MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 21


__ADS_3

Yuna duduk di kelas bisnis sebelah Adit. Sebenarnya ia enggan duduk bersamanya, namun Adit memaksa. Shua duduk di belakang mereka. Matahari baru saja terbit saat mereka duduk di dalam pesawat dengan penerbangan


paling pagi itu. Sesampainya di Surabaya, mereka langsung menuju lokasi pembangunan mall milik Joshua dan Adit yang dipercaya untuk membangunnya.


"Pa, papa sudah datang?" Adit menyapa seoranglelaki paruh baya yang sedang ngobrol dengan seorang pria berhelm orange.


"Adit, Yuna. Langsung dari bandara?" tanya Harris. Yuna sedikit terkejut dengan kehadiran mertuanya di sana.


"Iya Pa." jawab Yuna singkat.


"Halo Om." Shua maju dan menyalami Harris.


"Hai Joshua, apa kabar? William dan Nissa sehat?"tanyanya.


"Sehat Om."


"Kenapa papa ada di sini?" Yuna sedikit berbisik dengan Adit.


"Aku lupa cerita. Mama sama papa memang lagi di Surabaya, sudah dua minggu." jelas Adit. Harris memang orang Surabaya, jadi sebagian besar keluarganya memang tinggal di sana.


Mereka berkeliling lokasi dan mulai berdiskusi tentang segala sesuatunya. Di mana dan bagaimana tempat parkirnya akan dibangun, mall yang akan dibangun juga akan dibuat menjadi berapa sayap, juga bahan yang akan


digunakan.


Yuna merasakan keringat mengucur dari keningnya. Pagi itu sedikit panas di Surabaya, dan ia paling tidak bisa terkena sinar matahari yang terlalu menyengat dalam waktu yang lama. Lama kelamaan keringat itu berubah


menjadi keringat dingin. 'Apa ini karena aku belum sarapan ya?' tanyanya dalam hati. Samar-samar suara Adit yang sedang berbicara dengan Shua mendadak tidak terdengar lagi.


"Yuna, sayang. Kamu kenapa?" Adit menepuk pelan pipi Yuna yang terlihat pucat. Yuna terjatuh, ia masih sadar namun merasa lemas di sekujur tubuhnya. Matanya sayu. Harris sigap menelepon sopirnya. Sedangkan Joshua hanya mampu melihat Yuna dalam diam. Pikirannya masih bisa mengontrol mulut dan tangannya untuk tidak menggendong Yuna dan membawanya dari sana.


"Jo, kamu dan papa tinggal dengan Pak Imran sebentar ya. Nanti aku kembali lagi. Mungkin aku akan membawanya ke dokter. Nanti aku telepon." Adit kelihatan sedikit panik, ia memapah Yuna masuk ke dalam mobil yang dikemudikan Pak Said, sopir setia Harris sejak 20 tahun lalu. Joshua masih dalam diamnya, hingga ia merasakan tepukan pelan di bahunya.


"Nak Jo.. Ayo! Pak Imran mau ajak kita melihat rencana design mall nya." ajak Harris.


"Oh iya Om." Joshua tersenyum mencoba menutupi kecemasannya akan Yuna.


"Kita ke hotel saja Dit. Aku mau istirahat sebentar, ga usah ke dokter." kata Yuna dengan suara pelan. Ia memindahkan posisi kepalanya dari bersandar di dada Adit ke dekat jendela, namun Adit menariknya


kembali. Yuna ingin memprotes tapi ia tidak memiliki cukup tenaga untuk berdebat.


Mereka masuk ke kamar 708 Hotel Victory, milik adiknya Harris.


"Kamu kembali saja ke proyek." kata Yuna sambil menarik bantal ke bawah kepalanya.


"Aku mau di sini temani kamu." Adit mengusap kepala Yuna.


"Berhenti bersikap manis Adit. Di sini cuma ada kita, kamu tidak perlu berpura-pura perhatian sama aku." kata Yuna sambil sedikit menegakkan tubuhnya.

__ADS_1


"Siapa yang pura-pura? Aku benar..."


"Cukup Adit. Aku sudah capek dengan sikap kamu yang seperti ini. Sok perhatian sama aku tapi juga sama dia. Sampai kapan kamu mau seperti itu? Ga capek kamu?" Yuna emosi. Ia merasa ingin mengeluarkan


semua pikirannya ke Adit sekarang.


"Please Yun. Tolong mengerti aku. Aku memang egois. Aku butuh kamu, tapi aku juga tidak bisa meninggalkan dia."


"Dan aku tidak butuh suami yang egois seperti kamu!!" teriak Yuna. Adit terkejut, ia jarang melihat Yuna yang begitu emosi.


"Yun..Sayang.." Adit mendekati istrinya, mencoba menenangkannya.


"Berhenti panggil aku sayang Dit. Kamu membuat aku mual dengan panggilan itu. Aku selalu berpikir bukan aku yang kamu panggil, aku kira kamu salah orang. Dan setiap kali kita bercinta, aku takut bukan aku yang kamu lihat, bukan aku yang kamu sentuh. Kamu tahu? Segila itu aku sekarang! Mungkin dulu kamu dan dia sering menertawakan aku di belakang, bersenang-senang saat aku tidak ada. Aku bahkan tidak tahu bagaimana kalian memulai semuanya, kapan, di mana. Memikirkannya membuatku jijik, Dit. Aku..aku..aku istri yang gagal


mempertahankan rumah tanggaku. Aku tidak bisa lagi..." Tangis Yuna pecah. Akhirnya ia menyerah, ia tidak sanggup lagi mempertahankan suaminya dengan semua pikiran yang menghantuinya.


"Yuna..Aku mohon. Maafkan aku. Aku tidak bisa berpisah denganmu. Walaupun aku jarang pulang sekarang, tapi sesungguhnya kamu tempat aku pulang pada akhirnya." Adit berlutut sambil memegang tangan Yuna yang sedang duduk di tepi tempat tidur.


"Lalu kamu anggap apa dia jika aku tempatmu pulang? Pemandangan di tengah jalan? Tegaslah Dit!  Aku sudah memilih untuk mundur sekarang. Tadinya aku ingin membicarakan ini setelah kita pulang ke Jakarta. Tapi mungkin ini sudah menjadi saat yang tepat untuk kita menyelesaikan semuanya." Yuna menghapus air mata dengan tangan kosongnya.


"Tidak Yuna. Aku tidak akan menyerah, aku akan tetap mencoba memperbaiki semuanya, kalau perlu aku akan berbicara dengan Becca. Aku akan mengurangi kunjunganku ke sana, aku akan bersikap adil Yuna. Seadil kamu


memintaku." Adit meneteskan air matanya. Yuna sedikit terkejut, ia belum pernah melihat seorang Aditya menangis.


"Telepon dia! Kasih tahu dia sekarang bahwa kamu tidak mau menceraikan aku, bahwa kamu ingin aku tetap menjadi istrimu, dan kamu akan mengurangi kunjunganmu ke sana sekarang." tantang Yuna dengan nada datar. Ia ingin tahu seberapa serius keinginan Adit untuk mempertahankan pernikahan mereka. Ia menebak Adit tidak akan menurutinya semudah itu. Tapi ia salah, Adit mengambil ponsel di atas meja panjang di dekat pintu.


"....."


"Begini. Aku..tidak bisa menceraikan Yuna. Aku akan membuatnya adil untukmu dan juga Yuna, termasuk soal kunjunganku ke rumahmu. Aku harap kamu mengerti ya..." jelas Adit. Entah apa yang diteriakkan seseorang di seberang sana karena Adit terlihat sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya.


"....."


"Nanti kita bicarakan lagi ya setelah aku pulang."


"....."


"Aku tutup ya. Bye." Adit menutup ponselnya. Ia kembali mendekati Yuna dan berlutut di depannya.


"Sayang. Tolong maafkan aku." Adit mencium tangan Yuna yang terasa sangat dingin.


"Memaafkan bukan berarti bisa mengembalikan perasaan dan harga diriku yang sudah kalian cabik-cabik, bukan juga membenarkan semua yang kalian lakukan. Lalu apa artinya jika aku memaafkanmu atau tidak Dit. Pergilah, aku mau istirahat." Yuna menarik tangannya dan mulai berbaring membelakangi Adit sekarang. Adit membelai kepalanya dan mengecupnya.


"Telepon aku jika kamu butuh sesuatu. Aku akan kembali dua atau tiga jam lagi sekalian mengantar kopermu." Yuna tidak menjawab apa-apa dan hanya memejamkan matanya. Sekarang ia benar-benar merasakan kepalanya yang berdenyut hebat. Adit sudah berhasil merusak harinya. Sesaat ia mendengar suara pintu ditutup, ia membuka matanya. Yuna mengambil air minum dan meneguknya hingga habis sebotol. Ia merasa benar-benar tidak memiliki tenaga sekarang. Yuna mengambil ponselnya dan membuka beberapa pesan yang masuk. Ada


pesan dari Shua.


"Yuna, kamu baik-baik saja?"

__ADS_1


"Kamu tidur?"


"Balas pesanku kapan saja kamu bisa. Aku khawatir."


'Apakah karena Shua aku jadi berani bercerai dengan Adit? Tidak! Ini bukan karena Shua. Walaupun tidak ada dia, aku akan tetap mengambil keputusan ini.' Yuna memutuskan untuk tidur tanpa membalas pesan-pesan itu.


Ting...Tong... Bunyi bel membangunkan Yuna yang tidur cukup pulas tanpa ada satupun mimpi yang mampir dalam lelapnya. Yuna berdiri, ia sudah merasa tubuhnya lebih segar. Adit muncul di balik pintu. Walaupun Yuna enggan


menyapanya, namun ia masih membiarkannya masuk.


"Sudah mendingan?" Adit menyentuh wajahnya. Yuna merasa sikap Adit semakin baik dan manis padanya, tapi itu tidak menutup kenyataan bahwa Adit masih menduakannya.


"Lumayan." jawabnya pelan.


"Astagaaa...Sudah jam tiga!!" Yuna baru saja melihat jam dinding yang tergantung di atas pintu masuk.


"Sudah tidak apa-apa. Pekerjaan sudah beres." jawab Adit.


"Joshua?" Pertanyaan Yuna membuat Adit mengubah mimik wajahnya.


"Di kamar sebelah. Kami menunggumu untuk makan siang, sudah telat jam makan nih. Mama sama papa juga nginep di hotel ini dua malam, biar bisa temu kangen sama kita. Aku...Aku mohon kamu tidak menceritakan


masalah kita dengan mereka." Adit sebenarnya takut Yuna akan marah lagi seperti tadi jika ia membahas ini.


"Masalahmu. Bukan aku yang bermasalah. Tenang saja, aku tidak bodoh untuk melakukan sesuatu yang tolol. Mereka akan tahu jika kita sudah mengambil keputusan yang pasti. Aku cuci muka sebentar."


Mereka turun ke restoran hotel di lantai 3. Yuna melihat mertuanya sedang mengobrol dengan Joshua. Shua pun langsung menoleh ke arah Yuna seakan tahu wanita yang dicintainya sedang berdiri di sana.


"Yuna.. Apa kabar? Sudah baikan?" Farah berdiri dan menghampiri menantunya itu.


"Sudah baikan Ma, hanya kecapekan saja. Mama apa kabar? Sudah lama tidak bertemu." jawab Yuna sambil sedikit mencermati rambut Farah yang semakin merah saja. Ia jauh lebih mengikuti mode dibanding Yuna, malah terkesan terlalu berlebihan dalam penampilan.


"Duduk Yun." Joshua menarik sebuah kursi di sampingnya untuk Yuna. Yuna pun tersenyum dan menurutinya tanpa peduli dengan yang dipikirkan suaminya.


"Wah, saya jadi ganggu reuni keluarga ini." kata Joshua sambil tertawa pelan.


"Ah ga ganggu lah. Om sama William sahabat baik kok. Hanya saja kami sekarang jarang ketemu karena kesibukan masing-masing." ujar Harris sambil menyantap makan siangnya. Yuna merasa sedikit tidak enak


karena mereka pasti sudah merasa sangat lapar sekarang.


"Yuna tadi kamu merasa pusing? Mual ga?" tanya Farah sambil mengiris daging merah di depannya.


Deg..Yuna merasakan mualnya sekarang, bukan tadi. Ia tahu apa yang dimaksud mertuanya itu. Yuna baru saja akan menjawab pertanyaan itu sebelum Adit menyelamatkannya.


"Yuna kecapekan Ma. Jangan tanya macam-macam deh." Farah baru saja akan membuka mulutnya lagi sebelum Harris menyenggol lengannya dan memberinya kode untuk melanjutkan makannya.


Joshua merasakan suasana sedikit canggung setelah itu. Malam harinya ia berkeliling mengitari kota Pahlawan itu berbekal mobil yang dipinjami Harris. Sendirian di dalam mobil hanya ditemani lagu dari radio yang disetelnya. Suara Fabio Asher dengan lagu Rumah Singgah favoritnya membuat pikiran Joshua berkelana kemana-mana.

__ADS_1


Bagaimana kalau Yuna hanya menganggapnya sebagai rumah singgah? Apakah mungkin Yuna akan memperbaiki semuanya dan kembali bersama Adit? Di saat Joshua tidak pernah mengharapkan cinta pertamanya lagi, ia dipertemukan kembali dengan Yuna. Joshua seakan mendapat kesempatan kedua saat ia mengetahui keadaan rumah tangga Yuna yang tidak sebaik yang dia pikir. Walaupun berkali-kali Shua menguatkan dirinya dengan mengatakan 'Aku tidak berharap apa-apa' atau 'Aku hanya ingin yang terbaik untuk Yuna', tapi kenyataannya Shua tidak semalaikat itu. Ia juga ingin Yuna menjadi miliknya. Entah bagaimana nanti takdir akan membawanya ke sana. Layar monitor menunjukkan ada panggilan masuk dari Vino, Shua menekan tombol 'answer".


__ADS_2