MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 14


__ADS_3

Dan di saat sang penggoda datang


Kau biarkan dia hancurkan istanaku


Ternyata kau lupa aku ratumu


Yuna sangat menghayati lagu yang dia nyanyikan. Untung saja ia tidak sampai menitikkan air mata karena teringat drama dalam hidupnya. Sesekali Cathy ikut bernyanyi karena ia tidak melepaskan mic nya semenitpun. Mereka bernyanyi selama satu jam lebih dan cukup bersenang-senang.


"Kita mau ke mana lagi Bu?" tanya Cathy setelah Yuna membayar tagihan karaoke mereka.


"Panggil aku Yuna Cat. Kamu bisa memanggilku ibu kalau kita di kantor. Ok?" Cathy memberikan jempolnya pada Yuna.


"Yuna, mau ga ke tempat yang sedikit berbeda?" tanya Cathy.


"Ke mana?"


"Kita ke Jupiter yuk. Sudah pernah belum?" Cathy menggandeng lengan Yuna.


"Apaan tu Cat?"


"Klub Yun, tapi bukan klub yang tempat nakal gitu. Lebih ke ekonomi menengah ke atas. Asik lho tempatnya. Aku juga baru dua kali ke sana." jelas Cathy. Yuna belum pernah pergi ke klub malam sekalipun. Hidupnya terlalu lurus untuk melakukan itu. Dulu. Sekarang ia akan mencoba menikmati hidupnya dari sisi yang berbeda.


"Ok, kita ke sana. Mumpung besok kita libur. Kamu pulang malam ga apa-apa? Perlu aku telepon mama kamu ga?" tanya Yuna.


"Aku tinggal di kost Bu, eh Yun. Jadi santai aja. Yuk jalan." jawab Cathy.


Mereka sampai ke Jupiter sekitar pukul sembilan malam. Di pintu depan ada petugas yang memeriksa identitas pengunjung dan mereka juga diharuskan membayar sejumlah uang untuk tiket masuk. Telinga Yuna belum terbiasa mendengar dentuman musik yang sangat kuat. Matanya pun pelan-pelan baru terbiasa melihat dengan cahaya minim. Yuna melihat banyak orang yang berjoget di dance floor.


"Kita booking meja yuk." ajak Yuna setelah ia melihat beberapa meja di samping.


"Yakin Yun? Mahal lho." kata Cathy karena ia pernah menyewanya patungan sama delapan temannya.

__ADS_1


"Tenang. Aku bayar." Yuna tertawa karena Cathy mencemaskan itu. Jadilah mereka menyewa meja kecil yang muat untuk empat orang dan membeli beberapa minuman. Yuna tidak terlalu buta soal minuman. Ia dan Adit memiliki beberapa koleksi minuman keras.


"Yakin Yun mau minum Tequilla?" tanya Cathy.


"Yakin donk. Tenang, aku bisa minum kok." Yuna menenggak minumannya. Ia hanya ingin bersenang-senang malam ini dan ingin melupakan semuanya.


"Ingat ya peraturan kalau ke klub. Jangan pernah menerima minuman dari tangan siapapun. Aku tinggal sebentar ya." pesan Cathy dan Yuna akan menurutinya. Yuna melihat Cathy turun untuk berdansa. Ia cukup lincah seperti sudah sering melakukannya. Yuna hanya bisa terus menenggak tequilla nya karena tidak percaya diri untuk ikut berdansa dengan Cathy. Ia melihat seorang pria yang mendekati Cathy. Tapi sepertinya pria itu cukup sopan dilihat dari gerak-geriknya. Yuna tidak jadi berdiri menghampiri Cathy. Tempat ini cukup menyenangkan, setidaknya smoking area berada di sisi yang berbeda. Yuna melirik ke arah pintu masuk, semakin malam tamu yang datang semakin ramai.


"Mau ditemanin minum Mba?" tanya seorang pria muda. Tampan dan bertubuh tegap.


"Tidak. Aku datang dengan teman. Terima kasih." ucap Yuna sopan. Itu pria ketiga yang menghampirinya. Yuna tidak tahu apakah mereka cowok bayaran atau hanya sesama tamu. Yuna minum lagi. Pikirannya seolah meluap entah ke mana, kepalanya terasa sangat ringan. Namun saat berdiri, kepalanya menjadi berat.


"Yun, Yuna." suara Cathy terdengar samar di telinga Yuna.


"Mmmhh.. Cat? Minum yuk." kata Yuna. Cathy melihat dua botol kosong di depannya.


"Ya ampun Yuna. Kamu habisin semuanya? Astaga." Cathy khawatir melihat keadaan bos nya. Ia memapah Yuna namun ia tidak cukup kuat. Lalu mereka terduduk lagi.


"Yuna?" panggil seseorang. Cathy menoleh ke arah pria itu.


"Yuna kenapa? Maaf, nama kamu siapa ya? Kamu yang sama Yuna waktu kita ketemu di resto kemarin kan?" tanya Joshua sambil sedikit berteriak.


"Cathy. CATHY. Yuna mabok Pak. Baru ditinggal sebentar. Kebanyakan minum sepertinya." Joshua melihat dua botol tequilla yang kosong di atas meja mereka.


"Kita keluar dulu saja." Joshua membantu Cathy memapah Yuna. Ia memberi tahu kedua temannya bahwa ia akan keluar dulu.


"Kalian naik apa ke sini?" tanya Shua.


"Mobil Yuna, Pak." jawabnya.


"Kak Shua? Kenapa bisa ke sini?" Yuna setengah sadar saat melihat Joshua di sampingnya.

__ADS_1


"Kamu bisa nyetir?" Cathy mengangguk.


"Mobil Yuna kamu bawa pulang. Nanti aku yang antar Yuna." kata Joshua. Cathy terdiam mendengarnya. Ia bingung apakah harus membiarkan Yuna bersama Joshua. Tapi ia tidak kuat jika membawa Yuna sendirian.


"Jangan khawatir. Aku tidak akan macam-macam. Aku sudah lama mengenal Yuna." Joshua tahu apa yang menjadi pertimbangan Cathy.


"Baiklah. Kalau ada apa-apa sama Yuna, saya cari Bapak lho." kata Cathy sambil mengambil kunci mobil Yuna.


"Yun, mobilnya aku bawa dulu ya. Kamu diantar Pak Joshua." Yuna tidak menjawab karena sudah mabuk berat. Mereka sama-sama berjalan menuju ke tempat parkir dan berpisah di sana.


Joshua melihat ke arah Yuna yang tertidur. Ia lupa bertanya dengan Cathy di mana Yuna tinggal. Shua sempat berpikir untuk menelepon Aditya, namun sepertinya itu salah. Jadi Shua mengambil ponsel Yuna dan bermaksud mengirim pesan ke Adit. Shua tidak sengaja membaca pesan terakhir Adit. 'Sayang, maaf aku tidak pulang malam ini.'


Shua yang sudah mengetahui hubungan gelap Adit dan Rebecca langsung berpikir bahwa itu penyebab Adit tidak pulang. 'Apakah mungkin Yuna mabok gara-gara ini?' tanyanya dalam hati. Akhirnya Joshua baru terpikir untuk melihat kartu identitas Yuna dan mengantarnya ke alamat yang tertera di sana.


Sesampainya di depan rumah dengan pagar tinggi itu, Joshua mencoba membangunkan Yuna lagi.


"Yuna, bangun yuk." Shua melihat wajah Yuna yang merona karena mabuk. Ia memberanikan diri mengelus wajah Yuna. Ada suatu getaran yang terasa dan menggelitik di perutnya. Debaran jantungnya menjadi tidak karuan.


'Astaga! Mengapa aku jadi begini? Masa aku masih menyukainya seperti dulu?'


Joshua ingin memastikan perasaannya. Ia memajukan tubuhnya ke arah Yuna dan mendekatkan bibir mereka. Shua akan menciumnya untuk mencari tahu apa yang ia rasakan pada Yuna. Shua melihat bibir merah yang menggoda itu semakin dekat. Tiba-tiba kedua mata di depannya terbuka.


"Kamu Joshua kan? Joshua Austin William? Sialan kamu! Kenapa kamu mainin aku dulu? Brengsek!" Yuna memukul dada Shua lalu ia tidak sadar lagi. Joshua bingung dengan apa yang dikatakan Yuna tadi. Ia memutuskan untuk mengantar Yuna masuk. Joshua turun dan menemui satpam agar ia membuka pagar rumah itu. Shua menyetir mobil masuk ke dalam perkarangan rumah itu. Ia menggendong Yuna masuk setelah satpam meminta pembantu rumah untuk membuka pintu.


"Kamarnya di mana Bi?" tanya Shua. Bik Sum mengantarnya ke lantai dua dan membuka pintu kamar Yuna. Shua membaringkannya di atas ranjang. Ia mengambil napas panjang. Cukup memakan banyak tenaga menggendongnya ke lantai dua. Saat itu Shua baru menyadari bahwa Yuna sudah semakin kurus lagi. 'Apa ia stres karena memikirkan suaminya?' Shua menebak dalam hatinya. Ia melihat sekeliling kamar itu sementara Bik Sum membuka sepatu dan menyelimuti Yuna. Shua melihat foto pernikahan Yuna dan Adit. Penampilan Yuna di sana tidak berbeda jauh dengan saat dia sekolah dulu. Itu sedikit mengobati rasa rindunya pada Yuna dulu. Shua tersenyum. Ia pamit dengan Bik Sum dan keluar dari rumah itu.


Joshua masuk ke mobilnya dan entah mengapa ia merasa sangat bahagia. Mungkin karena ini pertama kalinya ia begitu dekat dengan Yuna. Dekat secara fisik. Tanpa sadar jantungnya kembali berulah seperti tadi. Tapi apa maksud perkataan Yuna tadi? Mempermainkannya? Kapan ia mempermainkan Yuna? Tapi setidaknya Yuna mengingat nama lengkapnya dan mengucapkannya. Nanti Joshua akan menanyakannya pada Yuna jika saatnya tepat. Tapi apa yang bisa diperbuatnya untuk membantu Yuna. Adit dan Rebecca. Brengsek mereka! Beraninya mereka menyakiti Yunaku!!


'Astaga Joshua! Yunaku? Panggilan macam apa itu? Ingat! Yuna masih istrinya Adit yang sah!' Tiba-tiba pikiran putihnya berbicara.


'Kamu harus berusaha Jo! Dulu kamu tidak bisa mendapatkannya. Sekarang adalah kesempatanmu. Sekarang atau tidak sama sekali.' Giliran pikiran si merah ikut berbicara.

__ADS_1


"Sudahlah. Aku tahu apa yang harus aku lakukan." Shua berkata santai dan kembali menuju Jupiter.


*****


__ADS_2