MIMPI SANG BAYANGAN

MIMPI SANG BAYANGAN
BAB 17


__ADS_3

Yuna berbaring di ranjangnya. Tanpa sadar ia tersenyum memikirkan apa yang diucapkan Joshua tadi. Ternyata rasa rendah diri dan ketidakpercayaan akan dirinya selama ini tidak beralasan dan harusnya tidak terjadi. Yuna yakin ini karena Rebecca. Tapi haruskah ia mempercayai Shua seratus persen? Sepertinya sembilan puluh cukup. Setelah peristiwa penolakan Yuna dulu, ia merasa Shua sesekali masih sering mencuri pandang padanya. Bukannya sok kepedean, tapi memang Yuna merasakannya. Ia cukup cerdik untuk membaca sikap seseorang. Tentu saja Rebecca adalah pengecualian, mempercayainya adalah hal terbodoh yang dilakukan Yuna selama ini.


Yuna melirik tempat tidur yang kosong di sampingnya. Hingga sekarang Yuna tidak tahu apakah Adit pernah mencintainya. Ia hanya tahu jika suaminya itu sangat patuh dengan orang tuanya sehingga Adit tidak bisa menolak saat ia dijodohkan dengan Yuna.


Yuna berjalan ke arah sebuah CD player di dekat televisi 42 inch di ujung kamarnya dan mengambil sebuah CD Michael Learns To Rock, MLTR, sebuah boyband yang dulu sangat ia sukai. Yuna berpikir musik itu dapat menghempaskan pikirannya tentang Adit. Adit yang sekarang pasti sedang bersama madunya. Ia mengambil laptop dan mengecek beberapa file yang dikirim Cathy kemarin, hingga sebuah lagu terdengar menggelitik hatinya. 25 Minutes. Pikiran Yuna seketika meninggalkan laptop di depannya.


Kala itu, Yuna masih mengenakan pakaian putih biru dan rambutnya dikuncir dua. Ia sedang mengikuti masa pengenalan sekolah di SMU Harapan Kita. Sore itu, acara ditutup dengan penampilan dari kakak-kakak panitia. Yuna yang belum memiliki teman satupun hanya diam menikmati lagu MLTR, 25 Minutes, yang sangat ia hapal satu album. Matanya memandang permainan drum seorang kakak panitia yang paling tampan menurutnya. Cara ia memegang stik drum sangat keren menurut Yuna, 'Sepertinya ia kursus drum, kerennya..'


Kak Joshua, pendamping kelasnya. Tidak banyak bicara, tapi itu menjadi daya tarik tersendiri. Hal itu pula yang menjadi motivasi Yuna untuk mengikuti pemilihan pengurus OSIS di sekolahnya.


Yuna tersenyum membayangkan cinta monyetnya dulu. Tapi sekarang monyet itu sudah menjadi seorang pria dewasa yang sangat menarik. Yuna mengetikkan beberapa balasan email sebelum akhirnya ia menjawab ponselnya yang berdering. Kak Shua. Itu nama yang ia simpan hampir dua bulan lalu.


"Ya Kak Shua." jawabnya.


"Kak Shua? Bukannya kamu sudah panggil aku dengan Shua saja?" Shua tertawa pelan.


"Maksudku Shua. Namamu di ponselku masih Kak Shua haha.. Ada apa?" tanya Yuna. Sejenak ia melirik ke arah CD player nya dan bersyukur lagu itu sudah berganti dengan lagu lain. Entah apa yang ada di pikiran Yuna. Tanpa ia sadari jantungnya berdegup cukup kencang.


"Mmmhh..Entahlah, hanya menebak kamu belum tidur dan ternyata benar." jawab Shua.


"Oooo.." Yuna tidak tahu apa lagi yang bisa ia katakan saat itu. Mereka hanya terdiam saling mendengar hembusan napas masing-masing.


"Aku.." Akhirnya mereka sama-sama memecahkan keheningan itu.


"Lady first."


"Aku sedang mengecek beberapa pekerjaan, makanya belum tidur." kata Yuna. 'Dan sedikit memikirkanmu, mungkin banyak.' sambungnya dalam hati.


"Maaf aku mengganggumu. Jangan tidur terlalu malam, ini sudah jam 11 lho. Besok kita kerja."

__ADS_1


"Tidak mengganggu kok, hanya sedikit pekerjaan. Baiklah, aku akan tidur setelah kamu menutup telepon." Tanpa sadar Yuna tersenyum mendengar perintah kecil Shua.


"Kalau aku tidak tutup-tutup telepon?" Pertanyaan Shua membuat Yuna terdiam.


"Bercanda.. Sudah dulu ya, have a nice dream Yuna." Shua berniat menutup teleponnya sebelum ia mendengar suara Yuna memanggilnya lagi.


"Shua, aku.. Aku harap kamu tidak membahas masalah aku dengan Adit saat kalian bertemu. Aku tidak ingin memperkeruh suasana." Yuna menunduk.


"Aku tahu. Aku tidak akan mempersulitkanmu. Aku..hanya ingin kamu tahu, you are not alone. Ada aku. Mulai sekarang ada aku yang akan selalu bisa kau andalkan. Dan satu hal lagi, pengakuan cintaku tadi, aku sungguh-sungguh. Tapi jangan jadikan itu sebagai beban. Tidak ada kewajiban apapun bagimu untuk menerimaku. Ikuti kata hatimu, jalan mana yang akan membuatmu bahagia." Air mata Yuna tidak bisa tertahan lagi saat ia menutup panggilan itu, mengalir dalam diam tanpa izin sang empunya. Belum pernah ia merasa begitu berharga di mata seseorang selain kedua orang tuanya. Yuna memeluk bantal gulingnya, mencoba mengalihkan semua pikirannya. Ia masih bisa mendengar hampir seluruh lagu di album penyanyi favoritnya hingga terlelap tanpa sadar.


*****


"Yuna, tumben kamu kesiangan." Adit masuk ke dalam ruangan Yuna.


"Apa pedulimu?" jawab Yuna jutek sambil menandatangani beberapa dokumen yang sedang ditunggu Cathy di depannya. Adit melirik ke arah Cathy, sedikit merasa tidak enak dengan jawaban yang diberikan istrinya itu. Cathy sedikit menunduk ke arah Adit saat melewatinya sebelum keluar dari sana.


"Maaf. Reflek. Ada apa?" tanya Yuna tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer.


"Justru aku yang tadi bertanya, tumben kamu kesiangan, kenapa?" Adit melihat wajah cantik Yuna yang mulai menirus. Matanya yang tidak terlalu besar membuatnya terlihat oriental dengan kecantikan Asia Timur.


"Tanpa sadar aku mematikan alarm, atau alarm nya ga hidup, entahlah." jawab Yuna tanpa menatap lawan bicaranya.


"Nanti sore aku pulang ya. Masakin gulai ayam dong, aku kangen masakanmu." Kalimat itu berhasil membuat Yuna melirik ke arah sang pemilik suara.


"Dulu aku selalu memiliki banyak waktu untukmu. Bukan sekali dua kali aku membuang masakanku hanya karena kamu tidak pulang atau pulang dengan perutmu yang sudah kenyang. Maaf Dit, aku tidak mau kita ribut pagi-pagi di kantor. Hanya saja jangan terlalu berharap, akan aku buat jika aku sempat." Yuna terlihat sedikit geram.


"Iya, aku ngerti. Harusnya aku yang meminta maaf padamu. Aku tidak berhak memaksa apapun sekarang. Besok malam temani aku ya, kita makan malam dengan Joshua, teman kamu itu loh." Yuna sedikit terkejut mendengar nama itu dari mulut Adit namun ia tetap mengangguk. Adit berjalan menuju pintu, tapi ia berbalik sebelum sempat keluar.


"Yuna, asal kamu tahu, aku tidak pernah melewatkan makan malam saat kamu memasak gulai ayam untukku." Adit tersenyum tipis dan berlalu dari sana.

__ADS_1


Yuna menghembuskan napas kesal. 'Apa dia kira itu bisa membuatku senang? Aku malah tambah kesal sekarang. Tahu begitu kan aku masak saja gulai ayam setiap hari biar dia pulang.' Ponselnya berdering. Mom. Yuna mengambil napas panjang untuk sedikit menenangkan perasaannya sebelum menjawab panggilan itu. Ibunya terlalu sensitif dengan perubahan apapun pada anak semata wayangnya itu.


"Ya Mom, apa kabar?" Yuna menceriakan suaranya.


"Mama sama papa baik-baik saja. Lagi hobi berkebun hidroponik. Mama baru selesai bagiin sayur ke tetangga. Kamu apa kabar? Betah kerja kantoran?" tanya Rossa.


"Enak banget punya tetangga kayak mama hahaha... Betah kok Ma, enak juga rasain dunia baru."


"Dari dulu papa sudah suruh kamu ngantor di sana ga mau. Saham papa kan lumayan di sana. Nanti kayaknya papa mau pindahin ke nama kamu deh. Lagi diurus."


"Santai saja Ma, papa juga masih sehat. Ngapain buru-buru?"


"Bukan begitu Yun, anak kami hanya kamu. Atas nama papa juga untuk apa, kami sudah hidup berkecukupan di sini. Kebahagiaanmu nomor satu bagi kami. Adit apa kabar?" Pertanyaan yang paling malas didengar Yuna.


"Baik Ma. Biasa aja." Yuna berusaha menjaga nada suaranya tetap stabil.


"Mertua kamu baik sama kamu kan? Masih tanya soal momongan? Kamu masih kontrol ke dokter?" Pertanyaan selanjutnya yang membuat Yuna mulas.


"Ga pernah tanya lagi. Mungkin Adit yang melarang mereka untuk bertanya. Yuna ada kontrol ke dokter dua bulan lalu."


"Ya sudahlah, jaga kesehatan ya Nak. Jangan terlalu kurus ah, mama ga biasa lihat badan kamu kurus gitu." Yuna tertawa mendengarnya.


"Tambah cantik kan Ma hahaha..."


"Dari dulu sudah cantik kok anak mama. I love you. Take care ya."


"Love you too Mom. Salam buat papa ya." Yuna menutup teleponnya. Hampir setahun ia tidak bertemu orang tuanya, hanya bisa video call jika ia merasa kangen. Dan di saat seperti sekarang, ingin sekali Yuna memeluk mamanya yang selalu bisa ia andalkan sejak kecil. Tapi Yuna menahannya, ia tidak mau memberikan beban pikiran kepada orang tuanya. Ia akan bercerita jika semuanya sudah menjadi sebuah keputusan yang bulat, keputusan yang bisa membuatnya bahagia. Bukankah hanya itu yang dibutuhkan orang tuanya? Melihat anaknya bahagia.


*****

__ADS_1


__ADS_2