
Shua menggandeng tangan Yuna yang kegirangan menyusuri pantai. Sudah sangat lama ia tidak melihat pemandangan indah seperti itu. Hari agak mendung, namun tidak membuat mereka mengulurkan niatnya untuk ke sana. Suasana di sana tidak terlalu ramai. Hanya ada dua pengunjung dan beberapa penjual jajanan di pinggir pantai.
"Mau aku fotoin?" tanya Shua. Yuna mengangguk dan langsung berpose natural.
"Kita foto berdua yuk." ajak Yuna. Shua memang berniat seperti itu sebelum Yuna mengajaknya.
"Kamu suka pantai?" tanya Shua.
"Iya. Mungkin karena aku memiliki klaustrophobia, jadi aku menyukai alam yang terlihat luas dan bebas. Terutama pantai, seperti tidak berujung." ujar Yuna sambil duduk di atas pasir dengan pandangan lurus ke depan.
"Kamu klaustrophobia? Sejak kapan?" tanya Shua. Ia merasa buruk karena tidak mengetahui info sepenting itu tentang Yuna.
"Aku tidak ingat pastinya. Aku hanya ingat dulu pernah tenggelam, aku merasa air-air itu seperti mengikatku dan aku tidak bisa bergerak. Sejak saat itu aku malah mual setiap kali berdiri di dekat kolam renang."
"Sekarang?"
"Sekarang tidak terlalu lagi, tapi tetap saja aku tidak berani masuk ke dalam kolam. Tidak berani terlalu lama berada di dalam lift dan tempat yang terlalu ramai."
"Memangnya apa yang kamu rasakan?" Shua sedikit penasaran dengan phobia itu.
"Mmmhh...Aku merasa sesak, sebanyak apapun aku bernapas itu tidak pernah cukup. Singkatnya seperti itu."
"Aku tidak tahu. Jika ada situasi yang membuatmu tidak nyaman, kamu harus memberitahuku. Ok? Jangan ditahan." Yuna menoleh ke arah Shua dan mengangguk pelan. Ia melihat rambut Shua yang sedikit berantakan tertiup angin. Yuna baru sadar pria itu tidak menggunakan pomade seperti biasa. Namun itu membuatnya tampak berbeda, versi keren lain Joshua.
"Dingin? Sudah hampir mau hujan." Joshua mengelus kepala Yuna, menyenderkannya ke bahu yang bidang itu.
"Sebentar lagi. Aku masih ingin menikmatinya. Entah kapan aku bisa ke pantai lagi."
"Aku akan sering mengajakmu ke pantai. Tenang saja. Kamu tinggal memberiku perintah, Bos." Mereka tertawa. Tapi itu tidak berlangsung lama karena hujan deras langsung turun tanpa melalui status gerimis. Mereka berlari ke arah mobil yang terparkir tidak jauh dari sana.
"Sepertinya kita harus kembali ke hotel. Baju kita basah, tidak mungkin kita meeting dengan pakaian basah." ujar Yuna.
"Untung kamu pakai baju hitam Yun. Jadi tidak tembus." Perkataan Shua membuat Yuna salah tingkah, tapi memang benar. Untung saja hitam.
Shua memarkirkan mobil yang ia sewa dari pihak hotel di depan lobby dan memberikan kuncinya ke petugas valet di sana. Yuna tampak kedinginan terkena angin dingin AC di lobby hotel, Shua hanya bisa menggenggam erat tangannya. Ia tidak membawa jaket ataupun baju apapun di mobilnya. Mereka sampai di depan kamar Yuna
"Astaga tas ku, Shua. Ketinggalan di mobil." Yuna menepuk jidatnya.
"Ke kamarku dulu saja, pinjam bajuku. Kamu sudah menggigil begitu." Yuna mengangguk dan merasa ada benarnya. Ia tidak sanggup berlama-lama lagi memakai pakaian setengah basah itu.
"Pakai ini saja." Shua memberikan kaos oblong putih dan celana kulot pendek untuk ia tidur. Yuna menerimanya dan menggantinya di kamar mandi.
'Bagaimana ini? Bra ku basah juga.' Yuna akhirnya memakai kaos itu tanpa bra. Ia sangat berharap rambutnya dapat panjang seketika untuk menutupi kedua bukit kembarnya dari luar. Yuna keluar sambil sedikit menarik kaosnya agar tidak terlalu menempel di tubuhnya.
Shua pun sudah mengganti bajunya dengan kaos polos berwarna hitam. Sepertinya itu kaos dalam yang berlengan.
__ADS_1
"Aku membuatkanmu teh hangat. Sebentar ya, airnya belum mendidih." Shua geli melihat gelagat Yuna. Sepertinya ia tahu apa yang terjadi. Bagaimanapun juga ia pria normal, ia tidak mau berpikir terlalu jauh yang bisa memancing sesuatu di sana bangun begitu saja.
"Terima kasih. Tadi aku memakai handukmu di dalam." kata Yuna. Ia duduk di sebuah sofa abu-abu di dekat jendela. Memandang keluar sekilas. Hujan deras masih turun. Mengapa sesering itu hujan di kala ia sedang bersama Shua, pikirnya.
"Jangan sungkan. Kita kan sudah pacaran hahaha..." candaan Shua membuat Yuna mengambil bantal dan memukulnya ke arah Shua sambil tertawa. Shua menangkap bantal itu dan memeluk Yuna ke arahnya.
"Seperti mimpi bisa memelukmu seperti ini." ucap Shua. Yuna sadar ini pertama kali mereka berpelukan seperti ini. Jantungnya berdegup tidak karuan. Tangan Yuna pun melingkar di pinggang Shua. Tubuhnya menempel di dada bidang pria itu. Cukup lama mereka berpelukan tanpa bersuara, hingga akhirnya Shua mengendorkan pelukannya. Namun ia perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir Yuna yang menggoda itu. Yuna pun mulai mengalungkan tangannya ke leher Shua, mencoba lebih berani mengutarakan perasaannya lewat tindakan. Menikmati setiap permainan bibir Shua. Hingga akhirnya Yuna berbaring di atas ranjang berbalut sprei putih itu, Shua belum juga melepaskan ciuman panjang itu. Ciuman yang pelan namun dalam, menjelajahi setiap ruang di dalamnya. Shua merasakan adik kecilnya yang mulai bangun, kejantanannya yang selalu ia jaga kini bereaksi di depan wanita yang dicintainya.
Yuna merasakannya, ada sesuatu yang hidup di bawahnya. Milik Shua. Ia pun merasakan yang sama, mulai basah ketika Shua mulai meremas pelan kedua *********** yang bebas di balik kaos putih itu. 'Apakah aku siap?' tanyanya dalam hati. Tapi ia tidak perlu menjawabnya. Tidak berapa lama Shua melepaskan ciuman panjang itu dengan Yuna yang masih berbaring di bawahnya. Shua menggosok pelan bibir Yuna yang sedikit bengkak akibat permainan tadi.
"Maaf, aku tidak bisa menahannya tadi. Tapi aku belum berani berbuat lebih jauh lagi. Aku...tidak mau dianggap tidak sopan olehmu." Yuna tersenyum lega dengan apa yang dipikirkan Shua. Ia mengelus wajah tampan pria itu.
"Thank you." Terima kasih yang tulus dari Yuna untuk keputusan pria itu. Jujur saja Yuna juga menginginkan Shua berada di dalamnya. Ia sempat terhanyut tadi. Tapi pikirannya masih bisa berpikir jernih, ia bukanlah wanita gampangan yang bisa tidur dengan siapa saja. Adit dulu mengambil keperawanannya pada malam pertama pernikahan mereka. Tapi sekarang ia wanita dewasa yang sudah bisa berpikir mana yang boleh dan tidak. Ia akan melakukannya nanti di saat yang tepat.
Shua turun ke bawah untuk mengambil tas Yuna yang tertinggal di mobil. Sepanjang perjalanan ia tersenyum geli mengingat apa yang ia lakukan dengan Yuna tadi. Sungguh sangat ingin ia menuntaskan semuanya, seperti yang ia lakukan terakhir enam tahun lalu saat masih bersekolah di Australia dulu. Sudah lama sekali. Tapi wanita yang sekarang adalah Yuna. Ia tidak ingin buru-buru atau sembarangan melakukannya. Yuna spesial di hatinya.
Yuna sudah bersiap dengan blouse dark green dipadu celana panjang bahan putih. Rambutnya sedikit dicurly agar sedikit rapi setelah ia keramas tadi. Ia akan bertemu dengan Cathy langsung di lokasi. Shua sudah menunggunya di depan pintu. Yuna selalu menyukai apapun yang dikenakan Shua. Hanya kemeja polos lengan pendek berwarna hitam dengan skinny jeans berwarna sama. Mereka turun menuju lobby bergandengan tangan.
"Sudah resmi kan?" Shua berbisik di telinga Yuna.
"Masih tanya?" Yuna tertawa. Ia merasa tidak perlu menjawab pertanyaan yang jawabannya sudah sangat jelas. Yuna merasa sudah memantapkan perasaannya. Cathy benar, terlalu bodoh baginya untuk menyiakan pria seperti Shua.
Mereka sampai di ruang marketing yang dibangun di salah satu ruko di Peninsula Mall, milik Shua.
"Sudah lama Cat?" tanya Yuna saat melihat Cathy dengan pakaian yang sama seperti tadi pagi sedang duduk di salah satu kursi dengan meja bulat besar di tengahnya.
"Sore juga. RM nya belum datang Cat?" tanyanya saat ia melihat wanita itu sendirian.
"Tadi saya sudah telepon Devi, katanya sekitar sepuluh menit lagi Pak." Devi adalah relationship manager perusahaan vendor yang mengurus pemasaran kios, ruko, ataupun counter di dalam mall tersebut kepada para peminat.
Tidak berapa lama wanita yang bernama Devi itupun datang. Mereka bertiga serempak menoleh ke arah pintu yang terbuka. Seorang wanita cantik dengan rambut ikal panjang berwarna coklat gelap. Kulitnya yang berwarna putih, mata besar dengan kontak lens berwarna coklat muda terang, dan bibir berfiller dengan lipstik merah muda. Membuatnya sangat cantik dengan rok ketat selutut berwarna hitam dengan blus sabrina berwarna pink.
"Hai, maaf membuat kalian menunggu. Saya Devina Karenina." ujarnya sambil menyalami mereka satu per satu. Ia duduk di sebelah Cathy dengan Joshua dan Yuna berada di depannya. Devi memulai presentasi yang sudah ia persiapkan. Kemampuan menjelaskan dan komunikasinya sangat bagus. Tidak salah ia dipercaya untuk proyek besar itu.
Yuna tahu Devi sesekali melirik ke arah Joshua. Bahkan seringkali. Ia memiliki feeling yang kuat tentang ini, pengalaman yang mengajarkannya. Tapi ia tidak terlalu mempedulikan itu mengingat itu hal yang wajar bagi seorang wanita jika bertemu dengan Joshua Austin William.
"Jadi apa rencana kalian malam ini?" tanya Devi sambil berjalan ke arah mobil mereka yang terparkir di depan.
"Belum ada." jawab Yuna.
"By the way, aku sangat menyukai konsep pemasaranmu Devi. Semoga ini bisa berhasil tepat waktu. Aku berharap opening nya akan sukses dua bulan lagi." Joshua berkata kepada Devina yang tampak tersipu dengan pujian Joshua.
"Terima kasih Pak Joshua. Saya akan berusaha semaksimal mungkin, semoga nanti Bapak bisa puas dengan hasilnya."
"Panggil saja aku Joshua." Pria itu memamerkan giginya yang tertata rapi dan putih.
__ADS_1
"Is it ok? Hahahaha....Baiklah kalau begitu. Jika kalian belum punya rencana, bagaimana jika kita makan malam di Hill Sky. Pemandangan malam di sana bagus banget." Cathy mengangguk kencang sambil melihat ke arah Yuna yang juga tersenyum setuju.
Akhirnya mereka ke sana dengan dua mobil, Devi dan Cathy, sedangkan Joshua dengan Yuna.
"Sepertinya Devi tertarik padamu." canda Yuna di dalam perjalanan ke sana.
"Hahaha...Aku tidak melihat ada sesuatu yang spesial tadi. Mungkin kamu terlalu sensitif Yuna."
"Kok kamu bilang begitu sih? Aku tidak sensitif. Aku...aku hanya bercanda tadi." Yuna sedikit berbohong, tentu saja ia melihat tatapan intens Devi ke Shua tadi.
"Maaf, sayang. Apa kamu lelah? Ngomong-ngomong aku belum membelikanmu vitamin. Aku takut ada yang mengirimkannya ke sini pakai kurir." Yuna tertawa mendengar perkataan Shua barusan.
"Harusnya kamu beli lebih cepat jika tidak mau diduluin sama yang lain, Sayang." Yuna mengatakan panggilan sayangnya dengan sedikit pelan.
"Bisa diulang? Panggilanmu itu?" Shua ingin mendengarnya lagi.
"Sayang. Kamu ingin dipanggil begitu?" tanya Yuna.
"Sangat ingin. Aku menyukainya, sayang." Shua berkata dengan penuh semangat sambil terus mengikuti mobil Devi di depannya.
"Apa tidak terlalu cepat untuk kita saling memanggil begitu? Aku hanya menggodamu tadi." Yuna sedikit menyesal dengan candaannya tadi. Ia merasa agak norak dengan panggilan itu karena ia baru saja jadian dengan Shua.
"Tidak ada yang terlalu cepat dalam hubungan kita. Aku sudah menunggumu sepuluh tahun. Dan mendengarmu memanggilku sayang...aneh tapi aku bahagia." Shua tersenyum, sedikit malu dengan sikapnya yang sedikit kekanak-kanakan.
"Baiklah kalau itu maumu. Tapi jika hanya ada kita berdua ya, aku malu kalau ada orang lain." Shua mengangkat tangan kanan Yuna dan mengecupnya sekilas.
"Ok, aku tidak keberatan Sayang." Senyumnya mengembang lebar ketika Yuna menyetujui permintaannya itu.
Akhirnya mereka sampai di restoran di atas bukit dengan jalan yang cukup menanjak dan terjal.
"Bagus kan?" ucap Devi sambil menunjukkan pemandangan kota dengan gemerlap lampunya dari spot meja kesukaannya. Cathy langsung mengambil ponsel dan mengepost beberapa foto dan story di instagramnya.
"Yuna, Pak Jo, sini. Saya fotoin berdua ya. Berdiri di sana Yun." Cathy mengatur angle yang paling bagus untuk mengambil gambar mereka berdua.
"Cat, fotoin aku sama Joshua juga donk." Devi langsung berdiri di sebelah Joshua saat Yuna baru menjauh selangkah. Setelah acara foto selesai, mereka menikmati makan malam yang didominasi oleh makanan laut.
"Jadi kapan kalian pulang ke Jakarta?" tanya Devi sambil sedikit mengibaskan rambut panjangnya.
"Besok siang. Terima kasih ya makan malamnya. Harusnya kita lho yang traktir kamu." ucap Yuna sambil membuka pintu mobil.
"It's not a big deal. Sudah seharusnya saya menjamu kalian. Oh iya, Joshua, nanti saya hubungi jika sudah ada respon dari para penyewa. Kebetulan dalam waktu dekat saya akan ke Jakarta." mata Devi tidak pernah lepas dari pandangannya ke Joshua.
"By email juga tidak masalah kok Dev, tidak perlu repot-repot." ucap Joshua dari samping pintu mobil yang sudah terbuka.
"Tidak repot kok Jo, nanti aku hubungi ya. Hati-hati ya guys..Safe flight besok." Mereka bertiga masuk ke dalam mobil dan Devi melambaikan tangannya.
__ADS_1
Devi pun masuk ke dalam mobilnya, mengeluarkan ponselnya dan tersenyum. Dilihatnya fotonya bersama Joshua tadi. Pria mapan yang sangat keren. Sepertinya ia akan cocok denganku, pikirnya.
*****