MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 23


__ADS_3

"Aku akan mengajukan cerai Dit." ucap Yuna ke Adit.


"Dan kamu menang Becca. Berterima kasihlah pada bayi yang ada di rahimmu itu." Yuna melangkah keluar. Adit ingin mengejarnya, namun lengannya ditarik oleh Vino.


"Lepaskan aku!" teriak Adit.


"Lepas kamu bilang? Kamu mau lari seperti pengecut hah?!" Vino balas berteriak sambil mendorongnya.


"Hei!! Jangan macam-macam dengan anakku!" Farrah berusaha melerai mereka.


"Tenang saja. Adit akan bertanggung jawab atas anaknya." Farrah melihat kemarahan di mata Vino. "Dan adikmu tentu saja." Ia menyambung kalimatnya. Farrah melirik ke arah suaminya yang hanya bisa duduk menunduk. Ia tahu Harris tidak sanggup berkata apapun karena kemarahannya.


"Ma!!" Adit menatap ibunya tidak percaya.


"Apa? Kamu tidak akan membuat cucu mama lahir jadi anak di luar nikah kan?"


'Menikah? Menikah?' Kupu-kupu berterbangan di hati Becca. Ternyata keputusan untuk menyusul Adit ke Surabaya sangatlah tepat. Malah ia mendapat jackpot dengan adanya orang tua Adit di sana. Becca hanya menunduk terisak pelan melanjutkan perannya sebagai wanita yang tertindas di sana.


"Aagh...Auuww.." Ya dengan sedikit meringis sambil memegang perut, sempurnalah aktingnya.


"Becca..Kamu kenapa?" Adit mendekatinya dan langsung memapahnya ke kamar. Vino memperhatikan pasangan terlarang itu. Ia bisa melihat bahwa Adit menyayangi adiknya. Vino tahu hubungan itu salah, sangat salah. Namun ia tidak tega jika harus menentangnya, bagaimanapun Becca adalah adik kesayangannya, satu-satunya keluarga yang masih ia miliki.


"Pa, jadi..bagaimana sekarang?" Farrah dengan hati-hati menyentuh pundak suaminya. Harris mengangkat wajahnya dan beradu mata dengan istrinya.


"Aku tidak mau mereka bercerai, Ma. Mau ngomong apa aku sama Ken? Dia pasti ngamuk kalau sampai tahu anaknya mau bercerai." ujar Harris sambil menahan amarahnya. Farrah tahu ia harus diam di saat seperti ini jika tidak mau menjadi pelampiasan kemarahan suaminya itu. Ini semua gara-gara Adit yang berselingkuh. Tapi kejadian ini juga tidak mungkin ada kalau saja Yuna bisa memberinya seorang cucu lebih dulu, pikirnya. Ya sejujurnya, Farrah tidak terlalu mempedulikan tentang perceraian yang mungkin akan terjadi. Ia tidak terlalu dekat dengan Yuna, apalagi keluarganya. Hanya saja wajar jika Harris yang uring-uringan. Ia sudah cukup lama mengenal Kenichi, dan juga saham yang dimiliki Ken atas perusahaan mereka cukup banyak walaupun Farrah tidak tahu persis jumlahnya.


"Kamu istirahat dulu, Sayang." ucap Adit sambil membaringkan Becca di salah satu kamar yang masih berada selantai dengan kamarnya dan Yuna.


"Maafkan aku, Sayang. Aku tidak tahu semuanya jadi kacau seperti ini. Aku..cuma kangen sama kamu. Pikiran aku kemana-mana saat memikirkan kamu sekamar dengan Yuna. Aku cemburu. Kamu mengerti kan? Aku dan anak kita butuh kamu." Air mata Becca menetes di ujung matanya.


"Aku tahu. Aku mengerti. Mungkin sudah jalannya kita akan ketahuan seperti ini. Biar nanti aku yang ngomong sama Yuna." Adit membelai rambut Becca.


'Ngomong apa lagi sih? Bukannya Yuna sudah minta cerai? Adit, aku tidak akan menyerah kali ini. Tuhan pun sudah merestui kita melalui bayi ini. Seorang Yuna tidak akan pernah mengalahkanku. Ia hanyalah seorang bayangan yang selalu mengikutiku sejak dulu. ' Becca tersenyum sinis sambil memeluk Adit manja.

__ADS_1


'Ya, aku akan terus meyakinkan Yuna. Aku tidak akan pernah menceraikannya.' Adit membelai rambut Becca dengan tatapan yang berkelana entah kemana.


*****


"Yuna, ini akta ceraimu dengan Adit, sudah Om urus semuanya. Sesuai permintaanmu, hanya rumah yang di Kemang ini yang kita minta. Salinan aktanya juga sudah Om kirim ke Adit." Iskandar menyerahkan satu map yang berisi beberapa dokumen.


"Makasih Om." Yuna menerimanya dengan cukup tenang, membacanya sambil duduk di sofa putih rumahnya. Rumah ini hanyalah sisa ego yang ingin ia pertahankan kepada MANTAN suaminya itu.


Sebenarnya ia juga malas tinggal di rumah yang cukup besar itu dengan segala kenangan yang bercampur aduk di dalamnya. Sudah hampir tiga bulan ia tinggal sendirian semenjak mengajukan cerai dan menyerahkan semuanya kepada Om Iskandar, teman ayahnya. Dan tentu saja Yuna sudah memohon mati-matian agar masalah itu tidak sampai ke telinga kedua orang tuanya. Yuna tidak ingin mengganggu ketenangan dan kebahagiaan orang tuanya. Ia akan menceritakan semuanya, pasti. Namun tidak sekarang, Yuna belum siap.


Adit hanya sesekali kembali ke rumah untuk mengambil beberapa pakaiannya. Yuna kesal mengapa Adit tidak sekaligus membawa semuanya. Sebenarnya ia menebak bahwa itu hanya modus Adit untuk sesekali melihat Yuna. Bukan Yuna sok percaya diri, namun hingga minggu terakhir sebelum gugatan cerainya disetujui, Adit masih terus membujuk Yuna untuk tidak menceraikannya.


"Bik Sum, nanti minta tolong Mang Jun bawa barang-barang yang sudah saya bungkus kertas warna coklat ke gudang ya. Oh iya, ada tiga koper juga. Semuanya ada di lantai dua. Nanti kalau Pak Adit datang cari barangnya, Bik Sum antar aja ke gudang." ucap Yuna sambil meneguk segelas air putih dingin untuk menenangkan perasaannya.


Ia tahu saat seperti ini akan datang. Tapi tetap saja bayangan akta nikah yang dipegangnya tadi siang membuatnya sedikit linglung dengan rencananya ke depan. Bagaimana reaksinya besok saat bertemu Adit di kantor? Apa ada karyawan yang mengetahui tentang perceraian mereka? Aah, tentu saja ada. Mungkin kabar itu sudah menyebar ke seluruh gedung.


'Apa aku harus merayakan hari pertamaku berstatus janda?' pikiran Yuna berkelana tak karuan padahal di depannya ada televisi besar yang memainkan drama korea favoritnya. Janda, sebuah status yang sangat bertentangan dengan image duda.


'Apa perlu aku menceritakannya ke Shua?' Yuna tiba-tiba teringat dengan Shua. Pria yang selalu dihindarinya selama beberapa bulan ini sejak ia mengurus perceraiannya. Yuna tidak mau ada gosip tentang kedekatannya dengan Shua untuk menghindari opini orang lain yang tidak tahu tentang masalah sebenarnya. Sepi, itu yang dirasakannya sekarang. Persahabatannya dengan Becca yang terlalu dekat dulu membuatnya seolah tidak membutuhkan teman yang lain lagi. Jadilah sekarang ia seperti wanita kesepian tanpa suami dan sahabatnya itu. Oh iya, ada Cathy guys. 'Kenapa aku bisa melupakannya?' Yuna mengambil ponselnya.


"Mau kemana kita Yun?" tanya Cathy sambil memasang sabuk pengamannya.


"Entahlah...Have a celebration maybe." ujar Yuna setengah tertawa.


"Hah? Celeb..Whattt? Uda resmi?" Yuna menganggukkan kepalanya sambil menjalankan mobilnya. Entah bangga, malu, bahagia, sedih, bingung, atau bahkan kecewa dengan dirinya sendiri. Tapi yang pasti ia harus tetap berjalan maju dan menegakkan kepalanya. Hidupnya terlalu berharga untuk disia-siakan dengan menangisi orang yang bahkan tidak menghargainya. Sekarang Yuna merasa cukup lega karena kasus cerainya sudah selesai. Tentang Adit, Yuna bahkan tidak tahu apakah ia bisa dan harus membencinya.


"Apa kamu membencinya Yuna?" Pertanyaan Cathy membuatnya tersadar dari lamunannya yang terasa nyata.


"Siapa?"


"Tentu saja Pak Adit, aku tidak mau membicarakan wanita sundel itu." Jawabannya membuat Yuna tertawa.


"Asal kamu tahu ya, aku saaaangat berusaha untuk tidak membencinya. Aku...hanya merasa itu akan membantuku melewati semua ini." Mungkin itu jawaban terjujur Yuna untuk pertanyaan itu. Masih berusaha, ia tidak tahu apakah ia sanggup untuk membenci Adit atau untuk tidak membenci Adit. Bingung? Pastinya.

__ADS_1


"Wahhh...Kamu benar-benar idolaku Ibu Yuna Sakura." ucap Cathy sambil bertepuk tangan.


"Hahahaha...Aku kan bilang masih berusaha. Aku tidak semalaikat itu, Cat. Masih mencari cara bagaimana cepat move on, makanya aku ajak kamu jalan."


"Mau cepet move on? Kata para pujangga zaman Majapahit, jika kamu kehilangan seekor kumbang, mekarkanlah kelopak bungamu yang lain agar kumbang-kumbang lain datang ke arahmu."


"Apaan sih? Bunga? Kumbang?"


"Ya maksudnya cari pengganti donk. Kamu itu janda kembang, Yun. High quality widow hahaha...Mau lebih spesifik? Joshua Austin William. Tolong banget jangan disia-siain Yun. Setidaknya kamu harus mencobanya." ucap Cathy serius.


"Co..Coba? Coba apaan?"


"Iiihhh...ngeres ya pikiranmu?? Maksud aku coba lebih dekat, kayaknya dia serius deh sama kamu." Muka Yuna sedikit memerah, malu dengan apa yang dipikirkannya sendiri. Ia tidak terlalu merespon perkataan Cathy. Lebih tepatnya ia tidak tahu bagaimana menjawabnya. Yuna tahu Shua serius, tapi perasaan sedikit trauma masih ada dalam dirinya.


Mereka sampai di Bonjour Cafe. Cafe rooftop yang berada di lantai paling atas Hotel Marcopolo. Berada di lantai 26 membuatnya ramai dikunjungi saat sunset seperti sekarang. Yuna sudah membooking tempat untuk dua orang saat masih di rumah tadi.


"Woow..kamu tahu tempat ini dari mana Yun?" Cathy terkagum-kagum melihat cukup tempat yang cukup luas namun estetik. Atap yang transparan menembus langit dan dihiasi lampu kuning di setiap sudut.


"Dari sosmed orang. Tapi planningnya bukan mau pergi sama kamu." Jawaban Yuna membuat Cathy menyipitkan sudut matanya.


"Maksudnya aku belum rencana mau kesini tadinya." Yuna menanggapi tatapan sinis Cathy.


"Whatever...Malam ini kita harus senang-senang." Cathy menggandeng lengan Yuna dan mulai menggoyangkan tubuhnya mengikuti alunan musik jazz yang dibawakan live.


Matahari mulai terbenam, cahaya jingga menyinari wajah putih Yuna yang sedang bersandar di pinggiran kaca. Ia memegang segelas wine sambil tersenyum ke arah Cathy yang sedang mengambil beberapa cemilan di sudut taman. Yuna berusaha menikmati alunan lagu jazz yang ia belum pernah ia dengar yang dinyanyikan oleh seorang wanita di depan panggung kayu putih dengan ornamen klasik.


"Wah, sunset nya cantik sekali bukan teman-teman?" Suara merdu penyanyi itu menyapa para pengunjung dan membahana di seluruh ruangan.


"Malam ini, kita juga kedatangan seorang tamu yang jauh lebih cantik. Mau tahu siapa? Ayo kita beri sambutan yang meriah untuk Vanya Aprilia." Riuh tepuk tangan pengunjung di sana memenuhi seluruh ruangan. Yuna melihat seorang gadis cantik memakai dress orange polkadot naik ke atas podium.


"Halo semuanya...Malam ini Vanya akan menyanyikan sebuah lagu, terlanjur janji sama Om Andre hahaha..." Gadis berparas manis itu melirik ke meja arah kanan di bawah panggung. Seorang pria berewok ala aktor Turki yang kelihatannya cukup kaya, dan sepertinya ia bos di tempat ini. Mungkin pemilik.


"Vanya akan menyanyikan lagu Terlanjur Cinta, jadi sepertinya Vanya butuh teman duet nih." Vanya turun dan menepuk pundak seorang pria dengan kemeja putih yang duduk di sebelah Om Andre. Yuna hanya bisa melihat dari belakang pria itu menggeleng seperti menolak permintaan gadis itu. Tidak terlalu jelas karena jarak Yuna ke panggung cukup jauh, sekitar lima belas meter. Yuna melihat akhirnya pria itu mengalah, tangannya digandeng dan ia ikut ke atas panggung.

__ADS_1


"Please welcome our new guest star, Joshua. Yang cewek-cewek jangan naksir ya. Dia sudah ada yang punya." Vanya mengerlingkan matanya ke arah pria tampan di sebelahnya yang hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan gadis itu.


*****


__ADS_2