MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 74


__ADS_3

Shua sangat terkejut melihat foto di atas pesan tadi. Sebuah kunci dan sebuah brosur Central Peak Residence type Diamond Cluster. Apa-apaan ini? Pria itu memberi istrinya rumah untuk hadiah pernikahan? Dan entah bagaimana, mata Shua mulai melirik ke pesan Dylan dan Yuna sebelum gambar itu dikirim.


'Terima kasih. Tapi benar-benar tidak perlu. Anyway, aku hanya bahagia jika kamu bahagia. Masa tungguku satu tahun, jika kamu tidak bahagia dengannya kamu boleh mencariku.'


Brengsek!! Pria brengsek!! Apa maksudnya ia mau menunggu istriku? Berharap aku mati huh?


Klekk...Yuna keluar dari kamar mandi sambil mengelap rambutnya yang basah. Mata Yuna menangkap mata Shua yang terkejut melihatnya.


"Kenapa Sayang? Kok terkejut begitu?"


"Dylan mengirimu pesan."


"Oh. Buka saja. Aku tidak akan merahasiakan apapun darimu. Di antara kita tidak ada rahasia, ok? Aku harap kamu juga melakukan hal yang sama." Yuna duduk di sebelah Shua yang hanya menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Apa yang dia katakan?" Yuna bertanya sambil mengambil ponselnya dari tangan Shua yang tidak menjawab apa-apa.


"Astagaaa....Aku kan sudah bilang mau membelinya, kok dia malah kasih?"


"Bilang saja kamu tidak bisa menerimanya. Suamimu masih mampu membelikanmu rumah, bahkan yang lebih mewah dari itu." Nada kesal yang keluar dari mulut Shua tidak bisa ditutupi. Yuna tertawa melihatnya.


"Aku juga pasti akan menolaknya, Sayang. Tidak perlu nyolot begitu dong. Kamu cemburu?" Shua menatap tajam mata Yuna.


"Iya benar, kamu cemburu hahaha..." Yuna tertawa dan mengalungkan tangannya melingkar di leher pria itu.


"Dengarkan aku! Aku senang kamu cemburu, itu membuatku yakin kamu benar-benar menginginkan aku. Tapi jangan pernah sekalipun curiga kepadaku. Cemburu dan curiga itu bukan hal yang sama."

__ADS_1


"Baiklah Nyonya Joshua. Aku...sebenarnya aku tahu Dylan menyukaimu. Itu sebabnya aku tidak suka kamu terlalu dekat dengannya." Yuna terlihat sedikit terkejut karena Shua mengetahui hal itu.


"Maaf. Tapi aku sudah menegaskan hal itu padanya. Lagipula kami ada pekerjaan bisnis yang sedang dikerjakan. Dan kamu akan selalu ada di sekitarku. Juga ada Jovan nanti. Mana bisa aku berkeliaran dengan pria lain?"


"Oh iya, mama sudah dapat baby sitter untuk membantunya mengurus Jovan."


"Aku merasa tidak enak sama mama. Apa aku harus berhenti bekerja?" tanya Yuna.


"Aku tidak bisa memutuskan apapun. Itu terserah kamu, Sayang. Hanya saja jangan terbebani dengan adanya Jovan. Walaupun jika kita tidak mengadopsinya, mama tetap akan mengasuhnya." ucap Shua. Yuna bingung. Sebenarnya ia ingin tetap tinggal di rumahnya, bukan serumah dengan mertua. Tapi ia tidak bisa karena Nissa yang akan membantunya mengasuh Jovan pada saat ia bekerja.


"Tadi Adit datang sendirian?" tanya Shua sambil menarik Yuna ke pelukannya.


"Istrinya datang tapi ia hanya di kamar. Aku tebak sih dia takut bertemu orang tuaku."


"Kok belum berpakaian sih Sayang?" Yuna menepuk dada telanjang Shua.


Tapi bukannya wajah cantik Yuna yang muncul dalam mimpinya, ia malah bermimpi tentang sosok pria lain yang menggendong Jovan. Melihat adegan itu, Yuna yang tadinya menggandeng tangannya kini berlari ke arah pria itu. Mereka bertiga terlihat bahagia. Dan akhirnya mereka pergi meninggalkan Shua yang tidak bisa menggerakkan kakinya. Sialnya, pria itu akhirnya menoleh dan Shua bisa melihat wajahnya. Si pria sombong, Dylan. Shua terbangun dengan sedikit rasa berat di kepalanya akibat mimpi buruknya. Sinar matahari sudah mengintip di balik celah-celah jendela. Yuna masih tertidur mengenakan piyama kesayangan yang dibawanya.


Shua turun perlahan dari tempat tidur dan memutuskan untuk berenang saja. Sambil turun ke lantai 5, ia menelepon Mario untuk menemaninya berenang. Tapi Mario tidak menjawab panggilannya, mungkin masih tidur karena saat itu baru jam enam pagi. Suasana kolam renang pagi itu tidak terlalu ramai karena hari Senin. Keluarga Shua dan Yuna akan berkumpul bersama untuk sarapan nanti jam delapan. Shua memutuskan hanya akan berenang satu jam saja. Setelah lima belas menit berenang, ia naik dan duduk sambil mengecek ponselnya. Tidak ada balasan dari Mario.


"Wah pengantin baru sudah bangun nih. Sendirian saja?" Dylan menyapanya. Shua yang sedikit lupa tentang mimpinya semalam, mendadak mengingatnya kembali. Ia melihat Dylan mengenakan celana renang pendek tanpa kaos yang memperlihatkan tubuh kekarnya.


"Ya. Kebetulan sekali kamu di sini. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."


"Oh ya? Tentang apa?" Dylan duduk di kursi yang menghadap Shua.

__ADS_1


"Pertama soal hadiah pernikahan darimu. Aku dan Yuna sudah memutuskan tidak akan menerimanya."


"Kenapa? Aku sudah mengurus sertifikatnya di notaris. Jangan salah paham Joshua, aku tidak bermaksud apa-apa. Saat itu aku dan Yuna ngobrol tentang rumah itu, dan sepertinya ia sangat menyukainya. Makanya aku memberikan itu pada kalian sebagai hadiah. Hanya itu."


"Aku yang akan membelikannya untuk istriku jika ia menyukainya. Jika kamu sudah mengurusnya ke notaris, tidak apa-apa. Aku akan membayarnya."


"Tapi..."


"Maaf, tapi itu sudah keputusan kami. Jika kamu ingin memberikan hadiah yang lain silahkan, tapi tolong jangan terlalu mewah. Itu akan membuatku berpikiran lain." ucap Shua sambil tertawa. Tidak ada yang lucu tapi ia tidak mau dianggap terlalu sombong.


"Baiklah kalau begitu, aku tidak akan memaksa lagi. Kalau begitu aku mau berenang dulu, permisi." ucap Dylan sambil tersenyum.


"Tunggu Dylan, ada satu hal lagi." Shua berdiri dari duduknya agar sejajar dengan Dylan.


Dylan berbalik badan, "Ya?" tanyanya.


"Apa maksudmu kamu akan menunggu istriku satu tahun lagi jika ia tidak bahagia?" tanya Shua. Kalimat itu sangat mengganggunya semalaman. Dylan tampak berpikir sebentar seola-olah lupa dengan apa yang pernah dikatakannya pada Yuna.


"Oh itu. Aku berbicara begitu karena aku tidak ingin Yuna khawatir dengan kehidupan setelah ia menikah. Kamu tahu kan Yuna pernah gagal dalam pernikahan, sedikit banyak ia pasti akan merasa takut."


"Terima kasih atas perhatiannya, tapi aku yakin aku bisa menjaga istriku. Bagaimana kamu bisa mengucapkan hal-hal seolah kamu menunggu kami bercerai?"


"Lho, bukannya itu juga yang kamu lakukan dulu? Berharap ia dan Adit bercerai kan?" Dylan tersenyum sinis.


"Brengsek kamu. Stay away from her!!" Shua mendorong tubuh Dylan hingga pria itu terhuyung-huyung.

__ADS_1


"Hahaha...Santai bro, aku tidak pernah mendekatinya secara sengaja. Semesta yang mendekatkan kami dan kamu tidak bisa menyangkalnya." Dylan melepas sandalnya dan menyebur ke dalam air kolam. Shua masih menahan amarahnya. Ia menarik handuk yang dibawanya dan naik ke kamarnya.


*****


__ADS_2