MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 35


__ADS_3

"Apa? Aku sudah seminggu di sini?" Suara Yuna sudah sedikit bertenaga keesokan harinya. Setelah kecelakaan itu, yang ia ingat hanyalah mimpi aneh sebelum ia sadar. Dan itu sudah melewati tujuh harinya. Tapi bagaimanapun, ia merasa sangat bersyukur bisa kembali membuka matanya.


"Iya. Sebenarnya ada dua orang polisi di luar. Mereka ingin menemuimu untuk bertanya beberapa pertanyaan mengenai kecelakaan itu. Aku sudah menolaknya, tapi mereka memintaku untuk bertanya tentang kesediaanmu lebih dulu." jelas Shua.


"Tidak apa-apa Sayang. Aku sudah lumayan sehat. Hanya menjawab beberapa pertanyaan aku rasa tidak sulit." Shua melihat wajah Yuna yang sudah tidak pucat seperti kemarin lalu menyetujuinya. Tidak berapa lama dua orang pria memakai pakaian sipil masuk.


"Selamat siang Ibu Yuna, saya Herman, polisi yang menangani kasus kecelakaan Anda." ucap seorang pria yang perawakannya lebih gelap dan lebih tinggi dari rekannya.


"Siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"


"Hanya ingin tahu kronologi kecelakaan Anda. Saat kejadian, boleh saya tahu dari mana dan ke mana Anda bepergian?" tanyanya. Yuna mencoba mengingat kejadian itu. Adit. Makan malam dengan Adit dan Becca. Sial. Ia sangat kesal mengingatnya.


"Saya dari rumah makan Nusantara Pak. Saya bertemu dengan rekan kerja saya Pak Aditya dan istrinya Rebecca. Setelah itu saya berniat pulang ke rumah." Yuna melirik ke arah Joshua dan pria itu tampak terkejut mendengarnya.


"Lalu apa penyebab kecelakaan yang Anda alami?" tanyanya lagi.


"Saya...sepertinya saya lelah Pak. Yang saya ingat hanyalah saya menabrak sebuah pohon besar." jelasnya.


"Oh, tidak ada pihak lain yang menyebabkan kecelakaan Anda?"


"Seingat saya tidak."


"Saya sudah memeriksa TKP. Tidak ada kamera pengintai di sana dan tidak ada saksi. Kami juga tidak menemukan bukti adanya kendaraan lain di sekitar mobil Ibu."


"Jalanan memang cukup sepi saat itu. Tapi saya ingat sekali saya tidak mengalami benturan dengan kendaraan lain."


"Jadi ini murni kecelakaan tunggal?" Polisi itu memastikan lagi.


"Iya Pak."


"Baiklah kalau begitu. Kami butuh tanda tangan Ibu dan Pak Joshua di sini untuk berita acara kronologisnya." Rekan Herman yang bertubuh agak gempal itu menyodorkan sebuah dokumen yang harus ditandatangani. Setelah itu mereka keluar dan meninggalkan sepasang kekasih itu.


"Adit? Really? Kok kamu tidak bilang kamu akan menemuinya malam itu?" tanya Shua sambil duduk di sebelah Yuna yang sedang bersandar di tempat tidurnya yang dinaikkan 30 derajat.


"Aku akan cerita sepulangnya aku dari sana Sayang. Ternyata aku belum pulang-pulang." ucap Yuna sedih.


"Baiklah, tidak apa-apa. Kamu tidak harus menceritakannya sekarang. Tadi pagi ia meneleponku menanyakan kabarmu. Mungkin sebentar lagi ia akan datang." Shua mengecup keningnya.


"Kalau dia datang, aku akan berpura-pura tidur. Kamu harus membantuku. Aku sedang tidak ingin berbasa-basi dengannya."

__ADS_1


"Baiklah jika itu maumu. Atau sebaiknya kamu benar-benar tidur sekarang. Kamu harus banyak istirahat sayang. Tidurlah. Aku juga akan melanjutkan pekerjaanku." kata Shua sambil sedikit menurunkan sandaran ranjang Yuna. Ia kembali ke meja kerjanya setelah melihat mata Yuna terpejam.


"Lian, tolong email ke saya sekarang pertanggungjawaban acara Peninsula kemarin ya." Shua menghubungi sekretarisnya.


"......"


"Devi? Devina yang Surabaya?" tanyanya bingung.


"......"


"Jadi kamu bilang saya lagi ada di sini?"


"......"


"Ya sudah tidak apa-apa. Emailnya saya tunggu ya. Terima kasih." Joshua mengakhiri panggilan itu.


Shua sedikit bingung dengan tujuan Devi mencarinya ke kantor tadi. Terakhir mereka bertemu saat di Surabaya kemarin. Setelah Yuna pulang ke hotel meninggalkan pesta, Devi selalu menempel padanya. Hingga pada akhirnya Devi kembali mengutarakan perasaannya di parkiran.


"Jo, aku yakin kamu sudah tahu bahwa...bahwa aku menyukaimu. Aku jatuh cinta padamu Jo. Tolong beri aku kesempatan untuk mengenalmu lebih dekat." Devi tidak malu-malu lagi mengenggam tangan Joshua, tapi Joshua langsung melepasnya.


"Begini Devi, hubunganku dengan Yuna kamu sudah mengetahuinya. Aku serius dengannya karena aku mencintainya. Tidak ada ruang lagi bagi wanita lain untuk singgah di hatiku. Maaf, tapi aku harus jujur untuk kebaikan kita. Aku tidak mau memberi harapan apapun untukmu." jelas Shua.


"Tapi Jo, jika kamu mau mengenalku lebih dekat, aku yakin kamu pasti lebih menyukaiku dari Yuna." rengek Devi seakan tidak mau membiarkan Joshua pergi dari sana.


Tok..tok...


Shua melihat Adit muncul dari balik pintu sambil membawa sebuket bunga dan sekeranjang buah.


"Kamu masih di sini Jo?" Kalimat pertama yang meluncur dari bibirnya.


"Iya. Yuna sedang tidur." Jawabnya. Adit langsung menghampiri Yuna dan membelai kepalanya, membuat Joshua yang berada empat meter darinya merasa risih dengan pemandangan itu.


"Adit, aku ingin bicara denganmu. Kemarilah." Joshua mengajak Adit duduk di sofa di depan meja kerjanya.


"Kebetulan ada yang ingin aku bicarakan juga." Adit sudah tidak sabar memberi tahu Joshua tentang rencananya.


"Begini..." Joshua memulainya.


"Aku menghargai masa lalumu dengan Yuna walaupun itu bukan sesuatu yang bisa dibanggakan. Sekarang aku yakin kamu sudah tahu bahwa aku dan Yuna sedang menjalin hubungan. Hubungan yang serius. Aku harap kamu bisa menghargai itu dan tidak melakukan hal-hal yang membuat kami...sedikit risih." Shua berkata jujur tentang apa yang dirasakannya.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan memberitahumu sesuatu. Yuna masih mencintaiku." Adit berkata dengan percaya diri.


"Hahaha...Atas dasar apa kamu mengatakan itu?" Shua tidak menyangka dengan apa yang dikatakan Adit.


"Itu kenyataannya Jo. Aku mengatakan ini untuk kebaikanmu. Kamu hanya dimanfaatkan sebagai pelariannya dariku selama ini."


"Ok, Yuna sendiri yang memberitahumu?"


"Aku mendengarnya dari Devi. Ia sudah menceritakan detailnya kepadaku. Kamu juga sedikit banyak sudah tahu kan tentang itu. Begini, aku juga sudah meminta Yuna untuk kembali denganku." ucap Adit santai.


"Brengsek kamu!" Joshua mulai tersulut emosi.


"Dan aku ingat sudah menolaknya." Yuna mengerahkan tenaganya agar suaranya bisa terdengar oleh kedua pria itu.


"Sayang, kenapa kamu bangun?" Shua mendahului Adit menghampiri Yuna.


"Dari tadi aku belum terlelap, hanya memejamkan mata." jawabnya.


"Adit, aku tegaskan sekali lagi. Aku tidak akan kembali padamu. Tidak akan pernah! Dan berhentilah bermimpi aku masih mencintaimu. Perasaanku sudah mati saat aku melihatmu berselingkuh. Mati! Dan semua yang kamu dengar dari Devi, itu hanya omong kosong. Aku yakin tidak pernah mengatakan itu. Bahkan di bawah alam sadarku, aku tidak sudi mengingatmu lagi." Yuna bicara dengan sedikit terengah-engah.


"Kamu tidak apa-apa? Jangan dipaksakan!" Shua menenangkannya.


"Iya Yuna, sebaiknya kamu istirahat dulu. Kita bicarakan lain kali ya." Adit terlihat sedikit shock dengan apa yang diucapkan wanita itu tadi.


"Tidak ada lain kali Adit. Ini peringatanku yang terakhir. Jangan ganggu hubunganku dengan Shua. Aku mencintainya. Pergilah!" Adit terdiam dan keluar dari ruangan itu.


"Huffhh.." Yuna menarik napas panjang dan menghembuskannya, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang tidak karuan.


"Are you ok?" Shua duduk di sebelah Yuna dan menggosok pelan telapak tangannya. Yuna hanya mengangguk sambil menatap Shua dalam.


"Apa aku bisa mendengarnya lagi? Kalimat terakhirmu tadi?" tanya Shua.


"Pergilah?" Ulang Yuna.


"Hahaha...Bukan. Sebelum itu." Yuna sebenarnya tahu apa yang dimaksud Shua, tapi ia malu mengatakannya lagi. Apakah ia malu atau tidak yakin? Ungkapan itu membutuhkan sebuah tanggung jawab. Dan sekarang Yuna sudah siap menerima konsekuensinya.


"Aku mencintaimu Joshua Austin William." Yuna tidak percaya akhirnya ia mengungkapkan perasaannya.


"I love you more Yuna Sakura." balas Shua.

__ADS_1


Shua tidak menyangka dengan apa yang didengarnya. Ia mengira akan mendengar pernyataan itu setahun, atau bahkan dua tahun lagi. Ternyata permasalahan dengan Adit tadi membuat semesta berpihak padanya. Cinta yang ditunggunya sejak putih abu-abu. Cinta tak bersyarat yang selalu membuatnya menikmati matahari terbenam dan menunggunya terbit keesokan harinya. Hingga akhirnya ia bisa menikmati indahnya senja bersama dia yang menjadi nyata.


*****


__ADS_2