MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 53


__ADS_3

Vanya membasuh tangan Joshua dengan handuk hangat setelah terlebih dahulu membersihkan wajah tampannya. Dulu, ia tidak memiliki kesempatan sedikitpun untuk menyentuh Kak Josh nya dengan begitu dekat. Tapi sayangnya sekarang ia hanya memandangi Joshua yang terbaring. Hampir satu bulan sudah pria yang dicintainya itu koma. Vanya sangat merindukan mata tajamnya dan juga celotehan dari suara maskulinnya.


"Kak Josh, sudah yuk tidurnya. Vanya dan mama sudah kangen sekali sama Kakak." Ya. Sejak kepergian Yuna, Nissa meminta Vanya untuk memanggilnya 'Mama'. Tidak lama dari pernyataan Nissa ke wartawan, gosip mengenai mereka sedikit mereda.


"Kakak tahu tidak, kandungan Vanya sudah enam bulan. Anak laki-laki." Vanya sebenarnya malu menceritakan ini pada Joshua, tapi Nissa terus meyakinkannya untuk mulai memperjuangkan hati Joshua.


"Makanya kakak bangun. Vanya tidak bisa hidup tanpa Kak Josh." Kata Vanya sambil mengelap kering tangannya.


"Kakak, Vanya sudah memutuskan mundur dari dunia hiburan. Vanya mau fokus sama keluarga baru Vanya. Nanti mungkin Vanya mau buka klinik kecantikan. Tapi tunggu Vanya sudah melahirkan." Ia bercerita lagi.


'Suara Vanya. Oh, kandungannya sudah enam bulan. Sudah besar juga ya? Memangnya sudah berapa lama aku tertidur? Sepertinya aku sudah lama tidak mendengar suara Yuna. Ya Tuhan, aku merindukannya. Kemana dia? Aku harus bangun. Aku harus mencarinya. Bagaimana caranya aku bisa bangun? Mataku sangat berat, tanganku apalagi. Dan kakiku, mengapa aku tidak bisa merasakannya?'


Vanya sudah selesai membersihkan tangan dan kaki Joshua. Sekarang ia sedang mengirim pesan balasan ke Tante Nissa mengabarkan bahwa dirinya bebas pada hari itu sehingga bisa menjaga Joshua sampai sore bahkan malam. Ia melirik sekilas ke arah Joshua, sesaat ia melihat mata pria itu berdenyut pelan. Vanya terkejut dan langsung mendekati wajah Joshua. Ia menunggu kejadian itu terjadi lagi. Lima detik kemudian, mata Joshua berdenyut lebih kuat lagi.


"Kak..Kak Josh. Ini Vanya Kak. Bangun. Buka mata Kak Josh." Panggil Vanya sambil menggenggam tangan Shua.


Sesaat mata Shua terbuka perlahan. Mata sayu itu masih sedikit berkedip-kedip mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya.


'Apa aku sudah bangun?' batin Shua. Suaranya masih belum bisa keluar.


"Kak! Thanks God. Kak Shua!" Vanya berteriak histeris sambil memencet tombol panggilan ke perawat. Ia juga langsung menelepon Nissa dan mengabarkan jika Joshua telah siuman.


"Kak, ini Vanya. Kak Josh bisa dengar suara Vanya?" Gadis itu menggenggam erat tangan Shua. Perlahan Shua membuka mulutnya.


"Iya." jawabnya pelan.


Tidak berapa lama, dua perawat dan satu dokter memasuki kamar. Si dokter mulai memeriksa Joshua.


"Sejauh ini semua tampak normal, hanya saja Pak Joshua sepertinya belum bisa merasakan kakinya. Kita akan memantau dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut." kata sang dokter kepada Vanya secara pribadi di luar kamar. Vanya agak terkejut, tapi itu tidak bisa mengalahkan kebahagiaannya karena Kak Shua nya sudah sadar dan mengenalinya.


"Kak Josh mau minum?" tanya Vanya.


"Yuna. Sudah hubungi dia?" tanya Shua pelan sambil menatap mata Vanya. Sedangkan Vanya, di saat itulah ia tidak ingin menatap mata pria yang mencari kekasihnya. Pertanyaan yang membuat Vanya terdiam dan berharap Tante Nissa ada di sana untuk membantunya menjawab.


*****


"Kok kamu bisa di sini?" Yuna terkejut kaget saat melihat Dylan yang sudah duduk di lobi hotel pagi-pagi.


"Hai, pagi. Maaf aku bukan menguntitmu. Semalam setelah aku mengantarmu ke sini, aku merasa ngantuk dan tidak berani menyetir jauh. Jadi aku menginap di sini."


"Oh, maaf. Gara-gara aku kamu jadi...."


"Berhentilah meminta maaf Yuna. Aku sudah cukup dewasa untuk memutuskan sendiri yang aku lakukan. Dan dari kemarin hingga hari ini, itu semua bukan salahmu. Aku yang mau."  Dylan memperhatikan Yuna sudah rapi dengan kacamata hitamnya, ransel, dan jaket jeans.


"Kamu mau kemana pagi-pagi?" Dylan mengakhiri rasa penasarannya.

__ADS_1


"Mau ke air terjun."


"Yuk." ajak Dylan sambil mengeluarkan kunci mobilnya.


"Hah?" Yuna mengangkat kacamata hitamnya.


'Indah sekali matamu.' pikir Dylan sambil melihat mata yang dipoles eye shadow pink muda itu.


"Aku antar. Aku juga mau lihat." Dylan merasa outfitnya sangat cocok untuk ke air terjun. Celana jeans berwarna cream selutut dan kaos polos hitam. Ia melingkarkan tangannya ke pundak Yuna dan mendorongnya keluar.


"Tunggu-tunggu. Aku...harus ngomong dulu sama Bang Joni."


"Siapa itu?" Dylan berhenti berjalan dan menurunkan pandangannya menatap Yuna. Yuna berlari kecil ke arah parkiran dan Dylan mengikutinya. Ia melihat Yuna berbicara dengan pria muda berkulit agak gelap dan bertubuh tegap. Sepertinya pemuda asli sini, pikirnya. Tidak lama kemudian Yuna pun kembali.


"Dylan, kamu bisa bawa motor?" tanya Yuna. Dylan hanya menanggapi dengan bingung.


"Kata Joni ke air terjun sana lebih gampang naik motor. Sejam lah. Kalau tidak bisa tidak apa-apa. Aku bisa pergi sama Joni, memang aku sudah janjian sama dia." jelas Yuna.


'Oh, begitu. Tidak mungkin aku membiarkan Yuna pergi sama pemuda itu.' pikirnya cepat.


"Bisa sih, cuma sudah lama aku tidak bawa motor. Tapi masih bisalah. By the way, motor siapa yang bisa kita pakai?"


"Motor Joni, nanti aku kasih uang saja sama dia. Beneran ok ya?" Yuna memastikan. Dylan pun menganggukkan kepala dengan semangat. Yuna kembali lagi ke tempat Bang Joni dan memberinya dua lembar uang seratusan ribu.


Akhirnya Dylan mengendarai motor matic itu. Cukup gampanglah dibanding motor manual yang dulu pernah ia kendarai.


"Tidak perlu." jawabnya.


Sebenarnya Yuna lebih menyukai jika Dylan memakai jaketnya agar ia dapat memegang ujung jaket karena takut jatuh.  Biar sajalah, toh Dylan tidak terlalu ngebut. Angin sepoi-sepoi menyapu wajah Yuna. Udara saat itu sangat sejuk, tidak panas, tidak mendung.


'Shua, apa kabarmu hari ini? Maaf aku tidak bisa berada di sampingmu. Tapi aku yakin banyak yang sayang denganmu di sana.' Yuna merasa tidak akan ada yang bisa memahami dirinya saat ini. Perasaan berkorbannya malah membuat dirinya menjadi yang paling tersakiti. Cinta namun harus meninggalkan. Tapi yang paling ia takuti adalah jika suatu saat Shua akan menyalahkan dirinya atas perpisahan mereka.


"Huuuh...." Yuna membuang napas dengan keras hingga Dylan pun bisa mendengarnya.


'Apa yang kamu pikirkan Yuna? Joshua? Adit? Atau aku?' Kepercayaan dirinya membuat dirinya tersipu malu hingga ia tidak sadar ada kucing yang melintas.


Ciiiittt....Dylan mengerem mendadak membuat kepala Yuna menghantam punggungnya yang bidang.


"Aduuuh...Kenapa Dylan?" Yuna membenarkan posisi helm nya.


"Ada kucing nyebrang mendadak. Kamu tidak apa-apa?" jawabnya.


"Tidak apa-apa." Masalah kucing mengingatkannya pada kecelakaannya dulu dan Shua yang menemaninya. Selalu menemaninya. Ya Tuhan, kapan Yuna bisa move on kalau apapun bisa mengingatkannya padanya?


"Pegangan Yuna. Aku takut kamu jatuh." pinta Dylan. Yuna tidak menjawab apa-apa. Ia menurut saja toh itu untuk keselamatan dirinya sendiri. Yuna mulai menyentuh pinggang kiri kanan Dylan. Dari situ ia bisa tahu jika Dylan sangat menjaga bentuk tubuhnya bahkan di usianya yang hampir 40 tahun.

__ADS_1


Dylan merasakan sentuhan tangan Yuna di sisi pinggangnya. Di saat itu, ia senang memilih untuk tidak mengenakan jaketnya.


Sekitar 1 jam kemudian mereka sampai di tempat yang dituju. Air Terjun Gumandar. Untuk menuju ke lokasi air terjun, mereka perlu hiking sekitar dua puluh menit.


"Kok pilih air terjun ini? Putuk Truno kayaknya lebih terkenal."


"Kita tidak bisa hiking di sana. Ini hidden gem."


"Kita jalan santai saja. Nanti kamu kecapekan lagi."


"Tenang saja, semalam aku tidur nyenyak hahaha.."


Mereka berjalan mengikuti instruksi dari penjaga parkir motor mereka. Mengikuti jalan setapak di hutan dan tidak banyak berbicara, mungkin sibuk dengan pikiran masing-masing. Akhirnya mereka sampailah di spot yang dituju. Hanya ada mereka berdua karena memang tidak banyak yang tahu lokasi itu.


Air terjunnya tidak terlalu tinggi namun panjang. Suara airnya sangat menyejukkan.


"Tadinya aku berencana ke sini sendiri." Yuna duduk di sebuah batu besar di pinggir aliran air.  Dylan yang mendengar awal pembicaraan Yuna langsung ikut duduk di sana.


"Sudah dua minggu aku berkelana sendirian. Lalu tiba-tiba aku bertemu denganmu. Mungkin Tuhan sedang mengasihaniku dan mengirim seorang teman." Yuna berhenti bercerita, menunduk lalu menurunkan kakinya masuk ke dalam air yang jernih. Sedang Dylan, tidak sedetikpun ia memalingkan tatapannya dari wanita cantik berkuncir satu di sebelahnya. Setidaknya Yuna sudah menganggapnya seorang teman sekarang.


"Apa aku teman yang menyebalkan?" tanya Dylan datar.


"Hahaha...Awalnya sih iya. Mungkin karena aku belum siap untuk bertemu seseorang yang aku kenal."


"Tapi kuakui kamu seperti penolong yang dikirim Tuhan. Bayangkan jika di Semeru kemarin aku sendirian."


"Tenang saja Yuna. Tidak mungkin tidak ada orang yang menolong wanita secantik kamu." goda Dylan.


"Itu alasanmu menolongku? Karena rupaku?" Yuna menatap Dylan sekarang.


"Aku tahu kamu cantik sudah lama. Aku membantumu ya karena hatiku menyuruh untuk melakukan itu. Karena aku mau, dan mungkin karena aku ingin lebih mengenalmu." Dylan berkata jujur.


"Dylan, aku ingin menanyakan sesuatu. Jujur saja aku tidak mau terlibat dalam hubungan orang lain. Jadi jika kamu sedang terlibat hubungan dengan seorang wanita, atau bahkan pria sekalipun, aku harap kamu bisa menjaga jarak denganku." Yuna lega sudah mengatakan hal yang menjadi pikirannya sejak kemarin.


"Hahaha...Aku tidak menyangka jika kamu bisa berpikir aku gay. Yuna, jujur aku belum pernah menikah dan tidak sedang berhubungan dengan siapapun sekarang. Aku bersumpah aku jujur."


"Masa pria setampan kamu....Maksudku pria sepertimu tidak punya pacar?" Yuna malu mengakui bahwa Dylan memang tampan.


"Tidak untuk sekarang. Terakhir aku berpacaran mungkin dua tahun lalu, sekitar enam bulan kami putus. Bukannya aku tidak serius, tapi bagiku jika kami tidak menemukan kecocokan dalam menjalin hubungan ya buat apa dipertahankan. Mending salah cari pacar daripada salah cari istri atau suami." kata Dylan. Yuna terdiam mendengarnya. Ya, itu memang benar. Salah cari suami memang sangat menyakitkan.


"Maaf.. Aku tidak bermaksud menyinggung masalah pernikahanmu dulu."


"Tidak apa-apa. Kamu benar Dylan. Aku sangat setuju dengan prinsipmu itu. Mungkin aku juga akan berpikir seperti itu sekarang." Yuna menendang air yang mengalir melalui kakinya.


'Sepertinya aku tidak akan mau menikah lagi. Perasaanku dengan Shua terasa begitu kuat hingga aku tidak akan sanggup menghabiskan sisa waktuku dengan pria lain, selain dengan Shua. Jikalau aku menyukai seorang lelaki, biarlah itu hanya menjadi sebuah wisata untuk hatiku. Dan sejauh-jauhnya aku berwisata, tempat berpulangku hanyalah kamu, Shua.' Yuna melamun.

__ADS_1


*****


__ADS_2