MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 73


__ADS_3

Shua melihat seseorang telah menunggunya tidak jauh dari tempatnya berdiri. Para tamu undangan sedang menikmati makan siangnya di venue yang dekat dengan pantai itu.


"Sayang, ikut aku yuk. Ada sesuatu yang harus aku lakukan." Shua berbisik pada Yuna yang sedang mengobrol dengan sepupu ayahnya yang sengaja datang dari Jepang.


"Sebentar ya Om." Yuna mengikuti Shua yang menarik tangannya.


"Ada apa sih?" tanya Yuna penasaran.


"Ini Tyo. Dia wartawan entertainment di Bali. Temannya Mario. Aku ingin membuat klarifikasi mengenai hubunganku dengan Vanya dan juga kamu." Pria bernama Tyo itupun tersenyum sambil sedikit berbungkuk sopan.


"Buat apa? Tidak perlu Sayang, semuanya sudah selesai." Yuna tidak mengerti mengapa harus membahas masalah itu lagi sekarang.


"Tidak. Aku akan meluruskan semuanya hingga tidak ada lagi yang menuduhmu bukan-bukan. Dan aku ingin melakukannya di hari pernikahan kita dengan foto gaun pengantinmu itu." ucap Shua. Ken memintanya untuk tidak memberitahukan Yuna bahwa ia yang meminta Shua melakukan itu. Tapi Shua juga melakukannya tanpa terpaksa, bahkan seharusnya ia sudah melakukan ini sejak lama. Yuna mengangguk setuju, ia malah merasa sangat bahagia. Sebenarnya hal itu adalah setitik gangguan di dalam hatinya. Ada ketakutan tersendiri di saat ia bertemu dengan orang-orang yang tidak dikenalnya. Dan pernah ia berpikir, bagaimana jika ia sedang mengendong Jovan dan ternyata ada yang berkata, "Kamu tidak malu ya merebut suami dan anaknya Vanya??!"


Joshua menceritakan semuanya kepada Tyo tentang hubungannya dengan Vanya yang seperti kakak adik, tentang hubungannya dengan Yuna yang telah dikenalnya sejak bangku SMU dan kisah cinta mereka berdua. Shua juga bercerita tentang kehamilan Vanya dengan seorang aktor yang memanfaatkan Vanya yang tidak sadarkan diri yang ia tidak sebut namanya, hingga kepergian Vanya saat ia melahirkan.


"Dan kami memutuskan untuk mengadopsi Jovan, anak Vanya. Lusa kami akan ke Singapura menjemputnya." Yuna tersenyum bahagia membayangkan ia akan segera menjadi seorang ibu.


"Wah, indah sekali cerita kalian. Saya turut berduka atas berpulangnya Mba Vanya. Dia seorang artis yang sangat berbakat dan ceria. Saya akan mengemas berita ini dengan sejujurnya, tidak ada yang saya kurangi atau lebihkan. Terima kasih Pak Joshua dan Bu Yuna atas berita eksklusifnya untuk tabloid kami. Dan sekali lagi, selamat atas pernikahan kalian. Semoga berbahagia selamanya." Tyo menyalami Shua dan Yuna lalu meninggalkan ruangan meeting itu.


"Kok kamu tidak cerita lebih dulu mau melakukan ini?" tanya Yuna.


"Aku takut kamu menolaknya. Sekarang aku sudah lega, bebanku seperti terangkat setengah."


"Setengah lagi apa? Kamu masih ada beban?" tanya Yuna penasaran.


"Beban takut tidak bisa memuaskanmu malam ini hahaha..." ucap Shua sambil tertawa melihat ekspresi aneh Yuna.


"Oh My God! Sudah ah aku mau keluar. Orang-orang nanti berpikir yang tidak-tidak melihat kita berdua tidak ada." Yuna berbalik keluar namun Shua memeluknya dari belakang.


"Sebentar Sayang." Shua memeluknya dan mencium leher Yuna yang terbuka. Tiba-tiba pintu terbuka dan Yuna berteriak kaget menjauhkan tubuhnya dari suaminya itu.


"Ooopss...Maaf, aku kira toilet." Dylan sungguh sial menyaksikan adegan intim mereka saat itu.

__ADS_1


"Dylan?" ucap Yuna kaget.


'Toilet katamu? Bagus sekali akting terkejutmu itu!' ejek Shua dalam hatinya.


"Sayang, ini temanku Dylan. Yang aku ceritakan padamu." Yuna bermaksud mengenalkan mereka. Kedua pria itu bersalaman.


"Aku sudah mengenalnya Yuna, dia sepupu Mario. Dan sangat aneh jika kamu tidak tahu letak toilet di hotel ini."


"Aku jarang ke sini. Anyway, selamat untuk kalian berdua."


"Terima kasih Dylan. Kamu sudah makan?" tanya Yuna sambil tersenyum manis pada pria itu.


"Belum. Mau menemaniku? Maksudku dengan suamimu juga haha..."


"Tentu saja, yuk Sayang kita keluar." ajak Yuna tanpa melihat wajah cemberut Shua saat itu. Shua menarik pinggang ramping Yuna seakan ingin menunjukkan bahwa ia lah pemilik sah wanita di sampingnya itu.


'Dasar anak-anak.' Dylan menggeleng melihat Shua yang berjalan di depannya. Ia memang bisa menerima mereka telah menikah. Tapi menerima bukan berarti berbahagia atas kebahagiaan mereka. Diam-diam Dylan masih mengharapkan Yuna, mungkin hingga ia bisa menemukan pengganti yang bisa membuatnya berpaling.


"Maaf, maaf... Nanti aku ceritakan. Dylan maaf ya, aku ke sana sebentar. Kamu sama Cathy dulu ya." Dylan mengangguk kecewa dengan kepergian Yuna.


"Hai Pak Dylan, sendirian?" sapa Cathy. Akhirnya ia bisa menikmati ketampanan Dylan dari dekat. Hanya dengan kemeja putih dengan dua kancing terbuka di atasnya dipadu celana bahan putih gading dan sneakers abu-abu membuatnya jauh lebih muda dari biasanya. Pesta itu memang mengharuskan para tamu mengenakan pakaian santai serba putih.


"Iya sekarang, tapi tadi aku bersama sepupuku Mario. Oh kamu mengenalnya bukan? Dia pengiring Joshua tadi." ucap Dylan sambil mencari-cari di mana anak itu berada.


"Oh dia sepupu Pak Dylan. Sudah makan Pak?" tanya Cathy lagi.


"Belum. Mau temani aku?" tanya Dylan setelah memperhatikan wanita di depannya ternyata cukup manis juga. Cathy mengenakan baby doll putih tanpa lengan dengan mahkota bunga yang menandakan ia adalah pengiring pengantin wanita.


"Boleh." Cathy merasakan debaran jantungnya kian kencang saat berjalan di sebelah Dylan. Sudah cukup lama ia tidak merasakan perasaan seperti itu sejak zaman sekolah dulu. Apakah dia....Ah tidak mungkin. Itu hanya karena Dylan terlalu tampan saja.


*****


Pesta pernikahan yang berlangsung sederhana itupun usai. Shua dan Yuna memutuskan untuk tidak terlalu mengadakan sesuatu yang mewah untuk menghormati kepergian Vanya. Bagaimanapun juga, Nissa masih berduka dan sering menangisi Vanya.

__ADS_1


"Apakah kamu sengaja berlama-lama di sana?" Shua mengamati Yuna yang sudah duduk dua puluh menit di depan meja rias.


"Aku sedang menghapus riasan di wajahku. Kamu tidak mandi? Mandilah dulu sebelum aku." jawab Yuna. Sebenarnya ia memang sengaja memperlambat gerakannya. Jujur ia merasa gugup dengan malam pertama mereka walaupun itu sebenarnya bukan yang "pertama" untuk mereka. Tapi mereka hanya pernah melakukannya sekali dan itu sudah sangat lama. Dan mereka memutuskan tidak akan pernah melakukannya lagi untuk menghormati sakralnya pernikahan mereka kelak.


"Tidak. Aku mau menunggumu." Shua berdiri dari posisi berbaringnya. Ia berdiri di belakang Yuna dan membantunya melepas beberapa hairpin yang ternyata cukup banyak di rambutnya. Setelah ia merasa semuanya sudah beres, Shua mencium leher Yuna. Ia melihat Yuna yang memejamkan matanya lewat cermin.


"Ikut aku." bisik Shua sambil menuntun Yuna masuk ke dalam kamar mandi. Rupanya Shua sudah menyiapkan air hangat di dalam bathtub yang ditaburi dengan kelopak mawar merah yang ia minta dari pihak hotel.


"Astaga Sayang, kapan kamu menyiapkan semua ini?" tanya Yuna.


"Kejutan kecil untukmu. Kamu siap?" tanya Shua. Yuna mengangguk malu. Seketika itu juga Shua melepas tali gaun yang melilit di tubuh Yuna dan membiarkannya melorot di lantai. Ia mengajak Yuna masuk ke dalam bathtub setelah ia juga melepas seluruh pakaiannya.


"Aku malu." kata Yuna pelan.


"Aku juga Sayang. Tapi inilah kita sekarang. Aku dan kamu yang tidak memiliki batas lagi. Tenang saja, aku hanya akan membasuh tubuhmu agar kamu tidak tegang atau stres. Santai saja." Shua mengambil sponge mandi dan mulai menggosok pelan leher, pundak, dan punggungnya.


Berendam di air panas dan merasakan tubuhnya digosok pelan benar-benar membuat Yuna menjadi lebih relaks. Hingga akhirnya ia merasakan tangan besar Shua berpindah ke tubuh bagian depannya. Yuna mendesah pelan saat ia juga merasakan permainan bibir suaminya itu di leher dan berakhir di bibirnya.


Semuanya terasa indah saat tidak ada lagi ketakutan atau kekhawatiran. Mereka melebur menjadi satu, tidak ada jarak sedikitpun di antara mereka.


"Aku mencintaimu, Sayang." Ucap Shua saat ia sudah melepaskan tanda kepuasannya.


"I love you too." Yuna tidak tahu bagaimana lagi penampakannya sekarang. Pasti sangat berantakan setelah mereka berpindah dari bathtub dan berakhir hingga ke ranjang pengantin mereka.


"Dan aku bahkan belum mencuci rambutku. Bagaimana kamu akan merawat Jovan jika kamu saja tidak bisa memandikan aku secara benar?" Yuna mengambil bathrobe nya. Shua tertawa sangat keras mendengarnya.


"Baiklah, aku akan memandikanmu dengan benar kali ini." Shua baru saja akan berdiri saat Yuna membalikkan badannya.


"Tidak! Tidak! Kali ini aku akan mandi sendiri, tidak lama.. Hanya lima belas menit. Kamu tunggu saja, Sayang." Yuna mengerlingkan matanya saat masuk ke kamar mandi.


Shua masih merasakan jantungnya berdebar walaupun ia dan Yuna sudah menyelesaikan permainan itu sepuluh menit yang lalu. Shua mengambil ponselnya dan melihat banyak sekali pesan ucapan selamat dari kenalannya di sosial media. Ting..ting... Ia mendengar bunyi pesan masuk di ponsel Yuna. Ponsel itu tidak terkunci. Ada dua pesan masuk dari Dylan. Shua bisa membaca pesan terakhirnya yang muncul di layar depan, bunyinya "Ini hadiah dariku untukmu, hope you like it." Shua sangat ingin membuka semua pesan masuk dari Dylan saat itu. Apakah boleh tanpa meminta izin Yuna? Ah sudahlah, Yuna tidak mungkin marah. Shua tidak pernah ingin mengecek isi ponsel Yuna, tapi pesan itu sungguh membuatnya penasaran.


*****

__ADS_1


__ADS_2