
Alisa bertanya pada salah seorang pria yang ditemuinya. Ia bertanya dimana letak ruangan sekretaris. Setelah pria itu memberi tahunya, Alisa langsung menuju kesana dengan langkah lebar. Ia mengetuk pintu ruangan itu lalu suara seorang wanita terdengar dari dalam.
" Permisi " Ujar Alisa dengan sopan. Wanita itu mengangkat wajahnya dan menatap Alisa dengan sorot mata yang tengah meneliti.
" Kau siapa ? " Tanya wanita itu.
" Perkenalkan, saya Alisa. Karyawan baru disini " Alisa tersenyum ramah.
" Oh. Kau karyawan baru disini. Kau bekerja di bagian apa ? "
" Saya bekerja sebagai asisten pribadi Direktur Utama"
" Asisten pribadi ? " Wanita itu mengulangi. Alisa mengangguk semangat.
" Aku baru mendengar ada posisi ini sebelumnya " Wajah wanita itu terlihat bingung.
" Benarkah ? Mungkin posisi ini baru dibuka sekarang" Ujar Alisa.
Wanita itu terlihat mengangguk-angguk kecil.
" Lalu, ada perlu apa kau datang kemari ? "
" Saya ingin mengambil surat yang di tandatangani dengan pulpen biru "
" Surat yang ditandatangani dengan pulpen biru ? " Wanita itu tampak tercengang.
" Kenapa ? " Tanya Alisa bingung saat melihat ekspresi terkejut wanita yang menjadi sekretaris Reyhan. Tak lama wanita itu berdiri lalu melangkah ke arah sisi kiri ruangan, disana ada lemari kayu tiga pintu yang berukuran besar. Alisa mengikuti wanita itu, ia berdiri tepat disampingnya.
Wanita itu membuka lemari tersebut dan seketika itu juga mulut Alisa terbuka lebar.
" Kau lihat semua lembaran-lembaran kertas ini ? "
" Iya "
" Ini adalah surat-surat penting yang sudah ditandatangani. Ada lebih dari ribuan lembaran surat di dalam sini. Dan tidak semuanya ditandatangani dengan pulpen berwarna biru. Itu artinya kau harus melihat satu persatu lembaran ini untuk menemukan surat yang di tandatangani dengan pulpen berwarna biru " Wanita itu menoleh pada Alisa dengan wajah tidak percayanya.
Alisa masih diam membeku dengan mata yang terbelalak lebar.
" Apa benar Direktur Utama menyuruhmu melakukan hal ini ? " Tanya wanita itu lagi. Alisa langsung menoleh dan menatap wanita itu.
" Ya, dia yang menyuruhnya " Lirih Alisa dengan suara pelan.
" Kurasa Direktur Utama sedang tidak sehat pikirannya" Ujar wanita sekretaris itu.
" Kurasa begitu " Gumam Alisa lalu kembali menatap horor lembaran-lembaran kertas yang tersusun tinggi di depannya.
Kau sengaja ingin menyiksaku kan Reyhan Wijaya !!!
Pekik Alisa dalam hati.
__ADS_1
Reyhan tersenyum senang saat lima menit sudah berlalu dan Alisa belum juga muncul di dalam ruangan rapat. Tentu saja wanita itu tidak akan muncul disini hanya dalam lima menit kecuali Alisa memiliki kekuatan super seperti gatot kaca. Reyhan tersenyum jahat. Ia tahu wanita itu pasti sedang mencari-cari surat bertandatangan biru itu diantara ribuan surat-surat yang berjumlah ribuan itu. Bisa Reyhan pastikan, wajahnya Alisa pasti sedang memerah kesal. Wanita itu mungkin juga sedang menyumpahinya saat ini. Reyhan tidak peduli, yang jelas ia merasa begitu bahagia sekarang. Lagipula ia juga tidak benar-benar membutuhkan surat bertandatangan biru itu.
" Kau sengaja kan keparat. Tega sekali kau " Gumam Alisa dengan kening yang sudah berkeringat. Ia sekarang tengah duduk dilantai sambil memisahkan satu-persatu lembaran surat yang bertandatangan biru dengan surat yang bertandatangan menggunakan pulpen hitam.
" Kau membuat jerawatku semakin memerah dan perih, mantan sialan ! " Umpat Alisa dengan suara yang sangat pelan. Ia tidak ingin sekretaris pria itu mendengar ucapannya yang sedang menjelek-jelekkan seorang Reyhan.
" Nanti di susun kembali ya mbak " Ujar wanita sekretaris itu dari atas kursi.
" Baiklah. Saya mengerti " Sahut Alisa dengan suara pelan.
Hingga waktu maka siang berakhir Alisa baru menyelesaikan setengah dari pekerjaannya. Masih ada setengah tumpukan tinggi kertas-kertas itu yang belum ia lihat. Alisa ingin meraung dan menangis saja saat ini. Tapi, siapa yang akan menolongnya hah ? Tidak akan ada yang peduli padanya disini !
" Aku akan membalasmu kunyuk ! Lihat saja nanti " Gerutu Alisa lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Reyhan yang sedang duduk di restoran tampak sibuk melihat jam tangannya. Sudah lima menit ia menunggu Juliet di dalam restoran dan wanita itu belum juga muncul.
" Kemana dia ? " Gumam Reyhan. Tak lama dari jauh terlihat mobil Juliet memasuki halaman parkir. Wanita itu buru-buru membuka pintu mobil lalu berlari ke arah Reyhan.
" Maaf sayang aku terlambat " Ujar Juliet lalu mengambil tempat duduk di depan Reyhan.
" Tidak apa-apa sayang. Kau hanya telat lima menit saja " Reyhan mengulurkan buku menu pada Juliet. Wanita itu pun menyambutnya.
" Tadi, ada sedikit masalah diruang pemotretan. Aku pesan yang ini " Juliet menunjukkan menu makanan Italia pada pelayan yang sudah dari tadi menunggu di dekat meja mereka. Setelah itu, pelayan wanita itu pergi meninggalkan keduanya.
" Masalah apa ? "
" Ada seorang fans yang masuk ke dalam ruangan pemotretan lalu tiba-tiba menarik tanganku "
" Kau tidak apa-apa kan ? " Tanya Reyhan dengan nada suara yang terdengar khawatir. Juliet tersenyum lalu menarik tangan Reyhan yang sedang mengusap pipinya. Juliet mengecup singkat punggung tangan pria itu dengan lembut.
" Aku baik-baik saja sayang. Tenanglah " Juliet tersenyum kecil.
" Sepertinya kau memerlukan lebih banyak bodyguard untuk berjaga-jaga " Ungkap Reyhan lalu menarik tangannya menjauh dari pipi Juliet.
" Kau sudah memberikan dua bodyguard sayang. Itu sudah cukup " Juliet terkekeh kecil. Tak lama makanan yang mereka pesan sudah tiba di meja.
" Tidak cukup sayang. Aku akan memberimu tiga bodyguard lagi untuk berjaga-jaga "
" Baiklah, jika itu keinginanmu sayang. Aku hanya bisa menuruti saja keinginanmu "
" Lalu dimana fans fanatik itu berada sekarang ? " Tanya Reyhan lagi.
" Dia sudah diamankan oleh staf kami " Jawab Juliet sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
" Apa perlu aku memenjarakannya ? " Ujar Reyhan.
" Tidak perlu sayang " Juliet terkekeh geli.
Setelah makan siang selesai, Reyhan kembali ke kantornya sedangkan Juliet kembali ke tempat kerjanya. Juliet adalah seorang model dengan bayaran tertinggi. Wanita itu jelas mempunyai banyak penggemar dimana-mana. Tidak heran bila banyak dari fans yang berusaha keras untuk mendekati wanita itu.
__ADS_1
" Aku ingin kau mencarikan bodyguard lagi untukku, Dani " Ujar Reyhan pada ponselnya. Ia sedang menelpon temannya.
" Kau perlu berapa ? "
" Tiga "
" Untuk mengamankan Juliet lagi ? "
" Ya "
" Tunanganmu memang beruntung sekali yah. Baiklah. Akan aku carikan untukmu tuan Reyhan wijaya " Dani tertawa dari seberang telepon.
Alisa masih bergelut dengan lembaran-lembaran kertas yang ada di depannya. Perutnya bahkan sudah menyuarakan protes sedari tadi, namun Alisa berpura-pura tidak mendengarkan suara protes tersebut. Ia bahkan sudah duduk berselonjor sambil bersandar pada tembok ruangan dengan tumpukan surat di atas kedua kakinya.
" Kau tidak ingin istirahat dulu mbak ? " Tanya sekretaris Reyhan yang baru saja kembali dari istirahat makan siangnya.
" Tidak mbak. Nanti saja " Jawab Alisa. Wanita itu tiba-tiba berjalan menghampirinya lalu meletakkan satu bungkus makanan di dekatnya. Alisa menoleh dan terkejut.
" Apa ini mbak ? "
" Nasi padang. Aku membelinya di warung depan " Ujar wanita itu sambil tersenyum.
" Ah tidak perlu mbak. Merepotkan saja " Alisa terkekeh malu.
" Tidak kok. Makanlah dulu sebentar "
" Terima kasih banyak mbak. Aduh, saya jadi malu begini " Gumam Alisa.
" Istirahatlah dulu " Wanita itu berdiri sambil menepuk pelan pundak Alisa.
" Sebentar lagi mbak " Alisa balas tersenyum.
" Apa pekerjaanmu ini sudah hampir selesai ? " Tanya sekretaris Reyhan.
" Iya, sebentar lagi pekerjaan ini akan selesai mbak "
" Maaf, aku tidak bisa membantumu. Pak Reyhan juga memberikan banyak tugas padaku " Sesal wanita itu sembari melirik ke meja kerjanya yang masih terdapat bertumpuk-tumpuk kertas disana.
" Ya, tidak apa-apa " Alisa mengangkat wajahnya untuk menatap wanita tersebut. Ia tersenyum lebar pada wanita yang sedang memandang iba dirinya.
" Namaku Mirna " Wanita sekretaris itu tersenyum lebar sambil mengulurkan sebelah tangannya pada Alisa.
" Saya Alisa " Buru-buru Alisa menyambut uluran tangan itu. Ia kembali memperkenalkan dirinya.
" Jangan saya, aku saja. Kita kan sudah jadi teman sekarang " Canda Mirna.
" Oh, tentu saja Mirna. Senang bisa berteman denganmu " Balas Alisa lalu tersenyum sangat lebar.
Ternyata ada juga orang yang peduli padaku ya. Syukurlah di perusahaan baru ini masih ada orang baik seperti Mirna.
__ADS_1
To be continued.....
Happy reading, love you guys 😘