MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 59


__ADS_3

Joshua kembali ke kamarnya. Malam itu adalah malam terakhirnya di rumah sakit. Besok ia akan pulang ke apartemen yang sudah ditempati Vanya selama berada di Singapura. Apartemen yang berada tepat di sebelah rumah sakit. Ia berbaring sambil mencoba menggerakkan ujung jari kakinya. Begitulah cara Shua menghabiskan malam-malamnya sekarang. Terapi mandiri sambil menonton televisi. Ia menoleh saat pintu kamar terbuka.


"Hai, Pa. Kapan datang?" Shua sedikit menegakkan tubuhnya saat melihat William.


"Baru saja. Nih papa bawain pempek dan lumpia kesukaanmu." William membukakan bungkusan yang dibawanya.


"Papa, you are the best. Tau saja Shua lagi bosan dengan makanan sini. Lain kali bawain batagor atau siomay juga ya Pa." Shua mulai menusukkan garpunya ke pempek telur.


"Tidak perlu lain kali, sudah papa bawain yang frozen siomaynya. Ada di apartemen." William duduk di sofa panjang di sebelah tempat tidur Shua.


"Uhuukk...Serius Pa? Hahaha... I love you so much. Shua sudah benar-benar kangen masakan Indonesia. Bagaimana Shua bisa semangat terapi jika makan saja Shua malas." Ia menelan pempek ketiganya.


"Benar cuma makanan yang buat kamu semangat, Nak?" pancingan William berhasil membuat Shua berpaling padanya.


"Pa, untuk sekarang, cuma papa yang mengerti Shua." Shua mengalihkan pandangannya sekilas ke pintu.


"Pa, mumpung lagi tidak ada mama. Shua mau minta tolong. Apa papa bisa cari tahu di mana Yuna?" tanyanya ke Williiam.


"Sebelumnya Papa mau tanya, jika Yuna mau bertemu denganmu apa kamu mau?"


"Shua malu Pa." ia menunduk.


"Kenapa? Apa rasa malumu mengalahkan rasa cintamu?" Shua terdiam, mencoba mencari jawaban yang paling tepat.


"Apa kamu merasa Yuna akan meninggalkanmu jika tahu kamu tidak bisa berjalan?"


"Belum bisa Pa, bukan tidak bisa."


"Ok, belum bisa jalan. Lalu? Sampai kapan kamu siap?"


"Kalau Shua siap, apa papa yakin Yuna mau menerima keadaan Shua yang....begini?" tanyanya sambil menatap kakinya yang kaku.


"Kamu masih meragukan perasaannya?" Shua tidak menjawab, bukan karena ia meragukan Yuna, tapi ia meragukan dirinya bisa membahagiakan Yuna dengan kondisinya sekarang. Shua yakin kakinya bisa kembali berjalan, tapi masih ada 1% kegagalan itu pasti ada.


Pintu terbuka. Nissa muncul sambil membawa sebuah tas besar kosong.


"Kok kalian kaget begitu? Mama ganggu?" Dua pria itu hanya terdiam.

__ADS_1


"Mama bawa tas untuk beresin barang-barang kamu di sini." Nissa menatap gelagat William dan Shua yang sedikit aneh.


"Kalian kok aneh sih?" tanyanya lagi.


"Aneh apaan sih Ma? Papa cuma tanya Shua mau makan apa lagi? Nanti Papa bawain kalau minggu depan datang lagi." kata William. Sedang Shua masih diam dengan segudang pertanyaan dalam dirinya.


"Shua tidur dulu, Ma. Ngantuk. Papa besok masih di sini kan?"


"Masih. Tidurlah. Papa mau bicara dengan mamamu dulu di luar."


Shua membalikkan tubuhnya menghadap jendela kamar yang terbuka, memperlihatkan langit malam yang gelap. Ayahnya benar, ketakutan Shua tidak mendasar. Yuna bukanlah wanita yang akan meninggalkannya hanya karena kakinya yang cacat sementara. Hanya sementara. Sebenarnya Shua tidak terlalu memedulikan apa yang dipikirkan mamanya tentang Yuna. Apalagi Vanya. Hanya saja dari dulu, Shua selalu tegas tentang perasaannya ke Yuna. Dan Vanya harusnya sudah mengerti tentang itu.


William menggandeng tangan istrinya menuju taman.


"Ma, terima kasih ya Mama mau menerima Yuna tadi."


"Apaan sih Pa? Mama yang terima kasih sama Papa karena sudah memberikan Mama kesempatan untuk minta maaf sama Yuna. Selama ini Mama merasa bersalah karena telah memisahkannya dengan Shua. Tapi yang menjadi pikiran Mama sekarang, Vanya bagaimana Pa?"


"Apanya yang bagaimana? Kita tetap akan merawatnya Ma, anaknya akan menjadi cucu kita juga. Papa yakin Vanya tidak akan keberatan. Peduli amat dengan wartawan itu. Toh dia juga sudah ga ngartis lagi."


"Iya sih Pa. Mudah-mudahan Shua cepat sehat."


"Kok pikiran Papa bisa sama dengan Mama ya? Mama juga tadi pikir begitu. Tapi Mama takut Shua marah sama Mama."


"Mama serahin saja sama Papa. Kalau Shua marah, biar Papa yang tanggung jawab."


*****


Yuna sendirian berkeliling di Chinatown. Ia tadi memilih kwetiau goreng untuk makan malamnya. Hambar. Mungkin karena ia tidak bisa menikmatinya. Semalam ia memimpikan bisa menikmati makan malam dengan Shua, berbincang dengannya, memegang tangannya, memberikannya semangat. Ternyata itu memang hanya mimpi. Yuna menertawakan dirinya tatkala melihat pantulan sinar bulan yang membentuk bayangan dirinya berjalan sendirian. Tiba-tiba sebuah pesan masuk untuknya.


"Yuna, Om dan Tante tunggu kamu di lobi hotel ya." Seketika itu ia membalikkan badannya dan langsung menuju ke pintu keluar.


Sepanjang jalan ia penasaran apa yang akan disampaikan oleh orang tua Shua. Kabar baik ataukah buruk? Tapi kabar seburuk apa lagi yang ia takutkan. Yuna merasa mentalnya sudah cukup terlatih untuk menerima kabar seburuk apapun.


"Maaf menunggu Om, Tante." Yuna sedikit terengah-engah karena berlari kecil seusai turun dari taksi online yang mengantarnya.


"Tidak apa-apa. Kamu sudah makan?" tanya Nissa.

__ADS_1


"Sudah Tante, baru saja."


"Maaf ya, harusnya kami mengajakmu makan malam tadi." Nissa memegang tangan Yuna lembut.


"Bagaimana kalau besok kita makan bersama? Makan siang di apartemen. Dengan Shua." kata William sambil tersenyum.


"Besok dengan Shua?" Yuna bingung dengan apa yang didengarnya.


"Iya Yuna, kami berdua sudah sepakat. Kamu akan bertemu dengan Shua besok."


"Shua tahu kalau Yuna di sini?"


"Belum, kami akan memberinya kejutan besok. Kamu mau kan?"


"Tentu..Tentu Om." Yuna tidak percaya dengan kabar itu. Besok ia akan bertemu dengan Shua. Entah apa yang akan terjadi besok, yang pasti ia akan bisa menghadapinya.


*****


Yuna merasa sangat terganggu oleh tatapan tajam Vanya. Ia sedang mempersiapkan makan siang dengan Nissa untuk menyambut kepulangan Shua yang sedang dijemput oleh William. Yuna sedang mengaduk campuran kentang dan daun sop untuk membuat perkedel, sedang Nissa sedang membuat sayur asam.


Vanya melihat pemandangan di depannya. Yuna bersama mama Nissa. Huh...Rasanya dunia mendadak runtuh saat Nissa memberitahunya semalam bahwa Yuna ada di Singapura. Dan Nissa meminta maaf pada Vanya karena ia sudah berubah pikiran. Nissa tidak bisa memaksa anaknya Shua untuk menikahinya. Vanya pun mengerti walaupun berat. Ia cukup sadar diri dengan statusnya sekarang. Malah harusnya ia bersyukur sudah diasuh oleh mama Nissa dan Om William. Sebenarnya ini membuatnya sedikit lega karena sejak Nissa meminta Shua untuk menikahinya, Shua seolah berubah sikap padanya. Itu membuat Vanya menjadi sedih dan terluka. Pelan-pelan ia yakin bisa menerima Yuna sebagai kakak iparnya. Sepertinya Yuna wanita yang cukup baik.


"Perlu Vanya bantu, Ma?" tanyanya.


"Tidak perlu. Kamu istirahat saja. Kemarin kan perutmu sakit." ucap Nissa. Yuna melihat kandungan yang sudah cukup besar.


"Sudah berapa bulan Van?" tanya Yuna berusaha ramah.


"Hampir tujuh bulan Kak." jawabnya.


"Sudah tahu jenis kelaminnya?"


"Laki-laki Kak." jawab Vanya singkat. Sebenarnya ia ingin menjawab lebih jauh, tapi terasa masih sedikit canggung.


"Oh." Begitu juga dengan Yuna. Ia ingin lebih dekat dengan Vanya, tapi ia tidak tahu apalagi yang bisa ditanyakan.


Makan siang sudah siap. Sayur asam, perkedel kentang, terong balado, dan ayam goreng lengkuas. Semuanya adalah permintaan Shua, makanan khas Indonesia. Yuna sedikit gugup saat William bilang mereka sedang dalam perjalanan ke apartemen. Lima menit lagi. Jantung Yuna berdegup tak karuan. Tangannya yang terasa dingin ia lipat sambil berdoa.

__ADS_1


'Terangkanlah jalan kami ya Tuhan.' pintanya.


*****


__ADS_2