
Yuna sedikit terkejut mendengar nama Joshua dan melihat sosok yang sangat dikenalnya itu di atas panggung. Tidak sampai semenit, Cathy pun langsung datang menghampirinya dan menanyakan banyak pertanyaan yang sama sekali tidak dijawab oleh Yuna. Entah karena ia menikmati lagu indah tersebut, atau sedang mencari jawaban atas pertanyaan Cathy. Sesaat sebelum lagu usai, matanya bertemu dengan mata teduh Shua. Pria itu sedikit terkejut mendapati wanita yang dirindukannya ada di sana.
Yuna pun merasakan perasaan yang sama, namun terasa ada sesuatu yang menonjok ulu hatinya saat ia melihat gadis centil di depan sana menutup lagu itu dengan menyandarkan kepala di bahu pria di sampingnya. Yuna tetap bertepuk tangan dan memaksakan senyum di wajahnya.
"Woow...Penampilan kalian berdua keren banget, chemistry yang sangat kuat. Ngomong-ngomong siapa pria ganteng ini Vanya?" Wanita itu menyodorkan mic ke Vanya tapi dengan secepat kilat Shua mengambil mic itu.
"Saya kakaknya." jawab Shua.
"Ooo...Saya baru tahu Vanya punya kakak sekeren ini hahaha...Terima kasih untuk penampilan kalian, kita beri tepuk tangan sekali lagi untuk Vanya Aprilia dan kakaknya Joshua." Mereka berdua turun dari panggung. Shua berjalan menuju Yuna, ia tidak menghiraukan panggilan Vanya di belakangnya.
"Hai, kok ga bilang mau kesini? Kan aku bisa jemput?" Shua merasa pertanyaannya itu cukup konyol. Yuna baru akan menjawabnya, namun tangan Vanya yang merangkul lengan Shua membuat suaranya tercekat.
"Cepat banget jalannya. Siapa dia?" Mata Vanya melihat seorang wanita yang mengenakan jaket denim di depannya. Tidak terlalu cantik dibanding dirinya, namun tampak anggun dengan penampilan casualnya.
Yuna mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Terlalu lama menunggu Shua yang hanya diam menatap dirinya.
"Yuna, teman Shua." ucap Yuna sambil tersenyum manis.
"Aku Vanya." jawab gadis itu tanpa menyebut status hubungannya dengan Joshua yang sebenarnya ditunggu oleh Yuna.
"Iya aku tahu, kamu cukup terkenal." Yuna tidak berbohong. Ia memang sering melihat Vanya di televisi. Di saat orang lain dengan susah payah mengajaknya berfoto, Yuna malah bisa berkenalan dengannya.
'Cukup terkenal? Hanya cukup? Aku sangat terkenal tau ga?!' keluh Vanya dalam hati namun tetap mengembangkan senyumnya itu.
"Sudah makan Yun? Makan bareng yuk." Shua akhirnya bisa mengendalikan dirinya.
"Malam Pak Joshua. Yuna belum makan, dari tadi hanya minum doank. Diajak makan dulu deh Pak." Cathy sedikit mendorong Yuna ke arah Shua.
"Oh maaf, meja kami di depan sana sudah penuh." Jawaban Vanya membuat Cathy sontak menjadikannya musuh kedua setelah si sundel Becca. Ia cukup pintar untuk menebak apa maksud Vanya.
"Kita bisa duduk di belakang Yun. Kakak ke sana dulu ya Van, kamu bisa balik ke meja depan." Hahaha....Cathy berteriak girang mendengar jawaban Joshua, tapi tentu saja hanya di dalam hati. Ia bisa melihat perubahan ekspresi Vanya yang sangat tidak menyukai apa yang dikatakan Joshua tadi.
"Kamu kakaknya Vanya Aprilia?" tanya Yuna yang sempat mendengar sebutan "kakak" tadi.
"Bisa dianggap seperti itu, tapi kami ga ada ikatan darah."
"Jadi mama aku sahabatan dengan mama Vanya dari sekolah dulu. Orang tuanya sudah tidak ada, jadi dari dulu mama anggap dia seperti anak sendiri." Shua lanjut menjelaskan hubungannya dengan Vanya berharap Yuna tidak salah paham dengan kedekatannya dengan Vanya tadi.
__ADS_1
"Oh.." jawab Yuna singkat.
'Jadi bukan saudara kandung. Adik-adikan doang.' Pikir Yuna sambil menyantap potongan daging sapi dengan salad sayur yang sudah diambilnya tadi. Tiket masuk ke cafe itu sudah termasuk makanan yang bisa diambil sepuasnya.
"Kamu tumben keluar jam segini? Biasanya kalau besok kerja kamu ga suka keluar malam." Shua juga mengambil menu yang sama dengan Yuna, hanya menambah sedikit kentang goreng di piringnya.
"Iseng aja sih, lagi suntuk."
"Gimana kelanjutan perceraian kamu?" tanya Shua dengan suara dan nada yang lebih pelan. Yuna pun seakan sudah menebak dengan pertanyaan yang akan dilontarkan pria itu.
"Sudah beres." Ia sedikit tersenyum lega. Lega karena ia tidak perlu menelepon Shua untuk mengabarkan itu. Entah apa yang akan dipikirkan pria itu jika Yuna sampai melakukan itu.
"Benarkah?" Shua tidak bisa menyembunyikan ekspresi bahagianya. Namun itu hanya bertahan dua detik saja sebelum mimik wajahnya berubah lagi.
"Maaf Yun, bukan maksudku untuk bahagia atas masalahmu. Aku hanya lega melihat kasusmu sudah selesai."
"Tidak apa-apa. Aku juga lega kok. Kamu tahu kan masalah ini juga sudah menghantuiku berapa lama." Shua memperhatikan Yuna yang sedikit beda dari biasanya.
"Kamu yakin tidak apa-apa?"
"Mau jujur? Tentu saja aku kenapa-kenapa hahaha...Aku seorang janda sekarang dan orang tuaku belum mengetahui itu. Aku bercerai karena suamiku lebih memilih wanita yang aku kenalkan ke dia sebagai sahabatku hahaha... Ironis kan?" Yuna membalikkan garpu dan pisaunya. Ia merasa sedikit menyesal dengan apa yang diutarakannya tadi. Mungkin rasa stres nya bergejolak minta keluar.
"Cat, aku mau pulang dulu. Sepertinya aku lelah, kamu mau ikut pulang atau masih mau di sini?" tanyanya. Joshua hanya berdiri dua meter dari mereka.
"Mmhh..." Cathy tampak bingung dengan pilihan yang akan diambil. Ia ingin menemani Yuna pulang, tapi ia juga tahu Joshua masih ingin bersama Yuna dan Cathy tidak mau mengganggunya.
"Aku di sini dulu ya Yun. Nanti aku pulang sendiri, tadi ada ketemu Icha juga di sana. Kamu hati-hati ya. Pak Joshua, titip Yuna ya." ujar Cathy setengah berteriak ke arah pria yang hanya diam sejak tadi. Joshua mengembangkan senyumannya yang indah sebagai jawabannya.
"Yuna..Apa kamu menghindariku?" tanya Shua di dalam lift.
"Bukan. Hanya saja...Mmmh..Kita bicarakan lain waktu ya." jawab Yuna saat lift menunjukkan mereka telah sampai di ground floor.
"Aku antar pulang ya. Nanti besok pagi kita ambil mobil kamu. Aku jemput di rumah." Shua menarik lengan Yuna.
"Kak Josh!! Tunggu Vanya!" Vanya berlari kecil ke arah kedua orang itu. Yuna melepaskan pegangan tangan Shua.
"Aku pulang dulu ya Shua. Kamu bisa urus adik kecil kamu dulu." Yuna masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan tempat itu. Namun hatinya masih tertinggal di sana, mata Yuna terus ingin melirik ke arah pria itu melalui kaca spionnya. Apa yang mereka lakukan setelah ia pergi? Oh, ingin sekali ia bersembunyi di balik tiang besar di depannya.
__ADS_1
Yuna tahu ia salah memperlakukan Shua seperti tadi. Jika ingin menuruti perasaannya, ia ingin sekali memeluk Shua. Mengatakan bahwa ia akan belajar menerima Shua dalam hidupnya karena sepertinya ia juga memiliki perasaan yang sama. Ia ingin meminta Shua untuk membantunya melupakan rasa sakit karena cinta. Membuatnya kembali percaya bahwa cinta itu benar-benar ada. Tapi akal sehat dan logika Yuna masih berjalan. Memberi tahu orang tuanya saja ia belum berani. Yuna akan menunggu saat yang tepat. Ia percaya Shua akan menunggunya sebentar lagi. Kalaupun tidak, Yuna tahu ia masih memiliki sisa-sisa tenaga untuk menghadapinya.
*****
"Siapa dia, Kak?" tanya Vanya dengan penuh curiga.
"Dia cinta pertamaku." Shua menjawab sambil tetap mengarahkan pandangannya ke depan sambil sedikit membelokkan setirnya ke kanan.
Vanya cukup terkejut mendengar jawaban Joshua. Ia tidak pernah mendengar tentang hal itu dan juga tidak pernah melihat Kak Josh tersayangnya itu dekat dengan wanita manapun.
"Vanya tidak mau Kak Josh terlalu dekat dengan dia." Joshua menghentikan mobilnya di depan komplek apartemen bertuliskan TITANIUM di depan air mancur dengan lampu warna warni itu.
"Apa maksudmu Van?"
"Vanya menyukai Kak Josh." Yup, Vanya tidak akan mengulur waktu lagi untuk mengungkapkan perasaan yang sudah terpendam cukup lama. Joshua tersenyum mendengar pernyataan itu.
"Aku juga menyukaimu kok." Joshua mengacak rambut gadis itu.
"Berhenti mengacak rambutku Kak. Aku bukan anak kecil lagi. Aku menyukaimu. Aku mencintaimu, Kak." Joshua menarik tangannya dari rambut Vanya. Ia tahu gadis itu serius dengan ucapannya.
"Vanya, aku rasa kamu salah mengartikan hubungan kita. Selama ini aku hanya menganggapmu..."
"Adik? Vanya ga mau menjadi adikmu Kak. Vanya mau kita bisa sering menghabiskan waktu bersama, bisa gandengan tangan, kencan, dan suatu hari Vanya berharap kita bisa menikah." Setetes air matanya mengalir sambil mengenggam tangan Shua yang menganga kebingungan.
"Me..menikah kamu bilang?" Joshua menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ini salah Vanya. Maafkan aku. Aku tidak bisa. Aku mencintai wanita lain." ucap Shua serius.
"Yuna?" tebak Vanya.
"Benar kan?" Vanya bisa melihatnya dengan jelas bagaimana perasaan kakak tercintanya itu kepada wanita tadi. Joshua tidak pernah memperlihatkan ketertarikannya pada wanita lain, dan apa yang terjadi tadi sangat menjelaskan semuanya.
"Iya, aku mencintai Yuna. Turunlah, sudah malam. Dari tadi satpam di belakang memperhatikan kita."
"Dia juga mencintaimu?"
"Kita bicarakan nanti ok?" Joshua menatap mata Vanya. Vanya tahu tidak ada gunanya berdebat dengan Joshua. Nanti berarti nanti. Vanya turun dengan kesal menuju apartemen mewah bernuansa klasik itu. Malam yang dinantinya itu berubah menjadi kacau karena hadirnya seorang wanita yang bernama Yuna.
__ADS_1
*****