
Devi sangat bahagia saat Joshua meneleponnya tadi dan mengatakan bahwa ia akan dijemput di hotel jam enam sore. Sekarang ia sedang berdandan cantik untuk kencannya dengan Joshua. Devi memilih dress dengan model sabrina untuk memperlihatkan bahunya yang indah. Memakai high heel putihnya agar ia tidak terlihat pendek di sebelah Joshua. Ia menebak tinggi pria itu mungkin sekitar 182-185 cm, sedangkan dia hanya 165 cm.
Akhirnya waktu yang ditunggupun tiba. Joshua mengirimnya pesan bahwa ia sudah sampai dan menunggu di depan pintu masuk. Devi bergegas turun, syukurlah kamarnya hanya terletak di lantai tiga hingga ia tidak butuh waktu lama untuk turun. Dari kejauhan ia sudah melihat Joshua menunggunya di samping sedan putih New Camry nya. Pria itu masih mengenakan pakaian yang sama, ia hanya melepas jas nya dan menggulung sedikit lengan kemejanya. Devi tersenyum senang dan berlari kecil ke arahnya. Namun langkahnya melambat bahkan berhenti sebentar saat ia melihat jendela penumpang depan terbuka. Yuna Sakura melambaikan tangannya ke arah Devi. Brengsek.
"Sayang, kamu lihat ga perubahan mukanya? Sepertinya ia tidak menyukai kehadiranku." kata Yuna ke Shua yang berdiri di luar pintunya.
"Kayaknya sih iya." Shua berkata dengan nada kecil saat dilihatnya Devi sudah mendekat. Ia membuka pintu belakang dan mempersilahkannya masuk.
"Hai Devi, kapan kamu ke Jakarta?" Yuna memulai obrolan untuk sekedar berbasa-basi. Ia tahu Devi menyukai Joshua, sangat amat jelas terlihat.
Shua tadi siang meneleponnya, menceritakan pertemuannya dengan Devi dan ajakan wanita itu sore ini. Yuna percaya dengan Shua, namun Shua tetap memintanya untuk ikut. Dan sekarang suasana menjadi sangat canggung antara dirinya dan Devi.
Devi bersikap seolah tidak ada Yuna di sana. Ia hanya berbicara dengannya seperlunya saja. Devi berbelanja dan mengelilingi hampir ke semua penjuru mall. Sampai akhirnya mereka berhenti di satu rumah makan Jepang di luar mall. Shua sengaja membiarkan Devi duduk lebih dulu, lalu Yuna, dan akhirnya baru ia memilih duduk di sebelah Yuna. Mereka berdua duduk berhadapan dengan Devi yang duduk sendirian.
"Sayang, mau makan apa?" Jangankan Devi, Yuna saja terkejut dengan panggilan Shua yang mendadak itu. Yuna reflek langsung menoleh ke arah Devi, perubahan wajah terkejutnya tidak bisa disembunyikan.
"Kamu panggil siapa Jo?" tanya Devi pelan.
"Oh maaf, aku keceplosan. Padahal aku sudah janji dengan Yuna akan memanggilnya seperti itu jika kami sedang berdua saja." Shua tertawa kecil seolah itu memang kesalahan yang tidak disengaja. Yuna pun merasa sedikit salah tingkah.
"Bukannya Yuna istrinya Pak Adit ya?" tanya Devi bingung.
__ADS_1
"Mmmh..Kami sudah bercerai tujuh bulan lalu, Dev."jawab Yuna.
"Kami pacaran sekarang." sambung Shua sambil memegang tangan kekasihnya itu.
"Astagaaa! Kenapa kalian tidak cerita padaku? Aku bersikap seperti..." Devi merasa sangat buruk.
"Maaf Devi. Kamu tidak bertanya apapun, aku juga bingung untuk apa aku bercerita tanpa alasan." Yuna merasa sangat bersalah setelah melihat reaksi Devi.
"Ok, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Malah aku yang merasa tidak enak dengan semua perbuatanku tadi. Maafkan aku." Devi sedikit melunak sekarang.
"Aku juga merasa tidak enak Devi. Hanya ingin membuatmu nyaman tanpa bermaksud apa-apa." ucap Shua. Sebenarnya ia sengaja melakukan hal tadi, Shua ingin Devi tahu bahwa dirinya dan Yuna adalah sepasang kekasih. Shua sudah merasa bersalah dari sejak di mall tadi. Devi seringkali memegang lengannya dan menariknya masuk ke toko-toko. Shua merasa sangat buruk tadi di depan Yuna, namun Yuna sudah berbisik padanya tadi bahwa ia tidak apa-apa. Tapi Shua merasa dirinya adalah pria dewasa yang harus bisa menjaga perasaan wanita yang dicintainya dan menyelesaikan masalah yang terjadi di antara mereka.
Makan malam berlangsung dengan sedikit canggung. Devi tidak seceria tadi. Akhirnya ia diantar pulang ke hotel sekitar pukul 21.30. Devi melihat mobil Joshua menghilang dari pandangannya. Ia naik ke kamarnya dan mulai membanting barang di sekitarnya.
"Aaaaghhh..."
*****
"Aku merasa tidak enak dengan Devi, Sayang." kata Yuna.
"Berhentilah merasa begitu. Ia memang harus tahu hubungan kita. Kamu mau dia menggandengku terus?"
__ADS_1
"Ya tidak mau lah. Kamu tahu? Aku seperti dejavu tadi. Melihatmu dengan wanita lain di depanku, seperti aku melihat..." Kalimat Yuna dipotong oleh Shua.
"Berhenti Yuna. Aku tidak mau mendengarmu membahas tentang itu. Itu bisa membuatmu sedih lagi." Shua memegang tangannya dan menaruhnya di paha Shua.
"Aku ingin kamu menganggapku sebagai milikmu, ikut memperjuangkan aku dan cinta kita. Deal?" sambung Shua. Yuna mengangguk.
Shua benar. Yuna tidak boleh hanya pasrah. Pria seperti Shua akan pergi terseret oleh ombak dengan mudah jika ia tidak bisa menahannya. Sekuat apapun kapal yang mereka bangun, butuh orang yang mendayung dan seorang nahkoda jika ingin mencapai destinasi yang dituju. Mungkin penyebab kegagalan pernikahan pertamanya adalah dirinya. Ya salah satunya. Andaikan saja ia berusaha lebih keras, mungkin itu tidak akan terjadi. Shua berhenti di depan rumah Yuna.
"Dengarkan aku Sayang. Kamu harus tahu bahwa dirimu itu sangat berharga, bagiku, bagi keluargamu. Jangan pernah menganggap kamu tidak pantas untukku. Kamu sangat pantas karena Tuhan menciptakanku dan mengirimku ke dunia lebih dulu. Lalu Ia menciptakan yang terbaik untukku, seorang pasangan yang sempurna untukku. Dan ia terlahir satu tahun kemudian. Itu kamu. Jadi jangan pernah sekalipun berpikir buruk lagi tentang dirimu." Yuna merasakan air mata mengalir di pipinya. Ia tidak menyangka Shua menganggap dirinya seberharga itu. Bahkan ia sendiri tidak pernah menghargai dirinya sebesar itu. Tanpa ba bi bu, Yuna menarik kerah kemeja Shua dan mencium bibirnya. Sungguh sangat ingin ia melakukan itu. Ia lelah selalu menutupi keinginannya dan berpura-pura menjadi wanita alim. Pada kenyataannya, ia hanyalah wanita dewasa yang kesepian. Shua sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Yuna, sebuah ciuman yang sedikit liar. Namun akhirnya Yuna melembutkan ciumannya. Shua membalasnya dan mengikuti ritme yang dimainkan Yuna. Akhirnya Yuna melepaskan pertautan bibir mereka.
"Haruskah aku meminta maaf?" Yuna tertawa kecil mengingat kegilaannya tadi.
"Haruskah aku berterima kasih dan memintanya lagi?" Shua bertanya balik. Yuna menggeleng kepalanya dan tertawa lagi.
"Aku harus masuk. Tadi mama mengintip dari jendela hahaha...Untunglah kaca mobilmu tidak tembus pandang."
"Siapa bilang? Aku baru mengganti kaca filmnya menjadi lebih terang."
"Haaaah??!" Yuna terkejut.
"Hahaha...Aku hanya bercanda. Tidak akan aku ganti. Malah aku akan memasang gorden kalau kamu mau." canda Shua. Ia melihat Yuna masuk dan melambaikan tangannya.
__ADS_1
Sungguh ia menyukai Yuna yang sedikit agresif seperti tadi. Sepertinya malam ini Shua bisa bermimpi indah. Ternyata Yuna juga menginginkan dirinya dan sepertinya Yuna sudah membalas perasaannya. Sekeping keraguan dari hatinya bahwa ia hanya menjadi tempat pelarian bagi Yuna untuk melupakan Adit sedikit demi sedikit mulai sirna. Shua tidak pernah membahas ini pada siapapun, tapi itu adalah salah satu ketakutannya. Walaupun sebenarnya ia tidak akan mempermasalahkan itu, namun akan lebih indah jika Yuna benar-benar mencintainya. Cinta. Kata yang belum diucapkan Yuna hingga sekarang dan ia masih akan tetap menunggunya.
*****