
Adit bermain dengan Gracia yang sedang belajar tengkurap. Mata bulatnya persis seperti mata Becca, namun rambut ikalnya mirip rambut Adit saat masih kecil, lucu sekali. Sesekali pikirannya melayang ke memori beberapa hari lalu. Joshua sudah menceritakan semua yang telah diperbuat Devi di Surabaya dan kecelakaan yang menimpa Yuna. Dan dengan bodohnya, Adit sudah meminta Yuna kembali padanya di depan Rebecca. Sial, kutuknya. Sudah dua minggu Becca marah padanya dan Adit tidak bisa menyalahkannya. Ia memang salah dan bodoh sudah masuk perangkap Devi. Adit sudah mencoba menghubungi Devi untuk meminta penjelasannya, namun gagal. Devi seperti hilang ditelan bumi. Dan Adit terlalu gengsi untuk bertanya dengan Joshua.
"Sayang!! Apa yang sudah kamu lakukan?!" Teriakan Becca memecahkan lamunan payah Adit. Tiba-tiba ia ikut panik saat melihat Gracia yang memuntahkan sedikit susu dan membasahi gaun pink kecil itu.
"Astaga Grace, kamu kenapa Nak?" Tangan Adit yang hampir menyentuh putrinya langsung ditepuk oleh istrinya yang terlihat sangat marah dan panik.
"Biar aku saja!" Becca menggendong anaknya sebentar lalu mengambil tissue basah dan menyeka mulut serta leher Gracia, serta mengganti bajunya.
"Maaf Sayang, aku tidak sadar kalau.." ucapan Adit langsung dipotong Becca.
"Sudahlah. Kapan kamu pernah sadar kalau aku dan Grace ada di hidupmu?" Nada bicara Becca terdengar tenang dan datar namun dalam. Adit jadi terdiam mendengarnya, ia memang kehabisan alasan dan kata-kata semenjak kejadian malam itu.
"Maafkan aku Sayang. Aku tidak akan mempunyai pikiran seperti itu lagi. Aku janji. Sekarang hanya ada kamu dan Grace." Adit memeluk Becca yang sedang menggendong anaknya dari belakang. Becca melepaskan pelukan itu.
"Sus..Sus...Tolong jaga Grace dulu ya!" Becca menyerahkan anaknya ke pengasuh dan menutup kembali pintu kamarnya.
"Jadi apa yang akan kamu lakukan sekarang?" Becca berkacak pinggang menghadap suaminya sedang duduk di pinggir ranjang mereka.
"Aku hanya mau kita seperti dulu Sayang." Adit memeluknya mendekat.
"Aku bisa memaafkanmu. Tapi, kata-kata yang kamu ucapkan pada malam itu, terus terngiang di kepalaku. Aku tidak bisa menghapusnya Dit. Tidak bisa!" Becca menahan suaranya agar terdengar hingga keluar kamar.
"Aku tahu Sayang. Aku akan membuatmu percaya lagi padaku. Aku janji hanya ada kamu sekarang. Maafkan aku." Adit menciumnya pelan dari tangan, leher, dan berlabuh di bibir mungil itu. Sudah dua minggu ia dan Becca tidak berhubungan suami istri dan Adit sangat merindukannya.
Becca hanya pasrah saat Adit menghujaninya dengan ciuman. Jujur, ia juga sangat merindukan Adit. Tapi rasa sakit saat suaminya meminta Yuna kembali padanya, membuat semuanya menjadi abu-abu. Semua kebahagiaan dan kehidupan perkawinannya menjadi samar-samar. Bahkan Gracia, entah di mana kedudukannya di hidup Adit. Tapi Becca harus bertahan, demi dirinya dan Gracia. Semua telah ia pertaruhkan untuk mendapatkan cinta Adit. Ia tidak bisa menyerah sekarang. Becca cukup mengenal sifat Yuna, mantan sahabatnya. Yuna tidak akan pernah mau kembali pada Adit. Apalagi sekarang ada Joshua, cinta pertamanya dulu yang sekarang selalu menempel kemanapun Yuna pergi. Becca tidak bisa terlalu menikmati permainan Adit. Pikirannya terlalu banyak. Tapi ia senang Adit masih membutuhkan dirinya, walau yang jadi pertanyaan besar adalah apakah ia butuh karena cinta, atau butuh karena Becca hanya seorang wanita, ibu dari anaknya.
*****
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan pukul 18.40 saat Joshua sedang duduk di lobi menunggu Yuna turun dari kantornya.
"Shua?" Yuna kaget saat melihat Shua di depan lift yang terbuka saat ia sudah turun di lobi.
"Baru saja aku mau menyusulmu ke atas. Ini hari pertamamu kerja Sayang. Apa kamu tidak lelah? Atau mau aku ajukan cuti tambahan?" kata Shua dengan nada sedikit kesal.
"Maaf, aku tadi sudah mau pulang, tapi baru ingat ada email yang belum aku balas." Yuna bergelayut manja di lengan kekasihnya itu, mencoba meredakan Shua yang terlihat kesal. Mereka berjalan menuju parkiran mobil di basement.
"Sepertinya kamu jarang lembur ya?" tanya Yuna sambil mengaitkan sabuk pengamannya.
"Papa membiasakanku tidak ada lembur sejak dulu. Time management sangat penting untuk keseimbangan hidup katanya."
"Wah..Sepertinya aku harus banyak belajar tentang itu Pak Joshua hahaha..." Yuna tertawa karena ia memang tidak pernah memikirkan tentang hal itu sebelumnya.
"Cup.." Kecupan singkat Shua menghentikan tawa renyah Yuna.
"Kamu bisa saja. Masih terlalu cepat untuk kita..." Kalimat Yuna dipotong oleh Shua yang menggenggam tangannya.
"Aku sudah meminta orang tuaku untuk melamarmu." Shua menatap tajam mata kekasihnya itu.
"Aku...Aku...Aku takut belum siap." Shua memang melihat ada setitik keraguan di mata Yuna. Sedih baginya mengetahui Yuna masih meragukan dirinya.
"It's ok. Kita akan bertunangan dulu. Aku akan menunggu sampai kamu siap. Kita tidak akan buru-buru menikah karena aku mau semuanya sempurna pada waktunya." Shua terlihat sangat tenang dan semua jawaban Yuna hampir persis dengan apa yang dibayangkannya.
Yuna mengangguk setuju. Ia membelai wajah tampan Shua sebelum memeluknya erat. Yuna merasa sangat bersyukur karena Shua sangat mengerti dirinya.
"Mau makan di mana?" tanya Shua.
__ADS_1
"Bik Sum ada masak di rumah. Ia ditelepon mama, disuruh masak biar aku tidak makan di luar untuk sementara waktu. Mau temanin aku makan di rumah?" Yuna mengerlingkan matanya.
"Mau dong. Masa sudah diundang aku nolak?" Shua dengan semangat menjalankan mobilnya menuju rumah Yuna.
"Undang makan ya, bukan yang lain hahaha..."
Bik Sum membereskan piring kosong di atas meja makan. Terlihat sup jagung dan ayam rica yang dimasaknya hampir habis. Yuna selalu mengingatkannya untuk terlebih dahulu menyisihkan sayur dan lauk untuk Bik Sum dan Mang Jun terlebih dahulu agar mereka tidak perlu makan makanan sisa Yuna.
"Makasih ya Bik Sum makan malamnya. Enak sekali." puji Shua. Bik Sum terlihat sedikit tersipu dipuji oleh anak muda yang ganteng seperti Shua.
"Sering-sering ke sini Den, nanti Bibi masakin yang enak-enak." Yuna tertawa mendengar undangan Bik Sum.
"Jadi bagaimana dengan Devi? Kamu benar mau laporin dia ke polisi?" tanya Yuna sambil duduk di teras depan.
"Aku lagi diskusi dengan pengacaraku. Jujur saja mencari bukti konkret kecelakaan kamu agak sulit. Tapi aku akan mencari celah, bagaimanapun juga ia tidak boleh mendekatimu lagi. Apalagi sampai mencelakaimu. Itu yang terpenting."
"Sudahlah Sayang. Kasihan dia. Kan aku tidak apa-apa sekarang." Yuna menggosok pelan lengan Shua. Ia memang kesal mendengar apa yang telah dilakukan Devi pada dirinya. Tapi ia tidak bisa membayangkan jika gadis cantik itu sampai harus meringkuk di penjara. Devi hanya terperangkap oleh perasaannya yang dalam pada Joshua. Dan cintanya yang tidak terbalas sudah membuatnya tersesat.
"Kamu tidak tahu bagaimana perasaanku saat melihatmu koma kemarin. Hampir gila aku Sayang. Dan waktu aku tahu kalau Devi yang membuatmu celaka, bagaimana bisa aku membiarkannya begitu saja?! Aku hanya ingin memastikan agar dia tidak bisa seenaknya lagi padamu. Kamu tenang saja ya. Aku akan mengurus semuanya. Masuklah Sayang. Aku pulang dulu biar kamu bisa istirahat."
"Oh iya, Sabtu nanti aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Kosongkan jadwalmu ya." Shua tersenyum manis.
"Ke mana?" tanya Yuna penasaran.
"Rahasia." Shua mengecup keningnya dan melambaikan tangannya. Ia berjalan menuju mobilnya sambil tersenyum membayangkan kejutan kecil yang ia siapkan untuk wanita yang dicintainya itu.
*****
__ADS_1