
Yuna bangun jam 7 pagi dan bergegas ke tempat sarapan di hotel ia menginap. Rasa lapar sudah ia tahan dari semalam karena sedang malas makan. Ia mengambil teh manis hangat dengan bubur ayam untuk menghangatkan perutnya. Yuna sedang mengirim pesan kepada driver yang akan mengantarnya ke Gianyar saat seseorang meletakkan sebuah piring berisi sosis dan omelet di depannya.
"Maaf aku tidak memesannya..." ucapnya pada seseorang yang menaruh piring itu. Dan ia lebih terkejut lagi saat melihat siapa yang duduk di depannya.
"Dylan!!! What are you doing here?" Ekspresi terkejutnya sangat lucu bagi Dylan.
"Aku sudah bilang balas pesanku jika tidak ingin aku datang menghampirimu."
"But how???"
"Berhentilah memakai bahasa inggris denganku hahaha..."
"Aku hanya terkejut saja. Tapi bagaimana kamu bisa di sini? Aku kira kamu sudah di Jakarta."
"Lanjutkan saja makanmu, sepertinya kamu lapar. Aku tidak ke Jakarta karena kantorku di sini Yuna. Aku rasa aku pernah memberitahumu dulu." Dylan menggigit sosisnya. Yuna mengernyitkan keningnya sambil berpikir.
"Mungkin aku lupa." katanya singkat sambil menyendokkan buburnya.
"Jadi bagaimana kamu tahu aku di sini?" tanyanya lagi.
"Sopirku mengikutimu sejak turun dari bus."
"Kamu menyuruh orang membuntutiku?"
"Bukan membuntuti. Hanya ingin memastikan kamu selamat sampai hotel. Siapa suruh kamu tidak membalas pesanku seharian."
"Maaf...aku hanya sedang kacau." Kenyataan tentang Shua dan mabuk daratnya membuat Yuna tidak memegang ponselnya seharian. Dan saat ia membaca pesan dari Dylan, Yuna malah ketiduran.
"Mengapa kamu tidak telepon saja?" tanya Yuna bingung.
"I did. Tapi kamu tidak menjawabnya. Dan setelah kamu sampai di Bali, aku memutuskan untuk menemuimu langsung. And here I am." jelas Dylan.
"Ok, bagus kamu di sini." Kata-kata Yuna membuatnya bingung karena tadinya ia takut Yuna akan marah.
"Habiskan makananmu Dylan. Tolong antar aku ke Gianyar. Mobil yang aku pesan tidak bisa datang tepat waktu dan aku membatalkannya karena ada kamu di sini."
"Gianyar?" tanya Dylan bingung namun dengan cepat ia menghabiskan potongan sosis terakhirnya.
Sesampainya di Rumah Luwih, Yuna menurunkan ranselnya dari mobil Dylan dan berpamitan dengannya.
"Aku harus masuk." katanya.
"Tujuh hari kamu akan berada di sini. Berarti Selasa depan kamu pulang." kata Dylan.
"Rabu." Yuna meralatnya.
"Aku akan menjemputmu."
"Tidak perlu Dylan. Aku...akan pulang ke Jakarta." Dylan terlihat terkejut dengan kabar itu.
"Please..Setidaknya berikan aku waktu untuk mengajakmu keliling di sini, di kotaku. Jumat ya kamu pulang ke Jakarta."
"Aku..tidak bisa. Maaf."
"Kamis. Pulanglah hari Kamis. Aku mohon." Dylan memelas.
"Ok, baiklah. Hari Kamis aku baru pulang. Puas?" Yuna tertawa dan Dylan pun mengangguk senang.
Satu minggu Dylan tidak akan bertemu dengan Yuna. Ia harus mulai membiasakan diri untuk itu jika tidak ingin lebih sakit lagi nantinya.
__ADS_1
Yuna akan mengikuti kelas meditasi di Rumah Luwih. Ia membutuhkannya untuk mulai menenangkan pikiran dan kesehatan jiwanya agar bisa mengambil keputusan yang tepat di hidupnya. Selama satu minggu juga ia akan melepas semua yang berhubungan dengan dunia luar.
Hari demi hari Yuna lalui dengan damai di sana. Ia mulai bisa berpikir jernih. Melepaskan semua rasa bersalahnya pada Shua. Ia juga sudah yakin dengan keputusan yang akan ia ambil. Yuna akan mencobanya walaupun ia belum tahu akhir yang akan didapatkannya.Tapi ini semua bukan hanya tentang Shua. Yuna juga akan kembali ke pekerjaannya demi keseimbangan dalam hidup. Keluarga, teman, dan kehidupan cintanya semua harus seimbang. Setidaknya itu yang didapatnya saat bermeditasi dalam seminggu.
"Hai cantik." Sapa Dylan. Yuna melihat pria itu mengenakan setelan jas hitam lengkap dengan dasinya, sangat berbeda dengan Dylan yang berpetualang dengannya.
"Well..well...Lihat siapa yang datang. Man in black? Hahaha..." Yuna tertawa. Ranselnya langsung diambil alih oleh pria yang disinggungnya.
"Jangan tertawa seperti itu, nanti aku bisa tambah jatuh cinta padamu. Aku langsung dari kantor tadi, tidak sempat pulang."
"Apa aku merepotkanmu?" Yuna masuk ke dalam mobil sedan hitam itu.
"Tentu saja tidak. Tadinya aku mau cuti demi dirimu, tapi ternyata ada meeting yang tidak bisa aku tinggalkan." jawabnya.
"Bagaimana meditasimu? Apakah aku jawaban dari doamu?" Dylan tertawa.
"Hahaha...Kamu tidak berubah. Selalu lucu. Padahal dulu aku dengan Cathy mengira kamu adalah duda yang dingin."
"Hah? Duda? Setua itukah aku?"
"Ya...kami mengira kamu pasti sudah menikah, tapi kami tidak menemukan fotomu dengan seorang wanita satupun."
"Stalking me?"
"Cathy, not me." Yuna mengelak.
Dylan mengajak Yuna berwisata kuliner dan mengunjungi beberapa kuil tua.
"Ada tempat yang ingin kau kunjungi Yuna?" tanyanya.
"Belum terpikirkan. Aku belum pernah mengunjungi kuil tadi, sejarahnya sangat mengagumkan. Bukannya sombong, tapi rata-rata tempat wisata di Bali sudah aku kunjungi."
"Tentu saja. Ayo kita ke rumahmu!" Yuna bersemangat.
Setelah perjalanan selama dua puluh menit, mereka sampai di suatu rumah besar yang asri. Taman dan pepohonan yang terawat indah memenuhi rumah itu. Bahkan mereka harus melewati jalan setapak yang membelah sebuah kolam ikan koi sebelum masuk ke rumah itu.
"Wahh...Rumahmu indah sekali Dylan." puji Yuna.
"Rumah lama." jawabnya.
"Dulu kedua orang tuaku sangat suka mendekor halaman rumah, kata mama biar kita tidak kaget saat melihat surga. Maksudnya mungkin surga itu juga seindah halaman kami." Dylan membuka pintu rumahnya. Memang tipe rumah lama, namun sangat besar. Sepertinya Dylan tidak banyak mengubah interiornya.
"Duduk, Yun. Aku akan mengganti pakaianku sebentar." Dylan meninggalkan Yuna sambil memanggil seseorang yang dipanggilnya "Mbok" dan memintanya untuk membawakan Yuna teh.
Yuna berdiri sambil melihat-lihat foto-foto dengan bingkai model ukiran kayu yang tergantung di dinding. Tidak ada foto saat Dylan dewasa. Semuanya foto di saat ia kecil, mungkin saat SD. Foto bahagia saat ia masih bersama kedua orang tuanya.
"Silahkan diminum, Non." Yuna membalikkan tubuhnya dan dilihatnya seorang wanita tua yang sudah beruban.
"Terima kasih, Mbok."
"Non cantik sekali."
"Namaku Yuna Mbok, panggil saja Yuna." Wanita tua itu tersenyum ramah melihat Yuna hingga ia menjadi salah tingkah.
"Maaf Mbok. Apa ada yang salah denganku?" tanya Yuna.
"Tidak. Tidak ada, Non. Hanya saja sudah sangat lama sekali Dylan tidak membawa seorang wanita ke rumah. Apalagi yang secantik Non."
"Ahh..Mbok bisa saja." Yuna yakin wajahnya bersemu merah sekarang.
__ADS_1
"Mbok, kenapa tidak ada foto Dylan remaja?" tanyanya.
"Dylan tidak suka difoto semenjak kematian kedua orang tuanya. Itu foto terakhir mereka." Si Mbok menunjukkan sebuah foto ulang tahun Dylan yang ke sebelas tahun. Fotonya dengan kedua orang tuanya bersama kue tart bergambar spiderman di tengahnya.
"Ooohh..." Yuna tidak sanggup berkomentar apa-apa. Ia tidak menyangka Dylan telah yatim piatu di usia sekecil itu.
"Mbok cerita apa sama Yuna?" Dylan memeluk pundak wanita yang hanya setinggi bahu pria itu. Sepertinya mereka sangat akrab.
"Cuma bilang Non Yuna cantik banget." jawabnya.
"Iya, saking cantiknya, Dylan belum berhasil mendapatkannya Mbok hahaha..." Yuna memukul perut Dylan pelan sambil memelototinya sedangkan pria itu hanya tertawa.
"Yuk, aku ajak keliling. Di belakang banyak pohon buah."
"Mbok Niluh yang mengasuhku sejak kecil, apalagi semenjak orang tuaku tidak ada." jelasnya sambil berjalan ke halaman belakang. Dylan sudah mengganti pakaiannya dengan kaos putih dengan logo centang hitam di kiri atasnya dipadu dengan celana jeans panjang dan sneakers abu.
"Dia sendirian yang menjagamu?" Yuna mengikuti jalannya berdampingan.
"Ada Agus. Dia hanya setahun lebih tua dariku. Keponakan Mbok Niluh. Agus yang menjaga rumah dan taman ini tetap indah. Masih ada Om Theo. Dia adik papa. Om Theo yang mengurus perusahaan dan mengajariku semuanyaa. Lima tahun lalu ia juga sudah meninggalkanku."
"Owww...So sorry." Yuna mengelus lengan pria itu.
"It's ok. Hanya saja duniaku terasa sepi. Kerja dan kerja. Hingga aku bertemu denganmu, hidupku menjadi lebih..hidup." ucap Dylan sambil menatap Yuna hingga wanita itu salah tingkah.
"Itu...itu ada mangga Dylan. Waaah...besar sekali." Yuna berjalan lebih cepat menuju ke sebuah pohon mangga. Dylan hanya tertawa lucu melihat wanita itu.
"Kamu mau? Aku akan memanggil Agus untuk memetiknya untukmu."
"Tidak. Aku hanya suka melihatnya sebesar itu bergantung di pohon. Waaahh...rumahmu bisa dijadikan tempat untuk agrowisata Dylan. Mangga, belimbing, sawo, rambutan, dan gilanya kamu punya pohon durian."
"Durian itu berbuah tiga tahun sekali. Terlalu lama. Tapi rasanya luar biasa enak. Aku akan mengajakmu ke sini jika berbuah. Mungkin tahun depan."
"Akan kuusahakan untuk datang jika aku bisa." ucap Yuna sambil mendongakkan kepalanya menatap durian kecil yang berada tinggi di atasnya.
"Jam berapa tiketmu besok?"
"Sepuluh pagi. Kamu mau mengantarku?"
"Ya. Tentu saja. Aku bahkan akan sarapan bersamamu besok." Dylan tentu saja akan memanfaatkan jam-jam terakhirnya dengan Yuna. Walaupun Yuna tidak memberitahunya apapun, tapi Dylan bisa melihat dari binar matanya bahwa ia sudah memantapkan apa yang menjadi pilihannya. Dan pilihannya bukan Dylan.
*****
'Adit, besok aku akan masuk kerja.'
Sebuah pesan masuk dari Yuna saat Adit sedang membereskan tas kerjanya. Dengan cepat Adit menekan tombol panggilan di atas pesan itu.
"Yunaaaa!! Hampir sebulan kamu hilang. Kemana saja?" Kalimat pembuka saat panggilan itu terjawab.
"Baru juga sebulan, Dit. Tadinya aku malas menjawab teleponmu."
"Kamu di rumah sekarang?" Adit dengan cepat menyambar jasnya dan bergegas keluar kantor.
"Iya. Jangan coba-coba ke rumah. Aku mau istirahat. Bik Sum tidak akan membukakan pintu untukmu." Kalimat tegas dari Yuna barusan membuat Adit kehilangan semangatnya.
"Sampai jumpa besok di kantor." Yuna menutupnya.
Adit menarik nafas panjang. Setidaknya Yuna sudah kembali dan membuat hari-harinya menjadi tenang sekarang. Apalagi saat Joshua meneleponnya, Adit serasa ingin mengamuk padanya. Jika bukan karena kondisi Joshua yang memprihatinkan menurutnya, Adit sudah pasti akan memukulnya. Bagaimana bisa Joshua yang selalu membela Yuna di depannya, mengatakan betapa ia mencintai Yuna, bisa melepasnya begitu saja.
*****
__ADS_1