MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 27


__ADS_3

Yuna memutuskan mengambil penerbangan ke Surabaya pukul 16.20 nanti. Ia masih memiliki beberapa pekerjaan dan merasa masih perlu memberitahukan masalah ini langsung ke Adit.


"Apa maksudnya kalian mau ke Surabaya sore ini?" Adit masuk ke ruangan Yuna tanpa mengetuk pintu.


"Cuma mau menyelesaikan beberapa masalah. Lagian bentar lagi mau opening, kan aku yang bertanggung jawab atas proyek ini." jelas Yuna dengan tenang.


"Tapi kok ga dikusi dulu sama aku?" Adit terlihat kesal sambil berkacak pinggang.


"Lah tadi aku telepon. Lagian kemarin seharian kamu ga angkat telepon." kata Yuna sambil tetap melihat ke arah komputernya. Adit tahu Joshua meneleponnya hari Sabtu. Tapi ia sedikit bertengkar dengan Becca karena tidak diizinkan keluar kamar. Becca merasa tidak dihargai saat itu. Jadilah Adit selalu menemani Becca dan Gracia seharian hingga hari Minggu. Dan saat Yuna meneleponnya, ia tidak berani mengangkatnya.


"Siapa saja yang berangkat ke sana? Aku ikut!" Adit duduk di depan Yuna, memperhatikan wanita itu dengan lebih dekat. Kalimat yang ia ucapkan berhasil membuat mata Yuna mengarah kepadanya.


"Tidak! Kalau kamu mau pergi, berdua sana dengan Joshua. Aku tidak mau ke Surabaya denganmu lagi. SELAMANYA!" Yuna terlihat serius dan sedikit marah. Kenangan buruk di Surabaya muncul lagi dalam benaknya.


"Ok, fine. Cathy ikut?" tanya Adit lagi.


"Tentu saja ikut. Dan kamu jangan mengaturku ya, aku ga suka. Di antara kita ada batas-batas yang tidak boleh kamu lewati, khususnya masalah pribadiku."


"Aku tidak..."


"Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Dit. Terimalah kita sudah bercerai. Aku memberitahumu akan ke Surabaya hanya sebatas profesionalisme, bukan meminta izinmu. Ok?" Entah mengapa Yuna menjadi emosi pada Adit.


"Ok, maafkan aku. Aku hanya sedikit khawatir kalau kamu ke Surabaya sendiri, tapi syukurlah ada Cathy." Yuna baru saja akan membantahnya lagi namun Adit langsung berjalan keluar.


Adit kembali ke ruangannya dengan perasaan sedikit kacau. Mungkin sangat kacau. Ia tahu ada sesuatu antara Yuna dan Joshua. Adit tahu ia tidak berhak lagi atas Yuna. Tapi entah mengapa ia merasa cemburu akan kedekatan mereka. Apa karena Joshua terlihat lebih keren dan kaya dari padanya? Mungkin. Pasti karena itu Adit tidak menyukainya.


*****


"Makasih ya Yun, sudah ajak aku. Lumayan bisa sedikit refreshing hahaha..." Cathy tertawa senang sambil menggandeng Yuna.


"Aku juga butuh liburan Cat, bosan juga di kantor. Kebetulan ada urusan juga."


"Pak Joshua dan Bu Yuna duduk di belakang saja. Saya di depan." ucap Cathy sopan sambil masuk ke mobil Pajero yang dikirim oleh Pak Imran.


Seperti biasa mereka langsung menuju ke lapangan. Yuna memutuskan untuk menyelesaikan semua pekerjaan terlebih dulu sebelum mereka sedikit bersantai.


"Akhirnya kita bisa makan dengan santai." kata Cathy sambil menyedot jus melonnya.


"Uhhuukk.uhuk..." Mendadak ia tersedak setelah melihat ponselnya yang berbunyi.


"Pak Adit, Yun." lapornya.

__ADS_1


"Angkat aja." jawab Yuna. Sebenarnya Adit sudah meneleponnya lima atau enam kali tapi tidak dijawabnya. Ia sudah membalasnya dengan pesan singkat, namun pria itu terus saja mengganggunya. Padahal sekarang sudah menunjukkan pukul 21.30.


"Iya Pak Adit.....sedang makan malam Pak.......oh, iya nanti saya sampaikan....Baik pak, selamat malam." Cathy menutup teleponnya. Yuna dan Joshua sedang menatapnya sekarang, menunggu cerita dari si ceriwis Cathy.


"Tanyain kamu Yun, lagi ngapain. Harus minum vitamin. Gitu.." jelasnya.


"Ga penting banget sih. Sudahlah, kita lanjutin makan malam kita yang uda kemalaman hahaha..." Yuna menanggapinya dengan santai. Tapi tidak dengan Joshua, ia sedikit terganggu dengan perhatian yang diberikan Adit untuk Yuna. Vitamin? Joshua merasa menang tentang itu. Ia sudah memberikan minuman vitamin C untuk Yuna tadi sore.


Mereka menginap di Hotel Westin. Yuna sekamar dengan Cathy, sedangkan Joshua di kamar sebelah mereka.


"Kami masuk dulu ya, Shua. Selamat malam." Joshua mengangguk sambil memberikan koper milik Yuna. Saat ia melihat Cathy sudah masuk lebih dulu, ia memberanikan diri mengelus wajah putih Yuna.


"Kamu istirahat ya." Wanita itupun tersenyum dan menjadi sangat terkejut saat Shua mengecup kilat keningnya.


"Masuklah." lanjut Shua dan Yuna hanya menurut saja saking kagetnya ia tadi.


"Besok aku mau menemui sepupuku ya Yun. Dia baru ngabarin tadi jadi ambil cuti buat temenin aku. Kamu sama Pak Jo dulu ya hihihi..." kata Cathy sambil mengeluarkan beberapa pakaian dan perlengkapan mandinya.


"Aku juga tidak tahu mau ke mana. Sore kita ada meeting bentar sama tim marketing ya. Sekitar jam 5. Jangan lupa lho."


"Aku ga bakal lupa. Yang ada juga kamu jangan ampe lupa waktu." Yuna tertawa sambil melempar bantal ke arah Cathy yang langsung berlari ke dalam kamar mandi.


Yuna membuka ponselnya, ada pesan dari mamanya.


Astaga mama..Yuna tahu dari awal pertemuan Rossa dengan Shua, mamanya terang-terangan mendukung kedekatannya dengan Shua. Yuna sudah menceritakan sedikit kisahnya dengan pria itu pada mamanya. Namun semuanya belum seserius itu. Semua tergantung dengan keluarga Shua, apakah Yuna bisa mendapatkan restu mereka. Secara di sini statusnya sangat tidak menguntungkan bagi hubungan mereka.


Yuna membaca pesan yang lain, dari Adit. Ia sangat malas membacanya.


'Yuna, kamu tidur sama Cathy kan? Hati-hati dengan Joshua, sepertinya ia sedikit playboy. Aku tadi membaca beritanya yang sedang dekat dengan seorang artis. Take care.'


Huuft..Yuna melempar ponselnya ke atas ranjangnya. Mengambil beberapa kapas dan cairan pembersih make up wajah.


'Ngapain dia sok-sok perhatian gitu. Menjijikkan. Apa ga ada kerjaan lain?' batin Yuna.


Yuna benar-benar tidak menyukai perilaku Adit, ia merasa risih. Dulu ia juga pernah mengutarakan secara langsung ketidaksukaannya dengan kedekatan Yuna dengan Joshua. Walaupun Adit pernah menjadi suaminya dulu tapi ia merasa sangat tidak etis jika Adit masih memperlihatkan perhatian yang tidak beralasan. Adit malah pernah ingin mengambil pekerjaan proyek di Surabaya dari tangan Yuna, tentu saja Yuna tidak mau menyetujuinya.


*****


"Aku jalan dulu ya, Dewi sudah di bawah, nanti kita teleponan aja. Mandi sana! Nanti Pak Jo jemput kamu masih berantakan." Cathy mengambil tas selempang merah dan memakai sepatu kets nya.


"Mmmh...Ok." Yuna masih memeluk bantal dengan rambut yang acak-acakan. Ia melihat Cathy keluar dengan dandanan cetar yang membuatnya bertanya jam berapa gadis itu bangun dan mulai bersiap. Yuna mengambil ponselnya, pukul 09.10. Baru kali ini ia bangun sesiang ini. Semalam ia tidak bisa tidur karena saling mengirim pesan dengan Shua.

__ADS_1


Ting..tong... Bel kamar berbunyi.


"Duuh si Cathy napa sih? Pasti ketinggalan sesuatu deh." Dengan malasnya Yuna membuka pintu kamar.


"Tinggalan apa?" tanyanya. Di depan pintu malah tampak seorang pria tampan berkaos hitam semi slim fit dipadu dengan ripped jeans biru tua.


"Shua? Kamu ngapain di sini pagi-pagi?" Shua tampak heran melihat penampilan Yuna yang baru bangun tidur. Dilihatnya dari atas rambut hingga ujung kaki. Yuna hanya mengenakan piyama dengan celana pendek. Dan tanpa sengaja ia melihat Yuna sepertinya tidak mengenakan bra.


"Bukannya kita janjian jam 9 ya?" Shua mengalihkan matanya, wajahnya terasa sedikit panas.


"Bukannya jam 10 ya?" Yuna pura-pura lupa karena jelas ia kesiangan.


"Tunggu aku lima belas menit, aku akan siap. Kamu balik ke kamar dulu ya, nanti aku ke sana." Yuna langsung menutup pintunya tanpa menunggu jawaban lawan bicaranya.


Mereka mengawali kencan pertama dengan mencari sarapan. Shua sengaja mengajak Yuna sarapan di tempat lain, bukan di hotel.


"Kamu sering ke Surabaya ya?" tanya Yuna sambil mengunyah roti panggang dengan selai kacang. Mereka mampir ke sebuah kopitiam legendaris di kota itu.


"Baru empat kali dengan ini. Dan yang kali ini paling spesial karena sama kamu." Shua tersenyum manis. Ia suka dengan penampilan manis Yuna, simple dress berwarna hitam, terlihat senada dengan kaos hitamnya.


"Kayaknya kita makin dekat, kamunya jadi tambah gombal deh hahaha..."


"Cuma sama kamu kok, swear. Entahlah, sepertinya aku bisa mengungkapkan semuanya denganmu sekarang. Tanpa ada kebohongan apapun. Jadi kira-kira kapan kamu bisa ketemu orang tuaku?"


"Mmmh...Sebenarnya aku sudah cerita tentang kamu ke mama. Baru mama saja sih, papaku belum tahu. Tapi aku bilang bahwa kita baru dekat, belum jadian."


"Memangnya kita belum jadian?" Shua sedikit kaget.


"Memangnya kamu pernah ngajak aku pacaran?" Yuna bertanya balik. Shua terdiam. Ia baru sadar bahwa ia memang belum menembak Yuna secara resmi.


"Tapi kan aku sering ungkapin perasaan aku Yun." Shua sedikit salah tingkah. Ia tidak terbiasa menghadapi situasi seperti ini.


"Ya sudahlah, tidak apa-apa. Toh kita bukan anak remaja lagi." Yuna sedikit merasa kecewa. Ia hanya ingin kepastian atas hubungan mereka.


"Maaf. Aku serius denganmu Yuna. Bukan hanya sekedar berpacaran. Cintaku memiliki tujuan, yaitu mendampingimu untuk hidup bahagia selamanya. Kamu satu-satunya yang bisa membuatku bahagia. Dan aku juga ingin menjadi satu-satunya orang yang bisa membuatmu bahagia." Shua menggenggam tangan Yuna erat.


'Oh Shua. Kamu benar-benar bisa membuatku meleleh.' Yuna berkata dalam hatinya.


"Terima kasih atas cintamu. Aku pun memiliki harapan yang sama denganmu Shua. Sabtu ini aku akan ke rumahmu. Tapi tolong jangan sampai orang tuaku tahu. Aku tidak mau mereka berharap terlalu jauh."


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun Yuna. Aku tidak akan melepaskanmu lagi." ucap Shua dengan sangat yakin.

__ADS_1


*****


__ADS_2