
"Kak Dylan!!" Dylan menoleh saat mendengar Mario memanggilnya. Sebenarnya ia jarang ke sana. Lumbung Desa adalah restoran peninggalan ibunya sejak dulu. Dylan memutuskan untuk tetap menjalankannya demi memori masa kecilnya bersama ibunya.
"Hai.. Aku kebetulan ada di dekat sini dan mampir karena mau melihat adik kecilku." Dylan mengacak rambut Mario.
"Aku bukan anak kecil lagi Kak." Mario dan Dylan memang dekat sejak kecil karena mereka sama-sama anak tunggal.
"Kenalkan, ini temanku Joshua. Dia akan menikah di sini minggu depan." Deg. Deg. Senyuman di wajah Dylan berangsur menghilang melihat pria itu di depannya.
"Joshua Austin?" Nama itu sudah melekat di otaknya.
"Yup. Aku yakin kita sudah saling mengenal Pak Dylan." Shua menyambut uluran tangan Dylan.
"Panggil saja aku Dylan. Sendirian?" tanyanya. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan Shua sebelum hari pernikahannya.
"Ya, Yuna di Jakarta, dia tidak ikut." Tentu saja Shua tahu Dylan pasti menanyakan keberadaan Yuna.
"Oh. Silahkan lanjutkan makannya. Aku masih ada pekerjaan. Mario, Kak Dylan ke atas dulu ya. Aku yang traktir, tidak perlu bayar." Ia menepuk bahu Mario dan berlalu dari sana.
"Kalian kenal? Kak Dylan nanti yang akan meng-handle semua konsumsi di pesta lo. Dia punya banyak restoran. Dapur hotel gw saja dia yang ngurusin. Usahanya banyak loh, super sibuk. Makanya ampe umur segitu juga belum punya pasangan." Mario melanjutkan makan siangnya yang hampir selesai.
"Umur berapa memangnya?" tanya Joshua yang malah sudah hilang nafsu makannya.
"38 atau 39 sepertinya." Umur yang cukup matang. Tapi penampilan pria itu tidak setua umurnya. Joshua malah mengira Dylan baru berusia 30 tahun atau paling tua 33 tahun.
"Kalian kenal di mana?" tanya Mario lagi. Ia penasaran dari mana Shua mengenal kakaknya itu.
"Yuna yang mengenalnya, gw hanya tahu nama kakak lo saja." jawab Shua. Ia masih tidak mengerti bagaimana kebetulan yang begitu kebetulan bisa terjadi padanya. Jadi itu yang namanya Dylan. Dulu ia begitu penasaran dengan pria itu, tapi semenjak Shua sibuk dengan pernikahannya ia jadi lupa dengan pria itu.
Pertemuan dengan Aldi, pihak WO yang menangani pernikahan Shua sudah kelar. Yuna juga sedikit banyak ikut dalam meeting itu melalui video call. Mario mengakui calon istri sahabatnya itu sangat cantik dan anggun. Pantas saja Shua yang terkenal tidak pernah mengencani wanita manapun jatuh dalam pesona Yuna.
"Gw ga nyangka Vanya sudah meninggal. Gw sempet ikutin gosip yang menimpa kalian, tapi ya gw kan kenal lo. Gw percaya aja sama lo. Jadi anaknya Vanya masih di Singapura sekarang?" tanya Mario pada Shua yang baru saja selesai mandi.
"Iya. Rencananya setelah menikah gw dan Yuna akan mengadopsi anak Vanya."
__ADS_1
"Wah, keputusan yang bagus bro. Gw bangga sama lo and Yuna. Besok pesawat jam berapa?"
"Jam 1 siang."
"Ooo...Ngomong-ngomong Yuna kenal Kak Dylan dari mana?" tanya Mario sambil memainkan ponselnya.
"Katanya mereka rekan bisnis. Dylan memilih perusahaan Yuna untuk membangun perumahan elit di Jakarta."
"Oh iya, gw tahu itu. Kak Dylan cerita dia juga akan mengambil satu unit untuk dirinya jika sedang berada di Jakarta."
"Lo dekat banget dengan dia?" tanya Shua. Entah mengapa ia ingin tahu lebih jauh tentang sosok Dylan.
"Ya. Orang tuanya meninggal sejak ia masih kecil. Jadi ia sering menginap di rumah kami juga selain dengan saudaranya yang lain. Usia kami memang terpaut agak jauh karena ia anak saudara tertua papa. Sekarang di Bali tinggal kami berdua. Angkatan kami semuanya sudah tersebar."
"Dia belum pernah menikah?" tanya Shua lagi.
"Belum. Sama sekali belum. Benar-benar high quality jomblo. Gw juga tidak mau buru-buru menikah karena dia panutan gw."
"Dulu pernah. Sekarang lagi single setau gw. Tapi dia lagi naksir seorang cewek di Jakarta hahaha...Kayaknya bucin parah deh. Sudah lama gw ga lihat dia begitu. Mudah-mudahan dilancarkanlah hubungan dia walaupun itu sulit."
"Kenapa?" Shua makin penasaran.
"Karena cewek itu sudah punya kekasih." Deg..deg..Yuna kah? tanya Shua penasaran.
"Harusnya cari yang jomblo dong." pancing Shua.
"Harusnya sih ya. Tapi mau bagaimana lagi? Cinta itu tentang perasaan, bukan tentang pikiran. Gw juga pernah ngalamin hal itu. Sakit memang karena tidak bisa berakhir dengan dia."
Buukk...Shua melempar bantal ke arah wajah Mario yang tampak melamun.
"Apaan sih?" Mario terkejut.
"Makanya jangan melamun. Jalan yuk. Yuna nitip pie susu untuk papanya. Besok gw takut malas keluar."
__ADS_1
"Kalau cuma pie susu gampang. Besok pagi sudah ada di sini sedus. Kita ke beach club Kak Dylan sekarang, dia mengundangmu ke sana."
'Dylan lagi. Kenapa dia selalu muncul sih? Sepertinya Mario belum tahu siapa yang ditaksir kakaknya itu.' Keluh Shua dalam hatinya.
Suasana beach club malam itu sangat ramai karena sedang malam minggu. Bule yang berbikini juga banyak. Mario mengambilkan cocktail untuk Shua.
"Shua, minum untuk lo. Gw tinggal bentar ya, ada temen nyokap gw, ga enak kalo gw ga nyapa bentar." Shua mengangguk. Ia berkeliling melihat beach club yang cukup mewah itu. Dylan bisa dibilang pengusaha yang cukup sukses. Gila juga di umur segitu dia bisa memiliki semua usahanya itu.
"Hei Joshua! Baru sampai?" Dylan datang dari belakang Shua.
"Oh, nice place. Baru saja sampai." Shua mengangkat gelas cocktailnya.
"Thanks. Enjoy the food too. Semua gratis untukmu."
"Tidak perlu gratis, hubungan kita tidak sedekat itu hahaha..."
"Itu cara aku menghormati Yuna, termasuk calon suaminya." Dylan mengenakan kemeja Hawai dengan celana selututnya.
"Oh iya, aku mau berterima kasih karena sudah menjaga Yuna di rumah sakit kemarin."
"It was my pleasure. Aku juga meminta maaf karena sudah membohongimu atas beberapa hal."
"Tidak apa. Yuna sudah menceritakan semuanya."
"Sungguh? Dia sudah cerita semuanya? Oh tidak. Sangat memalukan dia memberitahumu bahwa aku mencintainya. Apalagi aku sekarang bertemu denganmu, calon suaminya. Hahahaha....."
"Maaf. Yuna tidak menceritakan bagian bahwa kamu mencintainya. Aku baru saja mengetahui itu darimu." Tidak ada lagi senyuman di wajah tampan Shua dan Dylan. Mereka hanya saling bertatapan tajam. Dylan tahu bahwa tidak mungkin Yuna memberi tahu Shua mengenai perasaannya. Hanya saja ia memang ingin Shua mengetahuinya. Tahu bahwa ada yang menginginkan calon istrinya jika suatu saat Joshua menyakitinya.
Akhirnya Shua tahu dengan pasti siapa perempuan yang diceritakan Dylan kepada Mario. Ia mendengar sendiri dari mulut pria ini.
'Untuk apa dia mengajakku ke sini? Untuk memamerkan kekayaannya? Dan sekarang ia memberitahu bahwa ia mencintai Yuna. Dasar brengsek! Apa kamu mau mengintimidasiku?' Shua terus menatap Dylan seakan mau membunuhnya saat itu juga.
*****
__ADS_1