MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 48


__ADS_3

"Sayang, kamu harus lihat berita ini." Panggil Becca. Adit yang sedang berpakaian dengan cepat membalikkan tubuhnya menghadap layar televisi yang tergantung di dinding kamarnya.


"Suami artis Vanya Aprilia, Joshua Austin William, yang juga pemilik perusahaan PT Global Bisnis Indonesia mengalami kecelakaan maut tadi malam di Jalan Rajawali VII. Menurut sumber yang kami dapat, korban menjalani operasi dan perawatan di Rumah Sakit Harapan Bersama. Kondisinya dikabarkan sedang kritis dan sedang dirawat di ruang perawatan intensif. Sang istri dan orang tuanya terlihat sedang menunggu di rumah sakit. Tampak juga seorang wanita yang dikabarkan menjadi orang ketiga dalam rumah tangga mereka berinisial YS ikut menunggu di sana." Berita itu ditayangkan dengan menampilkan sejumlah foto kejadian. Bahkan ada foto Yuna di antara foto Vanya dan Joshua.


"Wahhh...Sejak kapan Yuna menjadi pelakor?" Becca tertawa lucu.


"Tidak lucu Becca!! Kamu tahu pasti cerita sebenarnya. Lagian bukan itu yang menjadi masalah sekarang." Becca terdiam saat Adit membentaknya.


Adit mengambil ponselnya dan mulai mencoba menelepon mantan istrinya. Dan seperti dugaannya, Yuna tidak menjawab panggilan itu. Kali ini ia menelepon ke Bik Sum untuk mengetahui keberadaan Yuna. Ia pun langsung bergegas mengambil jas nya, mencium istri dan anaknya, lalu buru-buru meninggalkan rumah menuju Rumah Sakit Harapan Bersama. Adit sebenarnya tidak tahu apa yang akan ia lakukan di sana. Menjenguk Joshua? Atau hanya untuk menemani Yuna? Atau bahkan hanya melihat situasi dan keadaan di sana? Entahlah. Lihat saja nanti apa yang bisa dilakukannya.


Sebenarnya Adit cukup prihatin sama Yuna. Di saat ia sudah mulai mengikhlaskan Yuna menikah dengan Joshua, masalah Vanya menimpa mereka. Belum sempat Adit mendatangi Joshua untuk bersikap tegas demi Yuna, pria itu malah mengalami kecelakaan. Adit tidak tahu seberapa parah kondisi Joshua, tapi melihat kondisi mobil yang remuk di tempat kejadian seperti yang diberitakan di televisi kelihatannya kecelakaan itu sangat serius. Mungkin ini terdengar sangat klise, namun Adit tidak akan bisa tenang jika Yuna belum merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Ironis memang. Karena dialah penyebab pertama dan utama kehancuran dalam hidup Yuna.


Adit melihat banyak wartawan di depan parkiran rumah sakit, sepertinya mereka tidak diperbolehkan masuk. Atau ada artis lain yang dirawat di sini? Atau pejabat kali? Ah, bodoh amat. Ia berjalan dengan penuh percaya diri khas dirinya. Adit menanyakan keberadaan Joshua Austin dengan pihak informasi, tapi ia tidak mendapatkan jawaban dengan alasan permintaan keluarga dan kebijakan rumah sakit. Ia mengerti. Kalau dengan kondisi sekarang semuanya bisa seenaknya masuk, tentulah para wartawan itu yang duluan menyamar sebagai keluarga korban.

__ADS_1


Suasana rumah sakit sedikit hiruk pikuk hari ini. Adit menjadi agak kesusahan mencari sosok Yuna. Ia sudah menuju IGD dan ICU tapi belum menemukannya. Adit mengambil ponselnya dan menelepon Yuna, tapi sama seperti tadi, tidak juga dijawab. Adit melihat arlojinya,sudah jam 10. Ia menyerah karena harus ke kantor. Seketika ia mendengar keributan di dekat parkiran mobilnya. Ternyata sosok yang ia cari ada di sana.


"Berhenti kalian! Kenapa sih kalian ganggu saya terus? Minggir! Saya mau lewat." Yuna berteriak sambil memaksa melewati kerumunan wartawan.


"Mbak Yuna..minta konfirmasi bagaimana keadaan Joshua sekarang?"


"Apakah Vanya masih menunggu di dalam?"


"Apakah Vanya meminta Anda untuk menjauhi suaminya?" Yuna menangis mendengar beberapa pertanyaan kejam yang ditujukan padanya. Baru saja ia akan menjawab 'Suami?? Suami apaan? Joshua itu calon suami saya!!', Yuna malah merasa lengannya ditarik seseorang. Dan dalam seketika, jalan di depannya terbuka lebar. Ia didorong masuk ke sebuah mobil. Pandangannya kabur karena air mata yang memenuhi penglihatannya. Yuna juga tidak peduli siapa yang membawanya pergi dari sana.


Yuna hanya menangis sambil menggelengkan kepala tanpa melihat lawan bicaranya. Ia agak terkejut mendengar suara Adit. Tapi ia terlalu lelah untuk menanggapi semuanya. Pikirannya menerawang dengan semua kejadian semalam.


Sekitar pukul 2 malam, Vanya merasakan keram di perutnya dan sempat dibawa ke UGD. Akhirnya ia diperbolehkan pulang dan akan dirawat jalan. Yuna tidak henti-hentinya berdoa agar operasi Shua berhasil. Nissa sudah berhenti menangis, ia tampak kuat tapi Yuna yakin ia pasti merasakan hancur di dalam. Mereka terus menunggu dan menunggu. Hingga tiba-tiba ada perawat yang keluar dan berlari masuk membawa beberapa kantong darah, mungkin ada dua atau tiga kali mereka melakukan itu. Dan setiap kali mereka melakukannya, Yuna merasa jantungnya berhenti berdetak. Ia tidak berani duduk terlalu dekat dengan orang tua Shua ataupun mengajak mereka berbicara. Entah mengapa, kenyataan bahwa Shua pergi ke rumahnya sebelum kecelakaan membuat Yuna merasa bersalah seolah-olah itu terjadi karena dirinya. Semalam, sehabis mandi setelah pembicaraannya dengan Vanya, ia melihat ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Shua. Yuna memilih mengabaikannya karena ia masih marah dengan Vanya dan ia merasa semua itu tidak akan terjadi jika Shua bisa tegas atas semuanya. Akhirnya setelah menjalani operasi selama delapan jam, Dokter Angga keluar dengan dua perawat di belakangnya. Ia membuka masker di mulutnya dan menghampiri orang tua Joshua.

__ADS_1


"Kami sudah menghentikan pendarahan di otak dan paru-parunya. Kita harus menunggu dua hingga lima hari ke depan untuk melihat apakah dibutuhkan operasi lanjutan. Untuk sementara, Pak Joshua akan dirawat di ICU." jelasnya.


"Apakah masa kritisnya sudah lewat Dok? Kondisi Shua tidak akan bahaya lagi kan Dok?" Nissa terlihat sangat ketakutan.


"Untuk sementara masa kritisnya sudah lewat. Tapi seperti yang tadi saya bilang, kita masih harus lihat paling cepat dua hari ke depan. Mohon doanya." jawab Dokter Angga dengan raut muka sedikit lelah.


'Apa yang telah aku lakukan? Ya Tuhan, ini salahku.' sesal Yuna. Yuna tidak sanggup berkata apa-apa, ia hanya mendengar saja. Ia berjalan menjauh dari sana. Dengan wajah penuh air mata, ia tidak tahu lagi ke mana kakinya melangkah. Yuna hanya merindukan kekasihnya sekarang. Andaikan ia tahu semua ini akan terjadi. Andaikan ia tidak terlalu mendesak Shua untuk menyelesaikan semua masalah itu. Andaikan ia bisa membisikkan ke telinga Shua betapa ia sangat mencintainya. Dan semua 'andai' itu sudah menjelma menjadi suatu penyesalan. Penyesalan yang akan seumur hidup menghantuinya jika Shua.....tidak selamat.


Adit menoleh ke arah kirinya. Dilihatnya Yuna yang memejamkan matanya dengan sisa-sisa air mata. Ia tidak tahu apakah Yuna tertidur atau hanya mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Adit merasa iba melihatnya. Ia tidak tahu bagaimana harus menghiburnya atau setidaknya mengajaknya berbicara. Adit memberhentikan mobilnya di depan rumah Yuna setelah perjalanan tiga puluh menit.


'Apakah aku harus membangunkannya?' Adit yakin Yuna tertidur saat ia mendengar suara nafas Yuna yang teratur.


Adit memutuskan untuk membiarkannya sebentar lagi. Ia menatap wanita yang pernah menjadi bagian di hidupnya dulu. Ada sedikit penyesalan dengan apa yang telah ia lakukan padanya. Bukan sedikit, tapi banyak, penyesalan yang sangat banyak. Sebuah pengkhianatan tingkat tinggi di dalam kehidupan seorang wanita. Sahabat dan suami. Tapi sudahlah. Menyesal tanpa tahu bagaimana menebusnya itu percuma. Toh Adit memiliki Gracia sekarang, putri kecilnya. Terlalu memendam penyesalan sama saja ia menyesali keberadaan Gracia.

__ADS_1


'Itulah mengapa aku sangat mengharapkan kebahagiaanmu, Yuna.' doanya.


*****


__ADS_2