
Yuna tidak sanggup lagi menahan rasa penasarannya atas sikap Shua padanya. Dan akhirnya di sinilah dia, Changi Airport. Yuna mengenakan sneaker merahnya agar dapat berjalan lebih nyaman. Bagaimanapun juga ia baru saja dioperasi dan masih harus menjaga kondisi tubuhnya. Ia naik taksi langsung menuju ke apartemen Shua.
'Shua, maaf ya. Sebenarnya saat aku cuti kemarin, aku tidak sengaja bertemu Dylan..... Ah, apa aku lewatkan saja bagian wisata bersama Dylan? Tapi kalau tidak cerita bagaimana aku menjelaskan Dylan yang menjaga aku di rumah sakit?' Yuna bingung harus dari mana ia menjelaskan hubungannya dengan Dylan. Memang seharusnya dari awal tidak ada kebohongan agar tidak memancing terjadi kebohongan yang lain.
Yuna menurunkan koper kecilnya dan naik menuju kamar Shua. Ia membunyikan bel tapi tidak ada yang keluar. Sayangnya Yuna tidak memiliki kode pintu itu. Apakah Vanya juga keluar? Yuna memutuskan ke rumah sakit sebelah. Sebelum ia keluar, Yuna menitipkan kopernya ke resepsionis.
"Terima kasih." ucapnya sambil menerima nomor penitipan barang.
Dari kejauhan, Yuna melihat Nissa sedang berjalan ke arah apartemen.
"Tante!!" panggilnya. Orang yang dipanggilnya pun terlihat sedikit terkejut dengan kehadiran Yuna.
"Yunaaaa huhuhu.....hiiikkss" Nissa langsung menangis di pelukan Yuna.
"Tante? Ada apa?" tanyanya bingung.
"Apa terjadi sesuatu pada Shua?" Yuna menjadi takut. Ia merasakan Nissa menggeleng.
"Vanya, Yun..." jawabnya sambil menangis.
*****
__ADS_1
Yuna mendekati Shua yang sedang duduk di sebuah kursi panjang sambil menunduk.
"Sayang?" Panggilnya pelan sambil duduk di sebelah pria itu. Shua menoleh ke arahnya. Ia terkejut tapi tanpa mengatakan apapun ia memeluk Yuna erat.
Yuna sudah mendengar ceritanya dari Nissa. Kasihan Nissa, ia merasa sangat terguncang atas kepergian Vanya yang sudah seperti anaknya sendiri itu. Yuna melihat Shua juga merasakan guncangan yang sama. Mungkin mereka sama sekali tidak menyangka semua ini akan terjadi. Begitu juga dengan Yuna. Masih teringat dalam benaknya pelukan pertama dan terakhir dari Vanya saat Yuna akan kembali ke Indonesia sebulan lalu. Vanya sempat berbisik padanya, "Semoga Kak Yuna bahagia bersama Kak Josh." Entah mengapa perkataan itu terdengar begitu tulus saat itu.
Yuna melihat bayi mungil itu di dalam inkubator. Warisan terindah yang ditinggalkan Vanya. Yuna langsung jatuh hati padanya. Ia lahir di dunia dengan perjuangan hingga tetes darah terakhir ibunya. Tidak diinginkan oleh ayah kandungnya. Mungkin itu takdir Tuhan agar dirinya mempunyai kesempatan untuk menjaga bayi itu, bukan dijaga oleh ayahnya. Shua memeluk Yuna dari belakang.
"Lucu ya." ucap Shua. Yuna mengangguk.
"Apa yang kamu pikirkan sama dengan apa yang aku pikirkan?" tanya Shua.
"Tentang bayi Vanya?" tanya Yuna.
"Aku juga benar-benar ingin mengasuhnya Sayang. Aku rasa aku jatuh cinta padanya." Yuna tidak juga mengalihkan pandangannya dari bayi itu.
Shua dan Vanya pergi ke kantin rumah sakit untuk mengisi perut mereka yang keroncongan. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam. Jenazah Vanya akan dibawa ke Indonesia jam 2 siang nanti. William yang akan mengurus proses pemakaman di sana.
"Jadi kapan kamu mulai bisa berjalan?" Yuna menelan sandwich tuna yang dipesannya.
"Lancarnya baru minggu lalu. Sebenarnya minggu depan aku akan pulang ke Indonesia, makanya aku menyuruhmu jangan datang. Aku ingin memberimu kejutan." Yuna terkejut alasannya ternyata itu. Bukan Dylan. Baiklah, ia memutuskan menceritakan semuanya setelah pemakaman Vanya nanti. Sekarang bukanlah saat yang tepat.
__ADS_1
"Kita pulang ke apartemen yuk. Kasihan Tante." ajak Yuna.
Nissa yang tertidur di apartemen kembali terbangun saat mendengar pintu yang terbuka. Shua dan Yuna muncul membawakan sedikit makanan untuk Nissa.
"Mama sudah makan?" Nissa menggeleng. Mata dan wajahnya sembab akibat terlalu banyak menangis.
"Mama sudah meminta Vanya memanggil mama dengan 'Mama'. Tapi apa yang sudah Mama lakukan padanya, Shua? Mama bahkan tidak tahu dia sedang sakit." Nissa menepuk dadanya seakan sangat menyesali semua yang terjadi pada Vanya.
"Sudahlah, Ma. Mungkin semuanya sudah takdir. Shua dan Yuna juga sudah memutuskan akan mengasuh anaknya Vanya." Shua memeluk ibunya agar ia tenang.
"Tante, istirahatlah di kamar. Yuna akan membereskan barang Vanya untuk dibawa pulang besok." Nissa mengangguk dan berjalan masuk ke kamarnya.
Shua menemani Yuna masuk ke kamar Vanya. Ada setumpuk buku tentang "Merawat Kesehatan Ibu dan Anak", "Nama dan Artinya", "Cara Perawatan Bayi Untuk Pemula", dan sebagainya. Semua tampak sudah terbaca. Yuna membuka lemari pakaian Vanya. Ada banyak pakaian ibu hamil yang tergantung. Yuna melihat ada satu tas jinjing berwarna biru tua. Ia menduga itu berisi baju-baju bayi dan perlengkapan jika akan melahirkan. Dan ternyata benar, Vanya sudah mempersiapkannya. Baju-baju bayi newborn, sangat mungil dan lucu. Ada juga topi dan kaos kaki. Yuna tersenyum sesaat, tapi dua detik kemudian ia merasa sesak dan menangis. Begitu sedih dan sakitnya membayangkan Vanya yang pergi tanpa bisa memeluk anaknya. Yuna memang belum pernah memiliki darah dagingnya sendiri, tapi ia bisa merasakannya dari Vanya. Tiba-tiba di balik air matanya, ia melihat sepucuk surat yang terselip. FOR KAK JOSH.
"Shua, lihat ini." Yuna memberikannya pada Shua yang masih membereskan meja baca Vanya.
'Kak Josh, jika Kak Josh membaca surat ini, mungkin Vanya sudah tidak ada lagi di dunia ini. Atau mungkin Vanya hanya lupa mengeluarkan surat ini karena sedang sibuk menjaga Jovan di rumah sakit. Mudah-mudahan Vanya hanya lupa ya hahaha... Tapi jika tidak, juga tidak apa-apa. Vanya juga sudah bahagia di atas sana, semoga Vanya berhasil membawa Jovan hidup ke dunia ini. Jovan. Itulah nama yang Vanya berikan padanya. Maafkan jika Vanya harus menitipkan Jovan pada Kak Josh dan juga Mama karena hanya kalian yang bisa Vanya percaya. Satu-satunya keluarga yang Vanya miliki di dunia ini. Maafkan juga karena Vanya tidak bisa menceritakan keadaan Vanya. Dokter sudah memberi tahu bahwa melahirkan Jovan ke dunia ini taruhannya adalah nyawa Vanya sendiri. Vanya takut kalian meminta Vanya mengorbankan Jovan. Walaupun sekarang mungkin Vanya sudah tidak ada lagi, Vanya tidak menyesal Kak. Sungguh. Walaupun hanya sebentar, Vanya sudah sangat bahagia. Berada di dekat Kak Josh adalah kebahagiaan terbesar Vanya. Tapi sekarang Vanya juga bahagia melihat Kak Josh bersama Kak Yuna. Senyum bahagia Kak Josh adalah yang terpenting untuk Vanya. Untuk Mama Nissa, Vanya tahu cinta Mama selalu tulus untuk Vanya. Terima kasih untuk semuanya, Ma. Vanya titip Jovan. Vanya juga selalu sayang Mama. Terakhir, Vanya sudah menunjuk Mama Nissa sebagai ahli waris Vanya. Tolong hubungi Valen, manager Vanya. Ia tahu semuanya. Terima kasih dan maafkan Vanya.'
Shua menangis. Ia merasa bersalah karena sudah bersikap seakan tak peduli dengan Vanya sejak ia sadar dari koma kemarin. Ia menyesal telah menyalahkan Vanya padahal ia tahu itu bukanlah salah Vanya. Yuna hanya bisa memeluknya. Ia ikut membaca isi surat itu. Vanya yang malang. Semoga dirinya tenang di sana.
'Jangan mengkhawatirkan Jovan. Selain Kak Josh mu dan Tante Nissa, masih ada aku yang akan mencintai dan menjaganya.' ucap Yuna.
__ADS_1
*****