MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 62


__ADS_3

"Apa para wartawan itu masih mengganggumu?" tanya Shua sambil memeluk Yuna di atas tempat tidurnya. Malam pertamanya di apartemen membuatnya agak sulit tidur, apalagi ada Yuna di sampingnya. Tidur akan membuat pagi cepat sekali datang.


"Tidak, mungkin mereka sudah bosan. Atau mereka tidak terlalu ingat padaku karena Vanya dan kamu sudah tidak di sana."


"Apa lenganmu tidak sakit?" tanya Yuna sambil mengangkat kepalanya sedikit untuk mengistirahatkan lengan di bawahnya.


"Tidak." Shua menurunkan lagi kepala Yuna.


"Hanya kakiku yang bermasalah. Yang lain masih berfungsi dengan baik." sambungnya lagi.


"Benarkah?" Yuna menatapnya.


"Mau mencobanya?" Shua menarik Yuna lebih dekat dengannya.


"Hahaha...Tidak, aku percaya padamu." Yuna berlagak santai di saat jantungnya berdegup sangat kencang. Sudah lama sekali ia tidak sedekat ini dengan Shua.


"Tapi aku masih ingin mencobanya."


Shua menarik dagu Yuna dan mendaratkan bibirnya di bibir Yuna. Yuna sedikit kaget, tapi ia dengan cepat menerimanya. Sentuhan intim bersama kekasihnya. Lama mereka melampiaskan kerinduan masing-masing, tidak satupun dari mereka yang berniat melepaskan diri. Hingga akhirnya entah siapa yang memulai, permainan itu berhenti. Bibir Yuna sedikit membengkak. Shua tersenyum melihatnya dan mengelusnya pelan.


"Bukannya aku tidak mau meneruskannya, hanya saja aku takut tidak sanggup menahannya." ucap Shua.


"Keputusan yang bagus karena tidak mungkin aku yang memulainya bukan?" Yuna menertawakan leluconnya sendiri. Mereka terus berbincang hingga subuh dan akhirnya tertidur.


Yuna dan Nissa menemani Shua menjalani terapi keesokan paginya. Mereka hanya bisa melihatnya dari luar jendela.


"Terima kasih Yuna atas semuanya. Tante berhutang nyawa padamu." Nissa menggenggam tangan Yuna erat.


"Sama-sama Tan, Yuna juga berterima kasih karena Tante mau menerima Yuna kembali." kali ini Yuna memeluknya erat.

__ADS_1


"Yuna titip Shua ya, Tan. Kalau memungkinkan, Yuna akan kembali ke sini secepatnya."


"Jangan khawatir. Kamu lihat kan? Dia sudah banyak kemajuan sekarang. Dan raut wajahnya itu lho, berbeda sekali dengan adanya kamu." kata Nissa.


Yuna melihat betapa kerasnya Shua mencoba menggerakkan kakinya. Andaikan saja ia bisa di sana lebih lama lagi. Tapi Yuna tidak bisa karena ia berjanji pada Adit akan kembali kerja esok karena mereka akan mengunjungi lokasi kerja. Lagipula Yuna tidak boleh terlalu terbawa perasaan, semuanya harus seimbang untuk menggapai kebahagiaan. Itu yang diajarkan di Rumah Luwih kemarin. Lagian Singapura tidak terlalu jauh, ia bisa sering ke sini lagi. Sepertinya perpisahan dengan Shua kali ini lebih terasa berat dibandingkan kemarin saat dirinya diusir. Yuna membuang nafas dengan berat. Membayangkan hidup berjauhan dengan Shua lagi membuatnya sakit kepala dan mual.


*****


Yuna mengenakan blazer yang baru dibuatnya minggu lalu. Blazer berwarna putih gading dengan hiasan bros bintang di kirinya. Ia memandang dirinya di kaca besar kamarnya. Sepertinya berat badannya menurun saat melarikan diri kemarin.


"Ya Dit." Yuna menjawab panggilan telepon.


"....."


"Tidak. Tidak perlu menjemputku. Aku bawa mobil sendiri. Kita langsung bertemu di sana saja. Aku tidak ke kantor pagi ini." ucapnya.


Yuna sama sekali tidak ingin terlalu dekat dengan Adit. Pernah suatu hari di minggu lalu, Becca ke kantor bersama anaknya. Kebetulan pula mereka bertemu saat Yuna sedang berada di ruangan Adit. Huuh.... Jangan ditanya bagaimana Becca menatapnya sinis dari atas kepala hingga ujung kaki. Tanpa bicara apapun, Yuna pun melenggang keluar dengan kepala tegak.


Yuna mengambil foto dirinya saat di mobil dan mengirimkannya ke Shua. Mereka rutin saling mengirim kabar agar terasa tetap dekat. Ia melakukan perjalanan sekitar satu jam untuk sampai ke lokasi yang dikirim oleh Adit. Yuna belum pernah ke sana. Tampak tanah kosong yang sangat luas itu baru akan mulai dibangun. Ia menepikan mobilnya.


"Kamu di mana?" Yuna menelepon Adit.


"Sebentar lagi. Macet Yun. Kamu sudah di sana? Tunggu saja di mobil, nanti aku kabari kalau sudah sampai." jawabnya.


Setelah menunggu sepuluh menit, Yuna turun dari mobil. Ia berkeliling sekitar lokasi. Perumahan elit akan dibangun di sana, bukan apartemen, maka dari itu dibutuhkan lokasi yang sangat luas. Ia membuka file di tangannya. Central Peak Residence. Banyak cluster yang akan dibangun di sana.


'Apa perlu aku membelinya satu untukku dan Shua?' Yuna tersenyum memikirkan itu dan akan mendiskusikannya dengan Shua nanti.


"Hai cantik. Kamu kerja di sini?" Yuna membalikkan tubuhnya saat merasa ada perkataan kurang sopan ditujukan padanya. Ia melihat tiga pemuda urakan dan bertato di hadapannya. Yuna tidak menjawab pertanyaan mereka dan kembali berjalan menuju mobilnya.

__ADS_1


"Kamu tuli? Tidak bisa mendengarku?" Yuna tidak tahu siapa yang mengatakan itu karena ia terus berjalan di depan mereka. Tiba-tiba ia merasakan lengannya ditarik dari belakang.


"Hei, lepaskan!" Teriak Yuna sambil menoleh ke belakang. Ternyata si pria botak. Dan di saat lengannya ditarik, Yuna merasakan tangan lain mengelus pipinya yang mulus.


"Aaah...!!!" Yuna mencoba memberontak dan melepaskan dirinya.


"Lepaskan dia!!" Yuna mengenal suara teriakan itu. Dylan. Dua orang di belakang Dylan berlari ke arah Yuna, dan sebelum mereka tiba tiga orang pemuda yang sok preman itu sudah berlari.


"Kamu tidak apa-apa?" Dylan mendekatinya dan terlihat Yuna sedang shock karena pelecehan yang baru saja dialaminya. Ia mengangguk tapi tubuhnya yang bergetar tidak bisa berbohong. Dylan mengelus lengannya dan menariknya ke pelukannya. Diusapnya rambut dan punggung Yuna untuk memberikan rasa aman pada diri wanita itu. Ah, sudah lama sekali Dylan tidak bertemu dengan Yuna. Ia tidak tahu apakah perasaannya sudah berkurang, sama, ataukah malah bertambah akibat pelukan yang tidak direncanakan itu.


"Eheemmmm.... Yuna. Apa yang terjadi?" Adit tiba-tiba muncul dan mengharuskan Dylan melepaskan pelukannya.


"Oh, Pak Adit. Tadi Yuna diganggu preman sini. Apakah Pak Adit belum mempekerjakan sekuriti?" Adit tidak menjawab pertanyaan itu melainkan mendekati Yuna dan menanyakan keadaannya.


"Maaf Pak Dylan, sekuriti besok baru masuk saat mesin-mesin berat didatangkan." jelas Adit sedikit telat.


"Dylan? Kamu kok di sini?" tanya Yuna setelah ia sudah merasa tenang. Ia baru menyadari kehadiran pria yang pernah menemani hari-harinya kemarin. Dylan tampak keren dengan setelan jas slim nya ditambah rambut yang disisir ke atas.


"Kamu belum tahu aku yang punya proyek ini?" tanyanya. Yuna menoleh ke arah Adit.


"Aku belum memberitahunya Pak Dylan. Ngomong-ngomong kalian baru pertama bertemu saat tanda tangan kontrak kemarin kan?" tanya Adit sedikit bingung karena melihat seperti ada yang lain dengan mereka, seperti memanggil nama masing-masing tanpa embel-embel Pak atau Ibu.


"Kami pernah tidak sengaja bertemu kemarin." jawab Yuna asal dan langsung berjalan meninggalkan Adit yang pasti memiliki sejuta tanya lagi untuknya. Kepo to the moon.


"Kamu apa kabar?" Dylan berjalan di sampingnya menuju ke sebuah tempat yang hanya diatapi tenda yang terbuat dari seng.


"Baik. Kita ngobrol setelah selesai dari sini ya. Ada Adit. Dia pasti penasaran kalau lihat kita ngobrol." Yuna berkata dengan setengah berbisik.


Dylan menurutinya. Sambil berbicara tentang rencana kerja mereka, Dylan selalu diam-diam memperhatikan Yuna. Cantik sekali dia, pikirnya. Rambutnya tertata sedikit bergelombang dengan balutan blazer kerja yang sangat pas di tubuhnya. Selama ini ia hanya bisa mengingat penampilan Yuna yang sederhana, tapi hari ini wanita itu sangatlah menarik. Kejadian dengan preman tadi tidak membuat suasana hati wanita itu berubah. Semangat kerja danĀ  senyuman yang terpancar di wajah Yuna masih sanggup membuatnya berdebar. Apakah itu karena dirinya yang tiba-tiba muncul bak pahlawan bagi wanita itu? Ataukah karena pertemuannya yang kemarin dengan Joshua? Sial! Alasan yang kedua sukses membuat mood nya menciut saat itu juga.

__ADS_1


*****


__ADS_2