MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 42


__ADS_3

Yuna terbangun dengan kepala yang masih cukup berat. Entah sudah keberapa kali ia tidur dan terbangun lagi. Yuna melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 13.40. Waktu berjalan sangat cepat di saat ia sakit dan hanya bisa tertidur. Yuna mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Oh tentu saja dirinya sedang sangat tidak sehat, ia merasakan sakit yang luar biasa di kepala dan tenggorokannya. Mendadak ia teringat Joshua. Ia merasakan kehadiran kekasihnya sebelum ia tertidur. Atau itu hanya mimpi? Entahlah, Yuna tidak bisa mengingatnya. Ia mengambil botol air minum di meja sebelahnya, menahan rasa sakit saat ia meneguknya pelan. Perutnya terasa lapar namun ia tidak yakin apakah ia bisa menelan makanan.


'Sebaiknya aku mencoba makan agar cepat sembuh.' pikirnya.


Yuna menelepon ke ponsel Bik Sum karena ia tidak sanggup turun ataupun berteriak. Tidak berapa lama Bik Sum membawa semangkuk bubur ke kamar Yuna.


"Cepat sekali Bik. Sudah masak dari tadi ya?" tanyanya pelan.


"Iya Bu. Tadi Den Shua sudah pesan ke Bik Sum suruh masak bubur buat Ibu." Ia meletakkan mangkuk bergambar ayam itu di meja sebelah Yuna.


"Shua? Dia tadi ke sini?" Yuna antara terkejut dan sudah menduganya, hanya saja ia tidak terlalu yakin.


"Iya Bu. Ibu tidak tahu? Tadi dia ke kamar sini. Terus pergi, katanya ada urusan dan Ibu lagi tidur. Den Shua tadi bilang mau balik ke sini lagi sih Bu." jelasnya.


"Ooo..Makasih ya Bik."


Yuna melihat isi mangkuk yang dipegangnya tanpa nafsu makan sedikitpun. Bubur ayam buatan Bik Sum biasanya adalah kesukaan Yuna, tapi hari ini ia hanya menelannya dua sendok saja. Yuna mengambil ponsel yang tadi ia matikan untuk sementara. Mendadak notifikasi sebelas panggilan tidak terjawab dari Cathy, delapan belas dari Adit, dan banyak pesan yang masuk untuknya. Ia membuka kotak pesan yang rata-rata menanyakan keadaan dan keberadaannya. Ada satu pesan dari Adit yang menarik perhatiannya.


'Sudah kubilang kalau Joshua itu playboy kan. Dia pria brengsek!'


"Apa-apaan sih dia? Mengumpat sembarangan! Jika kita tidak kerja dalam satu kantor, pasti sudah aku blokir nomornya!" Yuna sangat kesal dengan pesan yang dibacanya dari Adit. Tidak berapa lama, Cathy meneleponnya.


"Halo Yun, sudah enakan?" tanyanya.


"Belum Cat, tambah parah. Aku mau panggil dokter ke rumah saja. Kantor aman?"


"Aman. Sepertinya kamu belum dengar berita ya?"

__ADS_1


"Tentang apa?" tanya Yuna pelan sambil membenarkan posisi duduknya.


"Ini sih sudah pasti gosip ya. Kamu tidak boleh emosi."


"Apaan sih?" Permainan kata-kata Cathy membuat Yuna penasaran.


"Aku kirim link ya, kamu baca."


Cathy memutuskan panggilannya dan sebuah pesan masuk ke ponsel Yuna. Ia membuka link yang dikirim Cathy.


'Pria J yang dikabarkan ayah dari bayi artis terkenal VA adalah Joshua Austin William. Seorang pengusaha sukses dan pemilik mall terbesar di Surabaya itu kepergok sedang bersama VA saat mereka sedang memeriksa kandungan VA di Klinik Graha Medika, sebuah klinik yang jauh dari pusat kota agar tidak tercium oleh wartawan. Joshua pernah dikabarkan dekat dengan VA dulu, namun mereka pernah menyangkalnya. Menurut salah satu sumber yang dapat dipercaya, ternyata Joshua dan VA telah menikah secara diam-diam.....'


Yuna mendadak lupa caranya bernapas. Ia memandang foto Joshua yang merangkul Vanya di sebuah parkiran mobil. Matanya masih tertuju ke artikel itu namun pikirannya entah melayang ke mana.


'Tenang Yuna, ini hanya gosip.' Ia menarik napas panjang dan menenangkan dirinya. Yuna menekan tombol panggilan ke ponsel Shua.


"Sebentar ya Sayang, aku sedang naik ke atas." jawab Shua sebelum menutup teleponnya.


Dan kemudian pria tampan itu muncul. Rambutnya yang biasa tertata rapi jika ia sedang memakai kemeja kerjanya, kini cukup berantakan. Yuna tahu ada sesuatu yang terjadi. Tanpa berkata apapun, Shua mendekati Yuna dan memeluknya erat. Yuna hanya bisa mengelus punggungnya pelan dan berkata pelan, "Tidak apa-apa Sayang. Semuanya akan baik-baik saja."


"Kamu tahu apa yang terjadi?" Shua melepaskan pelukannya.


"Sedikit. Tapi aku hanya ingin mendengarnya darimu." Yuna berkata dengan suara serak.


"Tunggu. Apa kamu sudah minum obat? Kurasa kamu membutuhkan dokter, Sayang." Shua memandang wajah pucat Yuna. Ia tidak tega jika harus menceritakan sesuatu yang akan menambah pikiran wanita itu.


"Aku sudah meminta Dokter Clara untuk datang. Dia teman mama. Tapi sekitar jam tiga."

__ADS_1


"Ceritalah.." Yuna menunggu Shua memulai ceritanya sambil membuka dasi biru yang sudah berantakan bentuknya.


Shua membuka kaos kakinya saat memulai ceritanya. Ia mengawali ceritanya dari bagaimana Vanya bisa tinggal di rumahnya hingga kejadian di rumah sakit.


"Maaf Yuna, aku yang mengacaukan semuanya. Andai saja aku tidak bilang aku suaminya Vanya, pasti tidak akan kacau seperti ini jadinya. Saat itu, aku hanya berpikir alasan yang tepat supaya petugas itu mau kasih tau keberadaan Vanya."


"Aku mengerti apa yang kamu pikirkan saat itu. Keadaan yang salah. Dan wartawan itu hanya pencari berita untuk menyambung hidup mereka. Sudahlah, gosip itu akan mereda sebentar lagi. Uhuuukk..uhukk.."


"Oh iya, aku ada bawain minuman pereda panas dalam, diminum dulu." Shua membuka tutup botol dan memasukkan sebuah sedotan ke dalamnya.


"Kok buburnya masih banyak?"


"Tidak nafsu makan, Sayang. Lagian aku susah telan."


"Ya sudah, nanti dokter pasti kasih penghilang sakit dan antibiotik. Kamu harus makan ya kalau sakitnya berkurang." Yuna mengangguk.


"Jadi di mana Vanya sekarang?" tanya Yuna.


"Di rumah mama. Dia sudah agak tenang. Tapi entahlah. Dia bilang mau mengadakan jumpa pers untuk mengklarifikasi masalah ini. Tapi menurutku, dia harus membicarakan hal ini dengan Jack. Jangan mendadak dia menyebut nama Jack saat jumpa pers, bisa-bisa dia dituntut pencemaran nama baik." Shua menarik Yuna untuk berbaring di dada Shua. Ia memijat pelan kening Yuna. Yuna tersenyum melihat kelakuan Shua yang masih bisa memperhatikan dirinya di saat seperti itu.


"Sayang, maaf ya. Harusnya kita sedang bahagia mempersiapkan pernikahan kita." Yuna memang menyesali keadaan ini, tapi ia harus berbesar hati dan mencoba memposisikan dirinya sebagai Vanya. Gadis yang malang itu.


"Berhentilah meminta maaf. Aku tahu apapun jalannya, tujuan kamu adalah aku. Bukannya aku terlalu percaya diri, tapi aku sudah mencapai tahap mempercayai ketulusan kamu. Jadi kita jalani sama-sama ya. Jangan menyerah." kata Yuna sambil memejamkan matanya sebentar. Rasa nyaman yang diberikan karena pijatan Shua di keningnya membuat ia ingin tertidur lagi. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu menyentuh bibirnya yang kering. Ternyata Shua mengecupnya pelan dan dalam. Yuna tidak bisa terlalu menikmatinya karena ia sadar belum mandi dan menyikat giginya.


"Aku belum sikat gigi, Sayang." ucapnya malu.


"Hahaha...Pantesan ga dibalas. Terima kasih ya. Aku tidak akan menyerah untuk kita. Aku harap kamu juga begitu. Tidurlah, aku akan menunggu doktermu datang." Yuna mengangguk patuh. Ia tertidur di pelukan Shua yang masih setia memijat keningnya.

__ADS_1


Shua memandangi wajah Yuna yang pulas dari dekat. Wajah pucat dengan bibirnya yang kering membuat Shua sedikit merasakan sakit di ulu hatinya. Sebegitu cintanya ia pada Yuna jauh lebih dalam dibanding saat SMA dulu. Ia tidak akan sanggup jika kehilangan Yuna. Tidak, tidak ada alasan ia akan kehilangan Yuna. Mereka akan bersama apapun caranya.


*****


__ADS_2