MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 54


__ADS_3

"Aku lihat kamu sering melamun." ucap Dylan.


"Hah? Melamun? Ga lah. Hanya berpikir. Ngomong-ngomong, apa kamu sedang cuti? Tidak sibuk?" tanya Yuna penasaran melihat Dylan yang bisa selalu mengikutinya kemana-mana.


"Mmmhh...Awalnya aku punya pekerjaan di Surabaya, terus aku ke Malang mau ketemu Ryan dan kakakku, mama Ryan. Eh ternyata dia mau ke Semeru, jadi aku ikut. Aku tidak mengenal istilah cuti, cuma kirim pesan ke sekretarisku."


"Oooh..Jadi kapan kamu pulang ke Jakarta?"


"Belum tahu. Kamu?"


"Aku?" Yuna berpikir keras. Ia belum sanggup pulang ke Jakarta.


"Aku belum tahu Dylan. Maaf aku belum bisa cerita terlalu jauh. Terlalu rumit. Hanya saja sepertinya kembali ke Jakarta belum terpikir olehku."


"Baiklah kalau begitu, aku juga belum akan kembali ke Jakarta. Sepertinya berpetualang denganmu cukup mengasikkan. Maaf, aku belum meminta izin denganmu apakah aku boleh ikut." Mereka bertatapan. Yuna baru sadar jika mata Dylan berwarna coklat.


"Aku... aku takut jadi bergantung denganmu nanti." Ya ampun Yuna, alasan apa yang kamu berikan?


"Ya ga masalah kan jika kita saling bergantung, saling tolong. Jadi oke ya? Please!" Sesaat wajah Dylan dengan polosnya memelas.


"Hahaha...Berhenti memelas seperti itu Dylan. Kamu terlalu tua untuk membuat baby face."


"Umurku memang on the way 40, tapi tampangku tidak setua itu Yuna. Ngomong-ngomong berapa umurmu?"


"Tahun ini 28." Jawab Yuna jujur.


"Beda 10 tahun denganku. Setidaknya belum seputaran shio ya." Candaan Dylan tidak membuat Yuna tertawa. Ia bahkan sedikit bingung.


'Sepuluh tahun. Aku dan Shua, kami hanya beda satu tahun.' pikirnya. Pikiran Yuna menerawang lagi. Selisih satu tahun tidak membuat Shua bersifat kekanakan. Shua cukup dewasa. Cara dia mendampingi Yuna melewati segala permasalahannya, memperlakukan Yuna sebagai seorang wanita terhormat. Walaupun ia dan Shua pernah melakukan hubungan yang lebih intim, tapi itupun karena Yuna juga menginginkannya. Baginya, itu adalah perwujudan terindah saat manusia mengutarakan cinta yang tulus. Dan tulus atau tidak, Yuna bisa merasakannya dari Shua. Dengan Adit? Yuna tahu Adit berubah setahun sebelum mereka bercerai. Seolah Adit melakukannya hanya karena kewajiban. Dan saat Yuna melakukannya dengan Shua, ia merasa sangat dihargai dan dicintai. Ya Tuhan, betapa ia merindukan sentuhan Shua di wajahnya, bibirnya, tubuhnya...


"Yun? Yuna?" panggil Dylan.

__ADS_1


"Hah?" Yuna menoleh ke arah Dylan yang sedang mencondongkan tubuhnya lebih dekat dengan wajah wanita itu.


"Are you ok? Wajahmu memerah. Apa kamu tidak enak badan?" tanya Dylan sambil menyentuh wajah putih yang bersemu merah karena khayalannya tadi.


"I'm ok." Yuna memalingkan wajahnya dan mendadak berdiri karena malu. Dan karena tidak hati-hati, ia terpeleset masuk ke aliran sungai.


"Aaaghh....." Teriak Yuna. Ia langsung merasakan dirinya tidak bisa bernapas. Tenggelam adalah hal yang paling ditakutinya karena phobianya. Ya Tuhan, apakah Engkau harus memanggilku sekarang? Enam detik ia tidak bisa bernapas seolah nyawanya akan tercabut sebentar lagi. Dan akhirnya.......


Dylan mengangkat tubuh Yuna keluar dari air. Ia sangat panik melihat Yuna tidak sadarkan diri. Dylan menyesal tidak langsung menyebur ke dalam air untuk menolongnya karena ia mengira Yuna bisa langsung berdiri setelah tercebur.


"Yuna! Bangun Yuna!"  Panggilnya sambil menepuk-nepuk pipi Yuna yang dingin. Lalu ia memberanikan diri melakukan CPR, mendekatkan bibirnya ke bibir Yuna. Lembut dan dingin. Gugup tapi ia berusaha tetap fokus menyelamatkan Yuna. Tiga kali ia melakukannya hingga akhirnya Yuna terbangun dan terbatuk.


"Uhhuukk..uhukkk...Haaahhh...Huuufffttt...." Yuna menarik napas cepat dan terlihat ketakutan di wajahnya. Ia menggigil kemudian menangis. Dylan yang bingung melihatnya hanya bisa memeluknya erat.


"Yuna, tenang. Aku di sini. Kamu tidak apa-apa sekarang. Maaf aku telat. Aku kira kamu bisa langsung berdiri karena airnya hanya sedada kamu." Dylan merasakan tubuh Yuna yang bergetar. Ia mengusap punggung Yuna untuk menenangkannya.


Yuna merasa sangat bodoh mendengar Dylan berkata bahwa airnya tidak dalam. Tapi kenyataan bahwa tubuhnya duluan yang masuk ke dalam air membuatnya tidak bisa berpikir jernih untuk berdiri. Ketakutannya akan tenggelam membuat dirinya panik. Saat Yuna sudah mulai tenang, ia melepaskan diri dari Dylan.


"Kamu takut air? Kenapa ajak ke sini?" tanya Dylan sedikit emosi setelah dilihatnya Yuna mulai tenang dan menunduk.


"Maaf Dylan. Sepertinya aku hanya bisa merepotkanmu saja."


"Aku tidak seharusnya berkata keras padamu. Aku minta maaf Yuna. Aku tidak tahu kamu memiliki phobia itu." Dylan menurunkan intonasi suaranya dan menyentuh punggung tangan Yuna.


"Jangan sekalipun mencoba mengusirku. Aku ingin menjagamu. Dan sejak kejadian ini, aku lebih yakin untuk melakukan itu."


"Kamu bawa baju ganti?" tanyanya ke Yuna.


"Bawa. Kamu?" Dylan tersenyum dan mengangguk.


Mereka mengganti pakaian lalu mengeksplor tempat itu sambil berjalan kaki menyusuri sepanjang air terjun dan hutan. Semakin Yuna mengenal Dylan melalui obrolan mereka, semakin ia merasa Dylan teman yang menyenangkan. Yuna menjaga hatinya untuk tidak jatuh lebih jauh dalam pesona Dylan. Ia mengakui Dylan sangatlah menarik. Fisik dan personality nya seakan menjadi satu paket lengkap yang dicari dalam diri seorang pria. Tidak dipungkiri, cinta bisa tumbuh karena biasa dan karena intensitas bertemu. Tapi Yuna berharap ia tidak seperti itu. Tidak segampang itu melupakan Shua dan berpaling ke pria lain.

__ADS_1


Dylan melihat sosok wanita di depannya. Sungguh ia sangat ingin mendekatinya lebih dan lebih. Dylan bukanlah seorang playboy. Memang ia memiliki banyak mantan, namun ia tidak pernah berselingkuh. Ia akan menganggap seorang wanita adalah pacarnya setidaknya jika mereka sudah dekat satu bulan. Tapi sejak usianya menginjak 30 tahun, ia lebih selektif memilih pacar. Dan sejauh ini, ia belum menemukan tipikal wanita yang bisa diajak untuk menikah. Dulu Dylan pesimis dia akan menemukannya, seseorang yang akan menghabiskan sisa hidup bersamanya. Tapi melihat Yuna sekarang, membuatnya merasa ingin melindungi, menjaga, bermanja, dan selalu bersamanya. Tidak perlu ditanyakan lagi, Dylan dengan cepat jatuh cinta padanya. Sosok yang membuatnya selalu penasaran. Tidak seperti saat ia pacaran dulu, kebanyakan para wanitalah yang mengejarnya. Dan sekarang ia tahu, ia harus berjuang keras untuk menggapai wanita yang berada di depannya. Sekeras apapun itu, Dylan akan mencoba.


*****


"Shua, mama dan papa sudah memutuskan akan membawa kamu ke Singapura untuk terapi kaki kamu. Dokter bilang masalahnya tidak terlalu serius, hanya saja terapi yang dilakukan harus intens." kata Nissa. William sendiri sedang berdiri menatap anaknya yang malang. Di saat istrinya menceritakan apa yang ia ucapkan pada Yuna, William marah besar. Tapi Nissa bersikeras tidak mungkin meralat ucapannya ke wartawan.  Dan sekarang, berulang kali Shua menanyakan keberadaan Yuna, mereka selalu menghindar untuk menjawab.


"Ma, Shua akan setuju ikut ke Singapura jika mama menjawab di mana Yuna? Jawab Shua sekarang, Ma!" desak Shua. Sudah tiga hari ia siuman namun pertanyaannya tidak pernah dijawab. Pesan dan teleponnya ke Yuna pun tidak pernah berhasil terhubung.


Nissa menarik nafas panjang. Sudah berulang kali ia mempersiapkan jawaban jika anaknya menanyakan hal ini. Namun dirinya tetap saja belum siap. Tapi kali ini mau tidak mau ia harus menjawabnya demi pengobatan Shua. William pun ikut menahan nafas menunggu jawaban istrinya.


"Mama tidak akan membela diri bahwa mama memang egois. Keegoisan ini karena mama sayang sama kamu. Saat itu, mama sedang sangat terpuruk karena terlalu khawatir denganmu. Lalu wartawan datang menanyakan segala sesuatu yang membuat mama muak. Lalu entah dari mana, mama mengatakan bahwa...bahwa kamu dan Vanya memang sudah menikah." Shua sangat terkejut mendengarnya.


"Maaa!! Apa yang mama lakukan?" teriaknya.


"Maafkan mama Shua. Kamu tidak tahu betapa stres nya mama. Pemberitaan itu tidak juga berhenti. Selalu saja ada pemberitaan miring tentangmu. Mama tidak tahan lagi. Dan Vanya..hanya Vanya yang menemani mama menjaga kamu. Sedang Yuna? Hanya tiga kali dia datang, Nak. Dia tidak pernah ada untukmu. Dan akhirnya, mama minta dia mundur dari hidupmu." Nissa tidak peduli jika Shua marah padanya. Semua yang ia ucapkan semuanya jujur. Jujur jika dia muak dengan semua pemberitaan itu. Walaupun semuanya diawali karena Vanya, tapi Nissa tidak mungkin menyalahkannya. Ia juga korban di sini. Dan di antara Vanya dan Yuna, jika Nissa memang harus memilih, ia akan memilih Vanya.


"Mama egois! Bagaimana bisa mama melakukan itu di saat Shua sedang tidak sadar Ma? Shua akan mencari Yuna. Adit..Adit pasti tahu di mana Yuna berada." Kenapa baru sekarang ia ingat dengan Adit. Shua dengan cepat memiringkan tubuhnya untuk mengambil ponselnya di meja. Dan seketika itu juga ia jatuh ke lantai karena tidak bisa menggeserkan kedua kakinya.


"Shua!!" teriak William.


"Aaaghhh...Lepasin Shua Pa, lepasiiinn!!" Shua mengamuk dan mulai memukul-mukul kakinya. Ia juga memukul meja di belakangnya. Nissa yang ketakutan memanggil perawat dan Shua diberikan obat penenang sehingga tidak lama kemudian ia tertidur.


Nissa menangis duduk di sofa sambil memandang Joshua. Anaknya yang tampan, baik, dan selalu sayang padanya. Anak yang sempurna untuknya dan William. Mengapa semua ini harus terjadi padanya?


"Harusnya aku yang mengalami kecelakaan itu, Pa. Andai saja aku langsung memperbaiki rem mobilku yang rusak, Shua tidak akan kecelakaan." tangisnya.


"Sudahlah, Ma. Berhenti menyalahkan dirimu. Kamu juga tidak tahu Shua akan mengendarainya." William memeluknya.


"Wajar saja Shua marah besar. Aku tahu bagaimana ia sangat mencintai Yuna, Ma." sambungnya.


"Aku juga tahu, Pa. Hanya saja...hanya saja sebagai seorang ibu, aku harus mengambil keputusan yang terbaik untuk anakku, termasuk untuk Vanya. Walaupun konsekuensinya Shua membenciku."

__ADS_1


*****


NB: Dear readers...Tinggalkan jejak like and comment nya ya biar author makin semangat update...Thanks ^^


__ADS_2