
"Jack, jadi kamu tetap tidak mau mengakui ini anakmu?" tanya Vanya sambil mengelus perutnya yang sudah tampak buncit di kehamilannya yang memasuki empat bulan.
Pria berambut sedikit gondrong itu tidak langsung menjawab. Ia merasa diintimidasi dengan kehadiran Vanya, Joshua, dan seseorang yang mengaku pengacara mereka.
"Begini Vanya. Aku mengakui kita memang tidur bersama. Tapi...saat itu kamu bahkan bukan seorang perawan. Bagaimana aku harus mengakui bayi itu anakku bahkan sebelum ia lahir? Lagipula, bagaimana jika berita tentang kamu dan Joshua itu benar? Bisa-bisa aku yang dibodohi kalian."
"Tutup mulutmu!" Vanya berteriak dan akan maju menyerang Jack jika tidak ditahan oleh Joshua.
"Tolong jaga bicara Anda ya. Saya sudah menahan diri dari tadi dengan sikap Anda. Kita semua tahu apa yang sebenarnya terjadi, hanya saja tidak ada bukti untuk membuktikan siapa yang jujur dan pembohong." Joshua berkata dengan emosi yang ditahan.
"Ibu Vanya dan Pak Joshua. Saya sudah bicara dengan klien saya. Bagaimana jika dilakukan tes DNA setelah anak itu lahir? Jika memang terbukti itu anak klien saya, maka ia akan bertanggung jawab atas itu." Pengacara Jack angkat bicara dengan logat Bataknya.
"Hah? Setelah anak ini lahir? Lantas bagaimana aku harus menghadapi orang lain?" Vanya berteriak.
"Tenang Mba Vanya. Begini Pak Jack, saya mengerti kami tidak bisa menyebut nama Anda begitu saja di depan wartawan. Kami pasti akan dituntut pencemaran nama baik. Tapi kami juga mempunyai bukti cctv bahwa Anda yang membawa Mba Vanya dari klub. Walaupun itu tidak bisa sepenuhnya memenuhi tuntutan klien kami, tapi setidaknya itu bisa membentuk opini publik dan memberikan sanksi sosial untuk Anda." jelas Pak Amiruddin pengacara yang dibawa Joshua. Pertemuan itu tidak membawa titik temu. Semua pihak masih belum memberikan solusi apapun. Shua tidak ingin terlalu banyak bicara karena tidak mau terlibat secara emosional.
*****
"Jadi bagaimana sekarang?" tanya Nissa sambil membawa sepiring buah potong untuk Vanya di kamarnya.
"Vanya rasa tidak ada gunanya memaksa Jack, Tante. Soal cctv itu juga malah bisa menambah masalah. Sekarang, bagaimana Vanya bisa mengembalikan nama baik kak Josh? Maafkan Vanya, Tan." Gadis itu mulai menangis lagi.
"Berhentilah menangis, Nak. Kasihan anakmu." Nissa memeluk Vanya.
"Apa Vanya tidak berhak untuk bahagia Tante? Sebenarnya malam itu, saat Vanya memutuskan pergi ke klub, itu adalah malam di mana Vanya datang ke Tante."
"Hah? Kapan Van?" Nissa sedikit bingung dengan cerita itu.
"Saat Vanya meminta Tante untuk melarang hubungan Yuna dan Kak Josh. Tante ingat? Malam itu Vanya hampir gila membayangkan Kak Josh akan menikah dengan Yuna. Vanya minum-minum di klub hingga mabuk. Saat itulah pria brengsek itu menjebak Vanya. Maafkan Vanya jika sudah mengecewakan Tante. Vanya menceritakan ini hanya agar Tante tidak menganggap Vanya sebagai perempuan nakal. Vanya bukan wanita seperti itu Tan."
"Tidak. Tante tidak pernah berpikir kamu seperti itu Van. Tante percaya padamu. Maafkan Tante. Secara tidak langsung, Tante sudah membuatmu seperti ini." Nissa tidak kuasa menahan air mata penyesalannya.
__ADS_1
"Bukan. Bukan itu maksud Vanya, Tan. Vanya tidak pernah menyalahkan Tante. Sungguh. Vanya selalu menganggap Tante dan Kak Josh orang terpenting dalam hidup Vanya. Vanya rela melepaskan apapun demi kalian berdua. Biarkan Vanya tinggal bersama kalian." rengeknya.
"Iya..iya..kamu akan tinggal di sini dengan Tante. Walaupun nanti Shua menikah, kamu akan tetap bersama Tante."
"Tante, biarkan Vanya yang menikah dengan Kak Josh. Tolong Vanya Tante. Vanya merasa tidak ada gunanya lagi hidup. Vanya mohon.. Beri Vanya alasan untuk hidup dan mempertahankan bayi ini. Setiap hari Vanya hanya merasa ingin mati." Nissa tidak tega mendengar tangisan pilu Vanya. Jika keputusan tentang ini berada di tangannya, tentu saja Nissa tidak keberatan Joshua menikahi Vanya walaupun gadis itu sedang mengandung anak pria lain. Tapi ini di luar kuasanya, Nissa tidak mungkin meminta anaknya melakukan hal itu apalagi ia tahu bagaimana Shua sangat mencintai Yuna.
"Tante...jawab Tan..." Vanya menangis dengan suara bergetar sambil menggenggam tangan Nissa yang ikut menangis.
"Tante tidak bisa meminta ini dengan Shua, Nak."
"Vanya tahu Tante tidak ingin menerima bayi ini kan? Baiklah. Vanya tidak akan memaksa lagi. Terima kasih atas semuanya Tante." Vanya mengambil ponsel dan tas selempangnya lalu bergegas menuju pintu. Nissa yang terkejut langsung menyusulnya.
"Kamu mau kemana Vanya?"
"Maaf Tante. Tapi Vanya merasa tidak ada lagi yang perlu dipertahankan. Apa yang akan terjadi, biarlah terjadi. Titip salam untuk Kak Josh. Tolong sampaikan jika ia tidak perlu memperpanjang masalah dengan Jack lagi. Vanya akan mengurus semuanya." Suara Vanya jauh lebih tenang, sepertinya keputusan yang ia ambil sudah cukup bulat.
"Vanya, Tante mohon jangan pergi. Biarkan Tante rawat kamu dan bayimu." Nissa menarik tangan Vanya.
"Sebagai apa Tante? Vanya bahkan bukan anak Tante. Dan untuk menjadi menantu Tante, itu tambah tidak mungkin. Sudahlah Tan, Vanya sudah cukup menyusahkan kalian."
"Terima kasih, Tan. Tapi lebih baik Vanya kembali ke apartemen untuk sementara. Perasaan Vanya sangat kacau. Vanya sangat mencintai Kak Josh, tapi dengan keadaan seperti ini, Vanya merasa sangat malu. Biarlah jika semuanya sudah tenang dan ada keputusan, baru Vanya akan kembali. Vanya sayang sama Tante, sayang sekali." Vanya memeluk wanita ayu itu dan meninggalkannya tanpa menoleh sedikitpun ke belakang.
*****
"Sayang, sudah lihat brosur yang aku kirim tadi ke email?" Shua menjemput Yuna pulang kerja.
"Yang Hotel Paradise View?" tanya Yuna sambil mengambil sehelai rambut di pipi pria itu.
"Apa itu?" tanya Shua sambil sedikit menoleh ke arah Yuna.
"Bulu mata. Ada yang kangen kali sama kamu hahaha..." katanya.
__ADS_1
"Cuma kangen dari kamu yang aku mau." Shua mencubit pelan pipi Yuna yang sedikit merona.
"Jadi kamu sudah baca belum yang Hotel Paradise?" tanyanya lagi.
"Sudah. Kamu benar mau pesta di Bali? Eh, belok kanan dong." Yuna menunjuk ke arah kanan dan Shua mendadak menyalakan lampu sign kanannya.
"Mau ke mana?" tanya Shua.
"Ke Lesehan Seafood saja. Kita ngobrol di sana." Mereka berhenti di sebuah restoran bergaya tradisional dengan banyak pondok menghadap ke kolam ikan besar.
Yuna memilih tempat agak pojok untuk menghindari orang yang mengenali wajah Shua. Akhir-akhir ini sosok Joshua Austin sudah sering mondar-mandir di televisi, bukan karena prestasinya namun karena gosip hubungannya dengan Vanya. Dari berita itu mencuat hingga sekarang, Yuna belum pernah bertemu Vanya. Mungkin karena belum ada kesempatan, tapi mungkin karena ia juga menghindarinya. Yuna tidak tahu apa yang harus dikatakan dan dilakukannya jika mereka bertemu. Pasti terasa canggung karena Yuna tahu bagaimana perasaannya kepada Shua.
"Itu saja ya Mba. Teh nya tolong jangan terlalu pekat ya. Terima kasih." ujar Yuna.
"Kamu ajak makan lesehan tapi pilih tempat yang pakai meja kursi." Shua tertawa.
"Satu hal baru tentang aku yang harus kamu tahu ya, Sayang. Aku tidak suka duduk di lantai, tidak suka dan tidak bisa. Dan Lesehan Seafood itu nama tempat ini." jawab Yuna sambil mengambil tissue basah untuk sedikit mengelap sisa-sisa minyak yang tertinggal di meja.
"Tidak ada sambal ya untukmu. Cukup makan ikan yang lunak. Aku tidak mau sakitmu kambuh." Shua berkata sambil memegang kepala kekasihnya itu.
"Siap, Bos. Jadi kenapa kamu mau kita menikah di Bali?"
"Lebih indah saja. Sumpek di Jakarta. Menurutmu?" Shua mengendorkan dasinya sambil menatap Yuna yang duduk di depannya.
"Iya sih. Tapi apa tidak menyusahkan tamu undangan jika harus ke Bali?" Pikir Yuna.
"Tidak juga jika mereka diberi akomodasi. Nanti hotel bisa aku booking untuk mereka yang hadir. Cukup kamu setuju saja, Sayang. Aku akan mengatur semuanya. Kamu tinggal duduk manis, ukur baju pengantin. That's all." Yuna bahagia melihat antusias Shua mempersiapkan pernikahan mereka.
"Biarkan aku ikut mengurusnya karena bukan hanya kamu yang semangat untuk menikah, aku juga tidak sabar ingin menjadi istrimu." Shua sangat terharu mendengarnya. Ia memang membutuhkan kata-kata seperti itu dari Yuna untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa Yuna juga mencintainya. Shua berdiri dan mengecup bibir Yuna sekilas. Hanya sebagai pengingat bahwa ia mencintai wanita itu.
"Berapa Mba?" Shua sampai di meja kasir untuk membayar. Sang kasir memberinya sebuah nota sambil berbisik-bisik.
__ADS_1
"Anda Pak Joshua suami Vanya Aprilia kan?" Ia bertanya sambil melihat ke arah tangan Shua dan Yuna yang bergandengan. Yuna merasa kikuk diperhatikan seperti itu langsung melepaskan tangan mereka. Shua tidak menjawab apapun, meninggalkan tiga lembar uang berwarna merah tanpa menunggu kembaliannya lalu menyusul kekasihnya yang seolah tidak dianggap itu.
*****