MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 49


__ADS_3

Vanya memeluk Nissa yang sedang duduk memegang tangan Joshua.


"Tante, makan dulu. Vanya ada bawain makanan. Biar Vanya yang jagain Kak Josh." Nissa mengangguk.


"Makasih, Sayang. Kamu sehat kan?"


"Sehat, Tan. Maaf, Vanya tidak bisa ke sini kemarin."


"Tidak apa-apa Vanya. Bagi Tante, Joshua dan kamu adalah hal terpenting dalam hidup Tante. Tante tinggal dulu ya."


Nissa melangkahkan kakinya dengan lemas seakan tidak tahu lagi kemana ia harus melangkah. Ia tahu ia harus kuat untuk bisa mendampingi Joshua di saat anak semata wayangnya itu membuka mata kembali. William pun terpaksa kembali ke rutinitas kantornya. Hanya Vanya yang menemaninya hampir dua minggu ini. Oh iya, kemana Yuna? Nissa seperti sudah lama tidak melihatnya. Terakhir Nissa melihatnya saat Yuna menjenguk Joshua empat hari lalu. Atau lima hari? Enam? Aaahh...entahlah. Ia tidak bisa mengingat lagi nama hari apalagi tanggal. Pikirannya kacau. Ia hanya ingin anaknya sadar dan kembali sehat.


Nissa berjalan ke arah kantin untuk membeli minuman dingin dan tissue basah untuk membasuh wajah lusuhnya.


"Terima kasih." ucap Nissa setelah menerima kembalian dari ibu penjaga kantin.


Wanita anggun itu kemudian duduk di salah satu meja kantin dan mulai mengusap wajahnya. Dulu ia tidak pernah absen mengoles krim wajah pagi, siang, dan malamnya. Sekarang? Ia bahkan tidak pernah menyentuhnya lagi. Setelah ia merasa sedikit segar, Nissa membuka tutup rantang kecil susun tiga berwarna hijau. Dilihatnya ada nasi putih, tumis brokoli, dan ayam goreng mentega. Ia tersenyum, nafsu makannya sedikit bangkit setelah tiga hari ia hanya bisa menikmati makanan kantin. Padahal suaminya selalu bertanya apa yang ingin ia makan. Tapi Nissa selalu menjawab tidak ada, mungkin ia hanya malas berpikir.


Nissa membereskan mejanya setelah melahap habis semua yang dibawakan Vanya untuknya. Sesaat setelah ia berdiri, seorang wanita dan seorang lelaki yang membawa kamera menghampirinya.


"Permisi Tante, kami ingin tahu kabar Joshua Austin sekarang. Boleh kami wawancara sebentar saja?" tanya wanita itu. Nissa menghembus nafas kesal, tapi ia menahannya. Ia mengangguk pelan.


"Sebentar saja ya, saya harus kembali ke kamar." jawabnya.

__ADS_1


"Bagaimana kabar Joshua sekarang Tante?"


"Kondisinya stabil, tapi ia belum siuman sampai sekarang."


"Apakah Vanya Aprilia masih sering datang?"


"Ya, cukup sering."


"Apakah Tante tahu jika Joshua berselingkuh dengan seorang wanita bernama Yuna?"


"Hei, kamu jangan tidak sopan ya! Anak saya tidak pernah selingkuh!" Nissa emosi mendengar pertanyaan itu. Ia terdiam sembari berpikir. Ia sudah muak dengan permasalahan yang menjadi akar kecelakaan anaknya. Nissa menunduk mencoba mencari penjelasan terbaik yang akan meredakan salah satu sumber masalah di hidupnya dan hidup anaknya sekarang. Ia menatap rantang hijau di tangan kirinya.


"Joshua sudah menikah dengan Vanya. Dan Yuna adalah...anak sahabat saya." Nissa berjalan geram meninggalkan dua orang yang tersenyum puas setelah mendengar pernyataan terakhirnya.


*****


'Marsha benar. Aku harus menyibukkan diri.' pikirnya. Yuna mengambil kamera di atas meja dan mengalungkan talinya. Memakai topi pink bertuliskan VANS dan mengambil ransel merah hitamnya. Hari masih pagi, tapi ia sudah harus pergi ke stasiun kereta.


"Pagi Mbak. Malam ini saya tidak kembali ke hotel. Sekalian saya mau perpanjang satu minggu lagi ya." kata Yuna sambil memberikan kartu kreditnya yang berwarna emas.


Hotel itu memang terletak di pertengahan kebun teh dan di kaki gunung. Udara dingin mengharuskan ia mengenakan jaket dengan hoody di kepalanya.


"Pagi Bang Joni. Maaf menunggu lama." kata Yuna ramah sambil memakai helm hitam yang disodorkan pria berumur 40an itu.

__ADS_1


"Saya juga baru sampai Mba. Kita ke stasiun kan?" katanya sopan dan dijawab dengan anggukan.


Sesampainya di stasiun kereta, Yuna membeli tiket kelas bisnis untuk menghindari antrian panjang di kelas ekonomi. Alasan lainnya adalah ia tidak bisa berada di tempat yang terlalu padat atau ramai.


'Kelas bisnis memang beda banget.' Yuna melihat banyak majalah terletak di sudut depan gerbong. Kursinya nyaman dan empuk. Yuna mengambil headphone dan memutar lagu dari layar touchscreen di depan tempat duduknya. Lagu "Hingga Tua Bersama" dari Rizky Febian pun mengalun indah di awal kumpulan lagu yang ia putar. Sontak Yuna melepaskan headphone nya. Bayangan Shua yang menyanyikan lagu itu sambil memainkan gitar langsung bermain di kepalanya. Yuna memejamkan matanya sejenak, mencoba menahan kerinduan yang mendalam. Entah rindu itu terlarang atau tidak. Persetan. Yuna akan menanggung dosanya kelak.


"Mba, mau minum apa? Ada jus, kopi, teh." Suara seorang wanita membuyarkan lamunan rindunya.


"Teh saja Mba. Manis hangat." jawabnya.


Sambil menyeruput pelan tehnya, ia membuka obrolan grup di ponselnya. Ponsel baru dengan nomor yang juga baru ia beli dua minggu lalu. Grup Semeru. Ia mengabarkan jika dirinya sedang berada di kereta menuju Malang dan akan sampai tiga puluh menit lagi.


*****


Untuk kesekian kalinya, Adit mencoba menghubungi Yuna ke ponselnya. Tapi jawabannya sama, tetap tidak aktif. Kemana perginya Yuna. Sudah dua minggu sejak Yuna meneleponnya terakhir kali dan mengabarkan jika dirinya akan cuti panjang. Panjang hingga Yuna sendiri tidak tahu kapan ia akan kembali bekerja. Dan jika Adit tidak setuju, maka ia akan mengirimkan surat pengunduran dirinya. Tentu saja Adit tidak bisa bilang ia tidak setuju. Toh, setengah perusahaan itu adalah milik Yuna. Kenichi sudah mengurus pelimpahan saham ke anak semata wayangnya itu. Semua ini pasti karena berita tentang pernikahan Joshua dan Vanya yang tersebar karena pernyataan mamanya Joshua.


"Kamu pasti telepon Yuna lagi ya? Sudah dong! Dia kan bukan anak kecil lagi Sayang. Dia pasti bisa jaga diri kok." Adit terkejut karena kepergok oleh Becca.


"Aku tahu dia sudah besar. Kan aku pernah kawin sama dia." jawab Adit asal.


"Bagus ya, ingat saja terus. Bukannya kamu selingkuh sama aku karena aku lebih hebat dari dia di ranjang." Emosi Becca terpancing.


"Kok jadi ngomongin itu sih?" Adit bingung. Akhir-akhir ini ia seringkali cekcok dengan istrinya hanya gara-gara masalah sepele, apalagi jika menyangkut Yuna. Cemburu Becca yang tidak berkesudahan dengan mantan istrinya itu membuat Adit malah merindukan kesabaran Yuna saat menjadi istrinya dulu. Adit selalu menahan rasa menyesalnya. Ia harus ikhlas. Tapi di saat ia mengikhlaskan tanpa senyuman, apakah itu boleh? Dan di saat ikhlasnya masih terasa sakit apakah itu diperkenankan? Entahlah, tapi Adit tahu ia tidak pantas menuntut apapun karena rasa ikhlas itu bukanlah miliknya.

__ADS_1


*****


__ADS_2