
"Halo, mama Yuna. Saya mamanya Joshua, Nissa. Ini suami saya, William." Nissa memperkenalkan dirinya dan suaminya menghadap ke sebuah layar televisi 60 inchi di ruang tamu mereka.
"Hai, Mba Nissa dan Pak William. Panggil saja saya Rossa, ini suami saya Kenichi. Salam kenal ya." Mama Yuna terlihat berseri-seri dengan pertemuan keluarga secara online itu. Yuna dan Shua duduk bersama orang tua Shua di rumahnya.
"Sayang sekali ya kita tidak bisa bertemu langsung." ucap Nissa.
"Iya, tapi nanti kita pasti masih ada kesempatan kok Mba." ucap Rossa.
"Begini, Mba Rossa, Pak Ken.." William mengambil alih pembicaraan itu.
"Saya sebagai papanya Shua, ingin meminta persetujuan kalian sebagai orang tua Yuna, untuk memberi restu anak-anak kita menjalin hubungan dengan lebih serius. Joshua berniat mengajak Yuna bertunangan. Kami, pihak dari Joshua sudah merestui mereka dan mendukung hubungan mereka ke tahap yang lebih serius. Untuk itu, kami ingin mengetahui jawaban dari orang tua Yuna." William menatap sekilas ke arah istri dan anaknya.
"Terima kasih Pak William atas restu yang diberikan. Kami sebelumnya sudah pernah mengutarakan kepada Nak Shua bahwa kami mengizinkan mereka untuk pacaran. Untuk ke arah yang lebih serius, kami juga hanya bisa memberikan restu. Kami yakin anak-anak sudah dewasa dan bisa menentukan mana yang terbaik untuk mereka." ucap Ken.
"Maaf Pa, ada yang mau mama tambahkan. Begini lho Mba Nissa, Pak Will. Seperti yang sudah kalian tahu, Yuna pernah bercerai dulu. Saya harap hal itu biarkanlah menjadi masa lalu. Maaf banget, tapi saya harap hal itu jangan diungkit lagi ke depannya." Suara Rossa sedikit bergetar saat mengatakan itu.
"Saya mengerti perasaan Mba Rossa. Walaupun anak saya laki-laki, tapi saya tahu rasanya jika anak kita disakiti. Tenang saja, aku akan menganggap Yuna seperti anakku sendiri dan akan menjaganya." Jawaban Nissa sedikit menenangkan perasaan orang tua Yuna.
Obrolan antar keluarga berjalan dengan lancar selama hampir satu jam ke depan. Shua memberikan Yuna sebuah cincin untuk menguatkan hubungan mereka disaksikan oleh orang tua mereka. Mereka sepakat tidak mengadakan pesta pertunangan. Jika semuanya berjalan lancar, orang tua Yuna akan kembali ke Indonesia untuk mempersiapkan pernikahan anak mereka.
"Terima kasih ya Sayang sudah mengatur semuanya." ucap Yuna saat mereka sudah sampai di depan pintu rumahnya.
"Terima kasih apanya. Ini salah satu jalan untuk mencapai mimpiku. Sepertinya besok-besok kamu bisa sedikit sibuk deh. Mama terlalu antusias mau ngambil mantu hahaha..." Yuna memeluknya mesra.
__ADS_1
"Pokoknya terima kasih."
'Terima kasih atas ketulusanmu. Aku berharap cinta kita bisa bertahan selamanya.' doa Yuna dalam hati. Shua melepaskan pelukan mereka dan mencium bibir Yuna singkat sebelum akhirnya mendaratkan bibirnya di kening wanita cantik itu.
"Masuklah duluan. Kalau tidak aku tidak yakin bisa mengontrol diriku." Shua berbisik di telinganya. Yuna memukul pelan dada Shua sebelum akhirnya ia masuk dan kembali tersiksa karena perpisahan sementaranya itu.
Shua masuk ke dalam mobilnya lalu tertawa kecil. Ia sebenarnya tidak menyangka pertemuan antara keluarganya dan keluarga Yuna harus melalui video online. Sebenarnya ia bersama orang tuanya berencana datang ke Jepang demi sebuah perkenalan yang lebih formal. Namun orang tua Yuna bersikeras bahwa hal itu tidak terlalu diperlukan. Mereka tidak keberatan dengan pertemuan online yang bisa menghemat waktu. Tapi bagaimanapun juga, Shua merasa lega karena semuanya berjalan cukup lancar. Yuna sebenarnya tidak mengetahui bahwa Shua sudah mempersiapkan cincin untuknya. Pria itu ingin menunjukkan keseriusannya di depan orang tua mereka berdua.
Yuna sudah mengenakan piyamanya. Ia menyalakan channel Youtube di smart tv nya dan memilih salah satu acara masak yang muncul di berandanya. Ia hanya mendengarkannya saja, tangannya sibuk membongkar laci lemari untuk mencari paspornya. Sudah dua tahun ia tidak pernah berangkat keluar negeri dan lupa di mana ia sudah menyimpannya. Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang ia kira sudah dibuang. Foto pernikahannya dulu dengan Adit berukuran 6 inchi. Reflek ia ingin merobeknya, namun tangannya terhenti. Pikirannya kembali saat ia memberi tahu Marsha bahwa ia tidak membenci Adit, hanya seperti mati rasa. Yuna menatap kembali foto itu. Fotonya dengan Adit yang sedang memegang balon berwarna emas. Dulu, Yuna memilih warna emas karena ia berharap setidaknya akan merayakan ulang tahun pernikahan emas mereka. Yuna tertawa sinis, pernikahan emas? Ck..ck..ck...Mimpimu ketinggian Yuna.
Yuna memasukkan foto itu ke dalam sebuah kantong kresek besar bersama dengan beberapa barang yang memang akan dibuangnya. Ya, memori itu memang tidak bisa dilupakannya, namun Yuna bisa memilih untuk membuangnya karena ia tidak membutuhkannya lagi.
'Selamat tinggal masa lalu, sekarang aku akan melangkah menuju masa depanku. Entah itu bahagia atau tidak pada perjalanannya, namun aku akan berusaha mencapai kebahagiaan pada akhirnya.' Doa Yuna.
*****
"Hahaha...Ada-ada saja ya zaman sekarang. Tapi selamat ya, akhirnya kamu sudah berani mengambil keputusan itu." Marsha menelan bakso kecil yang sudah ia aduk-aduk dari tadi.
"Aku harap ini keputusan yang tepat Sha."
"Sebenarnya tepat atau tidak itu tergantung oleh waktu. Tidak tepat dalam satu bulan lagi, tapi mungkin akan menjadi tepat dua tahun lagi. Tepat untuk lima tahun ini, tapi mungkin akan menjadi hancur sepuluh tahun lagi. Bukannya aku mau menakut-nakutimu, tapi itulah realita."
"Ya, aku mengerti maksudmu Bu Dokter hahaha...Sekarang aku mau mendengar ceritamu, sudah punya pacar?" tanya Yuna. Marsha menggeleng.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kan aku bertanya begini? Aku menganggapmu sahabatku. Tapi jika kamu tidak mau membicarakan hal pribadi it's ok Sha." Yuna tertawa santai.
"Aku senang kamu bisa menganggapku sahabat. Jujur aku tidak memiliki teman dekat, hanya beberapa kenalan. Aku merasa kita sangat cocok dari dulu. Ingat ga kita sering makan bakso bareng abis hiking atau sekedar bersihin kaki gunung?"
"Inget dong Sha. Makanya aku ajak makan bakso hari ini hahaha.."
"Aku dulu pernah bertunangan Yun, tapi gagal ke pernikahan." Marsha bercerita santai sambil minum es teh manisnya.
"Oh, sorry to hear that.""It's ok. Kami bertunangan dua tahun lalu, putusnya setahun lalu. Sebenarnya ia mengajakku menikah tiga bulan setelah kami bertunangan. Tapi aku sedang di puncak karir, jadi aku minta ia menundanya. Tahun lalu ia memintaku menikah lagi sebelum ia pindah kerja ke Medan. Aku sangat galau saat itu. Di satu sisi aku mencintainya, tapi di sisi lain aku tidak bisa tinggal jauh dari orang tuaku dan yang lebih egoisnya lagi, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku. Logika mengalahkan perasaanku. Entah siapa yang memutuskan hubungan hingga akhirnya kami putus komunikasi." Marsha jarang menceritakan soal kehidupan pribadinya, tapi hari ini ia lebih ingin membuka diri. Lelah rasanya menyimpan semua bebannya sendiri. Sama seperti pasiennya yang membutuhkan dirinya, ia juga membutuhkan seseorang yang cukup mendengarkan ceritanya saja.
"Kamu masih mencintainya?"
"Tidak tahu Yun. Mungkin karena aku belum bertemu lagi dengannya jadi aku tidak tahu perasaanku yang sebenarnya."
"Oh, dia tidak pernah menghubungimu?"
"Tidak. Mungkin dia sudah melupakanku. Setelah kupikir-pikir, aku yang sudah berlaku kejam padanya." Yuna terdiam mendengar curahan hati Marsha. Ia memang tidak pandai berkata-kata.
"Sudahlah. Cukup dengan cerita masa laluku. Habiskan makananmu hahaha..."
'Seorang artis cantik berinisial VA terlihat sedang mengunjungi seorang dokter kandungan di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta. VA mengenakan masker dan kaca mata hitam untuk menutupi paras cantiknya...' Sebuah TV terlihat sedang menayangkan acara gosip para artis lokal.
"VA pasti Vanya Aprilia. Harusnya dia pakai topi juga, rambutnya itu tidak bisa menutupi identitasnya walau sudah pakai masker dan kaca mata." ucap Marsha. Yuna yang mendengar nama itu langsung tersedak mie pedas yang sedang ia makan.
__ADS_1
"Uhuuk...uhuuukk.." Matanya langsung melihat tajam ke arah televisi yang menayangkan berita itu. Sosok gadis yang dianggap adik oleh Shua, benar itu dia.
*****