MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 12


__ADS_3

"Kak Josh!" teriak seorang wanita. Shua sudah bisa menebak pemilik suara itu tanpa harus menoleh. Siapa lagi yang memanggilnya Josh dengan suara manjanya itu. Dan benar saja, wanita itu dalam sekejap sudah ada di depannya.


"Hai Vanya. Kok kamu bisa ke rumah? Tumben." Joshua menekan kode pintu rumahnya dan masuk diikuti Vanya.


"Tante Nissa mengundangku makan malam." jawabnya sambil tersenyum dan menggandeng lengan Shua. Shua membiarkannya karena ia tahu watak Vanya sejak lima belas tahun lalu.


"Vanyaaa! Aduh Tante kangen banget. Kamu kok semenjak pulang dari Bali ga pernah maen ke sini?" Vanya melirik ke arah Joshua dan Shua hanya menaikkan alisnya.


"Sedikit sibuk Tan. Ini saja Vanya belain minggat dari jadwal demi Tante." Vanya memeluk Nissa.


"Yuk makan. Tante masak opor ayam kesukaan kamu. Shua, ada perkedel tuh." Shua dan Vanya duduk di sana.


"Mana om Willi, Tan?" tanya Vanya.


"Pergi main golf tadi sore. Mungkin sebentar lagi pulang." Nissa menaruh piring terakhir yang berisi sambal merah di atas meja.


"Jadi? Kamu sibuk apa sekarang Van?" tanya Nissa.


"Baru selesai syuting layar lebar bulan lalu. Sekarang off dulu Tan. Masih capek. Paling cuma ambil endorse produk saja, paling gampang." jelasnya sambil mengambil beberapa lauk. Ia sangat merindukan masakan tante Nissa. Nissa melihat anak sahabat baiknya itu. Dulu Yuanita sering main ke rumahnya mengajak Vanya kecil, mungkin saat ia masih berumur tujuh tahun. Vanya dan Shua sangat akrab sejak dulu. Sekarang Vanya tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Andaikan Shua mau melirik Vanya sebagai seorang wanita, bukan sebagai seorang adik.


"Kamu sama si Raymond ada hubungan apa sampai muncul gosip begitu?" Vanya melihat ke arah Shua.


"Kak Josh lihat berita Vanya? Tumben ih perhatian." Ia terseyum senang.


"Ga ada apa-apa Kak. Dia sih pernah kasih tahu wartawan lagi dekat dengan artis inisial V. Jadinya Vanya yang dicurigai." jelasnya lagi.


"Memangnya bukan kamu?" tanya Shua lagi.


"Bukanlah. Kenapa? Kak Josh cemburu ya?" godanya. Nissa tersenyum melihat kedekatan mereka. Ia memang menyayangi Vanya seperti anaknya sendiri. Sejak Yuanita meninggal, Vanya menjadi sebatang kara. Ayahnya yang berdarah Inggris lebih dulu meninggalkan mereka karena sakit.

__ADS_1


"Ngapain cemburu? Khawatir iya. Raymond kan terkenal playboy. Hati-hati sama dia. Kalau mau cari pacar, jangan cari artis deh." Shua mengunyah perkedel buatan ibunya yang paling ia suka.


"Memang ga mau artis, maunya pengusaha kayak Kak Josh." Vanya tertawa. Nissa melirik ke arah Shua, tapi ia tidak bereaksi apapun.


"Shua susah Vanya. Capek Tante kenalin dia sama cewek."


"Tante ga coba kenalin dia ma cowok?" tanya Vanya.


"Uhuuk..uhukkk.." Shua tersedak saat mendengar itu dan memelototinya. Vanya dan Nissa hanya tertawa. Akhirnya mereka selesai makan malam dan Vanya memutuskan untuk pulang.


"Cepat banget Van pulangnya. Tidak tunggu om pulang dulu? Dia suka tanyain kabar kamu lho." Nissa mengusap kepala Vanya.


"Salam buat om saja Tan. Nanti Vanya main lagi kesini. Malam ini Vanya ada endorse cream malam, kalau bagus nanti Vanya kirim buat Tante. Vanya pamit ya Tan." ucapnya sambil memeluk wanita yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri.


"Hati-hati ya Van nyetirnya, ga usah ngebut." kata Shua. Vanya mengangguk dan memeluknya. Ia masuk ke dalam mobil merahnya dan berlalu dari sana.


"Shua..." Nissa memanggil anaknya.


"Ma, Shua sudah anggap Vanya tu seperti adik, benar-benar seperti adik. Shua tidak pernah berpikiran sedikitpun untuk berpacaran dengannya apalagi sampai menikah. Shua harap mama bisa mengerti. Ok? Shua naik dulu ya, mau mandi." Nissa tidak bisa membantah sedikitpun. Ia memang sangat ingin Vanya menjadi menantunya. Tapi Shua benar-benar tidak menganggap Vanya sebagai seorang wanita. Entah wanita seperti apa yang dicari anaknya. Ia tidak pernah melihat anaknya berpacaran serius. Hanya pernah satu kali ia melihat Shua berjalan dengan seorang wanita di mall, itupun karena ia tidak sengaja melihatnya. Saat Nissa menanyakannya, Shua hanya menjawab itu seorang teman. Hanya itu. Dan hingga kini, Nissa benar-benar tidak pernah sekalipun melihat ataupun mendengar tentang wanita di sekitar Shua. Ia hanya takut apa yang dikatakan Vanya sebagai candaan tadi adalah kenyataan. Ooohh tidak. Jangan sampai itu benar! Joshua adalah anak satu-satunya. Nissa dan William berharap banyak dengannya.


*****


"Sayang, kita di hotel saja ya. Kakakku Vino menginap di sini. Tapi besok siang dia sudah balik ke Jakarta." Becca memeluk Adit yang sedang sibuk dengan ponselnya.


"Baiklah. Besok malam baru kita jalan keluar ya." jawabnya.


"Rico di kamar mana?" tanya Becca.


"Di lantai bawah. Aku kasih tahu dia besok jadwal bebas. Aku bilang ada acara sama teman." jawab Adit.

__ADS_1


"Kamu sibuk apa sih? Dari tadi ga selesai." Becca mengintip ke layar ponsel Adit.


"Ooo..lagi sibuk sama Yuna." Becca mendorong tubuh Adit.


"Cuma kasih kabar saja kok. Jangan ngambek Sayang." Adit meletakkan ponselnya.


"Aku ga ngambek, cuma sedih saja kalau ingat kamu bukan milikku sepenuhnya."


"Aku milik kamu sepenuhnya dua hari ini. Lagian kan memang itu peraturan dari permainan yang kita ciptakan ini." Perkataan Adit benar. Becca tidak berhak untuk marah dan cemburu. Toh ia yang menginginkan semua ini terjadi. Tapi manusia tidak akan pernah puas setelah mendapatkan sesuatu, ia akan terus menuntut lebih dan lebih.


"Apa benar kamu masih mencintai Yuna seperti yang kamu bilang padanya?" tanyanya pada Adit yang mulai sibuk menyentuhnya.


"Aku mencintaimu lebih dari mencintai dia. Jika itu yang ingin kamu dengar." jawaban Adit membangkitkan gairah dalam tubuh Becca dan siap untuk memberikan apa yang membuat Adit tergila-gila padanya.


Ting..tong...Ting..tong...


Becca terbangun. Pukul 10.12. Siapa yang memencet bel? Ia melihat melalui lubang intip pintu. Astagaaa..Kak Vino.


"Sayang, bangun. Kak Vino di depan." Becca memakai pakaiannya dan membangunkan Adit yang masih tertidur tanpa pakaian. Adit masih setengah sadar, namun ia tahu apa yang harus diperbuatnya sekarang. Ia mengambil pakaiannya di lantai dan bersembunyi di kamar mandi. Becca membuka pintu kamarnya setelah memastikan semuanya aman.


"Kak Vino?" Becca pura-pura menguap.


"Kakak mau ke bandara sekarang. Kamu baru bangun?" Vino melihat sekilas ke dalam kamar.


"Belum bangun harusnya kalau kakak ga ganggu. Hati-hati ya kak. Nanti kita ketemu di Jakarta saja." jawabnya.


"Bye, cantik." Sandy tersenyum dan melambaikan tangannya. Vino memeluk adiknya sekilas lalu mereka turun melalui lift. Vino melihat sebuah dasi pria di lantai kamar Becca. Ia tidak mau membahas itu tadi karena ada Sandy di dekatnya. Bagaimanapun juga Vino harus menjaga nama baik adiknya. Tapi mengapa Becca harus membohonginya jika ia sudah punya pacar? Umur Becca sudah cukup matang untuk berhubungan serius dengan seorang pria. Mungkin saat mereka bertemu lagi, ia akan menanyakannya.


"Sudah sayang. Kak Vino sudah ke bandara. Kita bebas." teriak Becca sambil memeluk Adit yang masih di kamar mandi.

__ADS_1


"Kegiatan pertama kita pagi ini. Mandi bareng." Adit memulainya lagi. Senyuman nakalnya yang selalu disukai Becca. Ia tidak pernah menyangka akan mencintai seorang pria hingga menutupi semua akal sehat dan logikanya. Mungkin pada awalnya cinta tidak membuat kita buta. Yang membuatnya buta adalah ketika cinta itu sudah masuk jauh ke dalam hati kita yang gelap.


*****


__ADS_2