kolam renang. Devi memberinya wine. Yuna minum hanya setengahnya.


"Apa wine nya keras ya?" Kata orang, saat mabuk kita akan berbicara jujur. Apa benar ia merindukan Adit di bawah sadarnya? Tapi saat ia sadar, tidak pernah terbesit sedikitpun di pikirannya tentang sosok mantan suaminya itu.


*****


"Mungkin masuk angin, Ma. Nanti Shua ke kamarnya sebentar ya." ucap Shua.


Shua melirik ke jam di layar mobilnya, sudah pukul 22.18. Ia hanya berharap Yuna belum terlelap. Pikirannya tidak karuan. Ia benar-benar berharap Adit berbohong, tapi itu sama sekali tidak tampak di matanya tadi. Sedangkan Yuna, ia juga terlihat jujur. Jadi apa yang sebenarnya terjadi. Apa benar Yuna mabuk dan tidak ingat dengan apa yang ia katakan pada Devi? Shua pernah mendengar jika orang mabuk maka ia akan berbicara sesuai hatinya. Shua mencengkram setirnya dengan kuat, ia merasa sangat kacau sekarang.


Ting..tong...


Shua hanya akan membunyikannya dua kali. Jika tidak dibuka, maka ia akan kembali ke kamarnya.


Ting..tong...


Tidak dibuka. Ia baru saja akan membalikkan badan saat pintu kamarnya terbuka.


"Kamu sudah tidur?" Shua melihat wajah Yuna yang tampak berantakan.


"Belum. Mau masuk?" Pria itu mengangguk. Yuna mengundang Shua masuk karena sepertinya mereka butuh bicara.


"Ini jas mu tadi. Makasih ya. Sudah sampaikan maafku untuk orang tuamu?" Shua mengangguk lagi.

__ADS_1


"Sudah enakan? Atau masih tidak enak badan?" tanya Shua.


"Hanya sedikit pusing. Tapi tidak apa-apa."


"Sini. Aku pijitin kepalanya." Shua menepuk pahanya yang bebas saat ia duduk dan bersandar di ranjang Yuna. Yuna tersenyum, entah mengapa setelah kejadian tadi ia sangat merindukan kekasihnya itu. Yuna berbaring dengan kepala di atas paha Shua, memejamkan matanya, dan merasakan keningnya dipijit ringan oleh tangan kekar Shua tapi terasa sangat lembut.


"Sayang, maafkan aku. Harusnya tadi aku tidak minum wine. Aku tidak tahu mengapa aku cepat sekali mabuk. Tapi kamu tau kan, tidak pernah sedikitpun aku memikirkan Adit. Hatiku sudah tertutup untuknya. Dan hatiku sekarang cuma ada kamu. Sejak ada kamu, aku.....mmh." Yuna yang sedang terpejam merasakan sesuatu menutup bibirnya. Ia tahu itu bibir Shua, bibir merah yang menjadi candu untuknya. Shua menciumnya pelan, pelan, dan pelan.


"Aku tahu, Sayang. Aku percaya padamu. Kita jangan membahasnya lagi ya." kata Shua sedikit berbisik. Ia mencium mata Yuna yang masih terpoles eye shadow dengan sedikit glitter emas, membuat mata indah itu menjadi seksi.


"Dari sore tadi aku ingin menciummu. Kamu sangat cantik dengan gaun itu. Pundakmu yang terbuka, membuatku cemburu setiap ada lelaki yang melihatmu. Terutama Adit. Matanya seakan ingin memakanmu." Shua terus meracau sambil mencium kekasihnya itu.


"Tapi aku hanya ingin dimakan olehmu." Yuna sudah tidak ingin menahannya lagi. Ia membalas kecupan Shua dengan sedikit liar. Yuna ingin membuktikan bahwa Shua sangat penting untuknya, bukan yang lain.


Shua merasakan bibir Yuna membalas ciumannya dengan sedikit panas. Ia pun tidak kuasa menolaknya. Mengapa semuanya sangat indah di tubuh Yuna? Sangat indah dan sempurna untuknya.


Yuna mendesah pelan. Ia merasakan sentuhan di tubuhnya. Ah, sudah lama ia tidak merasakan nikmatnya bercinta. Dan kali ini ia akan melakukan yang pertama kali dengan Shua. Cinta pertamanya dan ia berharap akan menjadi cinta terakhirnya. Mereka sekarang tidak memiliki penghalang apapun. Ya Tuhan, bagaimana caranya Kau menciptakan pria seindah ini? Yuna memandang Shua. Ia tahu Shua memiliki dada yang bidang, tapi ia tidak tahu bahwa pria itu juga bertubuh kekar dan sangat sempurna baginya. Entah siapa yang memulai, mereka mulai berciuman dengan tenang dan tanpa sadar mereka sudah akan melakukannya.


"Maafkan aku Yuna, aku tidak bisa menahannya lagi. Aku mencintaimu, Sayang." Shua berbisik dan membuat mereka tidak berjarak lagi. Ia merasa sedikit bersalah karena tidak bisa menahan hasratnya. Tapi inilah dirinya. Ia tidak mampu menahan keinginannya untuk memiliki Yuna Sakura. Mimpi di masa lalunya yang sekarang menjadi mimpi di masa depannya. Ia berharap Yuna tidak akan menyesalinya. Tapi Shua melakukannya dengan penuh cinta, berharap perasaannya bisa sampai melalui apa yang mereka lakukan sekarang.


Yuna tidak sempat menjawab saat Shua meminta maaf tadi. Mereka sudah berada di ujung hasratnya.  Dan akhirnya semua perasaan cinta, nikmat, dan saling membutuhkan membaur menjadi satu. Mereka berdua terbaring di ranjang sebelum akhirnya mereka menoleh ke arah masing-masing. Shua membelai rambut Yuna, mencium keningnya.


"Apa kamu menyesal? Maafkan aku." ucap Shua. Yuna menggeleng.


"Kalau aku tidak memaafkanmu, apa yang akan kamu lakukan?" ledek Yuna.


"Mungkin aku akan mengambilnya kembali, semua kecupanmu akan aku kembalikan lagi." Mereka tertawa lalu berpelukan.


"Terima kasih, Sayang. Apa aku harus kembali ke kamarku atau tidur di sini?" Shua mencium kepala Yuna lagi. Wangi tubuh wanita itu sudah menjadi candu baginya.


"Kembalilah. Tidak enak jika orang tuamu sampai tahu." jawab Yuna.


"Apa kamu tidak takut aku hamil?" tanyanya lagi.


"Kalau kamu sampai hamil aku akan langsung menikahimu." jawab Shua.


"Shua, sepertinya kamu harus tahu. Mungkin aku tidak segampang itu untuk hamil. Tiga tahun aku menikah dengan Adit dan aku belum pernah hamil sekalipun. Mungkin itu salah satu faktor perceraian kami. Aku tidak ingin kamu berharap memiliki keturunan denganku. Tentu saja aku akan terus berusaha tapi aku tidak bisa menjanjikan apa-apa. Dan kurasa orang tuamu juga berhak tahu tentang ini." jelas Yuna dengan serius. Ini salah satu momok bagi hubungannya dengan Shua.


"Baiklah, aku akan menceritakannya. Tapi kamu juga harus tahu. Aku mencintaimu dengan semua yang ada pada dirimu. Semuanya. Kekurangan dan kelebihanmu. Tentu saja aku berharap memiliki keturunan darimu. Tapi jikapun kita tidak memilikinya, itu tidak mengubah apapun Sayang. Cukup ada kamu. Cuma kamu. I promise you this."


Malam pertama bagi mereka untuk membuktikan perasaan masing-masing. Perasaan yang tidak bisa dibendung dan harus ditunjukkan.


'Apakah kamu mencintaiku Yuna? Kapan kamu akan mengucapkannya?' Pikiran Shua sedikit berkelana saat ia mengenakan celana dan jas tanpa kemejanya.

__ADS_1


'Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Aku mungkin takut akan dikecewakan kedua kalinya. Aku ingin memberikan seratus persen kepercayaanku. Tapi bagaimana jika seratus persen itu hancur tanpa menyisakan satu persen kekuatan lagi. Aku akan hancur tanpa bertahan. Cinta, mudah bagiku mengucapkannya. Tapi semakin dalam aku mencintaimu, aku harus semakin kuat untuk mempersiapkan kehancuranku. Tunggu aku Shua, tunggu aku menjadi semakin kuat dan berani untuk mencintaimu.' batin Yuna bersuara dalam diam.


*****


__ADS_2