MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 33


__ADS_3

"Apa-apaan kamu tadi gendong Yuna? Tidak malu dilihat orang lain?" Becca mengomel sambil membuka anting dan kalungnya.


"Siapa saja aku gendong kok kalau situasinya seperti tadi. Kebetulan saja itu Yuna dan aku sedang lewat. Berhentilah membahas ini sayang. Sudah cukup tadi dari tadi kamu cemberut di jalan." kata Adit sambil melepas dasi birunya.


"Kamu tahu seberapa sulit aku menahan omelan itu? Aku tahan karena ada mama sama papa kamu. Gila ya, sudah tahu aku paling tidak suka kamu dekat dengan dia. Eh, kamu malah gendong dia." Becca tidak bisa menahan emosinya. Adit hanya bisa diam mendengarnya. Ia memang tidak memikirkan apa reaksi istrinya itu saat menolong Yuna tadi.


'Adit, Yuna mabuk berat di dekat kolam renang. Coba kamu ke sana. Dari tadi dia sebut-sebut nama kamu. Katanya dia cemburu lihat kamu dengan Becca, dia kesepian. Yuna juga bilang dia ingin ditemani olehmu.' ucap Devi saat menghampirinya tadi.


Adit sedikit kaget dengan apa yang wanita itu katakan. Jantungnya berdegup sangat kencang. Ternyata Yuna masih mencintainya, ia sudah menebaknya. Pasti Joshua hanya menjadi pelariannya.


"Kamu dengar aku ga sih?" Suara Becca menyadarkannya dari lamunan.


"Iya. Iya. Kamu tidak lihat Grace dulu sebelum tidur?" tanya Adit. Anak mereka di kamar sebelah dengan baby sitter nya.


"Besok saja. Aku capek." ujarnya sambil tidur membelakangi suaminya.


Adit menarik napas panjang. Ia tidak bisa marah dengan ibu dari anaknya itu. Ia mengerti alasan Becca merasa kesal dan cemburu.


'Yuna, kamu terus mengingkari perasaanmu padaku. Tapi ternyata di bawah sadarmu, aku tahu kamu menginginkanku.' Adit tersenyum sambil membayangkan Yuna di pelukannya. Wangi rambutnya. Kulit putihnya. Semua terasa nyata seperti saat dulu mereka bersama.


*****


"Sudah enakan Yuna? Kata Shua kamu masuk angin kemarin." Nissa menghampiri meja makan dengan membawa semangkuk soto mie.

__ADS_1


"Sudah Tante. Maaf Yuna kemarin tidak sempat pamitan. Yuna agak berantakan kemarin, tidak enak menghampiri Om dan Tante yang sedang ngobrol sama tamu." jawab Yuna sambil mengaduk bubur di depannya. Tidak berapa lama, William dan Joshua ikut bergabung sarapan di meja yang sama.


Pagi itu mereka memang janjian langsung bertemu di lantai satu untuk sarapan bersama. Tidak akan ada adegan Becca yang menghampirinya karena Shua sengaja memesan hotel yang berbeda dengan mereka. Sebelum Yuna memintanya, Shua sudah tahu akan hal itu.


Shua tersenyum melihat Yuna, ia sudah merindukan wanita itu saat membuka matanya pagi ini.


"Pagi, Sayang." Yuna membelalakkan matanya hingga pria itu sadar ada yang salah dengan sapaannya.


"Yuna." Shua meralatnya. Nissa dan William hanya tertawa kecil melihat adegan lucu itu.


"Tidak apa-apa. Om juga panggil Tante begitu kok saat masih pacaran dulu. Tapi lebih modern, baby hahaha..." Mereka tertawa. Yuna bahagia melihat kehangatan keluarga Shua. Mudah-mudahan semuanya akan berjalan lancar. Semoga mereka bisa menerima kekuranganku, doanya. Walaupun Yuna sebenarnya sedikit ragu karena Joshua adalah satu-satunya anak mereka dan tentu saja mereka pasti mengharapkan keturunan darinya.


"Sayang, mengenai apa yang kita lakukan kemarin." bisik Yuna setelah orang tua Shua kembali ke kamar mereka.


"Kamu menyesal?" Yuna tidak menggeleng, mengangguk, ataupun memberi jawaban.


"Dengar Yuna, aku tahu bagaimana dan siapa kamu. Aku juga tahu apa yang ada di pikiranmu sekarang. Aku minta maaf kalau kejadian kemarin membuatmu berpikir begitu. Tapi sungguh, itu hanya wujud cintaku. Dan kuharap kamu juga merasakan yang sama. Kita sudah sama-sama dewasa sayang, dan kita bisa mempertanggungjawabkannya, ok?" Tatapan Shua yang begitu menusuk matanya, membuat Yuna mengangguk setuju dengan apa yang dikatakannya.


"Aku hanya merasa malu. Entahlah, pagi ini perasaan malu selalu menghantuiku." Yuna menunduk. Memang benar, pagi ini seolah ia bisa mengingat dengan jelas apa yang ia lakukan dengan Shua semalam. Ia hanya ingin bersembunyi saat melihat Shua tadi saat sarapan. Tapi Shua benar, mereka bukanlah sepasang kekasih iseng yang melakukannya hanya untuk bersenang-senang. Mereka melakukannya dengan penuh cinta. Cinta? Benarkah? Yuna tidak yakin. Ia memang menyukai Shua, sangat. Tapi soal cinta, ia tidak tahu lagi bagaimana mendefinisikan arti cinta. Cinta seperti kata semu yang tidak berwujud sehingga ia tidak tahu apa benar cinta itu ada. Yang pasti sekarang ia sangat menikmati menjalin hubungan dengan Shua. Perhatian pria itu padanya membuatnya selalu ingin melihat hari esok.


*****


Adit belum sempat membahas kejadian seminggu lalu di Surabaya dengan Yuna. Walaupun mereka kerja di satu kantor, Yuna terkesan selalu menghindari Adit jika sedang berdua saja. Hari ini ia tidak berkonsentrasi bekerja. Email yang sudah ia ketik tidak selesai-selesai karena selalu diedit. Mendadak Adit mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.

__ADS_1


"Selamat siang Devi, apa kabar?" tanyanya.


"Siang Pak Adit. Ada yang bisa saya bantu?" Suara Devi terdengar lembut seperti biasa.


"Begini..Mengenai kejadian pas opening minggu lalu, bisa kamu ceritakan detailnya? Karena saya tidak terlalu menangkap apa yang kamu ucapkan karena terlalu buru-buru."


"Oh itu..Saya keluar menuju kolam sambil membawa dua gelas wine karena melihat Ibu Yuna di sana. Kami hanya ngobrol santai. Ibu Yuna mungkin minum setengah gelas. Saat ia mau keluar, ia terlihat agak sempoyongan. Saya sempat memegang lengannya dan mendengar...mendengar ia berkata agak kurang pantas sebelum ia pingsan."


"Hah? Yuna ngomong apa?"


"Seperti yang sudah saya sampaikan kemarin. Tapi ada beberapa yang belum saya beri tahu."


"Katakan Devi." Adit sudah sangat penasaran dengan apa yang terjadi.


"Ibu Yuna memaki Anda bodoh karena tidak tahu perasaannya. Bagaimana ia tidak bisa melupakan Pak Adit, merindukan Pak Adit. Menurut saya, sepertinya Ibu Yuna masih sangat mencintai Anda Pak."


"Benarkah? Baiklah kalau begitu, terima kasih." Adit menutup panggilan itu.


Hati Adit terasa sangat sakit sekarang. Bahagia namun sakit. Ia tahu Yuna pasti tersakiti, tapi pasca bercerai Yuna tidak pernah menunjukkannya sedikitpun. Yuna terlihat sangat tegar. Malah Adit hampir percaya bahwa ia bahagia bersama pacar barunya, Joshua. Ternyata itu semua hanyalah suatu kebohongan. Kebohongan yang diciptakan Yuna untuk menutupi perasaan yang sebenarnya kepada Adit.


'Tenang saja Yuna, aku akan membawamu kembali. Aku tidak akan membiarkanmu terluka lagi.' janji Adit dalam hatinya.


Sementara itu, Devi menertawakan kebodohan manusia-manusia yang sedang jatuh cinta itu. Mengapa tidak satupun dari mereka yang secerdik dirinya. Cinta seharusnya membuat diri kita pintar tentang bagaimana menggapainya. Jika kita tidak bisa meraih cinta itu, maka setidaknya saingan kitapun tidak boleh memilikinya. Itulah cinta bagi Devi, asmara yang harus selalu membara walau membakar sampai ke akar-akarnya.

__ADS_1


*****


__ADS_2