MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 69


__ADS_3

Yuna menyerahkan segala perlengkapan Jovan kepada perawat di NICU. Jovan akan dirawat di sana mungkin sekitar sebulan. Dan pada waktunya nanti, Yuna dan Shua akan menjemputnya. Untung saja ada surat ahli waris dan peralihan wali kepada Nissa sehingga semua urusan rumah sakit berjalan lancar. Nissa menangis sejadi-jadinya saat jenazah Vanya dimasukkan ke dalam peti mati. Shua dan Yuna juga ikut menangis melihatnya.


Di Indonesia, setelah dilakukan doa bersama, jenazah Vanya akhirnya dimakamkan di area pemakaman milik keluarga William. Mereka berempat kemudian pulang ke rumah Shua.


"Menginaplah di sini Yuna. Kamu pasti capek." ujar Nissa yang tampak letih dengan raut muka yang masih penuh kesedihan.


"Iya, Yun. Di atas ada kamar kosong, sebelah kamar Shua." William ikut bicara. Yuna menoleh ke arah Shua dan pria itupun mengangguk setuju. Yuna juga sebenarnya sangat lelah, seperti belum beristirahat sedikitpun sejak menginjakkan kaki di Singapura kemarin. Semuanya terasa begitu menguras tenaga dan perasaannya.


"Oh ya, Nak. Mama rasa kalian harus menikah secepatnya. Ini untuk Jovan. Mama ingin kalian mengadopsinya setelah kalian resmi menikah. Setidaknya jika ada kekuatan hukum, wasiat Vanya bahwa Jovan diasuh oleh kita bisa lebih aman."


"Benar kata Mama, Papa juga berpikir begitu. Yuna, undang orang tuamu kemari. Nanti Om yang akan memesan tiketnya. Tentukan saja tanggalnya ya."


"Baik Om."


"Panggil kami Mama dan Papa mulai sekarang." Nissa memeluk calon menantunya itu dan mengelus rambut hitam Yuna.


"Baik, Ma." Yuna membalas pelukannya.


"Kakimu benar-benar sudah tidak bermasalah?" tanya Yuna saat Shua mengantar Yuna ke kamarnya.


"Iya, tidak perlu khawatir. Aku tetap akan melakukan fisioterapi dan check up di sini. Terima kasih, Sayang. Aku sangat bersyukur kemarin kamu datang ke sana. Aku tidak tahu bagaimana jadinya tanpa kamu." Shua memeluknya erat.


"Bukannya kamu yang melarang aku ke sana? Untung aku bandel."


"Iya, maaf. Tadinya hanya ingin memberimu kejutan."


"Sayang, aku kepikiran Jovan terus." ucap Yuna.


"Kenapa?"


"Entahlah, aku hanya merindukannya."


"Mengapa aku merasa ada seorang saingan ya sekarang?"

__ADS_1


"Hahaha...Jangan cemburu." Yuna mendadak melepaskan pelukannya.


"Sayang, aku..aku ingin minta satu penegasan darimu. Kamu tahu kan saat aku pernah menikah dulu, aku belum bisa memiliki anak. Aku sudah berobat dan tidak ada yang salah dengan kesehatanku. Aku hanya tidak ingin ini menjadi masalah suatu hari dalam pernikahan kita."


"Aku tahu... Aku tahu, Sayang. Terima kasih kamu sudah mengingatkanku akan itu. Aku tegaskan sekali lagi, tidak akan pernah ada masalah mengenai itu dalam rumah tangga kita kelak. Walaupun semua orang mempermasalahkan itu, aku akan selalu ada di sisimu dan akan selalu membelamu. Itu janjiku." Shua mencium keningnya. Walaupun Yuna tidak pernah memikirkan masalah itu, tapi permintaan mendadak Nissa untuk mereka segera menikah membuat Yuna sedikit memikirkan kemungkinan terburuk dalam pernikahan keduanya kelak.


*****


Yuna sudah selesai mengabari orang tuanya tentang pernikahannya. Ia dan Shua berencana akan menikah dua minggu lagi di Bali. Acara tetap diadakan di hotel temannya di sana. Yuna menceritakan semuanya tentang apa yang terjadi dengan Vanya pada ibunya, juga rencananya dan Shua yang akan mengadopsi Jovan. Ibunya sangat mendukung rencana itu. Orang tuanya pun mungkin akan datang seminggu lagi ke Jakarta. Mereka perlu fitting pakaian yang sudah dipesan Yuna dan Nissa. Mereka sudah memesan kebaya modern sesuai ukuran yang diberikan.


"Yuna, coba sepatu ini deh." ucap Cathy sambil menyodorkan stiletto berwarna putih gading dengan hiasan batu swarovski. Ia sangat bersemangat saat Yuna memintanya menjadi pengiring pengantin wanita.


"Mmmh...Cari yang agak polosan deh Cat. Kamu cari juga dong, hadiahku untukmu bridesmaid."


"Pak Jo minta siapa jadi pengiringnya?" tanya Cathy.


"Tidak tahu. Mungkin temannya yang punya tempat. Aku dengar ia belum menikah."


"Ganteng?" tanya Cathy sambil melirik centil.


"Kenapa kamu belum kasih tahu Pak Adit soal pernikahanmu? Dua minggu lagi lho."


"Kalau kasih tahu dia, sudah pasti harus ngundang. Aku masih bingung. Males banget mikirin ada mereka berdua di pernikahanku. Kamu ngerti kan?" Yuna mencoba beberapa sepatu polos dengan berbagai warna dan model.


"Ngerti sih. Hanya saja ini bisa jadi kesempatan buatmu untuk tunjukin ke si kunti kalau kamu bisa dapat lebih baik dari laki dia."


"Hahaha...Pengen sih. Nanti aku diskusi ke Shua, setidaknya aku harus menjaga perasaan dia juga."


Yuna bingung bagaimana mengurus pernikahannya dalam dua minggu. Memang ada wedding organizer yang mempersiapkan semuanya. Tapi tetap saja Yuna harus memberikan daftar nama tamu undangan. Untung ada Cathy yang membantunya. Jujur saja Yuna memang tidak memiliki sahabat lain karena sejak dulu ia hanya percaya dengan satu mantan sahabatnya itu.


Sore ini ia dan Shua akan bertemu dengan pihak WO. Yuna hanya memiliki waktu empat jam lagi untuk menyerahkan nama undangan dari pihaknya. Semalam orang tuanya sudah memberikan 25 nama keluarga dan teman dekat mereka. Tidak terlalu banyak memang. Sedangkan dirinya hanya memiliki segelintir kenalan yang tidak terlalu dekat. Cathy, Cathy,.... Apakah ia harus mengundang orang kantor? Ah rasanya tidak perlu, Yuna memutuskan akan mentraktir makan siang saja untuk mereka. Agak aneh untuk mengundang karyawan kantor ke pernikahan keduanya di Bali yang mana mantan suami Yuna adalah atasan mereka di kantor. Yuna mengetikkan nama Dylan Richardson di program excel komputernya. Ia belum sempat mengabarkan tentang pernikahannya. Tapi ia tahu Dylan pasti hadir karena kebetulan ia juga sedang berada di Bali. Tinggal Adit yang membuatnya bingung. Tapi sudah seharusnya dia mengabarkan hal itu padanya. Mau tidak mau ia pasti akan mengambil cuti. Diketiknya Aditya Radiansyah. Hanya terkumpul 11 orang nama undangan.  Ya sudahlah, memang ia tidak mau mengundang banyak.


Yuna dan Shua bertemu satu jam sebelum pihak WO datang di cafe dekat kantor Yuna. Mereka ingin berdiskusi terlebih dahulu mengenai tamu undangan dan lain-lain.

__ADS_1


"Kakimu sehat, Sayang? Kapan terapi? Aku temanin ya." kata Yuna sambil memperhatikan Shua dengan pakaian kerjanya. Sepertinya sudah lama sekali Yuna tidak melihat sosok Shua yang seperti itu. Terkadang semua yang terjadi kemarin seperti sebuah mimpi buruk.


"Aku sehat. Jangan khawatir. Mungkin Sabtu aku terapi. Mana daftar tamu undanganmu? Ini punyaku. 85 tamu selain keluarga. Keluarga itu urusan mama."


"Banyak juga temanmu." kata Yuna. Mereka pun bertukar kertas berisi nama tamu. Yuna melihat nama-nama di tangannya. Ada beberapa yang ia kenal seperti teman SMA Shua yang juga anggota band mereka.


"Cuma 11?" tanya Shua.


"Iya. Temanku tidak banyak. Yang bawah ada 25 titipan mama sama papa."


"Dylan Richardson. Temanmu yang itu?" Shua melirik ke arah Yuna.


"Iya. Yang mengangkat teleponmu. Shua...ada yang mau aku ceritakan." Raut wajah Yuna terlihat serius. Shua penasaran dengan apa yang akan dikatakan Yuna setelah ia menyebut nama pria tadi.


"Katakanlah."


"Tentang Dylan. Awalnya ia memang klien perusahaan kami." Shua diam saja menunggu kelanjutan ceritanya.


"Sewaktu aku mau mendaki Gunung Semeru dua bulan lalu, aku tidak sengaja bertemu ia di sana. Dia banyak membantuku. Dari partner kerja, kami jadi berteman." Shua merasakan perasaannya cenat cenut.


"Dan dua minggu lalu, saat aku mau ke Singapura aku diantar olehnya ke bandara. Dalam perjalanan, aku mendadak sakit dan masuk rumah sakit."


"Kok tidak naik taksi saja? Atau parkir saja di bandara."


"Maaf. Dia memaksa ingin mengantarku. Dan ternyata aku..kena usus buntu. Aku dioperasi." Yuna menunduk.


"Haaahhh???" Suara Shua memenuhi ruangan itu.


"Astagaaa Sayang. Hal sebesar itu kamu tidak menceritakannya padaku?" Yuna takut melihat ekspresi marah Shua. Ia belum pernah melihat Adit marah kepadanya.


"Aku takut mengganggu terapimu." jawab Yuna polos.


Shua baru saja akan membalas jawaban Yuna saat dua orang wanita perwakilan Best Wedding Organizer datang ke meja mereka. Terpaksa Shua dan Yuna menghentikan perdebatan mereka sesaat. Rasanya ingin sekali Shua membatalkan pertemuan itu, tapi tidak mungkin karena pernikahan mereka yang sebentar lagi. Naluri lelaki Shua mengatakan si Dylan itu pasti menyukai Yuna. Lalu ponsel Yuna yang selalu dijawab olehnya, jangan-jangan itu karena...... Astagaaa!! Apa dia yang selalu menjaga Yuna di rumah sakit? Sialan!!! Tapi di mana ia pernah mendengar nama Dylan Richardson? Nama itu tidak umum, tapi Shua merasa pernah mendengarnya.

__ADS_1


*****


__ADS_2