MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 20


__ADS_3

Mengapa sulit untuk ku bisa miliki hatimu


Bahkan selama ini hadirku tak berharga untukmu


Yang terjadi kini ku hanya rumah persinggahanmu


Di saat kau terluka


Dan di saat semuanya reda


Kau menghilang begitu saja


Jika memang ini tak ada harapan


Mengapa aku yang harus jadi tujuan


Saat hatimu terluka


Aku yang jadi obatnya


Tanpa pernah kau hargai


Cinta dan kasih yang setulus ini


Yuna menikmati alunan lagu yang dinyanyikan seorang pria tampan sambil memetik gitarnya dengan indah. Ia tidak mengira suara Shua semerdu itu, suara maskulin dengan sedikit serak. 'Apa dia tidak salah menyatakan cinta dengan wanita sepertiku? Aaah...Yuna, kamu jangan terlalu percaya diri. Nanti di saat kamu sudah jatuh cinta dengannya, mungkin dia sudah tidak mencintaimu lagi.' Ya, mungkin saja itu terjadi. Seperti yang dilakukan Adit, saat Yuna mencintainya dengan sepenuh hati, Adit malah menusuk hatinya dengan sebuah parang, bukan lagi duri.


"Lagu terakhir khusus saya persembahkan untuk cinta pertama dan jika Tuhan berkehendak,ia akan menjadi cinta terakhirku. Happy birthday to the person who is always in my heart. May your happiness always be a reason for my prayers." Kalimat yang diucapkan Shua sontak disambut riuh para pengunjung Jupiter malam itu.


'Apa ucapan itu untukku? Apakah aku satu-satunya yang berulang tahun di ruangan ini?' Yuna melirik ke sekeliling ruangan, berjaga-jaga mana tahu mendadak ada seorang wanita yang bersikap seolah ucapan itu untuknya. Tapi, saat mata Yuna bertemu dengan mata Shua, ia tahu semua kalimat itu untuknya.


Selama jantung ini berdetak


Ku akan selalu menjagamu


Hingga akhir waktu


Selama nafas ini berhembus


Tak akan ada cinta yang lain


Hingga Tua Bersama


Ku mohon kembalilah dalam pelukanku


Lihatlah diriku tanpamu


Maafkanlah sayangku


Dengarkan janjiku


'Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Dosakah aku jika jantungku sekarang berdegup sangat kencang karena pria yang bukan suamiku?' Yuna terhanyut dalam suasana. Tempat yang biasanya bising, malam itu berubah menjadi penuh keromantisan.

__ADS_1


Teringat oleh Yuna, sesaat sebelum ia meninggalkan kantor tadi sore. Adit mengajaknya untuk makan malam merayakan ulang tahun Yuna, hingga sebuah telepon yang Yuna yakini dari Becca merusak semuanya. Adit membatalkan niatnya itu walaupun Yuna melihat penyesalan di mata suaminya itu. Ia pun meninggalkan Adit tanpa berkata-kata. Dan sekarang di sinilah Yuna. Shua menjemputnya setelah Yuna mengiyakannya.


Shua memberikan gitarnya pada seorang pria tinggi di belakangnya. Tepukan para pengunjung pun perlahan tenggelam oleh musik yang berdentum keras sekarang. Ia berjalan menuju seorang wanita cantik yang duduk di depan meja bar panjang. Rambut hitam Yuna yang ditata sedikit bergelombang dibiarkan bebas begitu saja. Shua menyukai penampilan casual Yuna, kemeja putih dan celana jeans biru. Senada dengannya, hanya saja warna celana Shua yang lebih gelap dengan model ripped. Mereka sedikit terkejut saat bertemu di luar pagar rumah Yuna karena pakaian mereka yang seperti pasangan.


"Kita keluar yuk." Shua menarik tangan Yuna tanpa menunggu jawaban darinya. Ia mengajak Yuna menuju ke parkiran dan membuka pintu untuk wanita yang sedang kebingungan itu.


"Mau kemana?" tanyanya.


"Makan. Kita tidak mungkin bisa makan dengan tenang di dalam sana kan." jawab Shua sambil mengenakan sabuk pengamannya.


"Mau makan di mana?" tanya Yuna.


"Kamu yang pilih atau aku?" Shua balik bertanya sambil menjalankan mobilnya pelan. Yuna tampak berpikir sebelum akhirnya ia tersenyum.


"Makan sate yang kemarin yuk." ajak Yuna sambil sedikit menarik lengan baju Shua.


"Hah?" Shua melirik heran ke arah sebelahnya dan hanya dijawab dengan senyuman.


"Aku ingin merayakan ulang tahunmu Yuna. Masa kita hanya makan sate? Yang lain ya, kita ke Heaven Taste mau? Sebenarnya aku sudah reservasi di sana." jelas Shua.


"Batalin aja. Aku pengen sate kemarin. Lagian makan yang mewah gitu cuma enak dilihat saja, rasanya biasa. Oke ya? Kita makan sate." ujar Yuna bersemangat. Shua hanya bisa geleng-geleng menuruti kemauan si pemilik acara.


"Punyaku kacangnya sesendok aja Shua." pesan Yuna setelah mereka berhenti di depan sebuah gerobak sate.  Suasana tidak terlalu ramai saat itu. Shua pun turun dan tampak berbicara dengan seorang bapak berkumis dengan peci hitam di kepalanya. Yuna melihatnya dari dalam mobil, tampak Shua memberi kode 'empat' dengan jarinya ke lawan bicaranya.


"Hah? Dia pesan empat porsi?" tebak Yuna. Shua pun berjalan kembali ke arah mobilnya.


"Kamu pesan empat?"


"Ya sudah. Aku yang traktir." kata Yuna.


"Yee..Giliran sate aja kamu yang traktir. Nantilah lain kali saja, cari tempat mahalan dikit. Lagian aku sudah bayar satenya tadi." Shua menatap Yuna.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Shua. Ia merasa ada sesuatu yang menjadi beban pikiran Yuna.


"Baik. Memang kenapa? Ada yang aneh?" tanya Yuna sambil memegang pipi kiri dan kanannya.


"Tidak apa-apa. By the way, selamat ulang tahun lagi ya. Aku mendoakan semua yang terbaik untukmu, bukan untuk kita, tapi cukup untukmu." Shua menggenggam tangan Yuna yang terasa sedikit dingin. Yuna sedikit salah tingkah dengan sentuhan itu. Walaupun mereka sudah sama-sama dewasa, namun di mata Yuna Shua masihlah kakak kelas yang dipujanya dulu.


"Mmmh..Terima kasih sudah menemaniku malam ini. Aku seperti wanita kesepian ya hahahah..." Yuna menertawakan pilu hidupnya. Seakan musnah sudah harapannya untuk Adit. Adit tidak akan pernah memilihnya dan meninggalkan Becca. Tawa Yuna mendadak bergetar, berubah menjadi isakan tangis. Ia tidak bisa menahannya lagi. Hatinya sangat sakit saat ia meninggalkan Adit di kantor tadi.


Shua hanya bisa memeluknya. Tanpa bertanya alasan, ia tahu mengapa wanita itu menangis. Seperti janji Shua, ia hanya akan selalu ada tanpa berharap apa-apa. Berharap kepada Yuna hanya akan menjadi beban wanita itu. Walaupun di dalam hati Shua yang terdalam tentu saja ia sangat ingin memiliki Yuna karena itu yang menjadi alasan Shua belum membuka hatinya untuk wanita manapun. Apalagi Yuna sekarang berada di depan kedua matanya, sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan akan menjadi nyata. Tubuh Yuna bergetar di pelukannya. Shua hanya bisa mengusap punggungnya, membiarkan wanita itu sedikit tenang. Hingga suara ketokan di jendela membuat mereka berdua melepaskan satu sama lain. Shua mengambil empat piring yang disodorkan si abang. Dua piring ia taruh di atas nampan dan diletakkan di kursi belakang.


"Minum dulu." Shua menawarkan sebotol minuman dingin dan Yuna menghabiskan hampir setengahnya.


"Hahaha...maaf..mendadak haus." ujar Yuna sambil tertawa. Ia mengambil piring satenya yang dipegang Shua.


"Makanlah. Kamu pasti lapar juga." Shua juga mulai menyantap makanan yang sedang dipegangnya.


"Boleh aku bertanya sesuatu Shua? Sejak kapan kamu tahu Adit berhubungan dengan Becca?" tanya Yuna tanpa beban.


Deg!! 'Apakah tidak apa jika aku menceritakan semuanya?' Adit takut semua yang ia lihat hanya akan menyakiti Yuna.

__ADS_1


"Ceritakan saja semuanya. Aku rasa aku sudah cukup kuat dengan cerita menjijikkan sekalipun." Yuna berkata santai sambil melahap satenya.


"Aku melihat mereka di ulang tahun om Harris, mertuamu. Mereka...mereka sedang berciuman di dekat toilet. Awalnya aku kira Becca istrinya, hingga akhirnya aku melihatmu di atas panggung dan ada yang bilang bahwa kamu istrinya Adit." Shua coba membaca raut muka Yuna. Ia tampak sedikit shock namun tetap melanjutkan makan malamnya.


'Mengapa aku masih saja tidak sekuat yang aku kira? Ya Tuhan..kuatkan aku.' Yuna memohon dalam hatinya, ia merasa seakan ada yang menonjok ulu hatinya. Ulang tahun mertuanya, bahkan Yuna yang mengundang Becca ke sana. Ternyata mereka melakukan hal yang menjijikkan di sana. Sampai sekarang Yuna tidak tahu sejak kapan hubungan gila itu dimulai. Ia tidak berani bertanya dengan Adit maupun Becca. Toh keadaan tidak akan berubah jika ia mengetahuinya. Tapi jauh di ujung otaknya, ada perintah untuk Yuna menggali lebih dalam. Siapa yang merayu siapa? Bagaimana mereka bisa dekat pada awalnya? Apakah mereka pernah melakukannya di rumah Yuna? Di kantor? Di hotel? Apakah...Aaahhh... Kepala Yuna sedikit berdenyut memikirkan pertanyaan yang tak sudah-sudah.


"Are you OK?" tanya Shua karena Yuna tidak juga berbicara satu katapun, hanya diam seolah terseret ke alam bawah sadarnya.


"Mmmhh..Enak satenya. Habis sepiring hahaha..." jawab Yuna yang tidak menyambung dengan yang ditanyakan Shua.


"Jadi apa rencanamu ke depan?" Yuna hanya diam mendengar pertanyaan itu.


"Apa kamu masih mencintai suamimu? Maksudku..setelah semua ini terjadi." Shua menyesal dengan pertanyaan yang diucapkannya. Ia takut Yuna akan memberikan jawaban yang membuatnya kecewa, atau takut Yuna berpikiran negatif tentangnya.


"Aku..tidak tahu. Maaf Shua, bagaimanapun juga aku mencintainya. Dulu dan sekarang, mungkin agak berbeda dengan caraku mencintainya. Entahlah, hanya saja mungkin aku harus mengambil sikap. Jika tidak, aku hanya akan menjadi orang bodoh di depan mereka. Hanya di depanmu aku berani menjadi wanita bodoh..Hahaha... Sungguh, aku merasa sangat malu sekarang. Mungkin karena aku banyak kekurangan jadi suamiku berselingkuh." Yuna menatap Shua dengan tegar. Ia tidak akan menangis lagi di depan pria baik itu.


"Sshht...Apa-apaan sih? Tidak ada wanita yang sempurna Yuna, begitu juga pria. Bukan kekuranganmu yang membuatnya selingkuh, tapi karena ia yang tidak bisa memegang janji dan ucapannya sendiri. Berhenti ngomong yang sedih-sedih yuk. Malam ini ulang tahunmu. Walaupun suamimu tidak di sini, ada aku kan.." Shua tersenyum manis. Yuna membalasnya.


"Kamu jangan terlalu baik sama aku. Nanti aku..." Yuna berhenti dengan kalimat yang diucapkannya sendiri.


"Jatuh cinta sama aku?" sambung Shua, ia tertawa setelah lengannya dicubit Yuna.


'Ya, aku takut jatuh cinta lagi padamu. Tapi sekarang semuanya sudah berubah Shua. Aku sekarang adalah istri orang. Kalaupun suatu hari hubunganku dengannya harus berakhir, apakah seorang janda pantas menjadi pendamping hidupmu?'


Yuna membuka kado yang diberikan Shua padanya sesaat setelah mereka sampai di rumah Yuna. Sebuah kotak yang berisi boneka anjing putih. Tidak terlalu besar, dengan tinggi hanya sekitar 60 cm. Yuna membaca kartu yang terselip di kedua kaki depan si anjing dengan lidah merah yang terjulur itu.


Aku yakin kamu sudah memiliki banyak perhiasan yang berharga


Tas mewah dengan merk mahal


Atapun pakaian designer terkenal


Aku memberimu seekor anjing untuk kamu peluk jika kesepian


Untuk kamu ajak bicara


Anggap dia itu aku


Namakan saja dia Shua, aku rela kamu samakan aku dengan dia


Karena aku juga berharap aku bisa di sisimu sama seperti dia sekarang


Aku sungguh bahagia bisa bertemu denganmu lagi...


Your Shua


Yuna tersenyum membaca surat pendek itu. Diliriknya boneka anjing di atas bantalnya.


"Aku kasih kamu nama Shushu. Nama Shua hanya miliknya." Yuna merasa Shua selalu bisa menenangkannya. Sejenak Yuna melupakan keberadaan suaminya sekarang.  Ia berharap bisa melupakannya selamanya, menghapus ingatannya tentang betapa ia mencintai pria itu dulu.


*****

__ADS_1


__ADS_2