MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 64


__ADS_3

"Ma, lihat." Shua bisa menggerakkan kakinya dan mulai berdiri perlahan. Nissa yang melihatnya pun berteriak bahagia dan memeluk anaknya itu. Akhirnya setelah dua bulan menjalani terapi di Singapura, kerja keras Shua terlihat. Ia sudah bisa berdiri sendiri dan sepertinya tidak lama lagi ia akan bisa berjalan.


Joshua meminta ibunya untuk tidak memberi tahu Yuna tentang perkembangan dirinya untuk memberinya sedikit kejutan. Sudah hampir satu bulan sejak pertemuannya dengan Yuna di Singapura. Sebenarnya minggu lalu Yuna seharusnya datang, tapi batal karena Yuna sedang demam. Dan yang mengganggu pikiran Shua adalah sosok laki-laki yang menjawab teleponnya ke ponsel Yuna.


*****


Suasana di kantor Yuna sangat kacau. Berkali-kali Cathy keluar masuk membawakan berkas yang diminta Yuna.


"Bukan yang ini Cat. Map biru. Sudah ada tanda tangan Adit di sana." Cathy keluar lagi dengan membawa map putih yang dibawanya tadi.


Yuna melirik layar kanan bawah komputernya. Pukul 15.36. Penerbangannya pukul 19.05. Ia harus ke bandara dua jam lagi sedangkan pekerjaannya masih sangat banyak. Untuk kesekian kali ia meringis perih di perutnya. Yuna sudah meminum obat sakit maag satu jam yang lalu, tapi sepertinya tidak terlalu berpengaruh.


"Aduuhh sial! Padahal aku sudah makan siang." Ia mengeluh kesakitan. Tapi Yuna yakin sebentar lagi sakit maag itu akan hilang.


"Halo Dylan." Yuna mengangkat ponselnya yang berbunyi.


"Kamu jadi ke bandara jam setengah enam?"


"Jadi." jawabnya sambil mengecek anggaran biaya yang dibuat oleh manager keuangannya.


"Aku jemput di kantor ya. Tasmu sudah dibawa kan?"


"Sudah. Aku titip di pos sekuriti. Jangan sampai Adit tahu ya. Dia suka banyak tanya." ucap Yuna. Ya, dia akan berangkat di hari Jumat dan akan kembali Senin pagi. Siangnya ia baru akan ke kantor.


"Ayo perutku, bersahabatlah!" Ucap Yuna sambil menggosok lambungnya.


Dua jam kemudian Yuna berhasil menahan sakitnya sambil bekerja. Ia hanya memberi tahu Cathy tentang keberangkatannya itu.


"Kamu dijemput siapa? Dylan? Dylan mana?" tanya gadis manis itu heran.


"Dylan Silver Building."


"Si Duda keren itu?"


"Dia belum pernah menikah Cathy."


"Bagaimana kalian bisa akrab? Apa kamu...." tanyanya curiga.


"Kami hanya teman. Hentikan khayalanmu itu. Aku jalan dulu ya, nanti aku ceritain." Yuna turun melalui lift dengan terburu-buru. Sesekali ia masih mengelus perutnya. Ia berjalan menuju ke pos sekuriti untuk mengambil koper kecilnya sementara Dylan sudah memarkirkan mobilnya di dekat sana.


"Sini, aku bawain." Dylan mendadak muncul di belakangnya.


Yuna berjalan di belakang Dylan dan masuk ke mobilnya. Ia menyandarkan tubuh dan kepalanya di jok kursi berwarna putih itu. Yuna mencoba untuk relaks, mungkin tekanan pekerjaannya tadi membuatnya kram perut. Oh tidak, mengapa sakitnya tambah menjadi sekarang. Sakitnya bahkan terasa sampai ke perut sebelah kanan bawah.

__ADS_1


"Aaaahhh...." Yuna meringis kesakitan.


"Kamu kenapa Yun?" Dylan baru saja menjalankan mobilnya lima menit saat ia dikejutkan oleh rintihan Yuna.


"Perutku sakit. Sepertinya aku sakit maag, tapi kok sekarang tambah sakit." Yuna benar-benar tidak bisa menahannya lagi.


"Kita ke rumah sakit sekarang."


"Jangaaan!! Nanti kita telat."


"Masa kamu mau berangkat nahan sakit gitu? Aku juga tidak akan membiarkanmu pergi kalau kamu sakit begini." Dylan tidak menunggu jawaban ataupun persetujuan Yuna. Baginya, kesehatan dan keselamatan wanita yang ditaksirnya itu adalah yang paling penting sekarang.


Sesampainya di rumah sakit, Yuna bahkan tidak bisa berjalan lagi. Ia digendong Dylan menuju UGD. Dylan melihat Yuna menangis dalam gendongannya. Tidak tahu apakah ia sakit menahan sakit ataukah sakit karena ada kemungkinan Yuna tidak bisa bertemu kekasihnya. Dylan harus menunggu di luar UGD saat para perawat membawa Yuna masuk ke dalam. Ia mencemaskan kondisi Yuna yang terlihat sangat kesakitan.


Setelah lima belas menit menunggu....


"Bapak walinya?"


"Iya, saya temannya. Keluarganya di luar negeri."


"Begini. Ibu Yuna mengalami usus buntu dan harus dioperasi. Untuk sementara kami akan memberikan obat pereda nyeri. Operasi akan dilakukan besok pagi, setidaknya Ibu Yuna harus puasa selama delapan jam sebelum operasi."


"Baik Dok. Tapi tidak bahaya kan Dok?" tanya Dylan.


"Tidak kok. Ini operasi umum. Kita berdoa saja semuanya lancar. Rencana kita akan melakukan laparoskopi agar tidak meninggalkan bekas sayatan yang besar. Pemulihannya pun terbilang lebih cepat dibanding operasi biasa." Dylan mengangguk.


Yuna terbangun. Ia sadar sedang berada di kamar rumah sakit. Yuna juga tahu ia sudah ketinggalan pesawat yang akan membawanya menemui Shua.


"Huuuhh..." Ia membuang nafas kecewa. Inilah arti ungkapan manusia bisa berencana, tapi Tuhanlah yang menentukan.


Yuna melihat kamar yang ditempatinya. Ia menebak ini adalah kamar VIP atau VVIP mungkin. Dia tidak tahu karena Dylan yang mengurusnya. Yuna ingin mengambil ponsel di meja sebelah kiri, tapi tangannya sedang diinfus. Ia harus menghubungi Shua karena seharusnya ia sudah tiba sejam lalu.


"Yuna, kamu ngapain?" Dylan buru-buru meletakkan paper bag yang dibawanya.


"Aku mau ambil hape ku. Aku harus menghubungi Shua. Dia pasti menungguku."


"I'm sorry. Tapi tadi ada telepon darinya dan aku menjawabnya. Tapi aku hanya bilang kamu tidak jadi berangkat karena demam. Aku takut kamu marah jika aku bilang kamu akan dioperasi besok." jelasnya. Yuna berpikir sesaat.


"Kamu benar. Dia tidak boleh tahu. Shua sedang fokus dengan pengobatannya. Nanti aku akan meneleponnya. Apa dia bertanya kamu siapa?" tanya Yuna.


"Aku jawab aku temanmu. Benar kan?"


"Dia tanya apa lagi?"

__ADS_1


"Kamu lagi ngapain, aku jawab kamu tidur." Dylan menjawab datar. Jujur saja, ia tadi tidak ingin mengangkat telepon itu. Dylan mengangkatnya pada saat panggilan kedua. Bagaimanapun juga ia merasa bertanggung jawab untuk mengabarkan keadaan Yuna yang tidak jadi ke sana. Jantungnya berdebar saat mendengar suara pria yang merupakan kekasih Yuna itu. Berdebar karena Dylan menganggapnya lawan berat.


"Dylan, kok kamu ke sini lagi? Bukannya tadi bilang mau pulang?" tanya Yuna.


"Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian di sini, apalagi besok pagi kamu akan dioperasi."


"Aku bisa meminta Cathy ke sini."


"Tidak, aku walimu. Aku yang akan menemanimu. Ok?" Dylan memaksa.


Yuna tidak sedang dalam kondisi untuk berdebat. Ia hanya sedikit tidak nyaman jika Dylan melihatnya tidur.


"Dylan, boleh aku menelepon Shua sebentar?"


"Tentu saja boleh." Dylan mengambilkan ponsel Yuna.


"Mau aku keluar?" Tanya Dylan. Yuna berpikir sebentar lalu menggeleng.


"Aku hanya meneleponnya saja, tidak video call." jawab Yuna sambil memencet nomor yang ditujunya.


"Halo, Sayang. Maaf aku tidak bisa ke sana." Panggilan itu membuat Dylan merasa sedikit mulas. Ia bersikap seolah tak acuh sambil bermain game di ponselnya.


"Tidak apa-apa. Kamu masih sakit? Lagi di mana sekarang?" tanya Shua.


"Aku? Dokter menginfusku. Dia bilang aku diminta rawat inap sehari dua hari hingga demamnya turun. Tapi aku sudah sehat kok Sayang, jangan khawatir."


"Bagaimana aku tidak mengkhawatirkanmu? Aku kaget setengah mati saat ada temanmu yang bilang kamu sedang dirawat di rumah sakit. Teman kantor ya?"


"Bukan teman kantor. Dia partner kerja perusahaan kami." Yuna bingung bagaimana menjawabnya.


"Aku video call ya Sayang." kata Shua dan layar ponsel mendadak meminta persetujuan Yuna untuk menyalakan kameranya. Yuna memberi isyarat ke Dylan untuk menyingkir dari hadapannya namun Dylan tidak melihatnya.


"Kamu pucat sekali Sayang." kata Shua. Dylan mendadak menoleh ke arah Yuna saat ia mendengar dengan jelas suara pria di seberang sana.


"Oh ya? Tapi aku merasa sudah sedikit baikan." Jawab Yuna sambil sedikit melirik ke arah Dylan.


"Latihanmu lancar, Sayang?" tanya Yuna.


"Lancar. Hanya saja aku merindukanmu setengah mati. Padahal aku sudah mempersiapkan sedikit kejutan untukmu malam ini." Shua terdengar kecewa.


'Oh, sebaiknya aku keluar saja sebelum perutku bertambah mulas mendengar percakapan mereka.' Dylan berdiri dari kursinya. Tapi sungguh sial, kakinya tersandung kaki kursi dan mengenai tulang keringnya.


"Aaaauuwww!!!!" Dylan berteriak tanpa sadar.

__ADS_1


"Siapa itu Sayang?" Pertanyaan Shua membuat Yuna melongo tanpa menjawabnya.


*****


__ADS_2