
"Siapa itu Sayang?" Shua mendengar teriakan seorang pria saat sedang melakukan panggilan video dengan Yuna.
"Oh itu, cleaning service. Dia nabrak tempat sampah. Mas, tinggalin saja di sana. Masih kosong juga, belum ada sampah." jelas Yuna sambil melotot ke arah Dylan.
'Sialan, aku dibilang cleaning service.' keluh Dylan sambil berjalan keluar.
"Aku belum bilang kalau aku juga merindukanmu." Yuna merasakan dirinya yang mulai mengantuk lagi.
"Aku mencintaimu. Istirahatlah. Aku akan meneleponmu lagi besok."
"Aku juga mencintaimu, bye Sayang." Mereka mengakhiri panggilan itu.
Yuna merasa ia harus memberi tahu Dylan bahwa ia sudah selesai. Dylan menjawab bahwa ia sedang membeli kopi di depan. Yuna merasa sedikit galau dan merasa bersalah. Bukan pada Dylan, tapi Shua. Sepertinya ia selalu berbohong jika menyangkut tentang Dylan. Mengapa begitu? Dirinya juga tidak mengerti. Ia hanya takut Shua salah paham tentang dirinya dan Dylan.
'Apakah aku harus menjauhi Dylan?' pikirnya. Sebenarnya Yuna tidak memiliki perasaan apapun untuk Dylan. Ia hanya merasa nyaman dan bebas bercerita dengan pria itu. Mungkin Yuna menganggapnya 'kakak'? Ya benar, kakak. Usia Dylan yang jauh di atasnya membuatnya merasa terlindungi.
Dylan masih kesal dengan Yuna. Dia enak-enak berpacaran dengan Joshua, tapi dirinya malah dianggap OB. Bagaimana ia bisa mendekati atau diakui oleh Yuna jika terus begini. Dylan masuk ke kamar Yuna dengan muka cemberut.
"Yuna, seenaknya kamu..." Perasaan kesalnya menghilang saat ia melihat muka polos Yuna yang tertidur.
Dylan mengambil ponsel dari tangan Yuna sepelan mungkin dan meletakkannya di meja. Ia mengusap rambut hitam Yuna sebelum Dylan menyelimutinya.
Lama pria itu menatap Yuna dalam diam. Ia memikirkan alasan-alasan bagaimana dirinya bisa jatuh cinta pada wanita itu. Cantiknya? Ya mungkin nilainya 80 dari 100. Pintarnya 85 dari 100. Sifat baik, lucu, menggemaskan, tanggung jawab kerja bernilai 90 dari 100. Tidak ada yang bernilai sempurna, tapi kombinasi semuanya membuat Yuna menjadi wanita sempurna di mata Dylan. Sayang dirinya datang terlambat di hidup Yuna. Tapi tak apa, toh sekarang ia yang berada di samping Yuna, bukan Joshua.
*****
Operasi berlangsung selama satu jam lebih. Dylan senang semuanya berlangsung lancar. Untunglah usus buntu Yuna belum infeksi ataupun pecah. Sekarang Dylan sedang berada di kamar bersama Yuna yang belum sadar. Ia masih terlihat pucat. Dylan menggosok tangan Yuna yang dingin dengan minyak kayu putih. Ponsel Yuna bergetar untuk kesekian kalinya. Tangan Dylan sebenarnya sudah sangat gatal untuk menjawab panggilan dari Joshua yang ditulis dengan "My Shua" itu. Tapi ia membiarkannya lagi. Lima kali panggilan tidak terjawab.
'Baiklah, sekali lagi ia menelepon, aku akan menjawabnya. Tapi apa yang akan aku katakan?' pikirnya.
Sebelum ia sempat menemukan jawabannya, "My Shua" menelepon lagi.
"Halo?" panggil Shua.
__ADS_1
"Halo, maaf. Ponsel Yuna tertinggal di rumah sakit. Saya akan membawakannya sebentar lagi."
"Oh, begitu. Maaf merepotkanmu. Ngomong-ngomong siapa namamu?"
"Dylan, namaku Dylan. Tolong jangan salah paham ya Pak Joshua. Saya tahu Anda kekasih Yuna."
"Tidak..tidak...Saya percaya dengan Yuna. Dan sebenarnya saya tunangannya." ralatnya. 'Tapi saya tidak percaya denganmu.' lanjutnya dalam hati.
"Apa Yuna baik-baik saja?" tanya Shua.
"Ya. Sepertinya dia sudah membaik." jawab Dylan sambil melirik ke arah Yuna yang sedikit bergerak.
"Baiklah, Pak Joshua. Saya ada sedikit urusan, nanti saya sampaikan ke Yuna untuk segera menghubungi Anda."
"Ok, terima kasih Pak Dylan. Sekali lagi maaf merepotkanmu."
Dylan langsung menghampiri Yuna yang baru saja membuka matanya.
"Yuna? Kamu sudah bangun?" tanyanya sambil menggenggam tangan Yuna.
"Mau minum?" tanyanya. Yuna mengangguk pelan. Dylan memberikannya air putih hangat menggunakan sendok. Tadi perawat berpesan untuk memberikannya minum hanya dua sendok dulu. Kemungkinan Yuna akan merasa mual saat sadar karena efek obat bius dan gas yang dimasukkan ke perutnya saat operasi.
"Bagaimana? Sakit?" tanya Dylan.
"Tidak." jawab Yuna pelan. Ia memang tidak merasakan sakit sedikitpun. Mungkin karena efek obat penghilang nyeri yang masih bekerja. Tapi Yuna hanya merasa pegal karena terus berbaring dan sedikit mual.
"Dylan, aku mau...uweeeekkkk....." Mualnya tidak tertahan. Ia menutup mulutnya saat merasa ada lendir mengalir dari mulutnya. Dylan dengan sigap mengambil beberapa lembar tissue dan memberikannya pada Yuna.
"Sebentar aku ambil kresek." Dylan mengeluarkan biskuit yang dibelinya dan memakai kresek itu jika Yuna ingin muntah lagi.
"Uweeekkk...." Sekali lagi Yuna muntah. Hanya sedikit cairan karena memang tidak ada makanan di perut kosongnya. Ia memasukkan tissue bekas ke dalam kantong putih itu. Dylan membantu mengelap tangan dan wajahnya dengan tissue basah.
"Biar aku saja." Yuna tidak enak membiarkan Dylan membersihkan bekas muntahannya.
__ADS_1
"Tidak. Tanganmu diinfus begitu. Biar aku yang bersihkan."
"Bajuku kena. Bisa tolong panggilkan perawat?" Yuna tidak mungkin membiarkan Dylan yang mengganti pakaiannya.
Sekarang Dylan sedang menyuapi Yuna. Hanya beberapa suap karena ia tidak nafsu makan.
"Aku harus menelepon Shua." katanya.
"Sekarang? Bagaimana jika dia meminta video call? Maaf, harusnya aku tidak bilang ponselmu ketinggalan di rumah sakit. Mungkin dia mengira kamu sudah di rumah sekarang."
"Tidak apa. Aku bisa sambil tiduran biar dia tidak melihat belakangku. Dylan, bisa tolong ambilkan lipgloss di laci?" Yuna mengoleskan sedikit pelembab bibir agar tidak terlihat sedikit pucat.
"Kamu sudah di rumah Sayang? Masih sakit?" tanya Shua. Suaranya terdengar di seluruh kamar karena Yuna menyalakan speakernya. Dylan keluar kamar karena ingin memberikan privasi untuk Yuna dan tidak ingin mendengar drama "Sayang-sayangan" itu.
"Iya, maaf baru meneleponmu. Aku merasa sangat ngantuk seharian, mungkin efek obat." Yuna merasa kesal karena terus berbohong dengan Shua. Ia berjanji akan menjelaskan yang sebenarnya jika mereka bertemu sekali lagi.
"Tidak apa-apa."
"Kamu lagi ngapain sekarang?" tanya Yuna.
"Di kamar sendirian sambil mencoba menggerakkan kakiku. Mama sedang menemani Vanya di kamarnya. Akhir-akhir ini ia sering mengalami kontraksi." ucapnya.
"Apa dia sudah akan melahirkan?" Yuna terdengar sedikit bersemangat membayangkan akan ada bayi kecil yang akan hadir.
"Sepertinya belum. Normalnya satu setengah bulan lagi, tapi kita tidak tahu juga rencana Tuhan. Mudah-mudahan semuanya lancar. Tadi Dylan mengantarkan ponselmu ke rumah?" Deg. Yuna sedikit terkejut dengan pertanyaan yang akan membuat ia berbohong lagi.
"Iya. Kamu kok tahu namanya?"
"Dia memberitahuku tadi. Aku ingin bertemu dengannya suatu hari. Sedikit aneh kamu tiba-tiba dekat dengan seorang laki-laki."
"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Tentu saja aku akan mengenalkan kalian nanti." janjinya. Sebenarnya Yuna sedikit malas mengenalkan mereka, tapi itu harus dilakukan untuk menghilangkan kecurigaan Shua padanya.
Shua menutup panggilan selama 42 menit itu. Tadinya ia ingin melakukan video call, tapi Yuna bilang kameranya sedang bermasalah. Ia melihat ke arah kakinya yang sudah bisa digerakkan. Hanya saja masih kurang tenaga untuk berdiri dan berjalan. Itu adalah kejutan yang sebenarnya ia persiapkan untuk Yuna. Yuna benar, tidak seharusnya ia cemburu seperti anak-anak SMA yang sedang pacaran. Shua berjanji akan lebih rajin latihan dan mempersiapkan kejutan yang lebih besar lagi untuk Yuna.
__ADS_1
*****