MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 66


__ADS_3

"Lho, Bu Yuna bukannya ke Singapura?" Bik Sum menyambut koper Yuna yang dibawa oleh Dylan.


"Ceritanya panjang, Bik." jawab Yuna.


"Terima kasih Dylan. Maaf sudah sangat merepotkanmu." ucapnya pada Dylan yang masih berdiri di depan pintu.


"Sama-sama. Aku pulang dulu agar kamu bisa istirahat. Bik, titip Yuna ya. Dia baru dioperasi." Dylan melambaikan tangannya sedangkan wanita tua itu menutup mulutnya karena terkejut mendengar Yuna yang seperti anaknya itu baru saja dioperasi.


Yuna memutuskan untuk beristirahat selama seminggu di rumah dan mau tidak mau ia harus memberi tahu Adit tentang operasi yang baru saja ia jalani.


Seperti biasa, Adit langsung menyerangnya dengan beribu pertanyaan. Dan ujung-ujungnya Adit datang menjenguk dengan istrinya karena Yuna tidak ingin Adit datang sendirian ke rumahnya. Yuna tidak ingin berduaan dengan suami orang di rumahnya. Dan akhirnya semua seperti dejavu. Adit datang dengan Rebecca. Yuna merasakan perutnya seperti dipukul saat melihat adegan yang sedikit banyak membuatnya teringat dengan trauma masa lalu. Saat di mana Adit memperkenalkan Becca sebagai wanita lain yang di hidupnya. Sebenarnya Adit sempat menolak datang bersama Becca, ia takut melukai perasaan Yuna. Tapi ancaman Yuna adalah ajak istrinya atau tidak perlu datang sama sekali. Itupun Adit hanya diizinkan paling lama 30 menit berada di rumahnya.


"Siapa yang menemanimu di rumah sakit?" tanya Becca.


"Tidak ada." jawab Yuna. Ia malas memperpanjang tali kelambu.


"Kasihan ya. Harusnya kamu ajak saja Bik Sum jika tidak ada satupun yang menemanimu."  cibir Becca.


"Harusnya kamu kasih tahu aku Yuna." kata Adit. Becca melototi suaminya.


"Tidak perlu. Hanya operasi kecil. Ngomong-ngomong terima kasih buahnya, tapi aku perlu istirahat." Yuna benar-benar malas meladeni omong kosong mereka berdua. Tidak Adit maupun Becca, sama-sama mengesalkan. Baru sekarang Yuna mengakui jika mereka sebenarnya pasangan yang cocok.


'Selamat Adit, memang wanita yang pas untukmu adalah Becca. Bukan aku, karena aku pantas mendapatkan yang lebih baik darimu.'


*****


"Ma, sepertinya Shua ingin kembali ke Indonesia." ucapnya.


"Hah? Yang benar? Kamu yakin kakimu sudah cukup kuat?" Nissa berhenti mengupas kentang saat mendengar ucapan anaknya.


"Dokternya setuju kok Ma. Kaki kanan Shua sudah cukup kuat, tinggal fokus kaki kiri saja. Tapi ini kejutan untuk papa dan Yuna, Ma." Shua tersenyum. Nissa mencuci tangannya dan langsung memeluk anaknya.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih karena kamu sudah kuat selama ini. Mama bangga sekali sama kamu." Ia menangis.

__ADS_1


"Iya, Ma. Terima kasih juga Mama sudah mau menemani Shua melewati semuanya. Sudah ah jangan menangis. Mama besok temani Shua untuk ketemu sama dokter ya, sekalian bantu urus administrasinya." Nissa mengangguk.


"Ma, Vanya sehat? Apa tidak sebaiknya kita bawa dia periksa ke dokter?" tanya Shua


"Dia bilang sudah periksa. Tidak tahu mengapa ia selalu menolak jika Mama ajak ke dokter."


"Shua merasa Vanya kurusan. Bukannya ibu hamil seharusnya gemuk ya? Apa dia stres?"


"Mama juga tidak tahu. Mudah-mudahan dia sehat." Sebenarnya Nissa sedikit curiga dengan Vanya yang terus-terusan mengurung diri di kamarnya, tapi setiap diajak berbicara Vanya selalu bersikap seolah semuanya baik-baik saja.


*****


Yuna bingung saat Shua memintanya untuk tidak datang ke Singapura. Padahal ia sudah beristirahat satu minggu sejak operasi usus buntunya. Shua memintanya lebih banyak istirahat dulu setelah sembuh dari sakit demam yang diketahuinya. Apa mungkin Shua marah karena Dylan? Ah sepertinya tidak mungkin. Atau mungkin ia lagi sakit sehingga Shua tidak mau Yuna melihatnya? Ya, pasti itu. Sama dengan yang ia lakukan kemarin. Yuna menghapus lagi laporan bulanan yang telah ia ketik dari tadi karena pikirannya kemana-mana.


"Adit, aku keluar makan siang ya." Yuna mengirim pesan ke Adit agar pria itu tidak mencarinya. Ia melihat jam yang menunjukkan pukul 11.20 siang. Tidak biasanya ia makan di jam begini tapi ia butuh sesuatu untuk mencairkan lagi isi kepalanya. Yuna mengambil tas dan memakai blazernya. Sesampainya di pintu ia kembali lagi ke meja karena lupa mengkunci komputernya. Tiba-tiba Adit masuk ke ruangannya.


"Aku temani ya." ujarnya tanpa basa basi.


"Adit, jika kamu begini terus aku rasa aku bisa resign atau membuka kantor cabang baru di kota lain. Berhentilah menggangguku."


"Apa...kamu menyukaiku lagi?" tanya Yuna dengan sedikit menggoda.


"Hah? Aku..aku memang selalu menyukaimu Yuna." jawab Adit sedikit gugup dengan pertanyaan mendadak itu.


"Hati-hati lho dengan kata-katamu barusan. Kalau aku merekamnya dan mengirimnya ke istrimu, tebak saja apa yang akan terjadi nanti." Yuna meninggalkan Adit yang bengong dengan perkataannya.


"Yuna, tunggu!" Yuna mendengar Adit memanggilnya dari belakang.


"Cat, kita keluar yuk." Yuna malah mampir ke meja Cathy dan membuat Adit berhenti sejenak sebelum ia berbelok ke kanan menuju ke ruangannya.


"Sepertinya Pak Adit masih memiliki perasaan untukmu." kata Cathy sambil tertawa.


"Kamu berhutang banyak sekali cerita padaku." kata Cathy sambil melihat-lihat buku menu.

__ADS_1


"Iya, aku tahu. Aku akan melunasinya hari ini." Yuna memang butuh teman bicara sekarang. Ia menceritakan semuanya tentang apa yang menjadi penyebab dirinya mengambil cuti yang sangat lama kemarin, bagaimana ia menghabiskan waktu dengan Dylan, dan akhirnya ia kembali.


"Buseeeett....Luar biasa kamu Yuna. Aku yakin tuh Dylan tergila-gila denganmu."


"Sembarangan! Dia cuma ungkapin perasaan saja, tapi setelahnya dia menerima kok kalau aku dengan Shua tidak bisa terpisahkan." jawab Yuna santai sambil mengoleskan selai stroberi di atas roti panggangnya.


"Kan itu di depanmu saja, mana tahu bagaimana di dalam hatinya. Pria mana yang mau mengurus wanita lain yang bukan istrinya di rumah sakit?!" kata Cathy.


"Jadi di mana Dylan sekarang?" tanyanya lagi.


"Pulang ke Bali." jawab Yuna singkat.


"Kamu benar-benar tidak berpaling kan? Sulit lho tidak melirik pria seperti Dylan hahaha.." Cathy mengingat wajah menarik Dylan.


"Kamu tertarik?" tanya Yuna.


"Tentu saja. Wanita mana yang tidak tertarik dengan pria seperti dia."


"Wanita yang sudah memiliki kekasih seperti Joshua hahaha..."


"Tapi mengapa kamu tidak jujur dengan Joshua?"


"Hhhh...Awalnya aku hanya takut ia salah paham. Tapi lama-lama keterusan. Berbohong itu memang penyakit menular. Itulah mengapa aku belum tenang jika belum menceritakan semua ini pada Shua. Tapi mengapa ia tidak mau menemaniku?" tanyanya.


"Astaga Cathy! Apa mungkin Shua tahu dengan semua kebohonganku??" Yuna menaruh pisau dengan cukup kuat ke atas meja hingga beberapa pengunjung menoleh ke arah mereka.


"Yuna, jangan teriak dong! Kamu harus tahu dulu bagaimana cara ia mengatakan itu, sambil marah, agak diam, curiga, atau bagaimana. Jangan nebak-nebak buah durian!" Perkataan Cathy membuat Yuna berpikir keras.


"Sebaiknya kamu tidak perlu ke sini, Yuna. Aku ingin fokus ke pengobatanku dulu. SENDIRI. Aku akan mengabarimu jika aku sudah siap menemuimu."


Yuna mengingat semua perkataan Shua semalam padanya.


"Mati aku, Cat!! Shua sudah tahu semuanya. Ia tidak mau menemuiku karena ia ingin sendiri. SENDIRI. Ia bahkan memanggilku dengan nama. Dan dia bilang dia tidak siap menemuiku. Oh Tuhan! Apa yang sudah aku lakukan?" Yuna menutup wajahnya. Seharusnya ia tidak berbohong sejak awal. Seharusnya ia jujur sebelum Shua mengetahui semuanya. Seharusnya semua ini belum terlambat. Harapnya.

__ADS_1


*****


__ADS_2