
Setelah perjuangan yang cukup berat, mereka sampai di Ranu Kumbolo sekitar pukul 5 sore.
"Pak Dylan, Mba Yuna... di sini." Panggil Juna dan teman-temannya. Mereka sedang duduk-duduk di dekat tenda sambil minum kopi panas.
Yuna mengikuti langkah Dylan. Jujur, Yuna merasa sedikit malu. Malu karena ia telah membuat Dylan ikut terlambat. Malu karena takut digosipkan karena kedekatannya dengan Dylan di sana. Sedikit merasa menyesal karena ikut group yang anggotanya sudah berpengalaman semua. Tapi Dylan membuatnya sedikit merasa nyaman karena selalu membantu Yuna.
"Terima kasih." Dylan menerima segelas kopi dari Siska tapi ia langsung memberikannya pada Yuna.
"Tidak, terima kasih. Aku tidak pernah minum kopi." Yuna menolak dengan sopan.
"Maaf, aku ke sana dulu ya. Maklum baru pertama kali ke sini, pengen foto-foto." Yuna meninggalkan mereka sambil membawa kameranya.
"Om, Mba Yuna kerja apa?" tanya Ryan.
"Dia direktur. Perusahaan konstruksi." Dylan menjawab tanpa melepas pandangannya dari Yuna yang berjalan menjauh.
"Lho, Pak Dylan kenal toh sama Mba Yuna?" tanya Tria sedikit bingung.
"Baru kenal juga di Jakarta." jawab Dylan.
"Om Dylan mah kalau sama cewek cantik kenal semua." Candaan Ryan membuat mereka tertawa.
"Pak Dylan kan ganteng juga kayak aktor Korea." celetuk Tria.
"Ga ditemenin Pak? Daripada dipelototin terus." goda Deni.
"Hahaha...Ya sudah, kalau kalian memaksa. Saya tinggal ya." Dylan meninggalkan mereka yang masih terdengar cekikikannya. Tapi ia tidak peduli karena mereka semua sudah lama kenal.
Dylan tidak langsung mendekati Yuna. Ia berdiri mungkin sepuluh meter di belakangnya. Dylan mengamati Yuna yang sedang asyik mengambil beberapa foto di setiap sudut Ranu Kumbolo. Kebetulan pengunjung tidak terlalu banyak di hari itu sehingga tenda yang didirikan lebih sedikit dari biasa. Dylan melihat Yuna yang menutup matanya. Sepertinya ia sedang menarik nafas dalam. Dan ia...tersenyum indah.
'Cantik sekali.' puji Dylan di dalam hatinya. Yang membuatnya tertarik adalah keanggunan Yuna. Ada aura dalam diri Yuna yang membuatnya ingin mendekatinya. Mungkin Yuna adalah tipe wanita yang disukai Dylan namun tidak mampu dideskripsikan.
Saat mereka bertemu kembali pada saat penandatanganan kontrak kerja di Hotel Carson, sebenarnya Yuna sudah membuatnya tertarik. Tapi hanya secara fisik. Dylan bukanlah pria yang mendekati seorang wanita hanya berdasarkan penampilan luar saja. Untuk kesan pertama ya oke lah, manusiawi jika seseorang suka melihat sesuatu yang indah. Tapi baru satu hari ia 'dekat' dengan Yuna, Dylan tahu Yuna adalah wanita yang layak diperjuangkan. Ia tidak peduli apakah pemberitaan cinta segitiga Yuna, Joshua, dan si artis Vanya benar atau tidak. Jika benar, Dylan akan menunjukkan kepada si Joshua bahwa Yuna bukan wanita yang pantas untuk dijadikan selingkuhan.
Yuna merasakan ketenangan, kesejukan yang luar biasa dalam dirinya tatkala melihat keindahan Ranu Kumbolo. Mungkin ini yang dinamakan kebahagiaan batin. Tetapi di saat seperti ini, jangankan ia bisa melupakan Shua, Yuna malah teringat kembali dengan pria itu. Andaikan Shua ada di sini bersamanya. Yuna tahu apabila Shua dalam keadaan sadar, pria itu tidak mungkin akan membiarkannya pergi. Yuna tahu Shua mencintainya. Begitu juga dirinya. Tapi lagi-lagi, Yuna mengerti jika hubungan mereka tidak bisa dilanjutkan dengan kondisi seperti sekarang. Hanya saja menutupi pintu pikirannya untuk tidak memikirkan Shua sangatlah sulit, bahkan tidak mungkin. Tentu saja tidak akan bisa karena ia bukanlah amnesia. Mungkin waktu yang akan membantu. Ya, hanyalah waktu.
Yuna menaikkan resleting jaketnya hingga ke leher. Ia tidak menyangka udara akan menjadi lebih dingin seiring tenggelamnya matahari. Harusnya ia membawa topi kupluk, pikirnya saat memegang daun telinganya yang terasa dingin.
__ADS_1
"Aku tidak membawa kupluk jadi tidak bisa meminjamkannya padamu." Suara Dylan membuyarkan lamunan Yuna. Ia ikut duduk di atas pasir di sebelah Yuna.
"Aku tidak..." Yuna tidak melanjutkan kalimatnya dan berhenti menggosok daun telinganya.
"Haha..Anggap saja aku temanmu, jangan sungkan padaku. Bagaimana fotonya? Banyak dapat yang bagus?"
"Aku rasa semua sudutnya bagus. Tempat terindah yang pernah aku datangi. Jauh melebihi ekspektasi saat aku melihat ini di internet." Dylan bisa melihat kejujuran yang tulus di mata Yuna saat ia mengatakan itu.
"Mudah-mudahan malam ini langit cukup cerah dan kamu bisa melihat keindahan lainnya."
"Milky way maksudmu?"
"He eh... Kok tahu?"
"Internet lah. Aku tipe orang yang suka mencari tahu sebelum melakukan sesuatu."
"Tapi kok cuma bawa ransel tanpa sleeping bag?" ejek Dylan.
"Karena aku cuma browsing destinasi, bukan peralatan." ketus Yuna. Lalu ia mendadak tersenyum dengan Dylan.
"Terima kasih Dylan atas bantuanmu. Kalau bukan kamu, aku tidak tahu siapa yang bisa aku repotkan hahaha..."
Malam semakin larut. Gugusan bintang mulai muncul di atas langit yang cerah. Semua pendaki keluar dari tenda dan menikmati langit yang tampak seperti di negeri dongeng. Mereka mengeluarkan alas tidur dan berbaring di bawah lautan bintang. Begitu juga dengan Yuna. Sepuluh menit ia menatap langit, lalu air matanya mengalir begitu saja tanpa alasan. Mungkin ia terharu dan bersyukur bahwa ia bisa mendapat kesempatan yang luar biasa untuk menikmati semua ini. Kesepian. Yuna merasakan kesepian yang amat sangat sekarang. Ia merasa sangat kecil dan sendirian di bawah langit yang terbentang luas.
'Jangan menangis, Yuna! Air mata itu tidak pantas mengalir di wajah cantikmu.' Dylan tidak memandang ke atas melihat lautan bintang yang indah, ia malah memilih menoleh ke kanan memandangi ciptaan Tuhan yang jauh lebih menakjubkan.
*****
"Maaf ya Dylan. Aku akan menebusnya nanti." Yuna mengambil kartu identitas yang dititipkan di Ranu Pani.
"It's OK. Benar-benar bukan masalah untukku. Kesehatanmu lebih penting." Dylan membantu Yuna memasukkan ranselnya ke mobil.
"Mbah, titip pesan sama Arjuna, nanti saya kirim mobil satu besok pagi ya. Pastikan dia meneleponku setelah sampai sini. Saya jalan dulu ya Mbah, terima kasih."
"Monggo Mas Dylan."
Yuna hanya terdiam sepanjang jalan. Ia malu dengan dirinya, apalagi dengan Dylan dan rombongannya. Juna dan kawan-kawannya belum tahu jika mereka berdua kembali ke basecamp setelah tiga puluh menit meninggalkan Ranu Kumbolo. Mengapa? Karena dirinya hilang keseimbangan, alias oleng, alias hampir pingsan. Walaupun dulu di Jakarta dirinya rajin berolah raga, tapi ternyata tidak tidur nyenyak selama dua malam sangat mempengaruhinya.
__ADS_1
"Masih pusing?" tanya Dylan sambil menyetir.
"Lebih ke mual." Yuna menjawab pelan.
"Antar aku ke stasiun saja Dylan. Hotelku jauh."
"Di mana?"
"Pasuruan."
"Aku antar saja, tidak jauh kok. Kamu tidur saja."
"Tapi..."
"Sudah, menurut saja. Aku tidak mungkin membiarkanmu naik kereta dengan kondisi sekarang."
'Biarlah aku berhutang lagi dengannya. Aku memang tidak sanggup naik kereta sekarang. Yuna...Yuna...Sok kuat sih mau mendaki Semeru.'
Yuna terbangun karena terkejut dengan suara petir yang menggelegar keras.
"Terbangun ya? Kita sudah masuk Pasuruan, hotelmu di mana?" Dylan sebenarnya sudah memutari Pasuruan lima belas menitan tapi ia tidak tega membangunkan Yuna.
"Hotel Lembah Hijau. Kurang hapal juga jalannya. Sebentar aku buka maps ya."
Ternyata hotel yang dimaksud masih tiga puluh menit lagi. Hujan deras pun mulai mengguyur kota Pasuruan. Walaupun waktu menunjukkan pukul 17.15, namun langit sudah sangat gelap.
"Kita makan dulu yuk." ajak Dylan.
"Ok. Biar aku yang traktir ya. Jangan tolak!" Dylan hanya tersenyum tanpa debat. Yang penting ia bisa melakukan sesuatu lagi dengan Yuna. Dylan ingin mengukir sebanyak mungkin kegiatan indah dengannya.
*****
Keindahan Milky Way di Ranu Kumbolo
Author kasih visual Dylan Richardson ya...Hope you like it!
__ADS_1